
"Kakak...! aku merindukan kalian" cicit Amara saat melihat Jelita bersama baby Ar, yang berada di dalam gendongannya. Dan dua wanita yang la kenal dengan Nama Dara dan satu lagi wanita yang masih sangat cantik dan enerjik walau usianya sudah tidak muda lagi.
"Kakak juga merindukanmu Am, dan ini Kak, Dara, saudara kembar kak, Darandra, juga aunty Cleo" Sela Jelita memperkenalkan keduanya pada Amara.
"Hai,, sayang apa kabar tanya?" Mami Cleo Amara baik-baik saja tante, eh, Auntie!" jawab Amara gugup.
"Loh,, kok! Auntie sih? Mami ini mertuamu jadi panggilnya juga harus Mami." Ujar Cleo menimpali.
"Kamu jangan takut Mami bukan, mertua yang jahat Kok, maafkan atas kejadian yang tiba-tiba tempo hari di saat akad nikah mu Momy tidak sempat, memperkenalkan diri karena Papi Anthony yang marah pada Darandra, tapi kamu jangan khawatir, Papi itu hanya marah pada Darandra bukan padamu. Sekarang bagaimana keadaanmu sayang? Cleo menatap sang menantu dengan rasa khawatirnya.
"Seperti yang Mami lihat sekarang Amara Sudah agak mendingan Mam," jawab Amara masih dengan menunduk malu-malu.
"Baguslah, Mami jadi senang mendengarnya, kamu jangan khawatir kalau suami kamu macam-macam kamu telepon Mami aja langsung ya,! ini nomor telepon Mami, suami kamu itu memang sesekali harus dikasih pelajaran biar dia kapok."
"Udah nggak papa Mi, Kak Rendra itu baik kok, sama aku."
"Baik sama kamu bagaimana? kenapa kalau dia baik sama kamu dia tidak akan membuatmu seperti ini? dia sudah membuatmu berada dirumah sakit."
"Auntie Sudahlah, marahnya Jangan di depan Amara nanti dia takut lagi." Tegur Jelita
"Benar Mam, seperti yang di katakan Jelita Kak, Randra memang salah, tapi Mami harusnya marah di depan kak Randra" Sela Dara, Cleo pun akhirnya mengikuti saran dari Putri dan keponakannya itu.
"Maafkan Mami, sayang karena terlalu emosi jadi terbawa"
"Tidak apa-apa Mam," Amara pun tersenyum Cleo mengelus lembut pucuk kepala menantunya itu.
"Jika kamu butuh sesuatu kamu bilang sama Mami jangan sungkan sayang"
"lya Mi," sahut Amara.
"Oh, iya kenapa Mami bisa tau kalau aku di rawat di sini?"
"dari suamimu, maksud Mami Kenan, Putra dari Dara juga masuk rumah sakit ini,"
"jadi kami tak sengaja berjumpa dengan Kakak di luar, dan bertanya padanya." Sela Dara.
"Oh,," jawab Amara hanya bisa ber ohria.
__ADS_1
"Lalu Kenan, bagaimana?"
"Alhamdulillah sekarang sudah baikan, dia terkena muntaber jadi kurang cairan, mungkin karena cuaca yang saat ini sering berubah, membuat tubuh Kenan lemah dan terkena muntaber, padahal dia tak pernah kemana-kemana dan selalu streril,"
"Kasihan sekali, tapi bolehkan aku melihat anak Kakak itu?"
"Boleh dong kak, ups maaf, aku keceplosan hehe, habis Seharusnya aku memanggilmu kakak ipar, tapi udahlah kau boleh memanggil ku Kakak karena aku Dan kak Randra seumuran"
"nggak apa-apa kan kalau aku manggil kakak?"
"gak papa lah yang penting jangan dipanggil nenek karena aku belum tua" Mereka pun semua tertawa di dalam ruangan tersebut.
"Mi,, ayo kita keluar dulu nanti kak Exel nyariin karena kita sudah lama banget di sini."
"Oh iya,, ya Mami juga lupa, ayo nak Amara Mami pamit dulu ya! nanti kapan-kapan Mami akan ke tempat kamu boleh kan sayang?" "boleh dong Mami Masa nggak boleh tapi, tempat Amara kecil Mi,"
"Tidak Apa-apa sayang yang penting kamu bahagia Cepat sembuh ya sayang."
"Iya Mi makasih" Cleo pun mencium pucuk kepala Amara dan memberikan pelukan sayangnya membuat Amara merasa terharu. Karena untuk pertama kalinya mendapatkan kasih sayang seorang ibu. Setelah sekian lama kedua orang tuanya meninggal.
"Okelah terserah kamu" Dara dan Cleo pun keluar meninggal kan kedua nya. Jelita berdehem.
"Ehem...ehem...!"
"Kakak kenapa Ada yang aneh denganku?" "Ada sih, Nggak cuma gimana ya" Jelita tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sedang Amara masih menatap heran.
"Kamu udah ketemu belum sama lintahnya di tempat tidur?" tanya Jelita mulai tersenyum jail.
"Lintah di tempat tidur? maksud kakak?"
"kamu ini lugu, atau polos banget sih? tuh lihat di leher kamu!" tunjuk Jelita.
"Apa nya yang di leher?" tanya Amara semakin binggung.
"Apa?...Ya ampun Amara Apakah kamu tidak melihat cermin hari ini?"
"nggak" jawab Amara cepat
__ADS_1
"Pantas sini kakak tengok kan" Jelita pun segera menghampiri Amara dan memberikan ponselnya untuk melihat dan betapa terkejutnya Amara saat melihat apa yang ditunjukkan Jelita.
"Jadi_" Amara segera menutup mulutnya mengingat apa yang membuat lehernya memerah dan wajahnya pun berubah merah seperti Kepiting rebus.
"Jadi semalam kamu melakukannya? jangan bilang kalau kamu masuk rumah sakit gara-gara kecapean?" goda Jelita pada adik iparnya itu."
"Ais,, Kakak ada-ada aja, Masa sih gara-gara itu tapi, Iya sih kakak tahu nggak sebenarnya aku tuh pura-pura pingsan aku hanya ingin melihat bagaimana kepanikan Kak Randra kalau aku pingsan, ternyata dia bisa panik juga."
"Ya iyalah dia panik karena kamu istrinya."
"Oh iya ya betul juga aku lupa" Amara pun terkekeh untuk menyembunyikan perasaannya, dia tak ingin menceritakan Semuanya terlalu dalam kepada Jelita tentang rumah tangganya tentang Darandra yang belum bisa Mencintainya, yang selalu bertemu dengan Tasya kekasih yang sangat dicintainya itu. Tanpa mereka sadari ada seseorang yang mencuri dengar pembicaraan nya, sambil mengepalkan tangannya.
"Aku tidak menyangka kau membuatku seperti orang bodoh yang harus mengkhawatirkan mu apa kau tau aku begitu khawatir sekali, tapi kau ternyata hanya berbohong."
Darandra pun mengurungkan niat nya untuk masuk.
"Kamu keterlaluan sekali, pura-pura pingsan" "habis kak Rendra Yang keterlaluan masa aku dikurungnya terus seharian di dalam kamar." "Masa iya sih?"
"Iya beneran Kak, Ya ampun Kak Randra aku nggak nyangka deh Kakak kayak gitu, tapi dia tidak menyakitimu kan?"
"Tentu saja tidak! dia kan sangat mencitaiku, bahkan melebihi nyawanya."
"Benarkah?"
"lya.."
"Bagus lah akhir kak Randra bisa menerima cintamu aku jadi ikut senang mendengar nya."
"Maaf jika aku harus berbohong, kak."
"lya,,tapi. Kak, ngomong-ngomong aku kangen sama Kak Damara Bagaimana kabarnya apa dia masih marah padaku seandainya aku boleh memilih aku nggak ingin menikah kak, dengan Kak Darandra. Aku hanya ingin tinggal bersama kalian bersama Kak Damara Kak Jelita, juga baby Arjuna, iya kan sayang?"
Ucap Amara sambil mencubit gemes pipi keponakannya yang gembul itu.
"Kamu jangan berkata seperti itu, semua sudah takdir, yang sabar. Aku yakin Damara tidak akan semerah itu padamu. Tapi mungkin untuk saat ini ia merasa kecewa atas apa yang terjadi padamu, karena apa yang dilakukan sama Kak Randra itu tidaklah benar sama sekali. Aku percaya suatu saat jika keadaan membaik, semua akan membaik juga Damara pasti akan mencarimu. kamu tunggu saja waktunya ya. Kamu yang sabar ya."
"Kak terima kasih Kakak sudah datang ke sini saja aku sudah senang sekali aku sangat bahagia sekali Kak Aku rindu kalian semua Aku rindu ingin tertawa lagi bersama kalian Amara pun memeluk Jelita sambil menangis Jelita pun membalasnya dengan menepuk-nepuk pundaknya agar Amara merasa tenang kembali.
__ADS_1