Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Kau pasti membenciku bukan?


__ADS_3

Setelah menunggu kurang lebih dua jam akhirnya Dokter Rini keluar dari ruang operasi


Damara yang melihat Dokter Rini pun segera menghambur mendekatinya. Karena ia ingin memaki sahabatnya itu karena sudah menyuruh nya menunggu begitu lama.


"Bagaimana dengan istriku? dan kenapa kau lama sekali memeriksanya? apa kau tidak tau aku begitu mengkhawatirkan nya!" Dokter Rini hanya tersenyum sinis melihat rona kekhawatiran di wajah sahabatnya itu.


"Kenapa kau diam saja jawab aku apa yang terjadi padanya!" bentak Damara karena Dokter Rini tak kunjung buka mulut. Sedang Dokter Rini sendiri merasa geram pada Damara yang menganggap wanita itu sebagai istrinya tapi kenapa dia harus memp3rkos4 nya dengan membabibuta.


"Dokter kau!" Damara menjeda kalimatnya saat Dokter Rini menarik tangannya dan membawanya masuk ke dalam ruangan yang kini sudah dia kunci.


"Kenapa kau membawaku kemari dan mengunci pintunya? aku hanya bertanya bagaimana keadaan istriku.!" Sentaknya dengan nada suara yang naik satu oktaf.


"Apa kau mau orang-orang di luar sana mendengar kelakuan bejatmu!" sela Dokter Rini. menatap kesal, sedang Damara hanya bisa menunduk.


"Dengarkan aku Tuan Damara yang terhormat. Kau menyebut wanita itu adalah istri? lalu kenapa kau melakukannya seperti dia itu adalah bin4tang, bahkan seorang j4l4ng pun tidak akan mendapat perlakuan seperti itu.


Kau bertanya bagaimana keadaan nya? keadaannya sangat buruk sedikit saja kita terlambat maka semuanya akan lewat karena dia hampir kehabisan darah karena pendarahan hebat yang di alami nya.


Dan kau bertanya padaku kenapa aku lama sekali menanganinya? kau ingin tau? karena aku memperbaiki apa yang sudah kau rusak."


Karena kesalnya Dokter Rini tak lagi memanggil teman nya itu dengan sebutan Anda.


"Sekarang keluarlah aku sudah memindahkannya ke ruangan VIP temui dia sebelum dia sadar jika tidak aku tidak tau apakah dia masih mau bertemu dengan mu atau tidak.!"


"Kenapa bisa Dokter?"


"Karena Trauma yang kau berikan begitu besar, dan itu akan hilang jika kau berusaha memberi perhatian dan kasih sayang tapi tak akan mudah butuh waktu dan perjuangan yang panjang untuk mengobati luka hatinya. Kau juga terlalu banyak memberikan tekanan batin padanya, itu akan membuat spikisnya terganggu.


Kau tau istrimu adalah tipe orang yang berusaha untuk menutup kejadian buruk yang menimpanya dan itu bisa terjadi saat ia merasa tertekan alam bawah sadarnya akan menghapus memori buruk yang terjadi pada.


Dan ingatannya akan kembali jika dia berada di tempat terjadinya kejadian buruk yang menimpanya itu. Sekarang apa Anda mengerti Tuan!" Dokter Rini pun mengakhiri penjelasanya yang panjang lebar.

__ADS_1


"Apakah sebuah kecelakaan juga bisa di hilangkan dari memori otaknya Dokter?"


"Iya, jika kecelakaan itu membuatnya syok dan terus berfikir tentang kejadian itu maka di saat ia terbangun dari tidur seolah-olah ia tak mengalaminya."


Deg.


"Apa jangan-jangan kecelakaan itu?" aku harus mencari tau kejadian sebenarnya, tapi penjelasan Amara." Damara benar-benar dalam dilema.


"Ada apa? apa Anda tidak jadi untuk menemuinya?" tanya Dokter Rini kembali membuyar kan lamunannya.


"Oh ya aku akan pergi dulu untuk menemuinya!" Cicitnya lalu bergegas membuka pintu.


Sedang Dokter Rini terus mengawasi kepergiannya, sambil menggelengkan kepala.


"Dasar bodoh kau sebenarnya sangat mencintainya tapi kenapa kau tega menyakiti nya apa karena kau belum bisa melupakannya." Gumamnya kembali masuk di ruangannya lalu menutup pintu.


*


*


*


Ceklek...


Perlahan namun pasti Damara masuk di VlP yang mempunyai pasilitas lengkap memadai itu. Damara kembali tercekat ketika melihat banyaknya alat yang menempel di tubuh Jelita.


Damara bergegas mendekati bankar Jelita di tatap nya wajah pucat sang istri dengan bibirnya yang masih lebam akibat tamparan nya itu. Damara begitu tersiksa melihat keadaan istrinya seperti itu, hatinya terasa begitu hancur dan sakit, di penuh dengan rasa penyesalan namun semuanya itu sudah terlambat.


Dia terlambat untuk mengetahui siapa Jelita sebenarnya dia juga terlambat untuk menyadari bagaimana perasaannya kepada Jelita.


"Kau pasti membenci bukan? dan aku yakin Kau pasti tidak akan pernah memaafkan b******* sepertiku ini tapi aku mohon bangunlah dan lihatlah aku sekarang ini, aku begitu menyesalinya. Maafkan kebodohan lelaki brengsek ini, aku sudah tidak dapat menghitung. Berapa luka yang telah aku torehkan di hatimu.

__ADS_1


Sudah berapa kali aku mengatakan. Kau adalah wanita j4lang tapi ternyata pada kenyataannya. Kau adalah wanita yang membuatku bangga, kau mampu menjaga kehormatanmu hingga aku sendiri yang tidak tahu malu datang untuk merenggut kesucianmu dengan secara paksa. Kau boleh menghukum mencaci maki aku tapi aku mohon bangunlah dan jangan pernah meninggalkan aku, aku berjanji kepadamu, aku akan menebus semua kesalahanku, aku akan selalu menjagamu.


Dan satu hal yang harus perlu kau tahu jauh di dalam lubuk hatiku sebenarnya aku sudah mencintaimu entah Sejak kapan rasa cinta ini ada, tapi karena egoku aku menutup semua rasa ini, dan sekarang mungkin aku terlambat dan bahkan sangat-sangat terlambat untuk mengungkapkan semuanya padamu tapi aku tidak peduli lagi.


Apa kau tahu selama ini Aku tidak percaya dengan yang namanya cinta, kau tahu kenapa? karena setiap aku mencintai seseorang dengan tulus maka dia akan pergi meninggalkan dan takkan pernah kembali lagi seperti ke dua orang tuaku, seperti Grandma dan grandpa, seperti wanita penipu itu. Aku tidak ingin kau juga pergi seperti mereka. Untuk itulah aku mengutuk cinta dan menutup hatiku untuk jatuh cinta. Tapi kau sudah membuat Aku terjerat ke dalam ikatan yang sudah ku buat sendiri.


Dan kau juga sudah membuatku terjebak ke dalam cinta itu Jelita. Sekarang aku mohon bukalah matamu karena kita akan memulai Semuanya dari awal."


Damara terus mengeluarkan segala rasa yang terpendam, sambil menggenggam lembut tangan Jelita berharap Jelita membuka mata dan menyapanya namun Jelita masih setia menutup mata. Damara yang merasa seluruh badannya pegal memilih memejamkan mata se saat, dengan posisi duduk di kursi sedang tangannya, tak terlepas dari dari tangan Jelita.


*


"Amara aku mohon jangan pergi buka matamu Amara jangan tinggal kan aku, aku mencintai mu Amara...Amara...Amara!"


"Kak, Andara bangun Kak,!" Amara terus mengguncang tubuh Darandra yang terus mengigau memanggil namanya, bahkan mengucapkan tentang perasaannya.


"Hah..hah..hah..." Darandra terbangun dari mimpi buruk nya dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Amara kau!"


"Aku kenapa Kak?" tanya Amara, bukannya menjawab Darandra memeluk Amara seperti orang yang takut akan kehilangan.


"Kak ada apa?" tanya Amara lagi.


"Tidak hanya saja Aku_"


Drt...drt..drt...suara getaran dari benda pipihnya menjeda kalimat Darandra.


"Tunggu aku angkat telpon dulu!" Darandra lalu meraih telpon genggamnya dan melihat siapa yang menelponnya.


"Dokter Rini!" Gumamnya.

__ADS_1


__ADS_2