Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Cek up


__ADS_3

"Bini saye macam Mane Dokter? dia baek ke' tak?" tanya Baron pada seorang Dokter wanita yang di ketahui bernama Dokter Nora bint Azman, Dokter yang berdarah melayu itu kini tengah memeriksa kandungan Renata, Renata sebenarnya kekeuh tak ingin Baron menemaninya, namun pria itu sangat keras kepala, terus saja mengikutinya hingga ikut masuk ke ruang pemeriksaan dengan alasan bayinya merindukannya.


"Cik, Sorry...baby dalam perut Puan Renata, Ni Masya Allah die tumbuh sempurne, Cik tak payah risaukan hal tu, hanye saje, kite nak kene risaukan, satu halni je, fasal Puan Ni ape Cik, dah tahu fasal kes die,?"


"Iye Dok, saye dah tahu" sahut Baron.


"Kami disini dah cube try your bets, Cik dan Puan tak boleh putus ase, kite do'e, same-same, kerana fasal hidup mati seseorang tu hanya Allah yang boleh tahu, kite sebagai manusie hanya mencube yang terbaik," terang sang dokter panjang lebar.


"lya Dok, semoga ada satu keajaiban yang Allah berikan untuk kami," timpal Baron sambil menatap lekat sang istri, membuat Renata yang di tatap merasa, Malu karena untuk pertama kalinya Baron memberikan nya tatapan penuh cinta, yang nampak terpancar dari kedua matanya.


Sang dokter pun melakukan banyak pemeriksaan hingga membuat Renata agak sedikit lelah untung Baron dengan semangat dan sigap mendorong istrinya dengan kursi roda yang tersedia, sedang kan Bara sendiri, ikut mengekor beruntung dia tidak mengeluh capek, setelah selesai mereka pun pamit dan mengucapkan banyak terima kasih pada sanga dokter


"Mas,,,"


"Kenapa sekarang kau merubah panggilan mu padaku? apa kau masih suka dengan Mas, Restu mu itu,? kau harus tetap memanggilku sayang, apa kau lupa itu?"


"Aku tidak lupa tapi kau lah yang memaksaku untuk melupakan semuanya," ujar Renata membuat Baron duduk bersimpuh di depan nya.


"Ap-apa, yang kau lakukan? malu dilihat orang, bangunlah ayo berdiri,!" seru Renata pada Baron, namun Baron tetap mengindahkan tanpa ingin mendengar kan Renata ia bersimpuh hingga kini kedua tangannya aktif menggenggam tangan Renata dan menyentuh wajah nya dengan lembut.


"Tidak, sayang apa kau tahu, rasa bersalahku padamu membuatku, tak bisa hidup dengan tenang kau tahu apa doa ku selama ini,?"


"Apa...?" sahut Renata.


"Aku berdoa jika aku di berikan kesempatan aku ingin, membahagiakan mu dan kalau bisa nyawa kita di tukar saja, biar nyawaku yang di ambil untuk menggantikan mu, aku juga berdoa jika aku masih bisa hidup kembali aku berdoa aku hanya ingin kau yang akan menjadi istriku selamanya," Baron memeluk Renata dengan air mata yang sudah merembes di wajahnya bahkan kini mereka sudah jadi sebuah tontonan orang-orang yang berada di Hospital General Sengkang tersebut.


"Bunda kenapa Ayah menangis bukan kah laki-laki tidak boleh menangis karena itu sangat memalukan," ucap Bara dengan wajah datarnya, membuat Baron mengurai pelukannya.


"Kau,!" tunjuk nya pada Bara lalu beralih menatap Renata.


"Hai sayang, apa kau yang mengajarkan anakku untuk berkata seperti itu pada ayahnya sendiri,?"

__ADS_1


"Dia itu Putraku apa kau lupa siapa ibunya jika ibunya saja kuat, anaknya juga pasti lebih kuat, dan berhentilah menatap Putraku seperti itu kau itu seolah ingin menerkamnya saja." Gerutu Renata saat Baron menatap kearah Bara.


"Bara sini sayang sama Bunda," panggil Renata pada sang putra, Bara pun mendekat dan memeluk Renata saat melihat Ayahnya berdiri.


"Jadi sekarang kalau sudah berpaling dariku? kau lebih memilih Bara daripada diriku ini,?" protesnya.


"Sayang kenapa kau harus cemburu padanya, aku juga merindukan Putraku, dasar laki-laki egois," gerutu Renata sambil mendelikkan matanya. Mendengar Renata mengucapkan kata sayang membuatnya begitu bahagia.


"Sayang Bagaimana kalau sekarang kita makan, Aku tau kamu pasti lapar, Ayo kita ke sana!" ajak dia sambil menunjuk kearah


Koufu Palace.


"Ayo Kita ke kedai itu dulu untuk makan." Lanjutnya lagi.


Dan merekapun benar-benar singgah untuk mengisi perut yang keroncongan.


Setelah semuanya selesai Baron pun mengajak Renata Untuk pulang beristirahat, "Kita ke tempat ku saja bagaimana?" ajak Baron, pada Renata.


"Aku tidak mau Mas, aku harus pulang ke tempat ku,"


"Baiklah kau boleh ke sana tapi dengan satu syarat aku dan Bara akan tinggal bersamamu," "Tapi sayang aku__"


"kau ingin aku ikut denganmu, atau kau akan aku bawa paksa ke tempatku sekarang juga," ucap Baron yang masih kekeuh bahkan berusaha memberikan ancaman nya agar istrinya itu tidak leluasa bertemu restu.


"Sayang, kau Kenapa? sekalian saja kau bilang ingin mengikutiku karena ingin mengawasi ku iya kan,? baiklah terserah kau saja,"


Renata di buat jengah dengan perbutan suaminya itu Jangankan untuk bermu Restu untuk ke toilet saja ia meski ikut mengantarnya, seperti yang terjadi di dalam Apartemen nya saat ini di mana Baron berjalan dibelakang nya.


"Kau mau kemana,?"


"Aku ingin mengantar mu,"

__ADS_1


"Stop, kau ini apa-apaan apa kau tak malu dengan Bara,?"


"Bara sudah tidur, lagi pula aku takut kau kenapa-kenapa bagaimana kalau kau jatuh dan kau terkilir, bagaimana kalau kau tak bisa mengambil air sendiri dan__"


"Stop...! kau itu apa-apaan kenapa kau berfikir dan berharap yang tidak-tidak sih?"


"Karena itu yang terjadi pada Lisa dulu Renata." Sahut Baron tanpa sadar, dan ia pun langsung terdiam di saat menyadari ucapannya dan melihat Renata juga yang terdiam dengan mimik wajah yang susah ia gambarkan.


Dan hingga hingga Renata keluar dari taoilet ia masih saja diam membuat Baron semakin merasa serba salah, dan ia bertekad ingin menjelaskan nya pada Renata semua tentang kehidupannya selama ia di tinggal kan selama ini.


"Kau, apa kau marah kepada ku? tentang Lisa aku, aku akan menceritakan nya pada mu," ucap Baron pada akhirnya meskipun ia merasa ragu kalau Renata akan menerima penjelasan nya.


"Keluarlah jangan ganggu aku, aku capek dan ingin istirahat, dan tolong tutup rapat pintu kamarku,!" perintahnya.


"Sayang aku tidak akan keluar dari kamar ini, sebelum kau mendengar penjelasan ku dan ya aku akan tidur di samping mu untuk memelukmu," tanpa ada jawaban dari Renata, Baron langsung memilih berbaring di samping sang istri sedang Renata masih dalam diamnya, bukan karena sakit di hati mendengar nama Lisa yang tiba-tiba saja di sebut Baron, namun tiba-tiba saja ia merasakan perutnya begitu sakit, dan dia mencoba untuk menahannya, dengan membelakangi Baron agar sakitnya tidak nampak terlihat oleh Baron.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


👋👋👋Hai...sambil nunggu Author yang lagi slow Up yuk ikuti Cerita Novel di bawah ini...👇👇




Blurb : Cinta Terlarang. Begitulah dia menyebut perasaannya ini.


Bercerita tentang seorang anak berusia 10 tahun yang mengalami nasib malang. Kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan maut. Namun, ada seseorang berhati malaikat yang mau mengadopsinya sebagai anak.


Waktu berlalu, hingga si anak ini beranjak dewasa. Reina, tumbuh menjadi gadis cantik dan manis. Banyak pria yang mengincarnya untuk menjadikannya pacar.  Namun, perasaan cintanya telah terpaut pada satu orang. Reina mencintai ayah angkatnya sendiri. Namun, dia cukup pandai memendam perasaannya karena dia tahu jika perasaannya adalah cinta terlarang.


Namun sepertinya, Reina tidak bisa terus-menerus memendam perasaannya selama itu. Apalagi setelah sang Ayah telah mengenalkannya dengan calon istrinya yang di pilihkan oleh Neneknya, Ibu dari Ayah angkatnya.

__ADS_1


Dia akan mengatakan perasaannya yang sebenarnya pada sang Ayah angkat, meski dia tidak tahu bagaimana nanti respon Ayah angkatnya itu. Tidak peduli dengan apa jawabannya nanti.


Apa cinta Reina akan di terima?


__ADS_2