Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Bunga untuk Siapa?


__ADS_3

"Tuan Anda sudah pulang,?"


"Bi Ratih kemana semua orang kok sepi?"


"Bi, Ratih engan untuk meceritakan apa yang terjadi selama kepergian Tuanya itu.


"Bibi kenapa bibi diam saja bukan kah aku sedang bertanya?" ucap Baron kembali yang tak kunjung mendapat jawaban.


"lt-ltu Tuan semenjak Tuan pergi saya tidak melihat Nona Renata,"


Deg.


Mendengar jawaban seperti itu jantung Baron dua Kali berdegup lebih kencang, ia mengingat kembali kata-kata yang menyakitkan saat menyuruh Renata pergi, Baron mengusap kasar wajahnya.


"Lalu kemana Bara dan juga Lisa Bi,?"


"lt-itu den Bara ada di kamarnya Bibi Tuan, jawab Bi, Ratih pelan karena ia takut kena marah, sama tuannya itu.


"Lisa, bagaimana dengan Lisa?"


"Non Lisa, pamit katanya mau cari obat untuk den Bara, Tuan, tapi... dari pagi belum kembali?" ucap Bi Ratih ragu.


"Obat untuk Bara,?" Baron terkejut menautkan ke dua alisnya, karena ia fikir seharusnya Lisa membawanya ke dokter, lalu di beri obat agar bisa di ketahui obat apa yang di butuh kannya, setelah mendapat diaknosa dokter.


"Iya Tuan, den Bara sakit nyariin Non Renata terus Tuan," terang Bi Ratih, mendengar itu Baron merasa tambah bersalah, karena biar bagaimana pun ia yang bertanggung jawab atas kepergian Renata.


"Bi, biarkan aku menemui Bara dulu," pinta Baron.


"Baik Tuan," Angguk bi, Ratih dan segera menuju kamar nya yang di ikuti Baron dari belakang.


"Bara, sayang,, kamu kenapa Nak,?" tanya Baron saat melihat Bara terbaring di tempat tidur.


"Ayah,, Ayah cudah pulang Bala kangen Bunda Ayah, Kenapa bunda halus pelgi dali lumah Bunda cudah tidak cayang lagi cama Bala Ayah Bala yang salah cudah mengacuhkan Bunda Bala menyesal Ayah," Bara pun menangis tersedu-sedu membuat Baron merasa iba.


"Bara Sayang, dengarkan Ayah kalau Bara ingin cepat ketemu Bunda Bara juga harus cepat sembuh, kita cari bunda sama-sama ya sayang " ucap Baron menenangkan Sang putra.


"Badannya panas sekali Apa dia sudah diperiksa dokter?" tanya Baron lagi menatap ke arah Bi Ratih.


"belum Den, Saya takut membawa Den Bara keluar sedangkan Non Lisa dari tadi pagi belum juga pulang,"


"Baiklah kalau begitu biar Bara sama ayah aja dulu ya, kita ke dokter dulu ya nak, kalau Bara sembuh kita sama-sama pergi cari Bunda oke,"


"lya Ayah," Jawan Bara menjeda tangisnya lalu Baron pun mengangkat tubuh mungil itu dan segera menggendongnya keluar.

__ADS_1


Namun baru saja ia tiba di luar Lisa pun juga datang tiba-tiba la buru-buru menghampiri.


"Mas, kamu sudah pulang ya Kenapa tidak kau tidak menelpon?"


"Maafkan aku, aku baru sampai Aku sengaja tidak menelpon siapapun, Aku hanya ingin memberi kejutan dan kau dari mana saja kenapa baru sampai? kamu itu Kenapa tega meninggalkan anakmu sendiri yang sedang sakit,? coba kalau Renata di sini, dia tidak akan pernah meninggalkannya" ujar Baron tanpa sadar.


"Mas, kamu kenapa membandingkan aku dengan wanita pengasuh itu? apa kamu lupa kalau aku ini ibu kandung Bara tentu beda kelasnya dengan pengasuh itu atau jangan-jangan kamu sedang main hati ya dengan pengasuh Bara? Kenapa kamu sekarang tiba-tiba membelanya dan marah padaku padahal kamu tidak tahu kan apa yang sedang aku lakukan di luar!" ucap Lisa penuh Emosi.


"Ma-ma-maafkan aku Lisa, aku minta maaf aku hanya-aku hanya khawatir saja dengan Bara saja karena Setibanya Aku di rumah, Bara hanya kau titip sama Bi Ratih Sekarang aku ingin membawa Bara untuk ke dokter apa kamu mau ikut denganku?"


"Oh,, tentu saja aku mau lagi pula, Siapa yang menjaga anakku nanti" jawabnya Lisa penuh semangat.


"Sejak kapan Bara mulai sakit sejak dua hari ini Mas,"


"Lalu kenapa kau tidak membawanya ke dokter?"


"Aku...''


"sudahlah Aku tak butuh penjelasanmu sekarang lebih baik kita segera membawanya aku takut dia kenapa-kenapa" Sela Baron memotong kalimat Lisa, Lisa pun segera duduk di bangku belakang menemani Bara sedangkan Baron hanya sendiri duduk di depan.


Baru saja mobilnya berbalik untuk keluar menuju pintu tiba-tiba saja Sebuah mobil mewah pun masuk di halaman rumahnya, Baron pun heran Kenapa ada mobil yang tidak dikenalnya masuk ke dalam halaman rumahnya, Ia segera membuka pintu mobil dan bersamaan dengan itu Renata pun turun dari sebuah mobil bersama seorang laki-laki dan 2 anak perempuan yang masih kecil yang satu berumur 6 tahun sedangkan yang satunya lagi seumuran dengan Bara.


"Mas Baron,?" lirih Renata.


"M-maaf, maksud saya Baron, Maafkan saya Saya hanya eee Mam-maksudnya saya hanya ingin bertemu dengan bara, karena aku dengar dia sedang sakit ucap Renata gugup, saat melihat tatapan Baron yang menelisik tajam seolah ingin menelanjanginya.


"Kau datang ke sini ingin mencari Bara yang sedang sakit atau kau sengaja ingin pamer pasangan barumu itu,?" Sindir Baron dengan sinis.


"Ded-dengarkan aku dulu aku, aku maksud aku..."


"Mas ini bunga untuk siapa? Mas bunganya cantik sekali," teriak Lisa sambil turun membawa buket bunga yang dilihatnya tersimpan di depan kursi mobil baik Baron dan juga Renata menatap ke arah Lisa yang turun membawa buket bunga mawar merah lengkap dengan bingkisan coklat yang di bingkai dengan membentuk hati itu.


"S-sayang maafkan aku, aku tadinya ingin memberikan kejutan padamu tapi karena Bara sakit dan kau tidak ada jadi aku meninggalkan Bunga itu di dalam mobil, karena aku juga buru-buru ingin berjumpa denganmu sayang bohong Baron padahal sebenarnya bunga itu adalah untuk Renata, tapi karena rasa sakit hati dan cemburunya membuatnya kembali berkata bohong.


"Maaf aku benar-benar lupa."


"Sudahlah,, sayang maksudku Mas, apapun kesalahanmu akan aku maafkan asalkan kau selalu membuatku bahagia," ucap Lisa lalu menggandeng tangan Baron Renata mencoba untuk tersenyum menyaksikan adegan yang menyayat hatinya itu.


"Maaf apa boleh aku bertemu Bara sebentar saja,?"


"Tidak bisa! aku adalah ibunya aku tidak mengizinkanmu menyentuh Putraku lagi, dan untuk apa kau datang ke sini setelah kau di bawa pergi dengan laki-laki lain."


"Tapi Mbak aku benar-benar hanya ingin bertemu Bara saja, dan aku tidak pernah berselingkuh dengan siapapun," ucap Renata tanpa sadar.

__ADS_1


"Hah... benar juga ya, kau bersama laki-laki manapun aku kan tidak peduli, Mas Baron pun tidak perduli Kenapa juga aku mengurusinya iya kan Mas," Lisa mengusap lengan Baron sambil menatapnya.


"Bukankah kau disini hanya sebagai pengasuh Bara saja? sekarang aku sudah datang Jadi kau tak perlu lagi untuk datang menemui anakku, atau kau mencari alasan untuk menggoda Mas Baron karena kami akan segera menikah lagi."


"Mbak jaga bicara Mbak, aku tidak ada niatan untuk menggoda Pak Baron apa Mbak tidak lihat kalau dia adalah calon suamiku dan kedua anak ini adalah putriku bahkan mungkin kekayaannya itu jauh melebihi kekayaan mantan suami Mbak itu."


"Cukup Renata apa yang kau katakan,?" Baron melepaskan tangan Lisa yag terus saja memeluknya dan kini ia mendekati Renata.


"Ternyata kau masih sama gila dengan harta, sekarang Keluarlah dari sini aku akan membawa Bara untuk menemui dokter, Aku tidak mau melihat wajahmu lagi, pergi- Pergilah menjauh dari hidupku selama-lamanya tapi yang harus kau ingat aku tidak akan pernah menceraikanmu sampai kapanpun, kau menghina aku kan? karena aku tak punya harta Akan aku buktikan padamu aku akan membuatmu mengemis untuk meminta maaf padaku dan minta kembali," bisik Baron.


'Sekarang pergi dari sini, kalian Keluarlah dari halaman rumahku ini,!" usir Baron dengan penuh emosi sedangkan apa yang dikatakan Baron tadi membuat Renata terbelalak.


"Aku akan keluar tapi, Izinkan aku bertemu Bara sekali saja,"


"Bara adalah Anakku, Bukan Anakmu, jadi keluarlah Baron pun mendorong tubuh Renata yang membuatnya hampir terjatuh beruntung Restu segera menolongnya dan bersamaan dengan itu Renata Memegang perutnya takut terjadi apa-apa dengan kandungannya.


"Ren kau tidak apa-apa kan Ren? kandunganmu baik-baik saja kan Ren? bisik Restu khawatir di telinga Renata sambil tangannya tanpa sadar mengusap perut Renata.


"Aku tidak apa-apa Mas aku baik-baik saja terima kasih."


Sebaiknya kita pergi dari sini Ren,"


"tidak Mas aku hanya ingin bertemu dengan Bara sekali saja sebelum aku pergi," ucapnya dengan nada mohon.


"Apa kamu tidak dengar apa yang dikatakannya tadi,?"


"aku tidak peduli Mas, Bara itu Anakku Mas, Renata tidak habis akal.


"Bara, Bara Sayang ini Bunda sayang," Teriaknya Apa yang kau lakukan cepat keluar bawa wanita mu itu pergi dari tempat ini kalau tidak kalian akan tahu akibatnya ancaman penuh emosi."


Restu pun segera menarik tangan Renata masuk ke mobil dan membawanya pergi di tempat itu dan persamaan dengan itu Bara pun keluar dari mobil.


"Bunda...," teriak Bara yang dari tadi memang memperhatikan pertengkaran kedua orang tuanya, ia sengaja tidak mau turun karena melihat dua orang anak kecil yang bersama bundanya salah satu dari anak itu sangatlah la Benci.


"Ayah Bun...!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai...👋hai...👋 sambil nunggu up yuk baca juga Novel Author di bawah ini 👇 di jamin seru dan jug pasti terhibur...selamat...membaca...😍😘



Qari tidak menyangka pertemuanya dengan pria misterius di atas gedung, membawa dia ke masalah yang runyam. Deon yang sejak lama menyimpan dendam dengan keluarganya, memanfaatkan gadis itu untuk membalas dendam atas kematian kakak dan juga papahnya. Laki-laki itu dengan sengaja mencampurkan obat perangsang ke minuman Qari. Sehingga Qari yang tengah pergi dari rumahnya, menghabiskan malam penuh dosa dengan laki-laki yang baru dikenalnya.

__ADS_1


Alzam pria yang selama ini dicintai oleh Qari, akhirnya menikahi wanita itu untuk menyelamatkan nama baik keluarga Qari. Masalah bertubi-tubi kembali datang, setelah Deon tahu bahwa Qari hamil atas perbuatanya. Terlebih setelah Dion sadar bahwa ia sudah terjerat cinta dengan anak dari musuhnya. Bagaimanakah perjuangan Qari mengahdapi hidupnya yang semakin rumit? Siapa laki-laki yang akan menjadi pendamping sungguhanya?


__ADS_2