
"Bagaimana, kabarmu hari ini Ra,?"
"Kakak…! kau, mengagetkanku saja. Sejak kapan Kakak, datang?" tanya Amara mengelus dadanya, yang dikejutkan dengan kedatangan Damara, yang sudah berada di rumah sakit. Bahkan, kini sudah berada di kamar rawatnya dengan posisi sedang berbaring di sebuah sofa.
"Baru 30 menit yang lalu, kata perawat. Kamu sedang melakukan pemeriksaan, CT Scan, makanya Kakak, sekalian saja menunggumu di dalam Ruangan ini. Sekalian Kakak juga mau merebahkan diri, karena terlalu penat pulang dari luar kota."
"Apa Kakak baik-baik saja? tidak terjadi sesuatu kan?" tatap Amara dengan tatapan menyelidik.
"Terjadi sesuatu maksudmu?" Damara menautkan ke dua alisnya.
"Maksudku, Kakak dan kakak ipar. Apakah kakak baik-baik saja?"
"Kami baik-baik saja. Memangnya kenapa kamu bertanya seperti itu?" Damara berjalan mendekati Amara, dan membantunya berdiri karena Amara, di antar menggunakan kursi roda oleh perawatnya, dan Amara pun segera menyuruh perawat itu pergi saat mengetahui bahwa kakaknya berada di kamar tersebut.
"Tidak hanya saja kemarin__" Amara menjeda kalimatnya, ragu kalau Kakaknya itu akan, marah karena mereka sempat-sempat nya menolong orang yang sangat di benci Kakaknya itu.
"Kakak, sudah tahu semuanya kok. Sebelum kamu mengatakannya, apa kamu lupa kakak mempunyai pengawal di mana-mana. Dan ketika Kakak sampai di rumah Jelita langsung menceritakan tentang keadaanmu, makanya Kakak hanya Sebentar di rumah, lalu kakak segera meluncur ke sini, untuk melihat keadaanmu."
"Jadi kakak benar-benar baru tiba pagi ini?" tanya Amara tak enak hati karena karena Kakaknya yang jauh-jauh dari luar kota tanpa istirahat datang menjenguknya. Dan dia pun merasa lega karena Sang Kakak, ternyata sudah lebih dulu mengetahuinya.
"Iya karena perjalanan yang kami tempuh sangat jauh dan juga banyak rintangannya jadi Kami sempat bermalam di jalan.
"Oh jadi seperti itu Aku pikir__"
"Kamu pikir apa? kamu pikir Kakak sama Jelita__?"
"Iya Kak,"
"Sudahlah Amara Jangan berpikir yang macam-macam."
"Amara hanya takut dan khawatir saja Kak." "Jangan khawatir. Kakak dan Jelita baik-baik saja, dan Kakak tidak ingin. Mengulangi kesalahan Kakak lagi, apalagi sekarang sudah ada Arjuna diantara kami. Oh ya bagaimana kabar Danu dan hubunganmu dengannya?" Dan pertanyaan Damara itu mampu membuat, Amara terdiam.
"Amara, apa kau mendengarkan pertanyaan Kakak?"
"l-iya it-itu Eeh Anu Kak__"
"Amara, sekarang Kakak tidak akan mengatur kebahagiaanmu lagi. Carilah sendiri kebahagiaanmu itu. Berjuanglah, untuk meraih kebahagiaanmu, tapi ingat, tidak dengan cara menyakiti orang lain. Apa kau mengerti apa yang kakak maksudkan?"
"Iya Kak, Amara mengerti." Angguk Amara pelan.
__ADS_1
"Oh ya bagaimana hasil CT scan-nya, kapan keluarnya?"
"Dokter bilang 2 minggu lagi Kak, baru bisa dilihat dengan jelas Apa penyebab kepala Amara sering sakit."
"Sering sakit, maksudmu, jadi selama ini kamu sering merasa sakit kepala?"
"Iya Sih Kak, aku fikir hanya akan sakit biasa saja."
"Baiklah, istirahat yang cukup, agar staminamu bisa kembali, Kakak keluar dulu."
Amara pun hanya mengaguk, saat Damara membantunya untuk berbaring, dan dia pun hanya menatap kepergian sang kakak, hingga Damara hilang di balik pintu.
"Permisi!"
Baru saja Amara ingin menutup matanya suara seseorang mengusiknya.
"Maaf. Nona, saya membawakan sarapan untuk Anda" Ucap seorang Perawat yang menenteng baki yang berisi makanan di dalamnya."
"Setelah makan Anda harus meminum obat Anda Nona." ujar sang suster memberikan beberapa bungkusan resep obat. Dan itu membuat Amara bergidik ngeri, membayangkan harus berapa obat yang akan di konsumsinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mas, Baron ke mana sih? Katanya dia pergi cuma sebentar, tapi sampai sekarang belum datang juga, atau jangan-jangan. Mas Baron
hanya...? tidak-tidak, aku tidak ingin berpikiran buruk tentang Mas Baron. Biar bagaimanapun dia itu suamiku, aku sudah berjanji pada diriku untuk menjadi istri yang baik untuknya, dan aku akan bertahan dengan apapun yang terjadi."
Renata segera menepis pikiran buruk tentang suaminya itu, sebelumnya memang Baron, pamit padanya untuk keluar sebentar, namun hingga kini batang hidungnya belum kelihatan juga.
Flashback on.
"Mas Baron...? kenapa Mas Baron tidur di sampingku? dan. Kapan dia datang, dan bagaimana dengan. Bagaimana dengan keadaan Bara sekarang ini? ya Allah selamatkanlah anakku ya! Allah, semoga darahku cocok untuk Bara."
Gumamnya merasa gelisah dalam hati.
"Bagaimana kalau aku bertanya saja, sama Mas Baron, tit-tidak dia pasti akan tahu nanti kenapa aku bisa mengenal Bara, dia pasti akan curiga dan bertanya kepadaku. Aku tidak mau sampai Mas Baron, tahu." Renata terus bingung, dan bergelut dengan pikirannya sendiri.
"Oh ternyata kamu sudah sadar juga, aku kira kamu tidak akan sadar-sadar, menyusahkan saja."
"Eh...em Mas, kamu sudah bangun ya?"
__ADS_1
"Kamu sudah lihatkan, aku sudah bangun. Dasar bodoh!"
"Maaf, maafkan aku yang sudah__"
"Lupakan, kau mengusik tidur nyenyakku!" sela Baron, yang terus saja memberikan perkataan pedasnya kepada Renata.
Namun Renata yang terus mendapat jawaban ketus, dari suaminya itu berusaha untuk tidak mengambil Hati, ia berusaha terus memberikan senyuman, untuk sang suami.
"Terima kasih ya, karena telah mau,menjagaku di sini."
"Jangan terlalu pede kamu. Aku itu hanya ketiduran bukan sengaja menunggumu. Kalau aku tidak ketiduran, mana Sudi aku menemanimu di sini. Menyusahkan saja."
"Aku minta maaf, kalau aku menyusahkanmu. Tapi aku berjanji. Kedepannya, kalau aku sembuh, aku janji tidak akan menyusahkan mu lagi."
"Sudahlah, aku lapar. Aku mau cari makan dulu, kamu mau makan apa.? Nanti aku bawakan ke sini."
"Aku ingin bubur ayam saja mas,"
"ya, sudah. Tunggu aku sebentar. Aku akan kembali. Setelah lama mendebat istrinya Baron merasakan perutnya keroncongan, dan akhirnya Baron meninggalkan Renata. sedangkan Renata menatap kepergian suaminya dengan tatapan penuh tanya dan bingungnya.
la masih heran kenapa suaminya mau menungguinya, la tahu kalau Baron hanya berpura-berpura-pura saat mengatakan kalau dirinya hanya ketiduran, dan ketika diajak bicara suaminya itu tidak memberikan respon yang positif kepadanya.
"Aku tahu Mas, kalau kamu memang sengaja,menunggu hingga aku sadar." Lirihnya
Setelah menunggu 15 menit, akhirnya Baron, kembali dengan menenteng plastik yang berisi makanan untuk mereka sarapan, lengkap dengan rambut pria itu yang sudah basah saja, entah mandi di mana dia.
"Makanlah cepat! aku tahu kamu pasti lapar." Ujarnya sambil menaruh makanan yang di bawanya di atas tempat tidur tepat di samping Renata.
"Kamu mau ke mana?" tanya Baron saat Renata hendak bangun dari tidurnya. "Aku ingin minum Mas,"
"Diamlah, di situ dan. Tunggu Aku!"
Baron pun segera meraih gelas di atas nakas, lalu mengisinya dengan air, kemudian Ia pun menyerahkan nya kepada Renata.
"Tunggu! sebentar biar aku akan membantumu. ucapnya lagi saat melihat Renata kesusahan,untuk meminum air yang diberikan. Ia mengangkat sedikit tubuh Renata, lalu menyangga nya dengan bantal. la juga membantu Renata, untuk meminum air, dan setelah itu ia pun menyuapi Renata dengan bubur ayam, yang dibawanya tadi.
"Mas, kok cuma satu bungkus, kenapa kamu tidak makan? bukan kah tadi kamu bilang kamu lapar?"
"Kamu makan aja dulu, tidak usah banyak bertanya dan bicara Faham!"
__ADS_1