
"Jelita...! kau kenapa?" tanya seorang lelaki yang tiba-tiba saja mengejutkan Jelita.
"Kau kenapa kau selalu muncul tiba-tiba dan selalu saja mengejutkan ku. Ada apa kenapa kau berada disini sepagi ini?" cecar Jelita tanpa menjawab pertanyaan dari orang tersebut.
"Aku hanya kebetulan lewat saja dan kebetulan melihatmu berjalan pincang dan lihatlah lututmu itu berdarah ayo aku akan membawa mu kerumah sakit."
"Tidak Jhony! kenapa kamu berlebihan sekali percaya padaku kalau aku baik-baik saja, dan jangan terus muncul di depan ku di saat aku membutuhkan bantuan karena aku pasti akan terus merepotkan mu." Cicit Jelita sambil tersenyum meringis karena merasakan sakit di lututnya baru terasa.
"Dan aku sangat suka di repotkan oleh mu setidaknya selama aku bernafas aku bisa membayar semua kesalahan ku kepada orang yang pernah aku sakiti, agar kelak jika aku sudah tiada tak akan ada doa kebencian yang mengiringi kepergian ku. Aku ingin hanya di iringi dengan doa orang-orang yang menyayangi ku." Ucap laki--laki yang ternyata adalah Jhony tersebut.
"Apa-Apaan sih kamu Jhon kayak orang mau mati besok saja," cicit Jelita namun sesaat kemudian ia merasa aneh dengan semua kata-kata yang di ucap kan oleh Jhony tadi.
Jelita menatap Jhony dengan begitu intens lalu ia menaruh telapak tangannya pada kening Jhony memeriksa apakah Jhony sedang demam atau tidak. Membuat Jhony mengerutkan alisnya.
"Kamu tidak sedang demam kok tapi kenapa cara bicaramu seperti orang yang sedang sakit parah." Ujar Jelita lagi.
Deg.
"Ap-apa maksudmu? aku hanya berbicara biasa saja kok, dan lihatlah aku masih sehat wal afiat" balas Jhony gugup ia takut jika Jelita mengetahui rahasianya yang selama ini ia tutup rapat dalam beberapa bulan belakangan ini.
"Kamu belum menjawab pertanyaan ku kamu disini ngapain sepagi ini sampai-sampai terluka apa suamimu menyakiti mu lagi?" tanya Jhony dan seketika pertanyaan itu membuat Jelita menunduk, dan ntah kenapa ia tiba-tiba saja melo membuat Jhony binggung harus bagaimana.
Dan dalam keadaan seperti itu Jhony pun memberanikan diri untuk memeluk Jelita, dengan lembut.
"Menangislah jika kamu ingin menangis kau bisa menggunakan pundak ku jika kau menginginkannya untuk bersandar, pundak ku masih kuat kok untuk menahan beban yang kamu rasakan, kamu jangan khawatir aku akan selalu ada jika kamu benar-benar membutuhkan ku." Terang Jhony berusaha menghibur Jelita. Dan benar saja Jelita nampak sedikit lebih tenang.
"Bagaimana perasaan mu sekarang apa sudah jauh lebih baik?" tanya Jhony lagi sambil menatap wajah Jelita yang masih sembab Jhony pun mengusap lembut kedua mata Jelita dengan ke dua ibu jarinya.
__ADS_1
"Ayo ikut aku, aku akan mengajakmu ke suatu tempat dan pastinya kamu akan menyukai tempat itu, tapi aku ingin bertanya padamu dulu apa kau tak ingin aku antar pulang terlebih dahulu?"
"Pup-pulang?" lirihnya pelan bertanya pada diri sendiri, tiba-tiba saja. Jelita merasa ragu untuk pulang ke rumah utama, saat berfikir Damara meninggalkannya begitu saja. Di depan mansionnya, itu berarti Damara tidak ingin ia datang kerumah utama lagi, itu artinya pria itu lebih memilih mendengarkan adiknya ketimbang istrinya dan untuk apa juga ia ingin bertahan dengan Damara toh ia juga sudah ingin berpisah darinya.
"Jelita apa kamu baik-baik saja?" tanya Jhony kembali disaat melihat Jelita hanya terdiam bergeming pada tempatnya.
"Ah-i-iya aku baik-baik saja dan oh ya ayo aku ikut denganmu saja" sahut Jelita tanpa semangat dan Jhony yang melihatnya pun hanya bisa tersenyum dengan senyum penuh arti.
"Baiklah aku akan membawamu kesana tapi berjanjilah padaku kamu akan terus tersenyum mulai hari ini dan tidak akan menangis lagi seperti tadi karena tempat itu tempat orang dilarang menangis bagaimana?"
"Baiklah aku tidak akan menangis didepan mu aku juga akan terus tersenyum." Ucap Jelita menatap Jhony serius
"Okey baiklah ayo masuk!" serunya mempersilahkan Jelita masuk di dalam mobil Sportnya itu. Dan dengan senang hati Jelita pun masuk, kemudian mobil itu pun segera melesat meninggalkan tempat itu.
Mungkin karena capek dan mengantuk Jelita pun tertidur begitu pulasnya membuat Jhony nggan untuk membangunkannya.
"Jelita-Jelita apa semalaman kamu tidak tidur hingga kamu tidur begitu pulasnya." Jhony hanya menggelengkan kepalanya saat melihat Jelita tidur tanpa merasa terganggu sedikit pun.
Sedang kan puluhan anak-anak kecil datang menghampiri nya sambil berlarian menyebut namanya.
"Kak, kak Adam kak, Adam sudah datang kami merindukan Kak Adam!" cicit Anak-anak tersebut mengerumuni dan memeluk Jhony.
"Iya Kakak juga merindukan kalian bagaimana keadaan kalian semua?" tanya Jhony kepada anak-anak tersebut.
"Baik Kak kami semua baik-baik saja?" Jawab mereka serempak membuat Jhony gemas dan mencium mereka satu persatu.
"Ya Allah nak kenapa Kalian tidak mengucap salam dulu sama kak Adam!" tegur seorang wanita baya mendekati anak-anak asuhnya.
__ADS_1
"Maafkan kami Bunda Maafkan kami Kak Adam, Assalamualaikum warah matullahi wabarakatuh,"
"Walaikumsalam warah matullahi wabarakatuh" Balas Jhony sambil tersenyum lebar.
"Ayo kakak bawa hadiah untuk kalian semua tapi harus di bagi rata tidak boleh rebutan dan harus antri yang tertib!" seru Jhony yang di angguki anak-anak tersebut dan benar saja mereka antri dengan tertib tanpa rebutan.
"Nak Adam bagaimana keadaan Nak Adam dan keluarga?"
"Alhamdulillah semuanya baik-baik saja kok Bunda" sahut Jhony
"Siapa wanita cantik itu? apa dia istri Nak Adam kenapa tidak di kenal kan ke Bunda sih" cicit Bu Maya Ibu panti Harapan kasih, begitu melihat seluit tubuh wanita turun dari dalam mobil milik Jhony.
"Jelita kamu sudah bangun,? maaf aku tidak membangun kan mu karena aku melihatmu tidur begitu nyenyak sekali, Kemarilah aku akan mengenalkanmu kepada Bunda,"
Jelita pun berjalan mendekati Jhony sedang kan Jelita terus menatap Jhony dengan tatapan yang penuh dengan tanda tanya.
"Bunda kenalkan ini Jelita dia adalah adiknya Adam" terang Jhony.
"Jelita ini Ibu Maya Ibu panti asuhan Harapan Kasih."
Jelita mengangguk hormat sambil menerima uluran tangan dari Ibu Maya begitupun Sebaliknya nya Dengan lbu Maya.
"Oh ibu kira kalian ini suami istri" cicit Bu Maya.
"Ayo silahkan masuk, Adam bawa Jelita untuk beristirahat dulu ibu mau menyelesaikan pekerjaan ibu dulu di belakang jangan lupa Jelita di kasih sarapan dulu Adam!" titah Bu Maya yang di angguki Jhony.
"Adam...!"
__ADS_1