
Cekle...!
Exel yang baru tiba di villanya sekitar pukul 01.00 malam karena jalanan yang begitu macet membuat Ia Terlambat untuk sampai di Villa Exel pun perlahan melangkah menuju ruangan di mana Dara berada. Yang mungkin sedang menunggunya.
Dengan perasaan yang berdebar-debar Ia mengayunkan langkah tegasnya, dan baru saja beberapa langkah Ia masuk Ia dikejutkan
dengan Dara yang tertidur di sofa ruang tengah.
''Dara kenapa dia tidur di sini?'' cicitnya.Perlahan Ia pun medekati Dara yang tertidur dengan posisi duduk sedang kakinya menjutai ke lantai di tatapannya lekat wajah sang istri yang masih agak sedikit pucat. Dengan perlahan tapi pasti Ia pun memberanikan diri untuk menyentuh bibir Dara dengan ibu jarinya.
''Kau tetap manis walau tanpa riasan apapun'' gumamnya mengelus lembut pucuk kepala milik Dara. Matanya pun kini tertuju pada tangan bekas goresanluka yang terkena beling, Exel merasa tercekat.
''Sudah berapa banyak luka yang ku torehkan padamu. Dan kata maaf tak akan cukup untuk menghapusnya, jalan terbaiknya kita harus berpisah. Selama ini kau bertahan hanya karena ancamanku. Mulai sekarang kau akan bahagia aku akan membebaskanmu dari hubungan palsu ini.''
Gumamnya lalu Ia pun mengangkat tubuh istrinya membaringkannya di kamar dan di atas tempat tidur yang memang Ia rancang untuk dirinya dan orang yang pernah menolongnya.
Dan kini Ia sudah bertemu dengan orangnya. Otomatis Villanya akan jatuh ketangan istrinya itu. Setelah menyelimuti Dara Ia pun berjak ingin membersihkan diri. Namun saat berbalik tanggannya tiba-tiba tertahan seperti ada yang menariknya.
''Jangan pergi! jangan tinggalkan aku! aku takut aku mohon...! jangan pergi dia akan menyakitiku!''
Deg.
Exel membalikkan tubuhnya dan menatap kearah Dara.
__ADS_1
''Ternyata dia mengigau lagi'' gumam Exel karena Dara masih setia menutup matanya.
Exel pun melirik tangannya yang masih di genggam erat oleh istrinya itu walau Ia sedang pulas namun tangan itu begitu kuat menggenggamnya, hingga Exel pun memilih untuk berbaring sejenak di samping istrinya itu.
Dengan perlahan di singkapnya anak rambut yang menjuntai menutupi wajah sang istri Exel terus memandangi dengan lekat wanita yang sudah menjadi istrinya karena dendam itu.
''Tak akan ada yang akan menyakitimu! maafkan aku jika aku sudah membuatmu menjadi seperti ini!'' gumamnya lirih Ia pun mencium telapak tangan Dara lalu mengecup pucuk kepalanya, lalu Ia pun memeluk tubuh ringkih di depannya itu dengan penuh rasa bersalah.
Tepat saat Azan subuh berkumandang. Dara pun menggeliat merenggangkan otot-ototnya karena Ia merasa badannya pegal-pegal seperti tertimpa beban berat bahkan sedikit membuatnya merasa sesak dan susah untuk bernafas.
Namun Ia merasa heran kenapa beban itu seperti nyata bahkan Ia merasa sulit untuk bergerak karena ia merasakan kakinya juga seperti terikat beban, dalam keadaa bingung perlahan Ia pun membuka matanya.
''Tat_tangan Ss_siapa ini?'' gumamnya namun dalam hati. Dara sedikit memberanikan diri membuka sedikit matanya saat merasa ada tangan yang melingkar di pinggangnya dan dia pun tambah terkejut saat membuka mata bukan saja tangan bahkan kakinya di timpa oleh kaki seseorang.
Deg..deg..deg..!
Jantungnya pun berdegup duakali lebih cepat dari yang biasanya. Dara berusaha untuk mendongakkan wajahnya, karena Ia begitu takut semalam Ia hanya sendiri di Villa tersebut.
Setelah sadar dari pingsannya, dan saat itu, Dokter David mengatakan dia baik-baik saja. Dokter David pun mengizinkannya pulang dengan di antar oleh Suster Susan. Ia sempat berfikir dirinya sudah di surga, ternyata dia masih hidup. Dan yang lebih mengherankan baginya adalah kenapa Exel harus menyelamatkannya? bahkan membawanya kerumah sakit.
Dara mengetahui semua itu kerena dia sempat bertanya kepada Dokter David. Yah! Dokter David menceritakan semuanya hingga Ia memukul Exel karena kesal pun, tak luput Ia ceritakan bahkan ke khawatiran Exel yang menurut Dokter David, Exel begitu sangat meng hkawatirkannya.
Namun kenapa juga Ia tak menunggu dirinya sampai sadar? bahkan pulang ke Villa pun Ia di antar Suster Susan.
__ADS_1
Dokter David menyanpaikan pesan Exel, kalau dirinya di izinkan pulang, Dara harus pulang ke Villa dan itupun harus di antar Suster Susan. Ia sempat berfikir mungkin Exel menunggunya di sana Namun begitu masuk tak ada siapapun disana.
''Kemana dia kenapa dia menyuruhku pulang kesini kalau disini tidak ada siapapun?'' gumamnya bertanya pada dirisendiri, hingga Ia memutuskan untuk berkeliling di sekitar Villa karena dia merasa jenuh, namun begitu sampai di kolam dimana Ia tenggelam tubuhnya pun bergetar ketakutan beruntung dia takterjatuh saat hampir saja kakinya tak bisa digerakkan.
Kejadian masa kecil berputar kembali di memori otaknya, hingga membuat kepalanya terasa pusing. Dara pun menguatkan dirinya untuk bisa pergi dari tempat tersebut setelah memejamkan mata dan menenangkan fikirannya. Ia pun beranjak meninggalkan kolam kenangannya itu dan memilih menunggu Exel di ruang tengah.
Namun sudah menunggu suaminya pulang sampai jam 12.30 malam yang di tunggupun tak jua tiba hingga ngantuk pun mulai menghinggapinya dan diapun memilih tertidur di sofa yang sebenarnya bisa di sulap menjadi sebuah tempat tidur.
Dara berusaha untuk melihat wajah siapa yang berani tidur dengan memeluk erat tubuh nya. Namun semakin Ia bergerak pelukan itu samakin kuat seperti tak ingin melepaskan nya. Membuat hidungnya kembali mencium dada bidang itu dan ia menghirup aroma maskulin dari tubuh orang yang memeluknya. ''Aroma ini sepertinya tidak asing'' fikirnya dalam hati.
Deg deg deg.
Jantungnya semakin berdetak kencang saat menyadari siapa yang memeluknya. Saat merasa tangan yang memeluknya mulai kendor Ia pun berusaha untuk melepaskan diri. Namun diluar dugaannya kini tangan itu menarik pinggangnya lebih dekat.
''Diamlah dan jangan bergerarak tetaplah seperti ini atau nanti dia akan terbangun jika kau terus bergerak!'' tegas suara itu.
''Tat-tapi Tuan aku susah bernafas dan ump--'' suara Dara hilang dalam ******* yang diberikan Exel membuat Dara terkejut dan reflek memukul dada bidang Exel.
Dan Ia pun terus meronta saat merasakan Ia benar-benar susah bernafas Exel pun melepaskan tautannya.
''Kenapa kau selalu membantahku? dan tak pernah mendengarkan ku! apa kau suka di hukum seperti ini hah! kau harus bertanggung jawab karena telah membangunkannya!'' ucap Exel panjang lebar dengan menekan setiap ucapannya.
Dara yang bingung dengan ucapan Exel pun hanya terdiam tanpa menjawab.
__ADS_1
''Kenapa kau diam tak menjawabku? apa kini kau berubah bisu atau tuli?''