Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Debaran


__ADS_3

"Sayang kamu kenapa apa aku ada salah kenapa kamu diam saja?" tanya Damara khawatir karena melihat perubahan sikap istri nya yang tiba-tiba saja diam, apa lagi tidak menjawab pertanyaan nya. Sedang tangannya yang mengelus wajah Jelita kini di genggam oleh Jelita, tatapan Jelita pun Fokus padanya tanpa berkedip.


Jelita sendiri sekarang begitu sulit untuk mengendalikan perasaannya di raih nya tangan Damara lalu mengarahkannya pada dadanya di mana jantungnya sedang berdetak begitu kencang.


Begitu mengetahui apa tujuan Jelita megenggam tangannya Damara tersenyum bahagia ia pun lalu meraih kepala Jelita dan mendekatkan ke dadanya.


"Apa kau mendengarnya debarannya begitu kuat saat kau selalu ada di dekatku, tapi di saat kau jauh dia seolah berhenti untuk berdetak." Ucap Damara sambil mengelus Rambut panjang Jelita. Sedangkan Jelita hanya menggangguk cepat, mendengar pertanyaan Damara, tangan kirinya kini dengan ragu mengusap lembut dada bidang yang masih terekspos itu.


Membuat Darah Damara berdesir, Damara menyentuh dagu milik Jelita dan mengangkat nya wajahnya hingga hidung mancung mereka pun bertemu dan tanpa aba-aba Jelita pun langsung menyambar bibir milik Damara, Awalnya Damara terkejut namun sesat kemudian dia pun tersenyum bahagia saat mengetahui jika Jelita menginginkan nya.


Dan dia pun segera membalas dengan memberikan sesapanya lebih dalam lagi, hingga masuk ke dalam ceruk leher Jelita sedang tangannya kini aktif menanggalkan satu persatu yang melekat pada tubuh Jelita.


Hingga Jelita polos seperti bayi.


Awalnya Jelita merasa malu saat menyadari dirinya sudah polos tanpa sehelai benang pun namun rasa itu hilang berganti sara yang tak bisa di ungkapkan saat Damara menyesap gundukan miliknya bahkan satu tangannya mengelus dengan lembut lalu kembali mengecapnya secara bergiliran.


Jelita terus menekan kepala Damara, membuat Damara memperdalam sesapannya, kini Damara membaringkan tubuh Jelita dan entah sejak kapan handuk yang di pinggangnya itu berada di atas lantai yang dingin itu.


Damara kembali mengungkung tubuh istrinya dan kembali memberikan sentuhan di setiap titik sensitif nya.


"Dam...Damar...Aukh...ahk...mmm..." D324h4n demi d324h4n lolos begitu saja keluar dari mulutnya di saat sesuatu yang menekan di bagian Cli..to..ris nya di sertai jari tangan yang melesat keluar masuk memompanya. Hingga membuat tubuhnya seperti cacing kepanasan.


"Haaah...haah...haah dengan nafas yang tersengal Jelita mencengkram dengan kuat ujung seprai saat merasakan penuntasannya, dan di saat itu juga Damara segera melakukan penyatuannya.

__ADS_1


Namun ia melakukan dengan hati-hati sekali ia takut akan menyakiti anak dan juga istrinya. Damara terus mengatur ritme permainannya dengan terus memberikan hentakan-demi hentakan hingga membuat Jelita kembali merasakan sensasi luar biasa era..ngan demi era..ngan terus bersahutan dalam ruangan kedap suara tersebut hawa yang tadinya dingin kini berubah menjadi begitu panas di saat keduanya saling memberi dan menerima


"Sayang kita keluarkan sama-sama ya!" Ucap Damara parau di saat mesarakan sesuatu yang akan melesat pada dirinya.


Sedangkan Jelita hanya bisa mengaguk kan kepalanya saja, dan benar saja Jelita memeluk dengan erat suaminya di saat sesuatu menekan area sen..sitif nya dan ia merasakan benar-benar seperti di atas awang.


"Terima kasih" bisik Damara di telinga Jelita begitu selesai dengan aktivitas panas mereka. Jelita hanya tersenyum malu karena sebenarnya dialah yang paling menginginkan di sentuh oleh suaminya, bahkan ia ingin mengulanginya kembali sungguh aneh tapi tidak ada salahnya Damarakan suaminya.


Jelita kembali menyentuh dengan lembut dada bidang yang masih polos yang terpampang di depan matanya itu padahal dia sendiri sudah menahan untuk tidak melakukannya.


Damara kembali dibuat menegang karena bukan saja menyentuhnya Jelita dengan berani menyecap dad..anya meski masih kaku. Damara membiarkan istrinya itu untuk melakukan apapun yang dia inginkan pada tub..uhnya itu dan benar saja Jelita seperti menggila melakukan aksinya membuat Damara mengeluarkan des...ahan yang di tahannya saat sang wanitanya bermain di bawah sana. Hingga membuat nya memejamkan mata menikmati setiap sent..uhan lembut istrinya itu.


"Sas-sayang Aukh...oh..." Damara meraih tubuh Jelita karena dia sudah tidak mampu menahan gejol..aknya Jelita kembali merayap di atas tub...uh Damara dan kali ini Damara meraih dua gundukan yang menggantung indah di atas tubuhnya itu.


Damara bangkit tanpa melepaskan penyatuannya hingga Jelita kini bertumpu padanya Jelita terus bergerak maju mundur sedangkan Damara kembali mengulum dua bukit yang membuatnya candu itu. Hingga Jelita dengan cepat merasa sesuatu yang akan membuncah pada dirinya dan dengan cepat Damara membalik tubuh istrinya sambil terus memompa dengan lembut hingga keduanya kembali menegang.


Akhirnya setelah bergelut panjang mereka pun kembali terkapar sambil berpelukan.


"Aku lapar...!" Cicit Jelita menatap suaminya yang memejamkan mata itu yang masih mengatur tenaganya.


"Hah..kamu lapar sayang baiklah kita mandi dulu baru kita cari makanan" sahur Damara yang kini sudah mengangkat tubuh Jelita masuk kedalam Bathroom setelah membersihkan tubuh istrinya kini Damara pun membawa kembali tubuh Jelita keluar Dari bathroom dan dia pun segera memakai kan baju dan juga menyisir rambut panjang sang istri.


"Kakak...!" Cicit Amara saat melihat sang kakak menuruni anak tangga bersama Jelita, dan seketika membuat Jelita berhenti untuk melangkah dan itu dapat di rasakan oleh Damara hingga membuat Damara menatap nya, sejenak ia pun meraih tangan sang istri lalu menggenggamnya.

__ADS_1


"Kamu jangan takut sayang diakan Amara" jelas Damar.


"Tapi Damar..."


"Aku akan bersama mu jadi jangan takut! lagi pula Kamu kan sudah pernah menjaganya waktu dia koma apa kamu lupa itu?" Damara terus menerangkan pada Jelita hal apa sebenarnya yang terjadi. Hingga mereka pun tak terasa sudah sampai di depan meja makan..


"Kamu mau makan apa sayang?" Damara menatap istrinya yang nampak masih bingung.


"Boleh aku gabung?" tanya Amara yang baru saja masuk menenteng sebuah plastik belanjaan.


"Sis-silahkan" sahut Jelita merasa tidak enak.


Amara pun tersenyum bahagia karena Jelita mau berbicara dengannya.


"Jelita terus menatap makanan yang di yang berada tepat di depannya Amara itu.


"Jelita sayang kamu mau makan apa?" tanya Damara kembali.


"Aku..." Jelita binggung mau mengatakan makanan yang di inginkan kini telah di sendok Amara. Dan bahkan kini Amara sudah ingin menyantap nya. Namun baru saja Amara membuka mulut Damara sudah mengambil makanan di depannya itu membuat Amara terkejut.


"Kakak....!" peliknya ingin marah


"Apa kamu mau yang ini?" Jelita pun segera mengaguk dengan mata yang berbinar. Membuat Amara seketika menurunkan emosinya. Saat mengetahui Jika Kakak iparnyalah yang menginginkan makanan itu.

__ADS_1


__ADS_2