
Setelah berkata seperti itu Jelita dengan emosi yang berapi-api berbalik ingin meninggalkan Damara, namun salah satu tangannya ditarik dengan kasar hingga tubuhnya terputar membentur tubuh Damara,
"Mau ke mana kau perempuan bodoh! aku belum selesai denganmu. Ini rumahku dan kau jangan berani beraninya mengancamku Apa kau tahu aku bisa menghancurkanmu detik ini juga tapi itu terlalu mudah untukmu setelah Apa yang kau lakukan Kepada adikku." Geram Damara mengetatkan rahangnya.
"Apa maksudmu? apa yang telah aku lakukan kepada adikmu Aku tidak mengerti!" Jawab Jelita tak kalah sengit nya.
"Kau itu bodoh atau pura-pura bodoh. Apa kau tidak mengenal seorang wanita yang bernama Amara,?"
"Amara...mmm...maksudmu Amara yang satu kampus denganku, yang suka sok kecantikan dan kecentilan itu? ya emangnya kenapa. Ada apa kamu dengannya, menurut ku itu tidaklah penting."
"Apa kamu tidak tahu orang yang kau anggap kecentilan dan sok cantik, kalau dia itu adalah adikku!"
"Adikmu? Ya...ap_apa adikmu.?" Jelita membulatkan matanya terkejut.
"Tapi Apa hubungannya denganku? Aku tidak punya urusan dengannya." Ucapnya kemudian setelah mengingat apa yang ia lalukan selama ini kepada Amara.
"Ada, bahkan urusanmu dengannya itu adalah urusan antara hidup dan mati. Apa kau mengerti.?"
"Entahlah aku tidak paham dengan apa sebenarnya yang kau maksudkan, sekarang antara hidup dan mati. Adikmu itu yang selalu mencari gara-gara bahkan dia itu selalu merasa tersaingi. Sekarang lepaskan aku! kau membuatku kesakitan!" Cicitnya karena tangannya terkunci di belakang tubuhnya.
"Tidak! aku tidak akan Melepaskanmu. kau harus menerima balasan atas apa yang telah kau lakukan pada Amara.!"
"Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan aku tidak peduli sekarang aku mau pergi lepaskan.!"
"Sudah berapa kali aku bilang aku tidak akan pernah melepaskanmu, sekarang. ikuti aku!"
__ADS_1
"Tidak aku tidak mau!"
"Oke baiklah kita akan lihat sampai di mana kesombonganmu itu. Kau masih ingat ini dengan satu kali klik video ini akan terkirim pada Semua media ternama dan aku yakin Video mu itu akan menjadi deadline yang paling populer dan kau tau apa yang terjadi pada keluaraga besarmu!" geram Damara menteringai penuh ancaman.
"Kau benar-benar laki-laki brengsek!" pekik Jelita saat mendengar nada ancaman dari Damara, apa lagi saat menyebut keluarga besarnya.
"Urusanmu hanya denganku jangan pernah kau membawa keluarga besarku jika itu sampai terjadi aku Jelita Ayunindra tidak akan pernah memaafkanmu!" Damara hanya terkekeh mendengar caci Makian dari Jelita.
"Untuk itu menurutlah dengan apa yang aku katakan. Karena jika tidak kau akan tau sendiri akibatnya." Damara menelusuri wajah Jelita dengan jari telunjuknya lalu menyentuh dagunya membuat wajah Jelita mendongak dan fokus menatap wajahnya.
"Apa kau tau aku Damara Pratama Wijaya tidak butuh maaf darimu. Aku akan membuatmu hancur hingga kau sendiri segan untuk hidup, sekarang ikut denganku wanita bodoh hari ini kau sudah memberikan ku tamparan dengan tangan halusmu ini sekarang kau harus menerima balasannya, bersikkan tempat tinggal ku ini sampai bersih dan jangan berhenti sebelum semuanya selesai!."
Damara menyeret tangan Jelita turun melewati anak tangga hingga membuat kakinya yang sakit tersangkut dia pun sampai meringis kesakitan namun Damara seperti tuli tak mendengar suara ringisannya hingga tiba di lantai dasar Damara melepaskan tangan Jelita hingga membuat tubuhnya membentur lantai dengan keras.
"Dengarkan aku, wanita bodoh dari semalam aku ingin menghukummu, karena kau memakai kamarku untuk tidur tanpa seizinku. Dan kau sudah memakai semaumu barang-barangku, kau yang sudah lebih dulu memulainya jadi kau harus menikmati setiap permainan yang aku berikan. Sekarng pergi dan laksanakan tugasmu!" Damara mendorong wajah Jelita hingga membuatnya terjengkang kebelakang.
Damara pun kekas berdiri dari jongkoknya dan melangkah pergi, namun sesaat kemudian ia berhenti.
"Oh ya Rony akan datang membawa berkas-berkasnya segera tanda tangani kalau Rony sudah tiba!" Damara berucap tanpa berbalik menatap Jelita, setelah itu ia pun kembali melanjutkan langkahnya pergi meninggalkan Jelita. Sedang Jelita menatap kepergian Damara dengan kedua tangan yang mengepal.
Ia pun memilih berdiri melakukan tugas yang di berikan Damara karena biar bagaimanapun dia tak ingin semua keluarga besarnya tau tentang Video rekamannya bersama Jhony.
"Jhony, bagaimana kabarnya sekarang? kenapa dia memilih keluar dari kampus padahal aku tidak melaporkannya sama sekali dan darimana si brengsek itu tau tentang Video itu? apa Jhony sudah" Jelita terus saja berfikir dari mana Damara mendapat vidio recaman itu.
"Haah...sudahlah Jelita, kau harus bertahan disini untuk sementara waktu sampai semuanya selesai." Ucapnya menyemangati dirinya sendiri dan berusaha untuk bangkit. Namun sesaat kemudian ia terjatuh saat merasakan sakit yang teramat sangat pada kakinya.
__ADS_1
"Auhk...ahk...ya Tuhan. Kenapa sakit sekali. Tapi aku harus kuat, karena aku tidak mau lelaki brengsek itu melakukan yang tidak-tidak pada keluargaku." Lirihnya berusaha untuk bangkit lagi. Namun tetap saja usahanya itu sia-sia.
"Nona maaf apakah Anda baik-baik saja?" tanya seseorang yang baru saja tiba dan ikut duduk berjongkok tepat di depannya.
"Ka_Kau Ron_Rony? a_aku, aku baik-baik saja."
Ucap Jelita yang berusaha untuk menahan rasa sakitnya. Dan Rony yang melihat kaki Jelita yang memerah meraih kaki tersebut.
"Maaf Nona berselonjorlah!" Ujarnya
"Kau mau apa? kau mau apakan kakiku!" cicit Jelita takut.
"Cepatlah Nona jika tidak Anda tidak akan bisa berjalan, dan bahkan bisa jadi kaki Anda akan di amputasi kalau Anda membiarkan nya memar seperti ini." Lanjut Rony berucap menakuti Jelita. Dan benar saja itu berhasil membuat Jelita dengan cepat Duduk berselonjor.
"Tahanlah Nona, ini sedikit akan terasa sakit.!" Serunya lalu memijat kaki Jelita dan sedikit memutarnya lalu kemudian sedikit menariknya membuat Jelita menjerit kesakitan.
"Aaaaaaaaahk sakiiiiiiit!" Jelita terus menjerit menahan sakit hingga membuat mengeluarkan air mata.
"Kau, membodohiku! seharusnya aku tidak percaya padamu kau sama saja dengan Tuanmu yang brengsek itu. Kau sudah mematahkan kakiku! hu...hu...hu..." Tangis Jelita pecah begitu saja karena di dalam bayangannya saat ini adalah dia sudah tidak bisa menggunakan kakinya untuk berjalan lagi.
"Terus saja kau menangis! apa kau kira suaramu itu merdu? dan kau! untuk apa kau menolong nya? Aku menyuruhmu datang kemari untuk membawa berkas yang aku pesan, tapi kenapa kau membantunya tanpa seizin dariku?"
Damara yang baru saja tiba menatap nyalang pada Asisten pribadinya itu. Membuat Rony hanya bisa menundukkan kepalanya karena dia tahu kalau dia memang yang salah tak meminta izin dulu.
"Tapi Tuan!
__ADS_1