
"Sayang sebentar lagi aku berangakat, kamu sekalian ikut aku saja, aku akan mengantar mu ke tempat Kak, Exel," Damara berjalan sambil menarik koper yang akan di bawanya pergi.
"Baiklah sayang aku siap-siap dulu," Jelita pun segera mengemasi barang seperlunya aja toh di tempat Dara juga semuanya pasti lengkap.
"Bagaimana apa semuanya sudah siap sayang?"
"Sudah, lagi pula aku tidak membawa keperluan yang banyak semuanya sudah tersedia di sana,"
"Baiklah ayo biar Aku yang gendong baby Ar, biar kamu sama aku bisa duduk di belakang," Damara meraih sang baby sedang tangan satunya menggandeng mesra sang istri.
Baron, yang melihat kemesraan Tuanya itu menatap penuh arti, ntah mengapa hatinya merasa bergemuruh, bukan karena marah, namun karena sekelebat, bayangan antara dirinya dan Renata selama satu bulan, berpura-pura menjadi keluarga sungguhan dan bahagia, terus berputar di otaknya.
"Baron, ayo jalan! Baron,!"
"Ah,, ya Tuan m-maaf," Baron sangat menyesali kebodohan nya, dia menatap kaku pada Damara bisa-bisanya dia melamun di saat seperti ini.
"Apa kau baik-baik saja? atau mungkin kau kurang sehat? Kalau kau kurang sehat sebaiknya kau tidak perlu berangkat."
"Ti-tidak, Tuan, saya baik-baik saja, hanya saja saya sedang mengingat seseorang," Jawabnya tanpa sadar.
"Kau itu belum sampai di tempat tujuan sudah merindukan Renata, aku tau kau pasti mengingatnya dan merindukan nya, aku tidak menyangka kalau kau akan jatuh cinta padanya."
Deg.
Mendengar apa yang baru saja di katakan Damara membuat perasaan Baron berdegup kencang, namun perasaan itu hilang berganti dengan perasaan yang tidak enak, ntah mengapa dari tadi memang ia memikirkan istrinya itu karena semenjak pergi meninggalkan Renata di kamar, la pun tak ada niat untuk kembali, atau hanya sekedar untuk berpamitan pada wanitanya tersebut.
"Kamu tenang saja aku yakin Renata tidak akan pergi jauh kok, ayo kita jalan"
__ADS_1
"Baik Tuan," Jawabnya dengan berat lalu meluncur meninggalkan rumah utama.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bagaimana keadaan kak, Renata Dokter,?" Amara terlihat khawatir saat mendapatkan Renata yang pingsan di dalam kamarnya, apa lagi saat melihat darah yang keluar dari sela pahanya itu.
Amara segera meninggalkan kafe tempat dia bekerja untuk menuju kediaman Renata setelah sesaat ia di telpon, dan Amara pun sempat terkejut saat mendengar rintihan kesakitan, dan benar saja ternyata, Renata yang di temui nya sudah tergeletak tak berdaya dengan wajah pucatnya.
Dan dia berusaha menelpon Dokter David, untuk membantunya dengan bantuan Dokter David akhirnya Renata segera di bawa kerumah sakit.
"Kamu tenang dulu jangan panik aku akan berusaha mengurus dan memeriksanya," Amara hanya menjawab lewat anggukan saja karena, ia juga tiba-tiba merasa pusing, la pun memilih duduk sejenak, dan di lihatnya kini malam mulai turun menyelimuti, bahkan rintik hujan mulai gemericik seperti sebuah alunan musik yang lambat laun menjadi seperti sebuah paduan suara yang di iringi oleh musik orkestra, bahkan siulan angin tak ketinggalan mengambil bagian, meniup dahan dan ranting seolah ikut menikmati suasana dengan terus meliuk-liuk bak penari latar.
📲Drt...Drt...Drt.
Suara getar telepon membuyarkan lamunan dalam kepenatan nya, namun baru saja ia ingin mengangkat, telepon genggamnya tiba-tiba saja sinyal di tempat itu menghilang.
Ia Pun kembali untuk mengangkat telepon namun ketika teleponnya kembali terangkat tiba-tiba saja teleponnya mati.
"Astaga,, ya ampun, Kenapa aku sial sekali sih? tidak ada baterainya lagi, Bagaimana kalau Kak, Darandra marah padaku pasti dia akan mengangapku yang tidak-tidak lagi," pikir Amar dengan kebingungannya.
"Tapi biar saja, untuk apa aku memikirkan dia marah atau tidak? selama ini dia kan seperti itu tidak pernah berubah sekalipun, dia akan berubah baik dan manis kalau ada maunya saja menyebalkan," Gerutu Amara lalu Beranjak Pergi Kembali ke tempatnya semula Ia pun kembali menghempaskan bokongnya lalu bersandar pada sandaran kursi.
*
Sementara, itu di dalam sebuah mobil yang dibawa oleh Baron ada Exel, Damara dan juga Rony ikut serta Rony duduk tepat di samping Baron karena ia ditugaskan untuk menggilir Baron ketika ia merasa letih membawa mobil.
"Baron hati-hati awas!!!" teriak Rony saat Baron hampir saja lengah, tak begitu memperhatikan kondisi jalan yang berada di depannya. Untung saja dengan cepat ia banting setir dan mengerem mendadak membuat Excel dan Damara terkejut bahkan kepala kedua nya membentur kursi yang ada di depan mereka.
__ADS_1
"Astaghfirullahaladzim," Baron berucap sambil mengelus dadanya.
"Ada apa denganmu Baron? kenapa aku perhatikan dari semenjak berangkat kau tidak konsentrasi dalam membawa mobil? kau bisa membunuh kami semua di sini!" sentak Damara.
"Maafkan saya tuan, saya..."
Katakan padaku Sebenarnya apa yang terjadi padamu? aku perhatikan dari tadi kau hanya diam dan sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu,?"
"Maafkan saya tuan, saya tidak sengaja Sungguh saya benar-benar minta maaf," ucapkan ia merasa malu karena seperti orang yang tidak bertanggung jawab dengan pekerjaannya.
"Oke baiklah untuk kali ini aku memaafkanmu Tapi sebaiknya biar kan Rony yang membawa mobil kau beristirahatlah, dan Tenangkan pikiranmu jika kau punya masalah sebaiknya kau selesaikan masalahmu dengan baik-baik, tidak baik kau memendamnya karena itu akan membuatmu sakit dan menghancurkan dirimu sendiri apa kau paham dengan apa yang ku apa maksudkan ini.?
"Iya Tuan,, sekali lagi saya minta maaf dan terima kasih Tuan."
"Rony, sebaiknya kau gantikan posisi Baron!" "Baik Tuan," jawab Roni lalu ia pun segera turun begitupun dengan Baron.
"Apakah ini tentang Renata tanya Damara saat Baron mulai duduk.
"Entahlah Tuan, tapi dari tadi perasaan saya sudah mulai tidak enak seperti sedang terjadi sesuatu di rumah tapi, Semoga saja tidak ada apa-apa."
"Baiklah, sebaiknya sekarang kau istirahat, Tenangkan pikiranmu, dan setelah kita sampai kau boleh menelpon Renata, kau bertanya padanya apa yang terjadi sebenarnya disana.
"Baik Tuan, Terima kasih" Baron pun menarik nafas panjang lalu menyandarkan tubuhnya iya berusaha untuk tenang, Walau sebenarnya di dalam hatinya begitu gelisah.
Entah mengapa Semenjak dia pergi ia selalu memikirkan tentang Renata, Entah mengapa juga ia merasa kalau Renata tidak akan pernah berjumpa lagi dengannya, kalau Renata benar-benar akan meninggalkannya, dia pun menyesali ucapannya yang menyuruh Renata pergi sebelum ia kembali.
"aku harus berbicara dengan Renata, tentang hal ini aku harus melarangnya pergi setidaknya sampai aku kembali aku akan melihatnya pergi dengan baik-baik," Gumamnya berbicara dalam hati.
__ADS_1