
''Bagaimana keadaan mu Je,? kamu tau aku benar-benar takut jika kamu kenapa-kenapa, apa lagi kamu tau sendiri Jhony itu orangnya nekad." Tasya memeriksa seluruh tubuh Jelita memutarnya seperti boneka maneken yang dipajang di etalase.
"Please...deh Sya aku tidak apa-apa kamu tidak usah khawatir apa lagi dengan laki-laki seperti Jhony itu. Mungkin sekarang dia lagi di rumah sakit, untuk membayar perbuatanya dan lihatlah ini hasil recaman cctv di taman aku berhasil menjebaknya itu bisa menjadikannya bukti jika dia macam-macam." Terang Jelita panjang lebar melihat kekhawatiran sahabatnya itu.
"Oh...Jadi ini yang kamu lakukan malam-malam meninggalkan Kakak dengan Kak Devan! bahkan sampai membuat Kak Kenan marah. Je! sudah berapa kali Kakak bilang jangan pernah berurusan dengan hal seperti ini kenapa sih kamu tidak minta bantuan Kak Devan malam itu! jika kamu kenapa-kenapa bagaimana dengan Bunda dan Dad Rafa apa kamu tidak pernah memikirkan mereka!"
"Kak Dara, kapan datang kenapa Kakak tak bilang kalau mau datang?"
bukannya menjawab pertanyaan Dara Jelita malah balik bertanya.
"Kakak ingin memberimu kejutan, Kakak akan tinggal di sini selama Kak Kenan pergi!" terang Dara menjawab pertanyaan Jelita.
"Eh..tunggu dulu bukankah Kakak lagi marah padamu kenapa kau mengalihkan pertanyaanku dengan pertanyaan?" Kesal Dara pada Jelita.
"Lalu kenapa Kak Dara menjawab pertanyaanku?"
"Itu karena kau bertanya, dan kenapa juga kau bertanya pada Kakak, seharusnya kau menjawab pertanyaan Kakak, bukannya malah balik bertanya!" imbuh Dara.
"Aku hanya ingin tau apa tujuan Kakak, kesini dan Kakak, juga kenapa menjawab pertanyaanku?"
"Kakak menjawabnya karena kamu bertanya dan pasti kamu butuh jawaban iya kan?"
"Iya sih...!" balas Jelita lagi.
Sedangkan Tasya menatap ke dua bersaudara itu dengan tatapan bingung. Karena keduanya saling melempar pertanyaan dengan jawaban.
"Kalian ken-kenapa?" pertanyaan itu akhirnya keluar dari mulut Tasya.
Sedang Dara dan Jelita yang di tanya serempak melirik ke arah Tasha yang terlihat binggung.
"Ini semua gara-gara Kakak sih! yuk Sya kita ke dalam." Ajak Jelita meraih tangan Tasya dan mengajaknya masuk ke kamarnya.
__ADS_1
"Kenapa aku yang di salahkan? Jelita tunggu! Kakak belum selesai bertanya serius!" teriak Dara kesal melihat sang Adik berlalu meninggalkannya.
"Kakak kalau mau masuk, masuk saja kedalam kamarnya Baby Ken.!" Balas Jelita sambil melambaikan tangan tanpa berbalik menatap Dara yang masih kesal, karena di tinggal pergi begitu saja.
"Kamarnya Baby Ken,? itu kan kamarnya Kak Kenan waktu masih bayi?" gumamnya pada diri sendiri.
"Benar kata Jelita, aku akan ke sana aku penasaran dengan kamar itu bagaimana bentuknya. Dara pun bergegas menuju lantai dua dan langkahnya terhenti di depan sebuah kamar yang sudah terkunci selama puluhan tahun semenjak Kenan di katakan menghilang tanpa jejak. Anggun memang sengaja melakukannya karena tak ingin teringat Baby Ken, hanya sesekali maid yang di tugaskan masuk untuk membersihkannya.
Ceklek.
Langkah kaki Dara perlahan memasuki ruangan dimana dulu Kenan kecil pernah menghuninya, tatapan Dara menelisik keseluruh ruangan hingga matanya tertuju pada sebuah box bayi yang berwarna biru lengkap dengan permainan yang bergelantungan di atasnya.
Langkah kakinya pun berhenti di sisian ranjang, Ia pun menghenpaskan bokongnya di atas tempat tidur lalu tangannya tak berhenti untuk menyentuh box bayi yang pernah menjadi saksi masa kecil Kenan.
"Aku ingin suatu saat kau juga hadir di sini Kenan juniorku." Ucapnya sambil tersenyum kecil, sedang tangannya menyentuh perutnya yang masih rata.
"Kenapa aku jadi merindukannya" lirihnya lalu meraih gawainya namun baru saja ia akan membuka kontak tiba-tiba saja gawainya bergetar tanda panggilan masuk dan matanya pun membulat begitu mengetahui siapa yang menghubunginya lewat panggilan vidio.
"Aku merindukanmu sayang...!" ucapan rindu dari sang suami membuatnya tercekat, karena di waktu yang bersamaan dia juga sangat merindukan suaminya itu.
"Halo sayang apa kau mendengarku? kenapa kau diam saja tak menjawab pernyataanku apa kau sedang marah?'' Exel bertanya dengan suara resah ia takut kalau Dara benar-benar marah padanya.
"Tit-tidak! aku tidak marah padamu. hanya saja aku terkejut karena aku, aku juga merindukanmu.'' ucap Dara malu-malu terlihat dari wajahnya yang mulai bersemu.
"Apa aku tidak mendengarmu di sini jaringannya putus-putus'' bohongnya.
"Apa kau bisa mengulanginya lagi?" pintanya.
"Kakak ini ada-ada saja mana bisa di kota sebesar itu jaringannya putus-putus." Kesal Dara sambil memanyunkna bibirnya membuat Exel semakin gemas ingin menggodanya.
"Apa kamu tidak percaya sama aku, aku sungguh ingin mendengarnya please!" pinta Exel lagi dengan nada yang memohon.
__ADS_1
Dara hanya bisa mendesah panjang karena ia tau kalau suaminya sedang berusaha menggodanya.
"A-aku juga merindukanmu dan sangat merindukanmu untuk itu cepatlah pulang untukku.'' Ucap Dara pelan karena masih terkesan malu-malu bagaimana tidak di waktu yang bersamaan Exel juga mengungkapkan rasa rindunya.
"Kau lihat sekarang aku ada dimana?" Sela Dara sambil memutar kamera belakang di gawainya.
"Kamu ada dimana, kenapa di depanmu ada box bayi, apa kau benar-benar mengandung anakku dan menyiapkan semuanya?"
"Tit-tidak! aku tidak sedang hamil. Hanya saja aku sangat merindukanmu, jadi aku masuk di kamar Baby Exel junior." Ucapnya tanpa sadar. Sedang Exel tersenyum bahagia mendengar kata-kata Dara yang sangat merindukannya, namun Ia mengerutkan alisnya saat mendengar ucapan terakhir Dara.
"Exel junior? sejak kapan namaku berubah jadi junior?"
"B-bukan itu, m-maksudku anak kita akan jadi Exel junior." Lagi-lagi Dara keceplosan tak menyadari ucapannya. Hingga membuat Exel kembali terkekeh.
"A-apanya yang lucu kenap_" Dara menutup mulutnya dengan ke dua tangannya saat menyadari apa yang telah dia ucapkan. Dan dia pun kembali tertunduk malu.
"Hei, ada apa? kenapa wajahmu jadi semerah itu?" Exel pun kembali menggoda Dara yang masih setia menundukkan kepalanya.
"Aku Tidak apa-apa berhentilah menggodaku!" Dara yang kesal memalingkan wajahnya.
"Maafkan aku!" ucap Exel dengan nada serius membuat Dara menatap lekat suaminya.
"Sekarang katakan padaku kamu sebenarnya berada dimana kenapa kau tak bilang mau pergi keluar." ucapnya menelisik.
"Aku sudah menghubungimu dari tadi tapi, no mu tidak aktif, dan jangan khawatir sekarang aku berada di Mansion Dad, Rafa dan kamar ini adalah kamar milik Kak Kenan, aku masuk kesini karena merindukannya, jadi untuk sementara aku akan tinggal dan tidur di sini, dan jika suatu saat Kenan junior lahir aku ingin dia juga tumbuh dan besar di ruangan ini. Biar dia menjadi kuat sepertimu." terang Dara mengakhiri ucapannya.
"Terima kasih." Hanya itu yang terucap dari bibir Exel.
"Terima kasih untuk apa?"
"Terima kasih karena kau sudah mencintaiku sebesar ini dan_"
__ADS_1
"Maaf Tuan ada yang harus Anda lihat dan ini sangat penting!" Reno tiba-tiba datang menyela percakapan keduanya. Dan Exel pun segera pamit dan memutuskan sambungan telponnya.