
Setelah berjalan kurang lebih lima puluh meter akhirnya Jelita pun menampakkan kaki di Villa yang superluas dan super mewah tersebut.
"Damar, kemana kenapa aku tidak melihatnya"
la pun mulai menyusuri ruangan di Villa itu, dan langkah kakinya terhenti, ia pun tercekat, jantungnya pun seakan berhenti berdetak, sedangkan kakinya susah untuk di gerakkan.
Perlahan namun pasti air matanya pun luruh tes, ia masih tergugu pada tempatnya, dia ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang di lihat dengan mata kepalanya itu, hanyalah sebuah mimpi belaka.
Tetapi tidak. Ternyata semuanya itu nyata, walau ia sendiri tak tau apa yang mereka bicarakan namun dari gerakan tubuh yang begitu intens dan juga berpelukan membuatnya yakin kalau suaminya, benar-benar telah mengkhianatinya dengan mantan pacar nya itu.
"Apa yang kau lakukan disini! dan berani-beraninya kau menguntitku, dasar perempuan tidak tau malu, bukankah aku sudah memecatmu! sekarang keluar dari sini sebelum aku menyuruh para penjaga untuk mengusirmu!"
"Sayang dengarkan aku!" Saat Damara ingin berbalik pergi langkah kaki nya di tahan Renata berusaha memeluk kakinya membuat emosi Damara semakin tidak bisa ia kontrol, wanita ****** keluar kau dari sini sebelum aku bertindak kasar!" Renata meringis saat Damara berjongkok, mencengkram dengan erat kedua bahunya.
Namun ia berubah tersenyum saat menyadari kehadiran Jelita yang melihatnya dari ke jauhan karena pintu sedikit terbuka, namun ia pura-pura tidak melihatnya, Jelita pun melangkah mendekat dengan kilatan amarah di matanya.
"Dengarkan aku, Tuan aku berjanji tidak akan mengangumu lagi dan aku akan meminta maaf pada istri Tuan dan juga pada adik Anda tapi untuk kali ini saja Izinkan aku memeluk mu satu kali." Pintanya dengan menarik ujung bibir nya.
"Jangan membuatku marah karena kau sudah melewati batasanmu!" bisiknya penuh penekanan sambil membuka tangan yang bertengger di lehernya.
Damara langsung membalikkan badan hendak pergi, namun Renata berusaha menarik tangannya.
"Sayang tunggu aku!" Bugh...bugh…Renata yang menarik tangan Damara segera menjatuhkan tubuhnya di saat Damara berusaha menarik tangannya agar terlepas dari genggaman tangan Renata.
Dan posisi mereka sekarang begitu intim.
__ADS_1
"Sayang kenapa kau tidak sabaran sekali sih, aku tau kau membuat wanita itu hamil karena ingin anaknya saja kan? karena aku tau kau masih sangat mencintai ku dan karena aku tidak bisa memberimu keturunan kau membuat wanita itu hamil" ucap Renata yang masih berada di atas tubuh, Damara.
Damara sendiri merasa sangat marah dengan apa yang di lakukan Renata ia mencengkram kuat bahu Renata.
"Apa-apaan kalian!" Jelita yang dari tadi sudah mendengar dan menyaksikan apa yang di bicarakan dan apa yang di lihatnya sudah tidak tahan lagi dengan adegan yang menyakitkan hati dan penglihatan nya itu.
Damara yang terkejut pun segera bangkit mendorong dengan kasar tubuh Renata yang berada tepat di atas tubuhnya, dan la melihat kilatan amarah di mata istrinya itu, dengan air mata yang sudah tumpah.
"Sas-sayang aku akan menjelaskan semuanya padamu ini tidak seperti apa yang kau lihat dan kau dengar wanita itu hanya mengada-ada saja, kita harus bicara."
"Ya! Sebaiknya seperti itu. kau harus menjelaskannya padaku!" setelah berucap Jelita pun beranjak dari tempatnya sedangkan Damara memanggil penjaga untuk menyeret Renata keluar, dan jangan lupa ia juga menyita telpon genggam milik Renata dan menyuruh orang untuk menggeledah rumah tempat tinggal nya yang sekarang. Untuk mencari cctv yang di sabotase Renata waktu kecelakaan terjadi.
"Sayang kamu di mana!" Seru Damara memanggil sang istri. la terus menyusuri selurus ruangan, namun tak mendapat kan keberadaan Jelita, hingga ia pun mengingat sesuatu.
Deg
"Sayang…aku_"
"Stop! diam pada tempatmu jangan mendekat aku mohon pergilah, jangan sakiti aku lagi, aku sudah tidak kuat lagi, apa salahku padamu. Kenapa kau lakukan semua ini padaku, kenapa? hik hik hik" baru saja Damara membuka suara Jelita lebih dulu menjedanya.
"Sayang dengarkan aku, aku hanya_" lagi-lagi Damara menjeda kalimatnya karena di saat ia ingin memeluk istrinya itu, Jelita malah memilih mundur enggan untuk di sentuh, sedang Jelita sendiri berusaha berjuang untuk melawan ingatannya yang terus saja berputar seperti kaset rusak, tampak dengan jelas, kalau Damara Benar-benar terus saja menyiksanya, bahkan hingga memperkosa nya. Tubuh Jelita bergetar karena ketakutan,saat kemudian sorot matanya tajam menatap Damara.
"Tidak…ini tidak mungkin!" jeritnya lalu Bugh. Beruntung dengan sigap Damara menangkap tubuh Jelita hingga tubuhnya jatuh di dada bidang milik suaminya itu. Damara pun dengan cepat mengangkat dan membaringkan Jelita lalu ia pun segera menelpon seseorang.
"Kak ada apa? apa yang terjadi mana kakak ipar tanya Amara yang baru saja tiba ditemani Danu. Karena ia melihat wajah Makanya yang nampak kacau.
__ADS_1
"Dari mana saja kamu Amara? kenapa kamu membiarkan Jelita datang ke tempat ini! Bukankah Kakak sudah pesan sama kamu Kamu harus menjaganya dengan baik tapi kenapa kau membawanya kemari!" sarkasnya. Tanpa ingin menjawab pertanyaan Amara.
"Maafkan aku, Kak, kakak ipar yang memintaku untuk mengantarnya kemari, Tadinya aku menolak tapi aku kasihan juga padanya." jelas Amara yang menunduk karena merasa bersalah.
"Tapi seharunya kau menolaknya. Apa kau tau, kenapa aku ingin menjual Villa ini? karena aku tidak ingin suatau saat Jelita datang kemari dan mengingat semuanya, tapi kenapa kau tak bisa menjaganya untuk ku Amara? kenapa!" teriak nya geram.
"Damara, seharusnya kamu tak menyalahkan Amara dengan semua kejadian ini, apa begini sikapmu! apa kamu akan marah kepada semua orang atas kesalahan yang pernah kau perbuat? ingat Damara jangan membuat masalah mu tambah rumit, bagaimana kalau Amara juga pergi dari sisimu, Amara sudah menjelaskannya dan dia juga sudah meminta maaf padamu kan?"
Mendengar apa yang di sampaikan Danu Damara menatap Amara dengan perasaan bersalah nya.
"Maafkan Kakak, Aku hanya takut Amara, aku takut Jelita pergi meninggal aku." Lirihnya sambil merangkul tubuh adiknya itu. Sedang Amara hanya bisa menggangguk pelan dengan air muka yang sedih.
"Sekarang kau pulanglah biarkan aku menemani Jelita di sini. Lagi pula setelah Dia sadar aku akan segera membawanya pulang. Danu antarkan Amara pulang!" perintahnya.
"Tapi, Kak_" Amara menjeda kalimatnya di saat Danu meraih tangannya, Danu mengerjapkan mata sambil menggeleng, seolah mengisyaratkan ayo jangan membantah. Padahal sebenarnya Amara sangat khawatir dengan keadaan Jelita saat ini
"Baiklah Kak," ucapnya pasrah.
"Kamu jangan khawatir Jelita akan baik-baik saja bersamaku." Jelas Damara seakan tau kekhawatiran adiknya itu. Amara dan Danu sama-sama menggangguk mendengar apa yang di ucapkan Damara. Lalu merekapun pamit undur diri.
Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu.
"Masuklah!"
"Ada apa lagi Tuan apa Anda sedang sakit, sehingga meneleponku malam-malam?" tanya sang dokter.
__ADS_1
"Bukan aku yang sakit tapi kau harus memeriksa istriku!"