Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Ucapan Ulang Tahun


__ADS_3

"Di mana anak itu, kenapa sampai jam segini belum pulang juga? dia selalu membuatku tidak tenang saja." Kenan melirik jam tangan mewah yang melingkar di pergelangannya yang hampir lima menit lagi menunjukkan pukul 12:00 malam


Kenan lalu mencoba untuk menghubungi Dara namun tidak aktif, dan kini Ia pun mencoba menghubungi Jelita, namun tidak aktif juga.


"Brengsek! kenapa semua jadi begini!" Kenan yang merasa kesal membanting membanting pintu dengan keras.


Namun setelah itu Ia mencoba tenang dan tepat jarum jam menunjukkan pukul 12:00 malam ia pun mencoba untuk mengirim pesan singkat karena hanya itu yang bisa ia lakukan.


"[Happy birthday yang ke 21 cepatlah pulang aku merindukanmu]" Pesanpun terkirim dan di baca.


''Dia membacanya aku akan menelpon balik'' gumam Kenan dengan senyum yang merekah.


Ia pun kembali menghubungi Nomor Dara namun jawabannya tetap sama tidak aktif. Rasa kecewa dan marah kini mulai berkecamuk di hatinya. Dia pun segera menelpon Reno.


''Ya Tuan, apa! Tuan malam ini tapi Tuan.''


''Jangan membantahku Reno, atau kau juga mau aku hukum!'' ancamnya.


''Baiklah Tuan.'' Jawab Reno pasrah dari seberang telpon.


*


*


"Bagaimana Kak, berapa lama lagi?" teriak Dara, Ia pun segera turun dari mobil dan tak lupa membawa payung.


"Kamu kenapa harus kesini sih? aku kan sudah bilang kamu menunggu di mobil saja. apa lagi ini kan sudah mulai kelar kamu nanti basah!" tegur Devan saat melihat Dara menghampirinya dengan membawa payung.


"Aku hanya Ingin membawakan payung buat Kakak, kasian kan Kak Devan, dari tadi ke hujanan,sedang aku malah enak-enakan duduk di mobil." Ujarnya.


"Terimakasih, dan sekarang lebih baik kamu


kembali masuk, angin di sini sangat kencang!


Aku takut nanti kamu masuk angin!" dan benar saja. Baru saja Devan selesai berucap angin kencangpun menerbangkan payung yang di bawa Dara hingga membuat Dara mau tidak mau akhirnya terkena guyuran hujan juga.

__ADS_1


Dara pun segera berlari menuju mobil, dan di susul oleh Devan.


Devan pun segera melesatkan mobilnya, karena waktu menunjukkan pukul 1:00 dini hari. Sementara itu.


Brak..srek...!


Kenan yang kesal mendengar kabar dari Jelita kalau Dara pulang di antar Devan menghancurkan cermin yang ada di depannya menggunakan kepalan tangannya dan kini darah segar mulai menetes membasahi tangannya, namun Ia tak merasakan sakit sedikitpun karena hatinya jauh terasa lebih sakit.


''Sia-sia saja aku pulang lebih awal menyiapkan semuanya, aku membencimu Dara kau menghianatiku aaaargh!'' Kenan berteriak menghacurkan segala yang ada di depannya.


Tit..tit..terdengar suara klakson mobil Kenan pun segera melihat siapa yang datang.


''Trimaksih Kak, apa Kakak tidak mau masuk?''


''Tidak usah kamu masuklah!'' seru Devan dan baru saja Dara memutar tubuhnya.


''Dara tunggu!'' Dara pun berbalik dan dia melihat Devan mendekat, pakailah ini dan aku lupa memberikan ini untukmu. Aku juga minta maaf kalau terlambat mengucapkannya.


Selamat Ulang Tahun yang ke 21."


''Tidak apa-apa Kak, dan Terimakasih'' cicitnya


''Masuklah aku pergi dulu By.'' ucap Devan dan di balas lambaian dari Dara.


Dara pun segera melangkah untuk segera masuk karena Ia merasakan tubuhnya betul-betul akan menggigil.


Ceklek...!


Dara perlahan membuka pintu, lalu Ia pun segera mencari saklar lampu karena di dalam memang sangat gelap.


Cetek...!


lampu pun menyala, dan betapa terkejutnya Dara melihat siapa yang tiba-tiba berdiri di depannya dengan tangan yang berlumur darah.


''Kak, Kenan, kau mengagetkan ku! dan tangan Kakak kenapa?'' Dara berusaha meraih tangan Kenan namun Kenan menepisnya. Membuat Dara tercekat.

__ADS_1


"Kak lukamu bisa infeksi kalau tidak di bersihkan dan di obati!" seru Dara kembali ingin meraih tangan Kenan namun Kenan menepisnya kembali dan nampak kilatan amarah itu kini membuncah terlihat dari matanya yang sudah memerah.


"katakan padaku dari mana saja kau baru pulang jam segini bukankah aku menyuruhmu pulang cepat!"


"Kak itu aku kan pergi dengan Jelita dan tadi aku_" ump...ucapan Dara tenggelam dalam ******* bibir Kenan yang tiba-tiba. Dara pun mendorong tubuh Kenan saat merasa susah untuk bernafas.


Dan plak. satu tamparan mendarat di pipi Kenan, membuat amarah yang bercampur dengan hasratnya kini membuncah.


''Apa sekarang karena laki-laki brengsek itu kau berani menamparku! sekarang ikut aku akan kuperlihatkan padamu, kalau aku tidak suka penolakan!" Kenan menarik tangan Dara dan membawanya masuk kedalam bhatroom dia memasukkan Dara kedalam bathub.


"Kakak lepaskan aku kamu apa-apaan sih!" pekik Dara, namun tak di perdulikan oleh Kenan.


"Katakan padaku bagian yang mana dia sentuh!" Kenan terus menggosok tubuh Dara dan merobek pakaiannya, hingga hanya menyisakan dalaman saja. Sedang Dara hanya bisa menangis histeris mendapat perlakuan kasar dari Kenan.


"Kak Kenan lepaskan aku Kak!" cicit Dara lagi namun tetap tak di gubris kini Kenan menyelimuti tubuh Dara dengan handuk Ia pun mengangkat tubuh yang terus memberontak itu dan dengan kasar Kenan menghempaskan tubuh Dara kempat tidur dan dengan segera Ia pun segera naik meringsek mengungkung tubuh Dara.


"Jawab aku apa yang sudah kau lakukan dengannya?"


"Aku tidak melakukan apa-apa Kak sungguh aku han_" ummp, kembali suara Dara tenggelam dalam ******* Kenan, sedang tangannya sudah mulai menjelajah seluruh tubuh Dara, membuat Dara tidak berdaya karena kedua tangannya terkunci di atas kepala.


"Apa dia merasakan ini dan ini!" ucap Kenan sambil mengelus gundukan dan menunjuk kepemilikan Dara yang hanya memakai dalaman basah karena pakaiannya sudah berserakan tak berbentuk.


Dara yang begitu emosi dengan perlakuan Kenan kini berusaha melepaskan satu tangannya dan, Plak, Kenan mengelus pipinya yang kembali terkena tamparan.


"Kau, kau sudah berani menamparku dua kali maka lihatlah dan rasakan apa yang akan aku lakukan padamu!" ancamnya sambil membuka dengan paksa penghalang yang tersisa di tubuh Dara.


"Kak, aku mohon aku minta maaf jangan lakukan ini, aku mohon Kak."


Kenan tetap bergeming karena dia sudah di kuasai oleh emosi dan hasratnya sendiri.


Dan tanpa pemanasan Ia pun segera melakukan penyatuannya dengan paksa.


''Aaaaw sakit kak!''


Dara menjerit kesakitan saat merasakan sesuatu yang memaksa masuk di area sensitifnya apa lagi itu di lakukan tanpa pemanasan, Dara mencengkram dengan kuat, punggung Kenan hingga kuku, kukunya menancap dan dia pun mengigit dada pria itu tapi Kenan tetap melakukan aksinya.

__ADS_1


Namun saat mesara sang junior susah untuk masuk dan Kenan merasa kan ada cairan panas yang keluar dari kepemilikan Dara.


''Dad-darah, Jadi dia masih suci?" gumamnya dalam hati.


__ADS_2