
"lbu…!"
"Baron…? bagaimana apa kata dokter apakah Bara boleh pulang besok?"
"Belum Bu, mungkin dua atau tiga hari lagi Bara baru bisa pulang" Terang Baron.
"Baiklah biar lbu yang menunggu Bara, sampai Bara sembuh."
"Terserah lbu saja."
"Kamu kenapa tidak seperti biasanya apa ada masalah?" tanya Bu Sofia dengan tatapan menyelidik nya.
"Tidak apa-apa Bu…mungkin Baron hanya cape, Baron keluar dulu ya Bu" Sofia hanya menatap lekat pada Sang putra. "Pergilah!" ucap Bu Sofia.
"Bagaimana Bara hari Bu,? apa dia sudah sadar?"
"Sudah dia tadi sempat mencarimu, jangan khawatir di anaknya tidak rewel. Walaupun dia sebenarnya merasa sakit. Dia itu anak yang kuat dan hebat Ibu bangga padanya, justru yang ibu khawatirkan adalah kamu Baron!" ujar sang lbu menatap serius.
"Mengkhawatirkan Baron? Baron kenapa Bu? kenapa lbu harus khawatir?" Baron mengelus dengan lembut kepala Sang putra dengan penuh Cinta.
"Maafkan Ayah ya sayang…karena Ayah jarang Tinggal sama kamu tapi Ayah janji akan membuatmu selalu merasa bahagia dan Ayah akan menuruti segala apa yang Bara minta selama itu baik-baik saja untuk Bara. Selamat istirahat Sayang Semoga kamu cepat sembuh Ayah pergi dulu ya nak.
Jaga Bara ya Bu. Maafkan Baron kalau selalu menyusahkan ibu di masa-masa tua Ibu seperti sekarang ini."
"Sudahlah Baron biar bagaimanapun Bara itu kan cucu ibu satu-satunya, kenapa kau tidak mencari istri yang lebih baik lagi. Menikahlah, sekarang Ibu sudah tua, anakmu butuh kasih sayang seorang ibu."
"Selama ini Baron kan sudah menikah Bu, sudah berapa kali aku menikah. Tapi Baron__" "tapi apa Baron? tapi kau menyia-nyiakan mereka, menyiksa mereka, lalu menceraikan mereka, itu yang kamu bilang semua pernikahan? Jika kamu membenci seseorang benjilah sifatnya. Jangan kau benci pada semua orang Baron, Ibu tahu kau merasa kecewa dan sakit hati atas apa yang dilakukan mantan istrimu itu tapi kamu harus bisa berpikir bijak.
__ADS_1
Mereka itu wanita Baron sama seperti ibumu ini, tidak semua wanita menjadi seorang penghianat. Apakah kau menghukum istri-istrimu hanya karena kesalahan satu istrimu itu? itu sangatlah tidak adil bagi mereka sadarlah.
Sebelum terlambat rubah sikapmu buang sifatmu itu kamu tahu Baron, ada banyak cinta di sekelilingmu tapi kamu sendiri yang menghindari nya. Buka Hatimu Baron, buka hatimu Ibu tidak mau melihatmu terus menerus seperti ini, melihatmu terbelenggu dalam rasa dendam yang tidak berkesudahan. Buktikanlah pada mereka yang menghianatimu dan menghinamu, bahwa kau bisa jauh lebih bahagia dari mereka,"
"tapi Bu aku tidak bisa melupakannya sampai kapan pun Baron tidak bisa melupakannya Bu"
"Terserah kamu saja Baron aku sudah capek menasehatimu kamu tetap saja seperti ini." Kesal Bu Sofia.
"Maafkan Baron. Bu...aku dengar Kalau tidak salah Bara hampir saja tidak bisa tertolong Apa benar?" tanya Baron mengalihkan pembicaraan.
"Memangnya kenapa kamu bertanya pada ibu apa pedulimu? apa dokter tidak memberitahu kan?"
"Justru Baron mengetahuinya dari dokter. Bu, tapi dokter tidak ingin mengatakan. Siapa orang yang telah mendonorkan darahnya untuk Bara."
"Untuk apa kamu menanyakan itu pada ibu?" ucap Bu Sofia masih dengan nada kesalnya.
"Lalu kau akan membayarnya?"
"Kenapa nggak Bu, semua itu bisa dilakukan kalau kita punya uang."
"Baron jika dokter saja tidak memberitahukan
mu, apalagi ibu, semua itu adalah urusan dokter bukan urusan ibu, ibu tidak tahu menahu tentang itu semua yang Ibu tahu adalah kesembuhan cucu ibu itu saja.
"Baiklah Bu Baron sendiri yang akan mencari tahu siapa orang itu, Baron pergi dulu Assalamu'alaikum.
"Waalaikumsalam Bu Sofia menatap kepergian anaknya dengan perasaan yang tak menentu. Sesampainya di luar Baron masih terus memikirkan perkataan ibu Sofia tadi.
__ADS_1
"Apa aku harus mengakhiri semuanya. Dan benar-benar melupakannya? Aku mungkin bisa mengakhirinya tapi tidak bisa melupakannya. Baron mendesah panjang ingin menghilangkan kegundahan hatinya.
"Lisa Apa kau tidak pernah berpikir tentangku, tidak jangankan tentangku tentang anak kita saja, Apa kau tidak pernah berpikir tentang itu? Lisa sudah 3 tahun kau meninggalkan kami. Aku sudah mencarimu kemana-mana. Tapi Sampai detik ini aku tidak bisa mendapatkanmu kau tahu Lisa aku sekarang sudah menjadi orang kaya yang sukses, kau tahu kenapa itu semua demi dirimu dan anak kita, aku harap suatu saat kau kembali padaku. Aku akan memaafkan semua kesalahanmu itu." lirihnya dengan perasaan yang hancur jika mengingat bagaimana perpisahan nya selama ini.
"Maaf Tuan Apakah Anda keluarga pasien" tanya seorang suster yang baru saja akan masuk ke ruang rawat Renata.
"l-Iya saya suaminya" gugupnya.
"Apa Boleh saya ikut masuk?"
"Silakan Tuan"
"Bagaimana keadaannya suster,? kapan dia akan sadar?" tanya Baron pada suster disaat sang suster selesai mengganti cairan infus untuk Renata.
"Saya juga kurang tahu pasti Tuan hanya dokter yang bisa memastikannya karena saya hanya bisa mengantarkan obat dan mengontrol kondisinya. Baiklah Tuan saya permisi, jika Ada sesuatu yang terjadi maka Anda bisa memencet tombol merah itu." Tunjuk sang suster memberi penjelasan kepada Baron.
"Baiklah suster saya mengerti" setelah suster pergi Baron melangkah menuju sisi pembaringan tepat di samping Renata yang masih setia memejamkan matanya itu.
"Aku tidak menyangka Kenapa kau selama ini sakitnya, seharusnya kamu itu sudah bangun tapi kenapa kamu itu Malas sekali sih? Apa kamu suka kalau aku hukum lagi aku tidak mau tahu besok pagi aku sudah melihatmu bangun kalau tidak makan aku akan mengirimmu ke__ aku akan mengirimmu ke rumah sakit yang paling terpencil yang jauh dari kota ini." Ujarnya setelah sempat berfikir.
"Aku ingin agar kau bisa merasakan hidup sendiri di sana. Aku ingin tahu bagaimana kehidupanmu jika tanpa uang, kau di sini sudah menyusahkanku saja kau itu sangat pintar, belum juga sebulan kau menjadi istriku kau sudah menguras uangku apa aku kira mencari uang itu gampang! untuk itu cepatlah bangun dan uang yang kau pakai untuk membayar rumah sakit kau harus menggantinya Apa kau paham!" Baron terus saja mengoceh sendiri padahal dia tahu Renata tidak akan bisa mendengar apa yang diucapkan Iya melakukan semua itu hanya karena agar hatinya sedikit bisa lebih lega.
Karena capek dan mengantuk ia pun memilih berbaring di samping istrinya itu karena kebetulan ranjang yang di tempati Renata begitu luas karena la di rawat di ruang VVlP.
Pagi.
"M-Mas…"
__ADS_1