
"Jelita...!"
Tiba-tiba saja tubuh Jelita terkulai tak sadar kan diri. Membuat Damara kembali panik ia pun segera menelpon Dokter Rini, dan memberitahukan apa yang terjadi. Damara masih memeluk tubuh Jelita, ia ingin merasakan, sara sakit yang mendera istrinya itu. Sambil sesekali menyesali perbuatan nya tersebut.
"Apa boleh saya memeriksa istri Anda?" tanya seorang Dokter yang baru saja masuk Damara menatap dengan tatapan menelisik nya,
"kemana Dokter Rini aku butuh dia karena aku tidak mau istriku di sentuh oleh lelaki manapun!" tegasnya.
"Tapi Dokter Rini sudah pulang Dia bertugas hanya kalau sudah malam" Jelas Dokter David.
"Apa di rumah sakit ini hanya ada satu Dokter wanita!" kesal Damara, hingga Dokter David itu pun beranjak dan segera memanggil Seorang perawat dan dia pun segera memeriksa jelita dengan perantara perawat itu.
"Bagaimana keadaan istriku. Apa aku boleh membawanya pulang karena aku akan merawatnya sendiri di rumah? tanya Damara begitu Dokter David selesai memeriksa Jelita,
"Boleh Tuan kalau istri Anda sudah sadar Anda boleh merawatnya di rumah tapi Anda juga harus menyediakan Seorang perawat juga untuk membantu mengontrol kondisi istri Anda, kami sudah memberikannya obat untuk meredakan rasa sakitnya usahakan agar ia merasa. Tetap tenang dan tidak merasa tertekan itu akan membantunya cepat dalam pemulihannya." Terang sang Dokter panjang lebar.
"Baiklah dokter, Terima kasih atas penjelasan Anda" ujar Damara setelah mendengar segala penjelasan dari Dokter David dan benar saja setelah Jelita sadar Damara langsung membawa Jelita pulang ke rumah Utama karena ia tidak ingin meninggalkan Jelita sendiri di rumah sakit walaupun itu akan dipantau oleh dokter dan suster di sana. Tapi ia benar-benar tidak ingin meninggalkan Jelita bahkan semua pekerjaan kantor pun ia pindahkan ke rumah dan sang asistenlah yang akan di buat sibuk mondar-mandir.
*
*
*
__ADS_1
Sementara itu di kediaman milik Excel Dara masih terus memperhatikan suaminya yang tiba-tiba saja berubah diam semenjak pulang dari rumah sakit tadi, kini Ia berubah menjadi Exel seperti yang pertama kali dulu ia bertemu.
Ia paham apa yang membuat Exel tiba-tiba berubah seperti ini.
"Sayang. Apa kamu mau makan sesuatu?" tanya Exel dengan nada suara datarnya.
Dara hanya diam tak menjawab apa yang ditanyakan suaminya itu ia sengaja melakukannya agar Exel pun mengerti bagaimana perasaannya saat ini, dan benar saja Exel mulai mendekatinya melangkah ke tepi pembaringan lalu mulai mendudukkan pantatnya di samping Dara.
"Kamu kenapa? apa Ada yang sakit?" benar saja nada datar itu kini berubah dengan nada kekhawatiran.
"Apa dia masih nakal di dalam sini apa dia masih mengganggumu?" ucapannya lagi sambil mengelus perut Dara yang sudah mulai membengkak itu.
"Tidak aku sudah baik-baik saja kamu dengarkan kata Dokter Heny tadi." Ya kedatangan Dara dan Exel kerumah sakit pagi-pagi gara-gara Dara merasa perutnya keram. Namun beruntung Dokter bilang semuanya baik-baik saja.
"Aku hanya..." Dara menjeda kalimatnya. "Hanya apa katakan saja kamu jangan membuatku khawatir aku tidak mau terjadi apa-apa padamu dan anak kita."
"Aku..."
Dara menatap Intens suaminya, lalu ia memberanikan diri untuk mengecup bibir suaminya, Exel pun hanya tersenyum melihat keberanian istrinya yang tiba-tiba saja berubah namun terkesan malu-malu.
"Apakah kau menginginkannya sayang?" tanya Exel lembut berbisik di telinga Dara dengan nada suara yang berubah berat. Dan pertanyaan itu mampu membuat Dara merona. Ia hanya bisa mengangguk dengan samar karena harus menahan malu, untuk meminta hal itu terlebih dulu tapi ini cara satu-satunya untuk merubah sikap Exel, yang tiba-tiba saja berubah kaku.
Tak beda jauh dengan Exel dia pun beberapa hari ini menginginkan untuk menyentuh istrinya tapi dia hanya takut dan khawatir istrinya merasa terganggu.
__ADS_1
Exel mulai memberikan kecupan demi kecupan di seluruh wajah istrinya itu. Tak lama kemudian ia memberikan k3cup4n demi k3cup4n di tub..uh Dara dengan begitu lembut, serta lum4t4n kecil yang lama-lama menjadi lebih menuntut disaat Dara dengan 4gr3sif membalasnya.
Dan Exel pun menikmati apa yang istrinya itu lakukan kini Exel merebahkan tubuh istrinya dengan perlahan di atas pembaringan dan dia pun segera mengungkungnya serta membuka semua yang melekat pada dirinya dan pada istrinya itu dan melemparkannya ke segala arah, matanya pun terpana melihat gundukan yang semakin lama semakin membesar semenjak Dara hamil dan itu selalu membuatnya candu.
Exel pun dengan bersemangat langsung menyesapnya sedang satu tangannya m3r3mas-r3m4s dengan lembut membuat Dara menekan lebih dalam kepala suaminya itu agar Exel memperdalam sesapannya.
"Auh...ahk..." d3s4han demi d3s4han pun mulai keluar mulut Dara membuat Exel lebih bersemangat lagi. Kini tangan Exel mulai mencari titik s3ns..itif yang ada pada diri istrinya tangan itu mulai turun ke bawah pu..s4r dan mencari tempat yang sudah mulai basah karena buatannya itu, dengan perlahan Exel m3n3k4n klit..oris yang ada pada bagian atas vulv4 istriny4 hingga mampu membuat Dara m3ng3r4ng panjang. Kini jari telunjuknya melesat masuk membuat Dara mengg3linj4ng ketika jari-jari itu terus m3mo..mpa miliknya membuat tubuh Dara semakin bergetar hebat saat sesuatu yang ingin m3mbunc4h keluar.
Ia berusaha menahan tangan suami yang terus menggelitiknya menahan agar Exel terus memperdalamnya, dan benar saja akhirnya Exel mengerti terus melakukannya lebih dalam lagi membuat Dara kembali m3ng3r4ng panjang disaat sesuatu m3mbunc4h keluar pada dirinya.
Exel tersenyum melihat istrinya yang sudah memulai p3l3p4s4nnya itu, ia pun kembali memberikan serangan demi serangan untuk segera m3mu4skan kembali istrinya.
"Sayang aku lakukan sekarang ya?" pinta Exel saat sang junior kini sudah mulai mencari sarangnya, Dara tak mampu menjawab Dia hanya memberikan sebuah anggukan kecil dan dibalas senyuman yang berg..airah dari Exel.
Dan benar saja Exel pun segera melakukan penyat..uannya la melakukan penya...tuannya dengan lembut karena ia takut istri dan anaknya merasa Tersakiti la terus memberi kepuasan lebih kepada istrinya Entah sudah beberapa kali Dara merasa Kli..maks Exel merasa tubuhnya bergetar dengan hebat saat sesuatu membuncah pada dirinya dia pun mem..eluk tubuh Dara saat p3l3p4s4nnya. Exel kemudian segera merebahkan tubuhnya di samping Dara tanpa melepaskan penyatuan
nya.
"Sayang aku harap setelah ini kamu melupakan semua kejadian itu." Ucap Dara dengan lembut sambil mengelus wajah tampan suaminya. Exel hanya tersenyum menatap istrinya yang menurutnya semakin lama semakin cantik dan berisi semenjak dia hamil.
"Seharusnya aku yang berkata seperti itu padamu, tapi kenapa kau yang mengatakan itu padaku, kau tahu aku merasa punya andil besar dalam apa yang terjadi dan dialami saat ini oleh Jelita, aku telah memperlakukanmu dengan tidak baik dan kini Jelita mendapat kan perlakuan seperti apa yang aku lakukan selama ini padamu, sayang Aku sangat mencintaimu dan sangat-sangat mencintaimu aku sungguh sangat menyesal melakukannya padamu."
"Iya aku tahu itu. Sayang untuk itu kau harus menutup luka lama itu, biarkan Jelita menjalani apa yang sudah menjadi tugasnya aku yakin dia jauh lebih kuat dariku. Aku berharap mereka tak akan pernah terpisahkan Apa kau tidak lihat sinar cinta yang ada di mata Damara, Ia mungkin sama halnya seperti dirimu terjebak dalam sebuah kesalahan yang terlambat untuk disadari Jadi aku harap kau juga memberikan kesempatan untuk Damara untuk membuktikan cintanya pada Jelita jangan sampai Bunda dan Daddy tahu semua hal ini kamu tahu kan kalau Bunda sama Daddy tau pasti Bunda akan merasa sedih dan Daddy akan marah besar karena hal itu terulang lagi pada kedua putrinya."
__ADS_1
"Iya aku tahu itu. Terima kasih karena sudah selalu mendukung dan memberikanku semangat."