
"Tapi Tuan...!"
"Apa sekarang kau juga berani membantah ku hanya karena wanita ini!" tegas Damara menatap nya lang pada asisten pribadinya itu.
"Mam-Maafkan saya Tuan saya tidak bermaksud seperti itu hanya saja kaki Nona Jelita memang sangat mengkhawatirkan. Saya khawatir Nona Jelita, tidak bisa berjalan dan itu akan berakibat fatal Pada kakinya." Terang Rony menjelaskan maksud dan tujuannya menolong Jelita, dengan masih menunduk memberi hormat kepada Tuannya itu walau ia sempat merasa gugup.
"Baiklah hari ini aku aku memaafkanmu Tapi tidak untuk lain kali!" Tekannya lagi.
"Baiklah terima kasih Tuan."
"Dan kau silahkan bangun dan pergi urus pekerjaanmu dan jangan coba-coba mengeluh tentang apa yang kamu rasakan karena aku tidak akan segan-segan menghukum mu apa kau mengerti!" Sergah Damara tepat di depan wajah Jelita.
Jelita pun mencoba untuk kembali bangkit dan berdiri walau pada awalnya ia ragu untuk berdiri karena rasa sakit yang teramat sangat.
Namun semuanya itu tidak dia rasakan saat ini Jelita berusaha mengoyang-goyangkan kakinya dan benar saja sara sakit itu sudah
hilang tak berbekas.
"Kakiku_kakiku benar-benar sudah sembuh. Yeee terima kasih Tuan Asisten yang baik hati!" Cicit Jelita dengan senyum yang begitu lebar. Jelita pun tanpa sadar melompat kegirangan. Dan langsung memeluk tubuh sang Asisten dengan girangnya.
"Terima kasih karena kau selalu menolongku dan kau selalu ada si saat aku sedang membutuhkan pertolongan, aku harap kedepannya kita bisa jauh lebih dekat lagi." Ucap Jelita dengan penuh kegembiraan tanpa menyadari tatapan Damara yang menatapnya penuh dengan tatapan jijik.
Sedangkan Rony yang melihat tatapan tuanya itu, tenggorokannya seperti tercekat sesuatu dengan susah payah ia menelan salivanya.
"Non_Nona apa yang ingin Anda lakukan, mam_maksud saya apa yang saya lakukan itu tak lain hanya karena rasa kemanusiaan yang harus tolong menolong tak lebih Nona." Terangnya.
"Tentu saja. Aku tahu itu berarti kita sama dong. Satu misi dan satu aksi." Ucap Jelita lalu dengan cueknya melangkah meninggalkan Damara yang sudah terbakar emiosi, yang melihat dirinya begitu saja memeluk Asistennya bahkan di depan matanya tanpa ada sara risih sedikit pun.
Sedangkan Rony segera memberikan sebuah file berwarna biru kepada Damara, setelah Damara menerima filenya Rony pun segera pamit undur diri, sedang Damara sendiri berniat ingin pergi menemui adiknya ke rumah sakit namun sebelum pergi ia kembali mencari Jelita.
"Kemana lagi perginya anak itu aku sudah mencarinya kemana-mana tapi kenapa dia tidak ada apa dia kabur?" Damara bergumam sambil terus mencari Jelita. Namun tetap saja dia tidak menemukannya.
__ADS_1
"Awas Tuan!" pekik Jelita di saat Damara berjalan mundur namun tak melihat tangga yang ada di belakangnya bertepatan dengan Jelita yang berada di atas tangga.
"Aaaaaaa....!!!"
Teriak mereka bersamaan karena sudah tentu dapat di pastikan mereka jatuh secara bersamaan.
Bugh...bugh...
"Mati aku, tulang-tulangku pasti sudah patah."
Cicit Jelita sambil menutup matanya,
Namun ia tak merasakan sakit sedikitpun.
"Oh Tuhan engkau suda mengambil nyawaku? dan apakah aku sekarang sudah berada di syurga kenapa aku tak merasakan sakit?" Tannyanya pada diri sendiri karena tak mesara sakit sama sekali sedang matanya masih asyik terpejam.
"Bangun kau dari tubuhku dasar sial!" Damara mengumpat saat merasakan tubuhnya seperti patah saat Jelita menimpa tubuhnya. Jelita pun segera membelalakkan matanya begitu mendengar suara Damar yang tengah menggerutu.
"Kenapa kau terus saja membuat masalah. Apa yang sebenarnya kau lakukan di atas sana haah!" Sentak Damara.
Kau ini ada-ada saja untuk apa kau ingin memainkan layang-layang ujar Damara saat melihat sebuah layangan putus menyangkut si atas pohon tersebut.
"Aku tidak ingin bermain layang-layang Tuan tapi lihatlah di sana seekor burung kakinya sedang terjerat tali benang dan aku ingin, menyelamatkannya kasihan kan dia, dia juga pasti punya keluarga bagaimana kalau keluarganya mencarinya." Ucap Jelita menjelaskan panjang lebar.
"Kau ini aneh, ada-ada saja. Baiklah aku akan mengambilkannya untukmu sebelum itu Bangun dulu dari badanku, karena kau berat sekali."
"Baiklah aku minta maaf telah membuatmu terjatuh dan sakit." Ucap Jelita kembali dan itu mampu menghipnotis perasaan Damara, ada perasaan hangat yang menjalar di hati Damara saat mendengar kata maaf yang keluar dari bibir Jelita. Apalagi kata maaf itu karena dirinya telah membuat Damara celaka. Jelita pun segera bangkit dari tubuh Damara dia pun mengulurkan tangannya untuk membantu Damara berdiri tapi Damara berusaha menepisnya.
"Sudahlah aku bisa bangun sendiri aku tidak butuh bantuanmu."
"Ya sudah. Aku kan berniat baik kalau kamu menolak juga tidak apa-apa dasar orang tidak tahu terima kasih." Omenya dengan suara hampir tak terdengar.
__ADS_1
"Apa kau bilang? apa kamu mengatakan sesuatu?"
"Tidak aku tidak bilang apa-apa sudah cepat bangun dan ambilkan anak burungnya." Finisnya mengalihkan pembicaraan.
"Kau sudah berani memerintah bahkan membantahku." Kesal Damara
"Bagus kalau aku mau mengambil kalau tidak_"
"Ya sudah kalau kamu tidak mau mengambilnya. Biar sini aku sendiri yang naik dasar jadi orang tidak punya komitmen tadi kau bilang akan mengambilnya untukku tapi sekarang kau itu benar-benar selalu membuat aku kesal." gerutu Jelita sambil meraih tangga yang sudah terjatuh.
"Bangun dan menyingkir lah aku akan naik!" seru Jelita lagi.
"Jangan! tidak usah kamu tidak usah naik biar nanti aku suruh orang untuk mengambilnya dan kau cepat kemari aku mencarimu dari tadi hanya untuk menandatangani ini."
"Apa itu?"
"Kau bertanya apa. Bukankah kita harus menandatangani surat perjanjian cepat sekarang kau tandatangani!" Seru Damara
"Oke baiklah tidak masalah tapi aku ingin melihat poin-poinnya dulu."
"Kau tidak usah melihatnya kenapa kau bilang tidak usah ak_"
"Tidak usah banyak tanya cepat tanda tangani saja. Karena aku sedang buru-buru.
"Baiklah kalau begitu sini aku akan menandatanganinya Jelita pun meraih file yang berada di tangan Damara dan segera membubuhkan tanda tangannya tanpa membaca poin yang ada di dalamnya.
"Awas aja kalau kau menipuku aku akan menghajarmu." ucap Jelita kembali setelah memberikan filenya kepada Damara.
"Sekarang lanjutkan pekerjaanmu jangan sampai aku melihat semuanya tidak pada tempatnya lagi, kalau sampai terjadi lagi aku akan menghukummu dengan hukuman yang paling berat.
Apakah kau paham? dan Ingat jangan sekali-kali kau pernah masuk di dalam kamarku untuk tidur ataupun memakai kamar mandiku. Jika kau ingin tidur tidurlah di gudang karena itu Pantas Untukmu dan kau harus pintar memasak untukku karena setiap aku berkencan Aku akan memanggilmu untuk membawakanku makanan dan minuman jadi kau harus pintar-pintar memasak jika tidak kau akan tahu sendiri akibatnya.
__ADS_1
"Terus saja kau mengancamku seperti itu. Kau kira aku takut." kesal Jelita
"Jangan pernah membantahku! Aku tidak suka bantahan Apa kau ingin aku hukum lagi atau kau keinginan membaca poin-poin di dalam sini sekarang bacalah Damara pun memberikan file, Itu kembali kepada Jelita dengan senyum yang tak dapat di artikan.