
Jelita turun sambil terus menggerutu.
"Dimana yang lainnya? suruh mereka datang untuk membantuku membawa barang-barangku!" seru Jelita pada maid yang ada di depannya.
"Maaf tapi Tuan melarang itu." Ucap maid yang bernama Siti yang mungkin seumuran dengan Jelita.
"Dasar laki-laki brengsek itu! benar-benar dia menguji kesabaranku. Tunggu saja aku akan membalasnya nanti!" dan itu didengar oleh Siti.
"Maaf Nona kalau Siti boleh bertanya Nona siapanya Tuan,? karena Ini pertama kalinya Tuan membawa gadis cantik datang kemari Nona." Ujar Siti dengan nada bertanya karena saking penasarannya. Karena sebenarnya dari sejak awal sudah curiga kalau Jelita itu bukanlah seorang pembantu, karena terlihat dari penampilannya yang seperti penampilan orang-Orang kaya pada umumnya.
"Memangnya apa yang dia katakan padamu tentangku, apa dia tidak menceritakan kepada seluruh isi rumah ini tentang siapa aku?"
"Bilang sih Nona tapi Tuan bilang Nona itu adalah pembantu baru di sini, jadi tidak ada yang boleh membantu Nona kalau Nona malas dan berbuat salah kami pun disuruh menghukum Nona sesuai keinginan kami." Tutur Siti berkata Jujur menyampaikan apa yang di dengar dari Tuannya itu.
"Jadi laki-laki Brengsek itu berkata seperti itu. Okay fine kalau begitu kita akan lanjutkan pertikaian panasnya Tuan Damara yang terhormat. Dasar kau suami yang kejam! baiklah kalau boleh tahu namamu siapa tadi?" tanya jelita kemudian kepada Siti.
"Siti Nona. Nama saya Siti oke baiklah Siti Terima kasih karena kamu sudah datang untuk membangunkanku perkenalkan namaku Jelita panggil saja aku Jelita karena mungkin kita seumuran."
"Bab_baik Nona maksud saya. Baiklah Jelita. Ayo kita masuk nanti Tuan bisa marah besar kalau kita terlalu lama di sini."
"Apa kamu takut dengan manusia Brengsek itu?"
"Jelaslah takut saya ini kan cuma pembantu saja di sini bagaimana kalau saya kehilangan pekerjaan sedangkan keluarga saya di kampung sangat membutuhkan. Apa lagi di sini Gajinya cukup lumayan tidak seperti di tempat-tempat lainnya pada umumnya."
Terang Siti begitu polos. Jelita pun mengangguk mengerti.
__ADS_1
"Oke kamu masuk duluan, Aku akan menyusul karena aku akan mengambil barang-barangku dulu!" Seru Jelita.
"Sebenarnya aku ingin membantumu Jelita tapi aku takut nanti Tuan marah kalau sampai melihat saya membantumu" cicitnya lagi.
"Ya sudah tidak apa-apa aku bisa membawanya sendiri kok, kamu masuk saja dulu biar nanti aku menyusul." Cicitnya sambil mengeluarkan barang-barangnya dari bagasi mobil.
"Aku yang bodoh kenapa aku harus membawa barang sebanyak ini. Apa aku berharap akan tinggal disini selamanya, huuf..dasar sial! Aw...Aw...Kenapa berat sekali mana kakiku masih sakit lagi. Ya ampun dengan tolong aku Tuhan kenapa kau menjodohkanku dengan laki-laki yang tak punya hati."
Dengan langkah kaki yang tertatih-tatih jelita terus berusaha menyeret koper besarnya walau sesekali ia harus menahan sakit sambil terus menggerutu hingga iya pun sampai di pintu utama rumah besar tersebut.
Ceklek...
Begitu membuka pintu terbuka tatapan nyalang Damara yang menunggunya dari tadi terus mengintimidasinya.
Setelah berkata seperti itu Damara pun bergegas pergi Karena ia ingin menelpon Rony untuk menanyakan kabar adiknya sudah sampai sejauh mana. Sedangkan jelita melangkah naik ke atas sambil menyeret barang bawaannya, Sesampainya di lantai dua tersebut Jelita yang bingung terus mencari di mana letak kamar Damara hingga matanya tertuju pada sebuah kamar yang berdinding warna coklat dan gold.
"Aku yakin ini pasti kamarnya." Setelah memastikan bahwa kamar tersebut benar adanya milik Damara karena di lihat dari kamar tersebut banyak barang milik laki-laki dan dia yakin itu milik suaminya.
Jelita pun segera menarik koper besarnya masuk ke kamar, bukan nya langsung menyiapkan air untuk Damara Jelita malah memilih membaringkan tubuh nya di atas tempat tidur. bahkan ia sengaja mengganti pakaian nya dengan lingrie yang sangat tipis setelah ia sempat menyegarkan badannya di dalam Bathroom.
Jelita cukup terkesan dengan kamar milik Damara yang begitu rapi karena semua barang tertata pada tempatnya masing-masing padahal Damara itu laki-laki karena kebanyakan laki-laki pasti berantakan.
"Perfect." Satu kata yang keluar dari mulutnya saat matanya terus berputar menelisik setiap sudut ruangan tersebut.
Sungguh jauh berbeda dengan kamarnya sendiri yang selalu berantakan karena ia kadang malas untuk membereskan barangnya miliknya.
__ADS_1
Lamat-lamat matanya pun penat ingin segera terpejam ia pun dengan cepat menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang hanya berbalut lingre yang satipis itu.
Setelah satu jam menunggu Damara yang merasa kesal terus berteriak memang nama Jelita namun tak ada jawaban.
"Jangan-jangan anak itu kabur dan_ "
Damara menjeda ucapannya disaat menyadari sesuatu, ia pun segera beranjak pergi untuk mencari keberadaan Jelita.
Apa ada di antara kalian yang melihat Jelita?"
Tanya Damara pada beberapa maidnya. Namun mereka semua menggelengkan kepala benar-benar tidak tahu menahu tentang Jelita.
"Sial dimana wanita bodoh itu? apa dia sengaja memancing emosiku.! Baiklah jika kau ingin bermain-main aku akan mengikuti permainan mu."
Damara yang kesal memilih segera naik kelantai dua karena ia ingin segera menyegarkan tubuhnya.
Ceklek.
Damara masuk ke kamar tanpa menyalakan lampu di ruangan itu, karena memang lampu tidurnya sudah menyala. Dengan cepat tangannya meraih handuk lalu segera menuju bathroom'.
Namun begitu masuk di dalam bathroom' ia terkejut dengan adanya air sabut di dalam bathtub.
"Siapa yang mengisi air, oh mungkin saja wanita itu." Gumamnya berpikir, lalu memilih masuk kedalam Bathtub' setelah membilas badannya dengan bersih dia pun segera beranjak menggosok gigi namun ia terkejut melihat sikat giginya yang tergeletak di bawah bukan pada tempatnya. Dan bukan itu saja sabun shampoo semua tidak berada pada tempatnya masing-masing, Damara yang kesal memijit tengkuknya, untuk menahan emosinya agar tidak meledak ia memilih keluar dari tempat tersebut ia berfikir akan memberi pelajaran pada Jelita besok saja. Karena malam ini dia butuh istirahat untuk mengumpulkan tenaganya yang Extra agar bisa membalas wanita yang di nikahinya karena dendam itu.
"Awas saja besok aku akan menghukumnya karena sudah berani mengacak-acak barang-barangku!" gerutunya sambil masuk ke dalam walk in closed. Damara meraih celana boxernya setelah memakainya ia pun melangkah keluar untuk menuju pulau mimpinya.
__ADS_1