Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Benteng pertahanan


__ADS_3

Darandra terus berusaha menjebol benteng pertahanan terakhir milik Amara, meski dengan harus sedikit bersusah payah, hingga teriakan kesakitan kembali terdengar di telinganya, saat ia benar-benar telah berhasil menerobos dengan sempurna.


"Aaaaaa…sakit…Kak," jerit Amara saat merasa bagian tubuhnya seolah terbelah menjadi dua bagian, oleh benda unik, yang kini terasa menjejal di bawah sana sedang kuku jemarinya menancap sempurna di punggung Darandra, membuat Darandra terdiam.


"Maafkan aku, aku akan pelan" Darandra mengusap sudut mata wanitanya yang sudah berair itu dengan lembut. Lalu ia kembali ******* bibir wanitanya, untuk mengurangi rasa sakit yang di rasakan Amara.


Saat mendengar ******* Amara barulah Darandra, mulai bergerak pelan-pelan untuk memberikan rasa nyaman pada wanitanya itu.


ketika merasa Amara sudah bisa menerima nya sepenuhnya Darandra mempercepat tempo gerakannya, membuat Amara terus saja mengerang, menikmati setiap tekanan yang di berikan oleh Darandra. ******* dan erangan terus bersahutan di dalam kamar dengan luasnya 4x4 tersebut.


"Darandra" jerit Amara tertahan saat merasakan desakan sesuatu yang kembali ingin membuncah membuatnya tanpa sadar membelit pinggang Darandra dengan kedua kakinya, agar Darandra memperdalam tekanannya.


"Kita keluarkan sama-sama ya!" bisik Darandra yang hanya di angguki lemah oleh Amara dan benar saja Darandra memeluk dengan kuat tubuh Amara, begitu juga dengan Amara membalas pelukan itu dengan begitu erat saat satu hentakan membuatnya hampir menjerit nikmat kalau tidak Darandra membungkam lebih dulu mulutnya dengan sebuah ciuman dan bersamaan dengan itu Darandra pun berhasil menyemai benihnya.


"Kau adalah milikku Amara Puspita Wijaya sekarang dan selamanya." Ucap Darandra penuh semangat karena sudah berhasil membuat Amara utuh menjadi miliknya selamanya.


Dan Darandra pun tidak melakukannya hanya sekali saja, tapi sudah beberapa kali ia memuntahkan benihnya di dalam sana, sedang kan Amara langsung tertidur setelah sebelumnya Darandra memasukkan sesuatu kedalam mulutnya. Dan memaksa Amara untuk menelannya, ntah dari mana kekuatan nya itu, tapi tubuhnya akan cepat beraksi hanya di saat Amara selalu dekat dengannya, dan dia sudah berusaha untuk selalu menahan dirinya dengan selalu membuat Amara, merasa cemburu atau marah dengan kedekatannya kembali dengan Tasya, bahkan tempo hari ia tidak pulang satu minggu karena tak ingin tidur di dekat wanitanya itu, la memilih tidur di klinik nya saja, tapi hari ini la sendiri tak bisa menahannya di saat melihat istrinya itu tertawa begitu riangnya saat berada di pinggiran sebuah danau bersama seorang lelaki yang mencintai istrinya itu.


"Di saat kau melepaskan Amara, maka di saat itu aku akan membawanya pergi bersamaku, dan akan aku pastikan dia akan melupakanmu!"


Kata-kata itu yang selalu terngiang dalam ingatannya, saat Amara memilih dekat dengan Danu, meskipun ia belum meyakini perasaannya, namun ia tidak pernah menginginkan Amara harus mencari lelaki lain, walau ia pernah secara langsung mengatakannya pada Amara, namun la berkata seperti itu karena la yakin dengan cinta yang di miliki Amara untuk nya, yaitu tidak akan pernah hilang, karena dia tau dirinya adalah cinta pertama bagi Amara.

__ADS_1


Darandra menatap intens wajah yang begitu cantik alami walau Tanpa balutan make up, tersebut. Dan entah mengapa tiba-tiba ia merasa takut untuk kehilangan wanitanya itu.


"Aku tidak mengerti dengan hatiku, apakah aku sudah benar-benar mencintaimu, atau hanya pesaraan yang takut kehilangan saja. Mungkin karena kita selalu bersama, tapi yang jelas, kau adalah milikku! dan akan tetap menjadi milikku! aku tidak perduli aku mencintaimu atau tidak, selama kau mencintaiku, dan selama kita saling memberi dan menerima apa salahnya aku rasa fine-fine saja. Dan maaf jika aku belum mengiginkan punya anak darimu, karena aku tidak ingin semuanya menjadi bebanmu."


Deg.


"Kau tega sekali mengatakan jika Anak akan menjadi bebanku, kenapa kau tak bertanya apakah aku terbebani dengan semuanya, kau tak ingin kehilangan aku, tapi kau tak ingin anak dariku, kau membuatku bahagia, di saat kau mengatakan aku akan jadi milikmu selamanya, namun sekaligus, kau melukaiku, di saat mengetahui kau belum mencintai ku, bahkan tak menginginkan keturunan dariku,


Aku hanya bisa berdoa, jika suatu saat kau akan lebih mencintaiku dengan nyawamu.


Dan semoga semuanya tidak terlambat.


Amara kini merasakan Tangan kekar Darandra kini melingkar sempurna di perutnya, dan mendekapnya begitu hangat dari belakang, dengan hembusan nafas yang menerpa tengkuknya.


Pagi


Amara menggeliat si saat merasakan otot-ototnya seperti remuk, namun la mengurungkan niatnya saat merasakan sesuatu yang memenuhinya di bawah sana. Sedangkan Darandra berada tepat di depannya.


"Apakah aku sedang bermimpi?"


Lirihnya bertanya pada dirinya sendiri namun di dalam hati. Amara mencoba mengingat apa yang terjadi selama dia tertidur. Dan la merasa benar-benar tidak merasakan sesuatu.

__ADS_1


"Oh Tuhan ya ampun, kenapa aku tidak merasakan sesuatu? dan apa dia tidak ada capeknya apa melakukannya bahkan di saat saat aku sedang tertidur."


Geram Amara namun hanya di dalam hati saja.


"Bagaimana cara nya aku bisa lepas aku Kan ingin segera mandi dan berangkat kerja."


Amara berusaha melepaskan pelukan Darandra dengan pelan, namun di luar dugaannya, Darandra meluk tubuhnya membuat kedua gundukannya menyentuh dada bidang itu.


Sedangkan yang di bawah sana kini kembali menegang, dan dengan lembut Darandra terus mempermainkan Amara. Bahkan tangannya terus bermain didepan, membelai dengan lembut bahkan kini mulai menyecap nya, membuat Amara menggeliat membusungkan dada, sedangkan la sendiri sudah seperti cacing kepanasan, saat yang bawah sana membuatnya kembali menggila,


"Darandra…" Desahannya kembali terdengar saat merasakan sesuatu yang nikmat membuatnya menegang. Membuat Darandra mempercepat temponnya. Dan eran..gan panjang pun kembali terdengar di pagi yang panas itu. Amara pun segera dari bangkit dari tidurnya, namun lagi-lagi Darandra menahan tubuhnya,


"Aku hanya ingin membasuh tubuhku karena aku itu ingin segera berangkat kerja" ucap Amara saat tubuhnya kembali di peluk dengan erat oleh Darandra.


"Aku bos nya, jadi untuk hari ini kau jangan masuk dulu, aku ini bosmu jadi harus mendengar apa yang Aku perintahkan. Istirahatkanlah dulu tubuhmu, Aku tahu kamu sedang capek biarkan aku yang akan mengurusmu hari ini karena hari ini aku mungkin tidak akan masuk ke klinik, untuk itu aku akan menemanimu di rumah Bagaimana apakah setuju?"


dan benar saja Darandra betul-betul memperlakukan Amara seperti seorang Ratu, setelah mereka sudah selesai makan Darandra kembali mengurung Amara di dalam kamar dan melakukan aktivitas olahraganya kembali.


"Kalau tahu begini mending aku masuk kerja saja daripada harus melayaninya tanpa berhenti "


gerutu Amara.

__ADS_1


__ADS_2