
Damara terus saja berlari kecil mengejar istrinya yang nampak sedang marah padanya. hingga masuk ke mobil pun sepertinya Jelita berniat sedang mendiamkannya.
"Sayang! apa kau akan mendiamkan suamimu ini hanya karena wanita itu!"
"Namanya Renata apa kau lupa!"
"Sayang Ak_"
"Cepat jalan!" kesal Jelita.
"Damara pun mau tidak mau menuruti saja apa yang di katakan wanitanya tersebut, daripada dia di usir tidur diluar.
:
"Sayang sebenarnya kamu kenapa?" tanya Damara mendekati sang istri setelah Baby Ar, selesai di susui.
"Apa yang telah dikatakan Renata padamu? Aku harap dia tidak menghasutmu." Damara berucap penuh dengan nada kekhawatiran.
Jelita membaringkan sang bayi di dalam boxnya, dan kini dia pun melangkah ke dalam kamar pribadinya.
"Sayang…maafkan kau boleh marah atau pun mencaci bahkan menamparku, aku tidak apa-apa, tapi aku mohon jangan diam seperti ini" Damara memeluk tubuh ramping sang istri dari belakang, lalu wajah nya pun menempel pada wajah sang istri.
Jelita sendiri merasakan hembusan Nafas suaminya yang beraroma mint membuat nya kini sedikit lebih tenang, Jelita membalikkan tubuhnya, lalu memeluk erat tubuh Damara sambil menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang suami.
Damara pun mengerti kalau istrinya sekarang sedang butuh ketenangan dan kasih sayang bukan pertanyaan yang tak ingin di jawabnya. Dan merasa Jelita membutuhkan nya, Damara pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia memeluk erat dan sekali-kali mengusap lembut punggung sang istri yang terlihat berguncang menandakan kalau ia sedang menangis.
__ADS_1
Damara mengurai pelukannya dan membingkai wajah sang istri yang kini mulai berair, Damara begitu khawatir melihatnya, namun bertanya pun tak akan ada jawaban membuat Damara lebih fokus memberikan kecupan mesranya ke seluruh wajah sang istri, sambil menghapus sisa air mata yang membasahi wajah cantik wanitanya itu.
"I love you" bisik Damara lembut di telinga sang istri.
"I love you too" balas Jelita tak kalah lembutnya membuat Damara gemas. la tak menyangka akan mendapat balasan dari istrinya itu.
"Maafkan aku, karena mengabaikan semua perkataanmu, dan tidak menjawab pertanyaan mu, aku benar-benar minta maaf" isaknya kembali menengelamkan wajah nya kedalam dada bidang sang suami. Damara pun semakin memberikan pelukan hangatnya. Walau pada kenyataannya ia masih dibuat binggung, dengan perubahan sikap jelita.
"Hei…Sayang lihat aku katakan padaku apa sebenarnya yang membuatmu bersedih?" Damara menatap netra sang wanita nya, la hanya ingin menyelami apa yang di rasakan, oleh sang istri.
"Aku menangis mengingat masa pertama kali kita menikah, di mana tak ada cinta dan kebahagiaan sama sekali." Lirihnya.
Deg.
"Sayang maafkan aku, aku orang yang paling banyak berasalah dalam hal ini. Dan aku mohon lupak_ummp" Suara Damara hilang di saat Jelita memberanikan diri untuk melum...atnya."
Dengan mata yang membulat Damara pun menyambut apa yang di lakukan wanitanya itu dengan penuh semangat. Kini mereka saling menggulum dan saling membelit lidah, bahkan saling bertukar Saliva.
Jelita pun melepaskan tautannya, saat merasa kalau dirinya susah untuk bernafas. Namun itu hanya sesaat, kini Damara yang sudah terbakar hasratnya merengkuh dengan lembut pinggang sang istri, lalu ia memberikan gigitan lembut pada leher jenjang yang selalu menggodanya itu. Dan ntah sejak kapan mereka berdua polos seperti bayi.
"Jangan salahkan aku jika aku akan meminta lebih dari ini karena kau yang memulainya sayang." Bisiknya lembut sambil mengelus dengan lembut dua buah yang menggantung dengan kokoh seolah menantangnya ingin segera disesapi, karena posisi mereka yang masih dalam ke adaan berdiri membuat Damara sedikit menunduk, untuk memberikan sesapan lembutnya.
"Ahk…satu des..ahan pun lolos keluar dari bibir Jelita, disaat Damara terus bermain dengan lembut, di tempat favoritnya itu.
"Sayang aku ingin_" Ucapa Damara berat karena sesuatu yang menegang dari tadi di bawah sana.
__ADS_1
Jelita menggelengkan kepala agar Damara tidak melakukannya, membuat wajah Damara terlihat sedikit kecewa karena lagi-lagi ia belum bisa di izinkan untuk memasuki sarangnya. Saat Damara memasang wajah lesu pada saat itu lah Jelita mendorong tubuh Damara hingga ia terlentang di atas tempat tidur, dan dengan lihainya Jelita memainkan perannya kini gilirannya yang memimpin permainan.
Apa yang di lakukan sungguh di luar dugaan.
setiap sentuhannya mampu membuat Damara mengerang bahkan sensasi nya sungguh luar biasa, apa lagi di saat Jelita menggulum dengan lembut sesuatu miliknya Damara memejamkan matanya, sambil mencengkram pinggiran tempat tidur, hingga tanpa sadar tangannya menekan kepala Jelita agar Jelita melakukannya lebih dalam lagi, Jelita pun faham apa yang di inginkan lelakinya itu.
"Sas-sayang…ahk…ahk…aku…aku ingin mengeluarkan nya" ucap Damara disaat merasakan sesuatu miliknya seperti akan meledak, dan dengan cepat ia menarik miliknya keluar agar dia tidak menumpahkan nya di dalam.
Damara menatap tidak percaya dengan apa yang telah di lakukan wanitanya itu sungguh dia tidak pernah menduga kalau istrinya punya keahlian dalam memberikannya kepuasan dan dia tau cara melakukannya.
Damara tersenyum menatap tubuh sang istri yang kini sedang memeluknya dalam keadaan yang masih polos.
Damara pun membalas pelukan itu sambil terus menghujani Jelita dengan dengan kecupan, kecupan sayangnya.
"Sayang terimakasih untuk apa yang kau lakukan malam ini. Dan kau tau kau itu sangat luar biasa." Damar pun tersenyum mengingat apa yang dilakukan istrinya beberapa saat yang lalu. Ada rasa bangga di hatinya di saat melihat istrinya itu bisa menaklukkannya.
"Sayang, Aku penasaran sebenarnya kau belajar dari mana melakukannya? aku jadi heran. Jangan-Jangan_" Damara tak melanjutkan ucapannya karena ternyata orang yang di temani nya bicara ternyata sudah memejamkan kedua matanya alias ketiduran.
"Ya…ampun sayang, kenapa kau semakin menggemaskan, sekali, dari tadi ternyata aku hanya bicara sendiri tapi ya sudahlah Kamu nampak semakin tambah cantik dan seksi. Dan itu yang membuatku semakin jatuh cinta padamu." Damara yang tahu. kalau istrinya sedang lelah memilih untuk tidak membangunkannya.
Damara meraih selimut yang tergerai di lantai lalu menyelimuti tubuh wanitanya yang tertidur dalam keadaan masih polos itu. Sedangkan la sendiri meraih handuk lalu masuk kedalam bathroom untuk membersihkan tubuhnya.
Setelah selesai dengan segala aktivitasnya Damara pun segera masuk kedalam selimut untuk menyusul istrinya yang sudah lebih dahulu berada di peraduan.
"Sayang kau! Hah…!"
__ADS_1