
Baik Hana, maupun Restu sama-sama terkejut.
"Kau, apa lagi yang kau lakukan di kamar mandi ku,!"
"Ya, tentu saja untuk mandi Pak,"
"Bukankah kau bisa menggunakan kamar mandi di luar, atau kau sengaja ingin mandi di sini dan menggoda ku ya?" Restu kini memajukan tubuhnya untuk menggoda Hana, membuat Hana berjalan mundur.
"Aku tidak bermaksud menggodamu P-Pak, aku hanya ingin berendam saja karena aku ke-kepanasan," Jawab Hana gugup hingga.
Bugh.
Dan tubuhnya pun menabrak dinding kamar mandi, Hana memejamkan matanya saat wajahnya begitu dekat dengan wajah Restu.
"Jika lain kali kau masuk kemari, maka aku tidak akan melepaskan mu," Ucap Restu berbisik memberikan sebuah ancaman Hana pun membuka matanya dengan cara memicing kan kedua matanya karena tadi ia Sempat berpikir kalau Restu akan menciumnya.
"Apa sekarang yang kau lakukan hanya berdiri di situ, keluarlah cepat aku akan segera mandi karena aku akan menjemput An..." Restu menjeda kalimatnya ketika ia tersadar siapa sekarang yang berada di depannya itu.
"Ha- Hana ka- Kapan kau datang?" Tanyanya bingung seperti orang bodoh, bisa-bisanya dia lupa kalau yang akan di jemput nya telah ada di depannya.
"Tadi pagi Pak," Jawab Hana singkat,
"Lalu anak-anak ke mana?"
"Mereka semua sudah tertidur Pak,"
"Kenapa kau datang kemari dan tidak memberitahuku kalau terjadi apa-apa denganmu dan anak-anak bagaimana? Dan Bukankah keberangkatan mu itu siang," Tanya Restu dengan wajah datarnya.
"Aku minta maaf Pak, tadinya memang seperti itu Pak tapi anak-anak ingin memberikan surprise untuk bapak, tapi bukannya jadi surprise malah mereka kecapean dan sekarang ketiduran." Jelas Hana lagi.
"Ya sudah sekarang keluarlah, Aku akan segera membersihkan tubuh sebentar lagi aku akan menyusulmu,"
"Baiklah Pak," ucapannya lalu Beranjak Pergi.
*
__ADS_1
Sementara itu Baron yang tengah sibuk mempersiapkan keberangkatannya ke Singapura Bersama sang Putra, memeriksa semua barang-barang penting yang dibutuhkannya seperti paspor dan visa jalannya.
"Bara apakah sudah siap karena malam ini kita akan berangkat?"
" Sudah Ayah, Apa, jadi kita harus berangkat malam ini juga,?"
"lya kita akan berangkat dengan pesawat pribadi milik Om Damara.
"Baiklah Ayah apa kita akan pergi hanya berdua saja bagaimana dengan nenek,?" "Nenek biar di rumah saja, lagi pula kita kesanakan hanya untuk menjemput Bunda."
"Baiklah, Ayah,"
"Sekarang Bara istirahat saja dulu, nanti akan Ayah bangunkan kalau sudah waktunya tiba "Bara tidak bisa tidur ayah karena Bara selalu memikirkan Bunda Apa ayah tahu selama ini Bara tidak bisa tidur kalau tidak memeluk foto Bunda ucap Bara memberikan keterangannya kepada sang ayah, baron pun mendengar keluhan Sang putra dia tidak menyangka apa yang dilakukan Bara sama persis seperti apa yang dilakukannya, Iya benar-benar akan tertidur ketika menatap dan memeluk foto istrinya, sungguh perbedaan yang sangat jauh, jika dulu Renata dengan sukarela datang untuk memeluknya namun sekarang dia akan bersusah payah terlebih dahulu untuk bisa memeluk istrinya itu.
*
Dan benar saja ketika menjelang sore Mereka pun bersiap-siap, setelah mendapat telepon dari Damara, karena Damara ingin ke sana, dengan bertujuan untuk pergi membawa istri berlibur, tak ketinggalan juga Dara dan Exel beserta Putra mereka Kenan ikut dalam perjalanan tersebut.
"Apa kau yakin sudah berhasil melakukannya baiklah aku percayakan semuanya kepadamu jangan mengecewakan aku, Terima kasih atas bantuanmu, jika sauat saat kau butuh sesuatu lekas beritahukan kepadaku karena aku pasti akan membayar hutang Budiku kepadamu," ucapnya Baron pada seseorang di panggilan telpon.
"Sebaiknya kita segera ke Hotel kasihan anak-anak sudah mengantuk," Celetuk Exel, sambil menggendong Kenan, kecil sedang tangan kanannya menggenggam jemari tangan milik Dara, seolah takut terlepas dan itu tetap berlanjut sampai di dalam mobil.
"Sayang, malam ini kau harus membayar nya lunas, aku tidak mau kau menyicilnya lagi karena itu sangat menyiksaku," bisik Exel di telinga Dara, hingga dia pun harus mendapatkan cubitan di perutnya.
"Sayang ini sangat sakit," Ringisnya.
"Habis, kau belum apa-apa juga, sudah mesum," delik Dara.
"Mesum sama istri kan tidak apa-apa sayang."
"Iya,, tapi malu kan di dengar sama Kenan, semoga saja anakku tidak mengikuti jejakmu,"
lanjut Dara lagi, sedang Exel hanya bisa terkekeuh mendengar istrinya yang terus saja menggerutu sepanjang jalan.
*
__ADS_1
"Sayang,, Malam ini aku tidak akan membiarkan mu untuk tidur nyenyak jika kau belum melunasi hutang mu padaku," ucap Damara memecah keheningan.
"Hu-hutang,? hutang apa,?" gugup Jelita yang mengerti arah pembicaraan suaminya itu namun tetap saja dia bertanya, seperti orang yang pura-pura bodoh.
"Apa aku harus menjelaskannya disini biar kau cepat mengerti,?" Damara, balik bertanya, tanpa ingin menjawab pertanyaan istrinya itu karena ia sangat yakin kalau istrinya itu sebenarnya sudah faham kemana arah pembicaraan nya.
Glek.
Dengan susah payah Jelita menelan salivanya karena membayangkan apa yang akan terjadi dengannya malam ini.
''Yang benar saja apa, dia fikir aku tidak lelah apa," sungutnya sambil memasang wajah malas.
"Aku mendengar ucapanmu sayang,"
"Lepaskan, ih malu.." tolak Jelita saat Damara merengkuh tubuhnya, la malu jika sang sopir melihat kebucinan suaminya yang tidak kenal tempat itu.
"Apa kau malu pada nya?" Tanyanya sambil melirik sang sopir.
"Kau tak perlu malu dia tidak akan mendengar bahkan melihat kita, kau lihat saja telinga dan matanya, aku sudah menyuruhnya untuk menutup keduanya agar dia tidak bisa melihat dan mendengar percakapan kita," terang Damara sambil memajukan wajahnya ke arah sang sopir dan benar saja saat Jelita melihatnya sopir tersebut ternyata telah memakai kacamata hitam dan earphone di telinganya.
"Kau ini aneh-aneh saja," ucap Jelita tersenyum geli.
"Kau tahu sayang, kau itu semakin menggemaskan aku sudah tak sabar lagi ingin menerkamu,"
"kau diamlah nantikan anakku bangun, bisa tidak, kau jangan melakukan ini di tempat yang terbuka seperti ini.!" Protesnya Jengah dengan kelakuan suaminya yang tidak tahu tempat itu. Tak lama kemudian mereka pun tiba di hotel yang akan ditempati untuk rehat selama beberapa hari ke depan karena mereka akan menikmati libur dan honeymoon yang sudah lama tertunda.
"Sayang, sayang... Apa kau sudah tidur?" panggil Damara saat mendekati istrinya yang tadi minta izin untuk menidurkan baby Ar, makin tak kunjung juga datang.
"Ya ampun istriku kau sangat menggemaskan sekali, baiklah malam ini aku mengalah, aku juga akan menemanimu disini," Ucapnya menatap wajah lelah sang istri, lalu kemudian ia pun berbaring di samping Putranya.
'Terima kasih sayang kalian sudah hadir di dalam hidupku aku mencintai kalian istriku, dan Putraku, semoga kita akan tetap seperti ini sampai menua,' Gumamnya dalam hati dan tanpa di sadari ia pun akhirnya ikut terlelap, menyusul istrinya ke dunia mimpi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Yuks kepoin juga kisah Amara dan Dokter Darandra, dengan judul di bawah ini👇👇👇
__ADS_1