Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Berusaha menahan


__ADS_3

Jelita nampak terlihat Anggun menggunakan Ball gown weddyng dress lengan panjang, terbuat dari kain tule, yang tertutup renda, tipe lengan ilusi dengan garis leher permata, serta lipatan appliques, sedang kan Damara nampak begitu tampan dengan balutan tuxedonya, begitu pun dengn baby Ar, yang begitu menggemaskan karena Memakai Pakaian sama persis dengan Papinya.


"Sayang,, cucunya Oma. Ayo Omah gendong dulu ya, anak tampan" Anggun pun meraih sang cucu dari tangan menantunya itu lalu mencium dengan gemas pipi baby Ar, yang gembul walaupun usianya baru menginjak sebulan lebih, namun baby Ar, yang pernah lahir prematur itu pun tumbuh dengan sangat sehat seperti bayi pada umumnya mungkin karena Jelita selalu memperhatikan Asupan Asi-nya dengan baik.


"Sayang, adik Kakak kau terlihat sangat cantik malam ini" Ucap Dara pada Jelita disela-sela ia meyambut para tamu undangan.


"Terima kasih Kak, Kak, Dara juga cantik banget dan si ganteng nya Auntei, apa kabar Kenan Junior?"


"Kabar ku sangat baik Auntei" balas Dara dengan menirukan suara anak kecil membuat Jelita tertawa geli.


"Oh,, iya Kakak mau cari Kak, Exel dulu." pamit Dara, karena senjak tadi tak melihat suaminya itu, dan ujung-ujung nya pasti ia sedang berjumpa dengan para kolega bisnisnya itu.


"Sayang…!"


"Hmmm…"


"Kok, hanya hmm sih?" kesal Dara meninggalkan Exel dengan wajah yang di tekuk.


Dan di saat itu Exel tersadar atas kesalahan nya dan berusaha mengejar sang istri yang sudah kian menjauh.


"Sayang tunggu Aku!"


Bruk.


"Aaaauw...! Kak, Exel, baju ku kotor" cicit Tasya saat Exel tiba-tiba saja menabraknya.


"Maaf aku tidak sengaja, tapi aku sedang buru-buru sekarang." Ucap Exel berlalu pergi.


"Ada apa sayang?" tanya Darandra dari belakang, memegang pundaknya.


"Bajuku kotor Kak, aku ke toilet dulu ya,!" cicitnya menimpali.


"Apa kau mau aku antar?" tawar Darandra

__ADS_1


"Tidak usah, Kakak di sini saja lagian cuma sebentar kok."


Di saat Tasya pergi, Darandra yang berniat kembali ke tempat nya semula malah di suguhkan dengan pemandangan yang sangat tidak ia sukai, dimana Amara, dan Danu, sangat intim ia melihat Danu mencium Amara dengan mesra dan Amara pun tertawa dengan begitu bahagia nya.


Membuat Darandra mengepalkan kedua tangannya, karena ia sama sekali tidak menyukai hal itu. Iya tidak suka kalau Amara dekat dengan pria manapun apalagi dengan Danu yang memang notabene adalah kekasih Amara, otomatis membuat darahnya memuncak.


Namun ia terus berusaha untuk mengendalikan dirinya, karena ia tidak ingin acara Jelita yang sakral akan terganggu, dan tidak sampai di situ saja Danu membetulkan anak rambut yang tergerai di wajah Amara, kemudian Ia pun mengusap bibir Amara dengan lembut, Darandra memilih bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut, dengan amarah yang membara.


Darandra yang sedang panas mengambil sebuah gelas minuman dari seorang pelayan yang sedang menyuguhi minuman untuk para tamu, lalu langsung menenggaknya, karena hatinya saat ini sedang panas, ia pun menghabiskan minuman tersebut hingga tandas, Namun setelah beberapa saat tiba-tiba la merasa pusing, dan Damara terlihat menyentuh kepalanya kemudian Ia pun bergegas mencari Tasya.


"Tasya ke mana sih? Perasaan sudah lama sekali dia pergi. Kok belum keluar-keluar, Apa mungkin aku harus menyusulnya, aku takut dia kenapa-kenapa di sana." Gumamnya lalu Darandra memilih segera menyusul Tasya ke toilet, dengan terus menyentuh kepalanya.


Sementara itu Amara, dan Danu yang asyik Berbincang, tiba-tiba saja di kejutkan oleh kedatangan seseorang yang datang menabrak dan minumannya, dan mengenai gaun yang di pakai Amara.


"Kau! Apa kau buta, atau kau sengaja?!" sergah Danu pada gadis kecil tersebut yang sedang mengganggu momennya.


"Maaf Kak, aku tidak sengaja ucap Gadis itu dengan mata yang berkaca-kaca.


"Bub-Bunga kak-kau__?"


"Tentu saja tidak! aku hanya heran kenapa kau mengikutiku sampai ketempat ini? apa kau mengun__"


"Kak, Jelita, adalah kakak sepupuku. Jadi wajarkan aku datang. Lagi pula aku tunangan mu kenapa Kakak, bersama wanita ****** ini? jika Kakak tak ingin menikah denganku bicarakan ini baik-baik, bukan dengan cara main belakang seperti ini kalian menyebalkan!" Ketus Bunga panjang lebar menjeda kalimat Danu.


"Bunga jaga sikap dan perkataanmu, dia bukan seperti apa yang kau sangka kan!"


"Benarkah? lalu dia wanita seperti apa dia bermesraan dengan tunangan orang lain, jelaskan padaku!"


"Ayo ikut aku!," karena tak ingin Bunga membuat keributan akhirnya Danu membawa Bunga untuk keluar dari tempat tersebut. Sedang kan Amara hanya melongo menyaksikan kejadian di depannya itu.


"Apa Kak, Danu di kejar sama gadis kecil itu? aku rasa dia masih di bawah umur. Hmmm terserahlah untuk apa aku mengurusinya, lebih baik aku segera membersihkan diri" Lalu Amara bergegas ke toilet untuk membersihkan gaunya dari noda minuman yang sengaja di tumpahkan Bunga tadi.


"Kenapa nasipku malam ini sial banget sih."

__ADS_1


Bugh.


"Awww...ahk..."


Amara yang berjalan sambil menunduk tak, begitu memperhatikan jalan di depannya. Hingga la pun menabrak seseorang karena la hanya fokus menggerutu sambil membersihkan bajunya yang terkena noda.


"Kau! ump..."


Belum lagi la selesai berucap mulutnya sudah di bungkam terlebih dahulu Oleh seseorang. Dengan sekuatnya Amara memberontak namun tetap saja dia kalah karena apa yang di lakukan nya tidak ada apa-apa nya dengan tenaga yang di miliki lelaki yang membekapnya itu.


Sementara itu di toilet Tasya terus saja menggedor pintu karena tiba-tiba saja pintu toilet terkunci dari luar.


Hingga la pun mendengar langkah kaki yang tiba-tiba mendekat.


"Kak, Andra kau kah itu? tolong aku bukakan pintu aku Terkunci Kak!"


Ceklek.


Saat pintu terbuka lebar Tasya pun tanpa aba-aba lari memeluk lelaki yang menolongnya itu.


"Terima kasih Kak, Andra!" cicitnya memeluk erat tubuh di depannya itu.


Deg.


Tasya melepaskan pelukannya saat menyadari siapa sebenarnya yang di pelukannya itu.


Tasya berjalan mundur menatap lelaki itu dengan tatapan kecewanya.


"Kenapa Sya? kenapa? apa dengan memelukku kau mengingatku lagi? karena itu tandanya kau masih mencintaiku Sya."


"Tidak justru aku selalu mengingat mu sebagai penghianat. Dan untuk apa kau datang menolongku, aku tidak butuh pertolongan dari orang seperti mu, atau apa kau butuh trima kasih dariku?" Ketus Tasya menatap nyalang mantan tunangannya itu.


"Jika kau ingin berterima kasih bukan padaku tapi pada anak kecil itu kalau dia tak datang memberitahu ku mungkin aku tidak akan pernah tau kalau kau terkunci di dalam sana."

__ADS_1


"Benar Kak, aku yang memanggil kak, Adam? untuk menolong Kakak, Kak, Adam ayo kita pergi dari pada di sini Kakak nanti kena marah sama kakak itu. Kak, Adam calon suamiku, Riri, tidak mau Kak, Adam di marahi sama Kakak, itu, tunjuk gadis kecil yang baru berusia Enam tahun tersebut.


__ADS_2