
Tak...tak...tak...!
Suara derap langkah kaki Dara yang terburu-buru menggema memenuhi lorong rumah sakit. Kini Ia melangkah menuju sebuah ruangan khusus dimana suaminya sedang terbaring di meja operasi.
''Jelita, Reno! bagaimana keadaan Exel apa dia baik-baik saja?''
''Kakak! Kak Devan, Nona Tante Sonya!" Jawab Jelita dan Reno bersamaan begitu mengetahui kedatangan Dara Devan dan Sonya.
''Untuk saat ini kami belum tau karena Kak Andra masih didalam Kak.'' Terang Jelita.
''Anda tak perlu khwatir Nona didalam juga ada Dokter David yang menangani Tuan, Tuan pasti akan baik-baik saja.'' Ujar Reno menenangkan Nonanya itu.
''Benar apa yang di katakan Reno sayang kamu jangan khawatir Exel itu orang yang kuat jadi tenangkan dirimu. Mari kita berdoa saja.'' Sela Sonya sambil mengelus punggung Dara yang sedang bergetar karena kini dia tengah menangis.
''Dara kemarilah!'' seru Devan sambil mengulurkan kedua tangannya Dara pun menoleh dan menatap ke dua tangan Devan yang terjulur ke arahnya lalu Ia pun menatap Devan dengan tatapan sedihnya.
Devan memberikan isyarat dengan mengerjapkan kedua matanya, yang di sertai anggukan serta senyuman kecil. Dara meraih kedua tangan Devan lalu Devan pun menggenggam erat kedua ujung jemari Dara. Lalu Dara pun memejamkan mata serta menarik nafas panjang, kemudian menghembuskannya keluar itu ia lakukan beberapa kali hingga ia benar-benar merasa sedikit lega.
''Bagaimana sekarang?''
''Sudah agak mendingan Kak.'' sahut Dara, ''Bukankah aku pernah bilang lakukanlah jika kau merasa tertekan lakukanlah hal seperti tadi.''
''Iya Kak maaf aku lupa terimakasih Karena sudah mentransfer kekuatan untukku.'' Ungkap Dara. Membuat ketiga orang di dekatnya hanya saling menatap mendengar ucapan Dara.
"Dara, aku tidak menyangka begitu mudahnya kau melupakan apa yang aku ajarkan sejak kecil hanya karena Exel yang baru kau Nikahi, dan aku seperti orang bodoh berharap kamu bisa kembali lagi padaku apa aku salah jika mengharapkanmu lagi Dara. Tapi yang pasti nya aku selamanya tak bisa melupakanmu.
Gumam Devan namun hanya dalam hatinya. Sedangkan matanya masih fokus menatap wajah cantik di depannya itu tanpa berkedip.
''Ehem ehem..!''
Jelita berdehem dengan kencang membuat Devan tergagap salah tingkah seperti maling tertangkap basah.
Sedangkan Jelita menahan senyumnya agar jangan sampai mengeluarkan suara tawa, Ia sangat faham kalau Devan masih sangat mencintai Kakaknya itu.
__ADS_1
Ceklek...!
Terdengar suara pintu ruangan operasi yang baru saja terbuka, membuat semua orang yang berada di tempat itu pun menoleh. Dan nampak para tim Dokter dan petugas medis lainnya, mendorong bangkar yang di atasnya terbaring tubuh seorang Pria siapa lagi kalau bukan Exel yang baru saja selesai di operasi.
Dara yang melihat tubuh suaminya di dorong segera menghambur mendekat. Namun Dokter David menahannya.
''Maaf Nona untuk sementara biarkan Tuan Exel steril dulu Nona. Karena itu Anda di minta untuk tidak mendekat dulu tunggu beberapa saat lagi baru Anda bisa menemuinya, kami akan memindahkannya terlebih dahulu!'' ujar Dokter David memberikan penjelasan.
''Tapi Dok!_"
''Benar yang di katakan Dokter David Dara, kamu harus sabar hanya untuk beberapa saat saja.'' Sela Darandra menjeda kalimat Dara.
Dara pun kembali mengangguk lemah sembari menatap nanar tubuh suaminya yang semakin menjauh dari hadapannya itu.
''Kak, ayo kita juga kesana!'' ajak Jelita sambil merangkul pinggang kakaknya itu. Dara pun melangkah dengan gontai karena perasaannya kini campur aduk antara sedih dan bahagia, Ia bahagia karena Exel ternyata adalah kakak sepupunya, dan kini menjadi suaminya dia bersedih karena belum di izinkan untuk bertemu dengan suaminya itu.
''Duduklah Kak!''
*
*
*
"Kamu tega Mas, sama aku dan Dara, kenapa harus sekarang kamu menjelaskan semuanya! bagaimana kalau semuanya terlambat? dan kamu Mas yang menyebabkan Kenan, seperti ini! aku membencimu Mas, karena kamu mencelakakan kedua anakku!"
Anggun histeris saat mengetahui kalau Exel itu adalah Kenan putranya yang Ia sangka sudah meninggal, dan kini berada di Rumah Sakit, bahkan Anggun kesal ketika mengetahui rencana suaminya itu, apa lagi saat mengetahui kalau Dara mendapat banyak siksaan dan tekanan dari Exel suaminya.
"Sonya sebelumnya sempat menghubungi Rafa dan memberitahukan kalau Exel kecelakaan dan penyebabnya setelah Ia mendengar Dara diculik, Rafa yang terkejut pun segera menemui Anggun dan berkata jujur tentang siapa Exel sebenarnya, dan tujuannya menyetujui pernikahan Exel dan Dara.
Namun kejujurannya menyulut amarah Anggun, karena Anggun merasa kecewa atas ketidak jujuran suaminya itu. Kenan yang Ia sangka meninggal kini masih hidup namun suaminya memilih bungkam dan malah mengorbankan nasip putrinya.
"Sayang dengarkan aku dulu!" teriak Rafa yang melihat langkah tergesa-gesa istrinya begitu turun dari mobil. Namun seolah tak memperdulikan teriakan Rafa Anggun terus mengayunkan langkah kakinya menelusuri lorong rumah sakit. Membuat Rafa mau tidak mau harus mengejar langkah istrinya itu.
__ADS_1
''Tunggu dulu sayang dengarkan penjelasan ku dulu!" cicit Rafa meraih tangan istri hingga membuat Anggun menatapnya dengan tatapan tajam.
Glek.
Dengan susah payah Rafa menelan salivanya ini untuk pertama kali Ia melihat Anggun begitu marah namun Ia tidak perduli Ia hanya ingin tak ada kesalah fahaman lagi yang terjadi seperti saat Ia dan Anggun baru menikah.
"Sayang dengar_"
"Cukup Mas! aku tak ingin mendengar apapun darimu aku hanya ingin anak-anakku baik-baik saja, dan yah! jangan berbicara apapun padaku karena aku belum memaafkanmu! jadi mulai saat ini aku tak akan berbicara denganmu lagi!" ucap Anggun panjang lebar. menjeda kalimat Rafa, dengan menekan setiap kalimat yang di ucapkannya.
Lalu Ia pun berbalik pergi meninggalkan Rafa yang masih binggung. Bahkan belum percaya dengan apa yang di ucapkan istrinya itu.
"Dara! Jelita!"
"Bunda...!" cicit Dara dan Jelita menoleh
bersamaan begitu mengetahui siapa yang berteriak memanggil namanya.
"Dara, kamu baik-baik sajakan Nak?" ucap Anggun sambil memeriksa wajah putrinya itu bahkan seluruh tubuh dan tangan Dara tak luput dari pemeriksaannya dan dia begitu terhenyak melihat ada bekas luka di wajah putrinya yang sedikit membiru dan bekas luka di jemari tangannya.
Anggun lalu meraih tubuh sang putri lalu memeluknya dengan erat. Membuat semua yang berada di tempat itu menatap heran yang sakit kan Exel kenapa Dara yang di periksa fikir mereka.?
''Maafkan Bunda. Karena terlambat mengetahuinya!" cicitnya.
"Aku tidak apa-apa Bunda percayalah Dara baik-baik saja.'' sela Dara tak ingin melihat bundanya khawatir. Sedangkan Rafa yang semula melihat semuanya dari jauh kini mulai mendekat.
''Mas Raf_!''
Sonya menjeda kalimatnya saat melihat isyarat dari Rafa yang mengangkat tangannya tanda Sonya harus diam. Sonya pun hanya mengangguk tanda mengerti.
Dan semua mata kini menatap ke arah Rafa yang baru saja tiba, namun tidak dengan Anggun ia malah berpaling membuang muka dan itu mampu membuat Rafa merasa sesak.
''Bunda Kak Kenan!"
__ADS_1