
"Bunda apa Bunda tahu, kalau selama ini kami merindukan Bunda," ucap Bara saat sang Bunda Tengah asik membenarkan seragam sekolahnya, meski Renata masih berbaring namun ia mencoba memberikan hal yang bisa membuat buah hatinya itu bahagia, meski Bara bukanlah Putranya sendiri, namun tak ada batas dan perbedaan antara lbu sambung dan Anak sambung.
"Iya Bunda tahu sayang, apa kau kira Bunda juga tidak Rindu padamu bunda juga sangat merindukanmu sayang," Timpal Renata saat menanggapi pernyataan Sang putra.
"Oh jadi kau hanya merindukan Bara saja dan apa kau tidak pernah merindukanku Sayang," "Kau jangan mulai lagi deh ini masih pagi, untuk apa kau berkata seperti itu, kau ini seperti anak kecil saja cemburu sama anak sendiri," ujar Renata sambil mendelik
"Bagaimana aku tidak cemburu sayang kalau rindumu itu hanya untuk anak-anak, Bukan Untukku,"
"Bara sekarang udah selesai Bara boleh Berangkat sekolah ya nak," ujar Renata tanpa mempedulikan apa yang di katakan Baron.
"Oke,, Bunda terima kasih, assalamualaikum," "Waalaikumsalam," Bara pun pergi setelah menyalim tangan kedua orang tuanya. "Sekarang ini tinggal Baron dan Renata yang hanya saling berbicara lewat tatapan saja.
"Sayang kenapa kau tidak menjawabku, Jadi benar kan rindumu itu hanya untuk anak-anak saja Bukan Untukku juga,?" Baron pun mendekat dan meraih wajah istri itu.
"Apa kau tahu, setiap hari dan setiap detik aku selalu takut akan kehilangan dirimu apa sekarang ini kau sudah tidak mencintaiku lagi Jika benar seperti itu maka kau akan membunuhku secara pelan-pelan," ujar Baron sambil memberikan satu kecupan pada pucuk kepala Renata.
"Mas di mana Lisa,?"
"Lisa,? Kenapa kau bertanya tentang orang lain,? sedangkan kau tak mempedulikan apa yang aku katakan padamu," Baron menatap lekat sang istri.
"Aku bertanya tentang Lisa karena aku yakin kau itu sangat mencintainya, dan pasti saat ini kalian sudah menikah," Baron menarik nafas panjang dia merasa sedikit kesal karena istrinya itu mengalihkan pembicaraan pentingnya.
"Aku,, memang mencintai nya, itu dulu ketika kami masih bersama, dan aku tidak akan melupakannya karena biar bagai manapun Lisa adalah lbu dari Bara, dia sekarang sudah menjadi masa lalu ku yang harus aku kubur, seperti dia yang membawa kenangan kami pergi untuk selamanya, bahkan kau pun tidak pernah bertemu dengan Lisa yang sebenarnya,"
"Maksud mu Mas,?" tanya Renata bingung.
"Jika yang kau tanyakan adalah Risa yang pura-pura menjadi Lisa maka lebih baik lupakan saja, apa kau akan lebih Memikirkan orang jahat itu daripada aku suamimu ini,?"
"orang jahat, maksudnya?"
"Aku sudah membuatnya pergi dari hidupku jadi kau tidak perlu khawatir tentang itu, aku lebih mementingkan dirimu dan anak-anak, sekarang dan selamanya kau hanyalah milikku satu-satunya, tak akan ada yang lain, Aku saja yang bodoh selama ini, karena sudah menyia-nyiakan perhatianmu, menyia-nyiakan cintamu, dan ketulusanmu, tapi mulai sekarang aku tidak akan pernah melakukan hal itu lagi, Percayalah padaku aku hanya mencintaimu dan sangat-sangat mencintaimu," ucap Baron panjang lebar lalu memeluk Renata dengan posesif.
__ADS_1
"Dia itu orang Jahat, yang hanya ingin memisahkan kita, jadi aku mohon jangan pernah mengungkit atau bahkan mengingatnya,"
"Baiklah aku mencobanya, tapi aku mohon Jawablah aku, kenapa kau mengatakan kalau Lisa itu orang jahat karena dia ingin memisahkan kita,?"
"Sayang dengarkan apa yang akan aku ceritakan Kepadamu ini," ujar Baron, dan ia pun mulai menceritakan semuanya dari awal hingga akhirnya, Renata pun dengan serius menyimak apa yang di ceritakan suaminya itu, tanpa ingin menjedanya sama sekali.
"Aku tidak tahu, entah Sejak kapan aku mulai jatuh cinta padamu, namun Setelah Kau Pergi Aku merasa sangat Kehilangan bahkan aku merasa seluruh duniaku runtuh saat menyadari kalau kau tidak disisiku waktu itu,apa sekarang kau sudah mulai percaya pada suamimu ini,?" ucap nya dengan mata yang berkaca-kaca penuh penyesalan tanpa ada sara malu ia pun sedikit terisak, membuat Renata tak enak hati, karena ini untuk kali pertama ia melihat begitu banyak cinta di mata suaminya itu.
"Sayang Hei...kau kenapa? kenapa kau sangat cengeng sekali? aku itu sangat mencintaimu, lagi pula, sejak kapan Aku mengatakan kalau aku tidak percaya bahwa kau mencintaiku dan aku pun sangat-sangat mencintaimu dari dulu hingga detik ini, kau mengerti suamiku,?" mendengar perkataan istrinya itu, Baron langsung memeluk wanitanya kembali dengan posesif, bahkan kini memberikan ******* lembut di bibir Renata, dan ******* itu berubah menjadi panas di saat Renata pun membalasnya dengan penuh kelembutan Renata segera mendorong tubuh Baron saat merasakan ia akan kehabisan nafas.
"Sayang Apa kau ingin Membunuhku?" kesal Renata.
"Maafkan Aku, aku khilaf," kekeh Baron, lalu mengusap bibir istrinya yang ranum itu.
"Aku ingin bertemu Cahaya sayang, apa aku boleh menemui nya?" Ucap Renata.
"Tentu saja sayang, Aku bisa membawanya untuk mu, tapi cahayanya lagi bobok, Tadi aku memandikannya habis itu dia Langsung tertidur, setelah minum susunya,"
"Aku merasa senang sekali, bahkan aku merasa bangga banget, sekarang bisa merawat mereka, terima kasih telah memberikanku seorang bidadari kecil yang sangat cantik kau telah memberikanku sebuah kebahagiaan yang sempurna, Tetaplah seperti ini bersamaku selamanya, hingga maut memisahkan kita,
Aku mencintaimu istriku sangat-sangat mencintai mu," ucap Baron kembali yang tak henti-hentinya mengucapkan kata-kata sayang nya dan juga tak putus-putusnya mengucapkan kata cintanya yang tulus kepada Renata.
"Iya aku percaya itu sayang aku pun sangat mencintaimu, sangat dan sangat I love you," ucap Renata.
"I love you too darling,?"Mereka pun kembali saling berpelukan untuk melepaskan rasa yang membuncah di hati mereka masing-masing.
"Terima kasih sayang, karena kau masih mencintaiku aku juga berterima kasih karena kau membalas cintaku." Tutur Baron dengan senyum yang merekah.
"Sebaiknya kau sarapan dulu, tunggu aku akan mengambilkan nya untukmu," Renata hanya mengaguk, kemudian Baron pun pergi meninggalkan wanitanya, tak lama ia pun kembali menenteng makanan lalu dengan telaten ia pun menyuapi sang istri suap demi suap hingga makanannya benar-benar tandas tak bersisa.
"Bagaimana rasanya apakah kau menyukainya? aku harap kau menyukainya karena itu sangat spesial sekali aku yang buat untukmu."
__ADS_1
"Benarkah kau sendiri yang membuatnya untukku?" Tanya Renata tak percaya karena apa yang di rasanya memang sangat lah lezat.
"Tentu saja dan sekarang sebaik nya kau mandi dulu aku akan menggendong mu masuk."
"Tapi sayang aku__"
"Kenapa apa kau takut?"
"Aku hanya malu,"
"Apa koma selama 6 bulan membuat istriku ini jadi pemalu hemm...," Baron dengan Gemas mencium pipi gembul istrinya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Haiii...yuk kepoin juga novel di bawah ini👇 dan jangan lupa budayakan like komen vote juga hadiahnya, biar para Author bisa tetap berkarya.
**Nomor 24
Berkisah tentang Janela Arsana (Our Love Story) yang harus menikah dengan Keenan Sanjaya (Menikahi Pamanmu) karena berada pada situasi yang tidak sengaja dan disaksikan oleh orangtua masing-masing. Juga nasib Kyra Sanjaya adik dari Keenan Sanjaya, yang melakukan one night stand bersama Jeff karena mabuk.
Janela harus melewati hari-hari pernikahan dengan pria yang lebih dewasa dan tanpa cinta. Sedangkan Kyra harus rela jika Jeff ada hubungannya dengan masa lalu sang Ayah.
“Pak Keenan, cangkir itu bekas bibir saja. Ini sama saja kita melakukan ciuman tidak langsung,” ujar Janela dengan polosnya membuat Keenan menyemburkan kopi yang sedang dia minum.
***
“Aku harus tanggung jawab?” tanya Jeff lalu terbahak. “Kyra sendiri yang datang padaku dengan keadaan mabuk dan merayu layaknya perempuan jal*ng. Lalu kalian berharap aku akan bertanggung jawab. Tidak akan pernah.”
Bagaimanakah kisah pernikahan Keenan dan Janela dan sedramatis apa hubungan Jeff juga Kyra**
__ADS_1