Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Keputusan.


__ADS_3

Mendengar jawaban dari Baron membuat Renata terdiam, ada perasaan sesak kini menghimpit di dadanya. Dengan cepat ia menyadarkan dirinya sendiri, sambil menyeka sudut matanya yang kini mulai berair.


"Sadarlah Renata, bukankah dari awal kau sudah tau keputusan dan perjanjian nya seperti apa? tak ada cinta, dan berhentilah untuk mengharapkan Baron mencintaimu.


Nikmati dan jalani saja sisa waktumu yang hanya sesaat lagi, dengan atau tanpa cinta, selama ini kau kuat menjalaninya, untuk itu lupakan, semunya, kau bisa bahagia di saat melihat orang-orang yang kau cintai bahagia."


Monolog Renata dalam hati,


"Baiklah Mas, aku tidak akan mengharapkan mu lagi, dan aku harap saat aku pergi kita sudah berpisah, agar tak ada air mata kesedihan saat aku pergi dari dunia ini." Ucap Renata berbicara pada dirinya sendiri.


"Sayang…! auww kau apa-apaan sihc? mengagetkan ku saja, kalau aku tiba-tiba mati karena jantungan bagaimana?" kesal Renata sambil mengerucutkan bibirnya, di saat Baron tiba-tiba saja membuat tubuhnya melayang di udara.


"Kau tidak akan aku biarkan mati secepat itu sayang, karena masih banyak yang akan kau lakukan untuk ku, jika itu sampai terjadi maka aku akan marah padamu, dan aku tidak akan berbicara padamu. Sudahlah ayo mandi aku sudah sediakan air hangat untukmu dan setelah itu kita makan aku sudah lapar."


"Tapi turunkan aku dulu aku bisa jalan sendiri"


"Tidak kau tidak boleh berjalan, kau ingat permintaan mu selama satu bulan sedangkan ini baru satu minggu, apa sekarang kau sudah bosan atau alergi berada di dekat ku."


"Kamu apa-apaan sih Sayang kok ngomongnya kayak gitu aku kan hanya__" Sudahlah sayang, nanti kamu telat lagi. Kamu kan capek jadi tidak apa-apa sekarang aku membantumu masuk ke dalam, lagi pula Anggap saja untuk permintaan maaf ku karena telah membuat kesalahan bagaimana?"


"Ya,, oke baiklah aku terima." Ucap Renata sambil tersenyum membuat Baron gemas melihatnya, Ia Pun masuk menggendong tubuh Renata ala bridal style dan memasukkannya ke dalam bathub, setelah itu ia pun bergegas keluar meninggalkan Renata untuk berendam. Setelah puas berendam dan membersihkan seluruh tubuhnya serta berpenampilan rapi Renata pun bergegas keluar untuk menuju dapur karena ia akan memasak sesuatu kesukaan suaminya.


Dengan lihai dan lincahnya Renata mengolah semua bahan-bahan yang ada di dapur menjadi makanan-makanan yang lezat yang sudah siap untuk disantap.


"Oh iya sayang Dari tadi aku tidak melihat ibu sama Bara ke mana ya?"


Itu lbu lagi mengajak Bara untuk jalan-jalan Katanya sih ke taman kota."

__ADS_1


"Ya ampun ibu ini kan udah siang kenapa mereka belum pulang ya?"


"Aku juga tidak tahu sayang, tapi tunggu dulu deh sayang. Sepertinya itu suara mobil ibu, kamu tunggu aku dulu ya sayang. Aku mau melihatnya sekalian kita makan aja barengan sama ibu."


"Oke baiklah tapi yang cepat ya sayang karena aku sudah lapar banget!"


"lya,, iya sabar sayang!" Renata pun bergegas menuju halaman depan rumah tersebut.


"lbu,, ayo bu. Mari aku bantu, ibu langsung masuk saja biar Bara aku yang gendong sekalian kita makan bareng ya Bu."


"Suami kamu sudah pulang Ren? apa dia tidak kerja kok pulangnya cepat sekali." Tanya bu Sofia menatap Renata begitu keluar dari mobil karena matanya melihat ke arah mobil milik Baron yang terparkir.


"Kerja Bu, tapi udah pulang karena tadi Tuan Damara ke sini sama Mas Baron pulangnya agak cepat."


"Oh..." ucap Bu Sofia hanya ber Oh Ria.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu di rumah utama.


"Sayang Apa kamu masih marah ya sama aku?" Lihatlah anak kita merindukan pipinya Arjuna cepat bilang sama Mimi kalau Arjuna sangat rindu sama pipi!"


"sayang Berhentilah. Bukankah anak kita sedang tidur nyenyak tapi kenapa kau terus mengajak nya berbicara menyebalkan sekali." Jelita yang masih kesal melengos lalu memilih meninggalkan ruangan sang putra


sedangkan Damara terus saja mengikuti istrinya itu dengan langkah gusar, karena sejak pulang dari rumah Renata Jelita benar-benar marah pada nya bahkan mengancam tidak akan mengajaknya berbicara.


Namun Damara, tidak kehabisan akal terus saja menggoda istrinya itu dengan bergai cara dan tingkah laku, yang penting Jelita tidak mendiaminya, walaupun ia tau Jelita akan bertambah kesal padanya, la tidak peduli. Kini Jelita sudah melepas seluruh pakaian yang melekat pada tubuhnya karena ia akan membersihkan diri karena sepulang dari rumah Renata ia sempat ketiduran saat memberikan asi nya pada baby Ar,

__ADS_1


Drt…Drt…Dtr…📲


Suara deringan telepon membuat langkah kaki Jelita berhenti sejenak, Ia ingin melihat Siapa yang kini tengah meneleponnya.


"Kak,, Dara." Gumamnya pelan Jelita pun langsung menerima panggilan tersebut, tak lupa memakai handuk sebagai kembennya, Damara yang melihat Jelita yang hanya memakai kemben kini tersenyum lebat saat otak mesumnya memikirkan sesuatu.


"Assalamualaikum Kak,," ucap Jelita membuka percakapan saat panggilan tersambung, sambil mendudukkan bokongnya di tepi ranjang, tanpa melihat kalau Damara pun ikut duduk di samping nya sambil terus memain kan rambut Jelita, sedang Jelita yang kesal menepis tangan Damara, namun dengan cepat Damara menahan tangan Jelita bahkan kini ia menciumi jari jemari yang lentik itu hingga ke ujung lengannya dan itu mampu membuat Jelita merasa geli.


Apa lagi di saat Damara menyapu tengkuknya dengan lidah, Jelita tak bisa berbuat banyak karena tangan yang satunya memegang telepon dan yang satunya lagi sudah terkunci.


Damara tidak berhenti di situ saja ia menggunakan kesempatan itu untuk menaklukkan hati istrinya meski dengan cara curang, Jelita terus saja menggeliat dengan perlakuan Damara, semakin menggila itu, dengan sekuat mungkin Jelita menahan desahannya agar tak keluar, saat Damara kini terus mempermainkan dua gundukannya yang ntaah sejak kapan terbuka bahkan handuk yang di pakai kemben ntah tak tau di mana keberadaan nya. Bahkan kini Damara sudah membuatnya terlentang ditempat tidur.


"Auhk…ahk…" sekuat apa pun Jelita bertahan akhirnya suara itu lolos juga keluar.


"Jelita kamu kenapa?"


"tit-tidak kak, aku tidak apa-apa hanya saja aku lagi memberikan Asi pada baby Ar, tapi dia menggigitku." Bohong nya dengan wajah yang memerah karena malu.


"Oh baiklah kakak tutup dulu ya kasian kamunya nanti." Ucap Dara dengan nada yang bingung, apa mungkin Baby Ar menggigit dia kan Baby sekali.


Setelah sambungan telpon terputus Damara lansung mengungkung tubuhnya, saat Jelita membuka mulut Damara membunggkamnya dengan sebuah *******, sedang jemari tangan Damara terus menekan bagian bawah perutnya membuat Jelita bukannya mengeluarkan kan umpatan tapi suara *******, yang menggema di seluruh ruangan tersebut.


"Apakah kau masih marah padaku?" tanya Damara di tengah-tengah aktivitasnya. Dan Jelita hanya mampu mengangguk pelan.


Jelita membuka matanya saat merasakan Damara berhenti melakukan tekanannya, padahal dia sudah sampai di ubun-ubun.


"Sayang kau!" Jelita yang kesal kini menarik tengkuk pria nya itu lalu dengan cepat menakutkan bibirnya sedang tangannya kini aktif membimbing sesuatu yang sudah menegang di bawah sana untuk masuk menuju lembah miliknya.

__ADS_1


Damara pun hanya tersenyum melihat aksi istrinya itu. Dan perbuatan Jelita itu pun mampu membuatnya mengerang hingga mau tidak mau ia mengambil alih permainan setelah lama saling menerima dan memberi kenikmatan mereka pun terkapar dengan nafas yang masih memburu.


__ADS_2