
Dua minggu kemudian Damara benar-benar menugaskan Jelita untuk stay menjaga Amara, adiknya. Dan bukan itu saja Jelita harus kursus memasak untuk menyenangi hati Damara karena pernah beberapa kali ia memasak makanan untuknya tapi selalu di buang begitu saja. Padahal dia sudah begitu bersusah payah melakukannya.
Untuk belajar memasak saja kedua tangannya sampai harus terkena wajan yang panas dan terkadang terkena sayatan pisau, bahkan cipratan minyak, jika pekerjaan rumah selesai maka ia pun harus segera menemui Amara yang sedang di rawat walaupun awalnya dia sempat kesal dengan Amara, namun saat melihat kondisi gadis itu hatinya pun terenyuh dengan kondisi Amara yang sudah tak berdaya membuat rasa prihatin di hatinya pun tumbuh.
Jelita dengan telaten mengurus Amara belum lagi ia harus kuliah secara daring karena Damara melarangnya keluar dengan alasan dia tidak mau Jelita keluyuran tak karuan dan yang terpenting dia tidak mau Jelita kabur bahkan Damara menugaskan beberapa anak buahnya untuk mengawasi Jelita.
Jelita tak lupa terus mengajak Amara untuk berbicara agar Amara lekas terbangun dari komanya, seperti hari ini berusaha untuk mengajak Amara untuk berbicara walau ia pun tak tau pasti kapan adik iparnya itu akan terbangun.
Setelah selesai membersihkan tubuh Amara Jerita pun mulai duduk di samping bankar, sambil terus menatap intens gadis yang terbaring di depannya itu.
"Amara Mau sampai kapan sih kamu terus tidur seperti ini. Apa kamu tak ingin bangun untuk melihat dunia. Ayolah Amara please bangun dan maafkan kesalahanku selama ini dan aku ingin bertanya kepadamu. Apakah kamu dengan Kak, Andra, sudah tidak. mam_maksudku Apakah kau sudah tidak ingin lagi tahu tentang keadaan Kak Andra dan kabar tentang nya, Kak Andra sudah punya seorang kekasih, dan yang harus kau tahu Aku dan Kak, Andra dia sebenarnya adalah sepupuku bukan pacarku.
Untuk itu lekaslah bangun aku tahu walaupun kamu tak bisa menjawab setiap ucapanku tapi aku tahu kamu pasti mendengar semua apa yang aku katakan selama ini. Please aku mohon bangunlah kita bisa melanjutkan kuliah kita lagi jika kau bangun mungkin Kakakmu yang brengsek itu akan mengizinkan aku keluar tidak mengurungku terus seperti ini, kau tahu aku itu ingin bebas.
Aku tidak mau terkurung seperti ini jadi tolonglah." Jelita tetus saja berbicara memohon walau ia tau Amara tak akan pernah menanggapinya tapi ini adalah salah satu-satunya hal yang dapat ia lakukan untuk membangunkan Amara dari tidur panjangnya itu.
Jelita hanya bisa menarik nafas panjang dia
merasa usahanya selama ini semua sia-sia saja. Ingin rasanya ia menangis saat membayangkan harus berapa lama lagi ia akan terkurung dalam pernikahannya. Sedang Damara akhir-akhir ini jarang pulang jika pulang pun Jelita Benar-benar akan menghindari nya. Sebab Damara pun berubah dingin dan kaku kepadanya. Tak ada lagi keributan atau pertengkaran seperti pada awal-awalnya. Dan saat Jelita tengah asyik memikirkan tentang nasipnya tiba-tiba saja ia di kejutkan dengan gerakan tangan Amara yang menggenggam tangannya.
"A_Amara kau, kau sudah bangun!" cicitnya spontan ia pun segera memanggil Dokter, tak berselang lama kemudian Dokter pun memeriksa keadaan Amara, sedangkan Jelita menanti dengan harap-harap cemas atas apa yang akan di katakan Dokter mengenai perkembangan keadaan Amara.
"Bagaimana Dokter dengan keadaan saudara saya apa dia baik-baik saja?" tanya Jelita saat sang Dokter selesai melakukan pemeriksaannya.
__ADS_1
"Semuanya sangat baik dan perkembangan nya sangat signifikan. Apa yang Anda bicarakan hari ini dengan nya itu seperti magnet tersendiri untuknya dan satu lagi apa Nona Amara mempunyai seorang kekasih yang sangat dia cintai?" tanya sang Dokter menatap lekat Jelita.
"Kek_kekasih apa hubungannya dengan kekasih yang sangat dia cintai Dokter?" bukannya menjawab Jelita malah balik bertanya namun sang dokter hanya tersenyum dengan pertanyaan Jelita tersebut.
"Karena bisa jadi orang yang sangat di cintainya itu akan memberikan dia semangat untuk membuka matanya kembali" Jelita terus mendengarkan penjelasan sang Dokter, hingga pada akhirnya ia pun membulatkan matanya dengan sempurna.
"Saya tau Dok, saya tau orangnya siapa!" serunya dengan semangat 45. Dan sang Dokter pun hanya tersenyum dan menganggu-nganggukan kepalanya saja.
*
*
*
"Aku mohon Kak Please hanya kau harapnku satu-satunya jadi aku mohon Kakak datang ya!" pintanya mengiba dengan menangkup kedua tangannya di depan dada padahal ia tau Darandra tidak akan pernah bisa melihat aksinya itu karena mereka hanya bicara lewat sambungan telepon saja.
"Tidak! aku tidak mau kau tau kan Kakak baru saja menjalin hubungan dengan Tasya temanmu itu, aku tidak mau menyakitinya!" ujar Darandra.
"Tapi Kak, aku han_"
"Cukup! Jelita, apa kau mau aku berpura-pura perhatian memberikan harapan padanya dan akhirnya menyakitinya. Apa kau gila aku bilang tidak ya tidak titik.!"
Tut...tut...tut...
__ADS_1
Darandra pun memutuskan sepihak panggilan telponnya. membuat Jelita pusing tujuh keliling dia terus mencari akal agar Darandra bisa membantunya. Dan tidak ada jalan lain ia harus menghubungi Tasya temannya sekaligus pacar kakaknya itu. Tidak ada salahnya mencoba fikir nya. Lalu ia pun segera menelpon nomor Tasya.
"Hai ada apa pengantin baru gimana rasanya menjadi istri orang yang super sibuk apa dia selalu pergi tanpa membawamu.?" Pertanyaan itulah yang Jelita dengar dari sahabatnya itu begitu sambungan terhubung.
Jelita menekuk wajahnya meski tak terlihat oleh Tasya.
"Biasa saja tidak ada yang enaknya." Jawab Jelita keceplosan.
"Maksudnya?"
"Tit...tidak maksudku aku baik-baik saja dan setidaknya dia mengajakku," bohong nya.
"Baguslah aku jadi ikut senang mendengar kalau kau bahagia dan ada apa kau menghubungi ku?" Jelita pun menceritakan semuanya apa maksudnya menghubungi Tasya, Tasya pun mendengar keluhan sahabatnya itu, dan dia juga merasa kasihan pada apa yang menimpa adik ipar Jelita tersebut.
"Baiklah aku akan mencoba untuk berbicara dengan Kak Darandra, aku sih tidak keberatan jika harus dengan cara itu ia bisa sembuh."
"Terima kasih banyak Tasya aku minta maaf jika harus melibatkan mu dalam masalah ini."
"Tidak papa Je, justru itu lah gunanya kita jadi sahabat, apa lagi adik iparmu benar-benar membutuhkan suport dari orang-orang yang di sayang nya." Setelah berucap demikian Tasya pun pamit ingin menemui Darandra agar bisa segera membahas masalah Jelita dan iparnya itu.
Jelita menatap lekat wajah pucat Amara.
"Dengarkan aku Amara aku tidak akan membiarkan mu kesepian."
__ADS_1