
"Sayang, Apakah kau masih marah padaku,?" tanya Baron sambil melingkarkan tangannya di perut istrinya yang sudah mulai buncit itu, Renata merasakan tangan Baron, mengelus dengan lembut perutnya, dan bagaikan sebuah magnet, tiba-tiba saja rasa sakit di perutnya itu kini menghilang begitu saja, Baron mencium tengkuk istrinya dari belakang, hembusan nafasnya yang begitu hangat menerpa sebagian wajah Renata yang masih membelakanginya, rasa hangat pelukan itu membuat Renata merasa nyaman dan rasa penat dan lelahnya seharian ini lenyap seketika seperti ada perasaan hangat yang menyentuh hatinya.
"Sayang apakah kau masih tidak bisa memaafkanku?" ulang Baron bertanya karena tak kunjung mendapat jawaban dari istrinya itu.
"Dengarkan Aku, Aku Rela bertukar nyawa denganmu jika itu bisa aku lakukan, aku akan menukar kematianku demi kehidupanmu, jika aku bisa aku lakukannya, maka akan aku lakukan," mendengar semua itu Renata berbalik dan langsung memeluk tubuh suaminya yang sangat lama dia rindukan itu, Baron pun merasakan tubuh Renata bergetar Baron mengerti jika istrinya saat ini sedang menangis.
"Menangislah Sayang, jika kau ingin menangis, dan anggap ini adalah tangisan terakhirmu, karena aku tak ingin melihat ada air mata tumpah lagi di pipimu," Baron berujar sambil menyentuh wajah Renata, Baron lalu mencium dengan lembut kedua mata itu.
"Maafkan aku, yang sudah terlalu banyak membuatmu menangis dan melukaimu, tanpa kesadaranku ternyata Hatiku sudah jatuh terlalu dalam untuk Mencintaimu dan aku memang sangat bodoh terlambat menyadari nya, Renata jika aku bisa menukarkan kematianku akan aku lakukan demi dirimu, biarkan aku yang mati lebih dulu,"
Cup.
Sebuah kecupan mendarat dengan lembut di bibir Baron, membuat Baron membulatkan matanya, la terkejut dengan apa yang dilakukan istrinya itu, dia tidak menyangka kalau Renata akan memberikan sebuah kecupan pada bibirnya.
"Jangan pernah kau katakan kata seperti itu lagi," ucap Renata setelah selesai memberi kecupannya.
"Apa kau kira aku sanggup jika hidup tanpamu? apa kau kira selama ini aku jauh darimu aku bisa melupakanmu begitu saja Lihatlah dinding kamar ini, apa Kau tidak melihatnya,? Aku menyimpan namamu Dihati dan gambarmu di dinding kamar ini agar kau terlihat di depan mataku kau akan selalu terlihat saat aku ingin tertidur kau dan Bara adalah semangat Hidupku," dan benar saja begitu Baron berbalik menatap dinding kamar itu nampak gambarnya terpampang begitu besar dan juga ada foto Putra mereka,"
"Sayang kau, apa kau yang melakukan ini?" Renata hanya mengaguk sebagai sebuah jawaban.
"Jika kelak aku sudah tiada, jagalah kedua anak kita dan berbahagialah menikah dan hidup bersama Lisa,"
"Apa maksudmu menikah dan berbahagia dengan Lisa,? Aku hanya bisa menikah dengannya jika aku juga menyusulnya ke alam sana, Namun seandainya dia juga ada aku tidak akan bisa menikah lagi dengannya karena aku mencintai mu," timpal Baron panjang lebar.
"Apa maksudmu dengan Lisa di alam sana,?" tanya Renata bingung.
"Besok aku akan menceritakannya padamu, sekarang kau istirahat saja dulu, kau kan masih capek, aku tidak mau kau dan bayi kita kenapa-kenapa," lanjut Baron lagi, sambil mengelus lembut kepala wanitanya tersebut.
__ADS_1
"Jangan, mengelus Rambutku Apa kau tidak lihat kini rambutku sudah mulai rontok Apa kau bisa melihatnya kepalaku sudah mulai botak," Renata berusaha memberitahukan nya kepada Baron agar Baron bisa berubah dan meninggalkan nya.
"Seperti apapun dirimu aku tetap mencintaimu, selamanya," ucap Baron mantap sambil terus-menerus mengecup pucuk kepala istrinya itu.
"Tapi aku akan terlihat aneh kan sayang, kalau aku tak berambut,?"
"Menurutku tidak ada yang aneh, kau adalah bidadari di hatiku, jangan hiraukan orang jika ada yang memberikanmu tatapan aneh."
Renata mengangguk lalu menenggelamkan wajahnya dalam pelukan hangat sang suami, dia hanya ingin menikmati saat-saat terakhir hidupnya dengan orang yang sangat dicintainya itu, dengan mencoba memaafkan, segala kesalahan fahaman yang terjadi selama ini, dan memberikan kesempatan pada Baron untuk dekat dengan bayi yang sedang di kandungnya, la juga sudah tidak khawatir lagi jika ia sudah tiada, ada Baron yang menjaga bayinya dengan penuh kasih sayang.
"Terima kasih Sayang kau sudah hadir di saat-saat terakhirku,"
"Apa maksudmu Renata,! kau tidak akan pernah pergi meninggalkan aku, jika iya, maka akulah yang pergi terlebih dahulu, seharusnya aku yang mengucapkan kata terima kasih itu padamu, karena kau wanitaku satu-satu nya yang rela berjuang untuk nyawa buah hati kita" Baron semakin mengeratkan pelukannya, sedangkan kini air matanya sudah tak bisa dibendung lagi, saat sakit rasa hatinya menghimpit, melihat orang yang sangat ia cintai dan ia rindukan selama ini akan pergi meninggalkannya rasanya ia belum siap dan sanggup untuk itu.
"Percayalah padaku sayang, tidak akan terjadi apa-apa padamu," ucap Baron menghibur wanitanya itu, atau bisa dikata menghibur dirinya sendiri.
"Sudah cukup diamlah,! jangan berbicara lagi kalau tidak aku akan menghukumu," ucapnya memberikan sedikit ancaman."
"Kau itu aneh sekali Sayang, bagaimana caranya kau akan menghukumku?"
"Tentu saja aku bisa, Apa kau tidak percaya? aku ini kan suamimu Lihatlah apa yang aku lakukan padamu,"
"Sayang, sudah sayang geli, kau jangan terus mengelitikku terus aku geli," Renata terus tertawa saat Baron terus menggelitik di bagian leher jenjangnya itu.
"Sayang Awww...ish..." Baron menghentikan aksinya di saat melihat Renata meringis kesakitan.
"Kau kenapa sayang,?" tanya Baron yang mulai nampak khawatir.
__ADS_1
"Perutku, perutku sakit sekali, Aku tidak kuat Mas, Renata memeluk erat tubuh lelakinya itu dan Baron pun membalasnya namun selang beberapa menit akhirnya Renata terkulai membuat Baron terkejut dan segera bangkit.
"Sayang bangun, sayang...sayang...sayang... kau jangan membuat aku takut seperti ini, tidak sayang, Buka matamu, Buka matamu, Renata..Renataaaaa," Baron terus mengguncang tubuh istrinya sambil teriak memanggil namanya namun tetap saja tak ada jawaban.
Sengkang General Hospital.
di rumah sakit baron terus mandar-mandir di depan ruang operasi dunianya seakan berhenti berputar saat mengetahui jika istrinya harus dioperasi Dan inilah babak penentuan perjuangan akhir istrinya antara hidup dan mati, usia kandungan Renata baru berumur 7 bulan dan dokter memutuskan untuk segera mengoperasinya karena tak ada jalan lain lagi karena bayinya harus diselamatkan.
Di tempat itu juga ada Jelita, Dara, Exel, Damara, dan juga Restu Baron, memang sempat menghubungi mereka semua sementara Bara dititipkan pada Hana hingga pagi tiba ruang operasi tempat Renata masih tertutup rapat Tak Ada tak ada tanda-tanda akan terbuka, bahkan tak ada yang di per boleh kan untuk masuk, sedang Baron tak henti-hentinya berdoa, tak lupa la juga menghubungi lbu Sofia dan menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi, dan Baron meminta pada ibunya untuk mendoakan Renata dia sudah memberitahu Ibu Sofia bahwa Renata sudah bertemu dengannya di Singapura.
"Kenapa kau tak membawa istrimu ke rumah sakit Moon Elizabeth saja," Ujar Exel yang sedari tadi hanya menyaksikan kegelisahan Baron.
"Renata sejak Awal di tangani di sini, Tuan, jadi dia memilih untuk di sini saja, lagi pula dekat dengan tempat tinggal kami," sahut Baron karena Baron sempat bertanya pada Renata dan jawaban nya sama persis yang di sampai kan Baron.
Baron tidak menyangka saja momen bahagia pertemuannya harus seperti ini.
Ceklek...
Sambil nungguin Author up lagi yuk mampir di karya teman aku di bawah iniππ
KEhidupan Adistya yang awalnya tenang dan biasa saja tiba-tiba terganggu oleh kedatangan seorang lelaki bernama Darren Bramastya. Lelaki itu mengklaim dirinya sebagai istri, bahkan memaksa dirinya untuk kembali ke rumah.
Tentu mendapat perlakuan seperti ini, Adistya menjadi sangat risih. Namun, semakin hari melihat kegigihan Darren untuk meluluhkan hatinya membuat Adistya memberikan kesempatan pada Darren.
Adistya mengajukan permintaan agar mereka menjalani hubungan layaknya sepasang kekasih, bukan sebagai suami istri. Apakah permintaannya ini akhirnya bisa di setujui Darren, atau malah sebaliknya?
__ADS_1