
"Sayang aku juga sangat merindukan mu maaf kan jika selama ini aku telah membuatmu terluka apa kau tau aku sangat takut kehilangan mu" Cicit Damara yang masih memeluk sang istri sambil membelai rambut panjang Jelita.
"Kalau kau takut kehilangan diriku lalu kenapa kau pergi begitu lama tanpa memberiku kabar dan berita, tadinya aku pikir kita sudah tidak akan bertemu lagi, hingga aku harus mengurus surat perceraian kita" terangnya.
"Surat perceraian? apa kau sudah gila hingga melakukan hal itu!" Kejut Damara dengan suaranya yang tegas dan datar.
"A-a-aku hanya-aku hanya tidak ingin mengharapkan sesuatu yang akan membuatku kecewa lebih dalam lagi, apa kau tau betapa sakitnya aku disaat kau menurun kan ku hanya di depan mansion Dad, Rafa, saat itu aku langsung berbalik mengejar mu karena aku hanya ingin bilang biarkan aku ikut bersamamu, namun kau menghilang dari pandanganku. Kau-kau benar-benar jahat, apa selama ini kau tidak benar-benar mencintaiku!" hiks...hiks...hiks.
Setelah mengeluarkan semua uneg-uneg nya tangis Jelita pun pecah dalam isakannya membuat Damara semakin memper erat pelukannya dan ia semakin merasa bersalah
"Maafkan aku, sungguh aku adalah laki-laki paling bodoh yang tidak pernah memikirkan tentang perasaan mu" Damara pun menghujani wajah istrinya dengan kecupan.
"Aku sudah menitipkan mu pada Exel Tapi kenapa kau memilih tinggal di apartemen?" tanya Damara sambil mengecup kedua mata istrinya yang masih basah.
"Aku tidak ingin Bunda, dan Dad, Rafa tau jika rumah tangga kita sedang bermasalah" Jawabnya dengan wajah yang sendu.
"Maafkan aku sayang, sekali lagi aku minta maaf atas semua kesalahanku. Seandainya aku tidak mengikuti kata dokter Darandra mungkin semuanya tidak akan terjadi seperti ini.
"Kak Andra maksud kamu semua ini karena Kak Andra?"
"Kamu betul sekali sayang. Kamu tahu kan waktu itu ketika aku membawa Amara kembali ke rumah sakit ia menawarkan bantuan Ia akan membantu penyembuhan Amara dengan satu syarat bahwa aku harus meninggalkan negara ini dan tidak boleh menghubungi mu dan betapa Bodohnya Aku langsung mengiyakan saja tanpa ingin bertanya padamu terlebih dahulu, tapi sudahlah semua sudah berlalu dan aku harap kita bisa memulai. Semuanya dari awal lagi, bagaimana Apa kamu mau sayang?"
Jelita hanya menganggukkan kepalanya.
"Hei sayang Aku butuh jawabanmu"
"lya iya aku mau kita memulai semuanya dari awal" ungkap Jelita dengan mata yang kembali berbinar. Damara pun kembali memeluk sang istri dan dibalas oleh jelita.
Tunggu dulu! Apa aku boleh bertanya sesuatu?" Cicit Jelita merenggangkan pelukannya dan kini menatap lekat wajah suaminya.
__ADS_1
"Boleh kamu bertanya tentang apa akan aku jawab jika aku bisa menjawab" timpal Damara "Sejak kapan kamu mencintaiku?"
"Apa penting aku harus menjawabnya?" ucap Damara datar.
"Mungkin buatmu tidak penting tapi buatku sangatlah penting!"
"Entahlah, aku tak tahu Kapan itu terjadi mungkin lebih tepatnya di saat pertama kali aku merasakan jantungku ini berdetak begitu kencang ketika aku lebih tepatnya kita
Sama-sama tabrakan dan ada seorang gadis yang tiba-tiba membawaku masuk ke dalam toilet yang sudah rusak dan Gadis itu bukannya meminta maaf malah menggodaku" unkap Damara, mengingat flashback pertemuan nya dengan jelita.
"A-Apa...! mam- maksud mu aku menggodamu. Yang-yang benar saja, aku merasa tidak pernah menggoda siapa pun." Protes Jelita tak terima dengan memanyunkan bibirnya. Sedangkan Damara hanya terkekeh melihat raut kekesalan di wajah Jelita ia pun memeluk istrinya kembali.
"Akuu lapar..." Sela Jelita dengan suara manjanya.
"Kamu lapar ya sayang, Maaf tadi aku tidak membangunkanmu karena aku takut istirahatmu akan terganggu karena aku tahu kamu pasti lagi capek, apa kamu ingin makan sesuatu aku akan membuatkannya untukmu." Tawar Damara.
Tidak usah makan yang tadi saja tinggal dipanasi saja."
"Tapi aku maunya yang itu!" rengek manja Jelita.
"Ya sudah aku panaskan dulu oke, tapi kamu janji jangan tidur lagi"
"lkut, aku mau makan di dapur saja sama kamu."
"Baiklah kalau kamu ingin makan di dapur. Ayo sini aku gendong"
"nggak usah aku jalan sendiri saja boleh nggak?"
"Nggak boleh sayang kamu kan masih sakit kamu ingat kata dokter Kamu jangan terlalu banyak bergerak dan berjalan untuk sementara ini sampai kamu benar-benar sembuh, baiklah kalau kamu tak ingin aku gendong aku ambilkan kursi roda untuk mu bagaimana?"
__ADS_1
"Baiklah tidak apa-apa." Sela Jelita
Damara pun segera mengangkat tubuh Jelita ke atas kursi roda dan mendorongnya.
"Kita lewat lift saja ya sayang." Jelita hanya mengangguk mendengar perkataan suaminya.
Damara pun mulai mendorong kursi roda sambil tangannya menenteng sebuah baki yang berisi nasi goreng yang sudah dingin. Sesampainya di dapur Damara pun langsung memanasi Makanannya Setelah semuanya siap Damara langsung menyuapi sang istri dan benar saja Jelita makan dengan lahap hingga tandas tak bersisa.
"Ternyata anak Papi sedang lapar ya, Maminya jangan digangguin terus ya sayang Semoga kamu tumbuh dengan sehat di dalam perut Mami Damara pun menunduk lalu mencium perut istrinya yang masih rata itu, raut kebahagiaan nampak begitu terpancar dari kedua Insan yang sedang dilanda cinta itu.
"Ayo aku mengantarmu naik lagi karena kamu harus minum obat biar kamu lekas sembuh."
Jelita pun hanya menurut saja. Apa lagi saat Damara memilih mengangkat tubuhnya ala Bridal style.
Dan saat pagi menyapa dunia, Jelita mengerjap-ngejapkan matanya ia merasa begitu malas untuk bangun karena badannya benar-benar serasa malas untuk bangun ia benar-benar ingin rebahan saja. Jelita meraba sampingnya, namun tidak mendapati Damara.
"Kemana perginya apa dia meninggalkan ku lagi tanpa pamit" lirihnya dengan perasaan yang sudah melo ntah kenapa semenjak hamil ia gampang sekali sensitif.
Ceklek...
Suara pintu kamar mandi yang terbuka mengagetkan Jelita dari keterdiamannya.
"Sayang kau sudah bangun?" Cicit Damara yang keluar dari dalam bathroom hanya dengan balutan handuk di atas pinggangnya membuat tubuh atletisnya terpampang jelas.
Glek.
Dengan susah payah Jelita menelan Saliva nya saat matanya menatap roti sobek milik Damara tanpa berkedip dan tak menghiraukan pertanyaan dari Damara.
Damara pun melangkah mendekati Jelita yang terus saja menatap nya dengan tatapan terkesima nya.
__ADS_1
"Sayang hai...kamu kenapa diam saja, dari tadi dan kenapa bangun sepagi ini?" rentetan pertanyaan dari Damara membuatnya tersadar. Dan ia pun merasa sangat Kaku, dan jangan di tanya tentang jantungnya Yang kini berdegup kencang apa lagi di saat Damara menyentuh wajahnya membuatnya tiba-tiba meremang.
"Sayang...!"