Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Boleh Aku Memelukmu?.


__ADS_3

Di sebuah Rumah sakit.


"Dengarkan,, Bunda sayang, Bunda janji tidak akan meninggalkan Bara, Bunda akan menunggu bersama Ayah di sini, iya kan Ay__"


Renata menggantungkan kalimatnya karena di saat ia berbalik ia binggung, tak menemu kan sosok Baron, tanpa dia sadari Baron sedari tadi sudah pergi saat menerima telpon dari seseorang.


"Bunda Ayah kemana?" tanya Bara lagi yang membuat Renata nampak semakin binggung, karena tak tahu harus menjelaskan apa pada sang putranya itu.


"Kamu belum menjawab pertanyaan Bunda?" Renata berusaha mengalihkan pertanyaan Bara dengan sengaja balik bertanya.


"Iya Bunda Bala, akan kuat dan tidak takut, demi Bunda dan adek Bayi di dalam cini." Bara mengusap perut sang Bunda lalu menciumnya, dan ke jadian tersebut terlihat jelas oleh Baron dari kejauhan. Di saat ia hendak melangkah masuk bersamaan dengan sang putra di dorong ke ruang oprasi.


"Apa yang Bara lakukan padamu? kenapa dia mencium perutmu seperti kau sedang, hamil saja," tanyanya Baron mengejutkan Renata penuh selidik.


"Eh,, it-itu Bara, memintaku untuk segera memberikan nya adik karena semua temannya sudah punya adik dan aku mengiyakan saja karena tak ingin dia takut untuk menjalani operasinya, apa lagi tadi dia sempat mencarimu."


"Maaf, maafkan aku,, tadi Itu Lisa. Dia meneleponku, dia hanya menanyakan kabar anak kami, maksud ku kabar Bara" Ucap Baron merasa serba salah.


"Kanapa kau tak mengajaknya sekalian Bara pasti akan senang" Ucap Renata sambil tersenyum,


"itu tidak semudah yang kau fikirkan. Kau tahu lbu kan? dia yang paling kecewa atas pernikahan kami yang berakhir, begitu cepat apa lagi sehari setelah bayi kami di lahirkan." sekelebat bayangan masa lalunya terlintas begitu saja.


"Seharusnya kau membawanya kemari, untuk memperkenalkannya lebih dekat dengan Bara, apalagi ini saat yang tepat. Siapa tahu saja Ibu mau menerimanya.


"Kau, salah Renata. Setelah kejadian semalam aku yakin jika Ibu tahu semuanya, Ibu pasti akan Membunuhku." tanpa sadar Renata tertawa lepas saat mendengar ucapan Baron yang terakhir tadi, hingga menampakkan deretan giginya yang begitu tersusun rapi seketika Baron tertegun menatap Renata dengan tatapan yang mendominasi.


"Mam-maafkan aku, aku hanya__"


"Apa ada yang lucu? Kenapa kau menertawaiku?" Tanya Baron dengan wajah datar nya, menjeda kalimat Renata


"Aku minta maaf" ucap Renata sembari menunduk la benar-benar takut kalau membuat Baron tersinggung.

__ADS_1


"Kemarilah!" Renata pun mengangkat kepalanya lalu menatap Baron.


"Ayo cepat kemari!" Renata pun mau tidak mau berjalan mendekati Baron Kini Baron membingkai wajah Renata dengan kedua tangannya begitu Renata berada tepat di depan nya.


"Ren...! Dengarkan Aku baik-baik, mungkin perjalananku untuk menikahi Lisa akan membutuhkan waktu yang panjang, jadi aku harap kau tetap bertahan sampai hari itu tiba. Apakah kamu mau? Maafkan aku mungkin aku terdengar seperti seseorang yang sangat egois, tidak memikirkan perasaanmu, tapi percayalah padaku cinta itu tidak bisa dipaksakan jika akan membuatmu terluka, bahkan mungkin membuat kita terlihat akan saling melukai,"


"Aku tahu maksudmu. Kau perlu khawatir tentangku, karena aku masih bisa menahan diriku, agar tidak meminta lebih, aku sudah terbiasa dengan semuanya, aku hanya ingin hubunganmu dengan Bara jauh lebih dekat dari sebelumnya." Renata menyentuh tangan Baron yang masih membingkai wajah nya itu.


"Kau tahu,, dia hanya seorang anak kecil. Dia sangat mengharapkan kasih sayangmu, perhatianmu, jangan selalu sibuk dengan pekerjaan, Jangan biarkan waktunya berlalu begitu saja. Nikmatilah masa kecilnya, genggam erat tangannya dan Berjalanlah beriringan, aku yakin dia pasti akan sangat menyayangimu melebihi dia menyayangiku seperti saat ini. Lakukan itu mulai dari sekarang!. Agar suatu saat jika aku tidak ada dia tidak akan merasa sendiri dan kesepian karena selalu ada kau yang menggenggam erat tangannya. Di saat dia sendiri ataupun di saat ia kesepian, kau harus berbahagia dengannya walau aku sudah Tiada."


Deg.


Entah mengapa hati Baron merasa tak tenang mendengar ucapan Renata tersebut, apalagi saat ia mengatakan, Jika ia akan Tiada. Seolah Renata akan pergi jauh dari dunia ini. Namun tetap saja, Ia berusaha untuk tidak peduli dengan perasaannya tersebut.


"Boleh aku memelukmu?" pinta Baron menatap begitu lekat pada Renata, Renata pun menganggukkan kepalanya setuju.


"Terima kasih untuk semua, kau selalu memberikan yang terbaik untuk Putraku."


"Dia juga Putraku!" Sela seseorang dari belakang mengejutkan ke duanya lebih-lebih Baron yang begitu mengenal suara itu. Dan mereka berdua segera melepaskan pelukannya.


"Baru saja, ketika kalian saling berpelukan!" ucap Lisa datar, dan menatap tak suka.


"Untuk apa kau datang ke sini? bukankah tadi kau bilang tidak akan datang kemari?"


"Aku mengurungkan niatku itu, karena aku hanya ingin menjenguk anakku, putra kita. ltu saja, apa tidak boleh aku menjenguk anakku sendiri?" ucap Lisa dengan tatapan sinisnya menatap pada Renata, Renata yang ditatap dengan tatapan sinis hanya membalasnya dengan senyuman yang manis.


Dengan cepat Baron menarik tangan Lisa, dan segera membawanya pergi dari tempat tersebut. Saat melihat seseorang dari jauh datang mendekati nya.


"Mas,, kenapa kau harus menarik tanganku ke sini?. Bukankah aku sudah menjelaskan tujuan itu untuk Apa? Aku datang kemari hanya ingin bertemu dengan Putra kita. tapi kenapa kau menarik ku ke sini?"


"Apa kau tidak lihat wanita yang berdiri di samping Renata?"

__ADS_1


"Ya aku melihatnya, bahkan sangat mengenalnya, dia itu kan ibumu Mas, Kenapa kau menghindarinya?"


"Apa kau lupa kalau lbu itu masih membencimu."


"Aku tidak lupa itu." Ucapnya


"Kalau kau tidak lupa sekarang pulanglah,!"


"Apa kau mengusirku?" kesal Lisa dengan wajah masamnya.


"Dengarkan aku sayang aku akan mengatarmu ke depan, maaf aku tak bisa mengantar mu sampai dirumah, aku takut Bara, nanti akan kencariku." Baron pun segera memberikan pelukan untuk Lisa wanita yang sangat di cintainya itu. Tanpa ingin menjawab pertanyaan nya.


"Sekarang pulanglah aku akan menemui mu nanti,!"


"Tap-Tapi Mas,!"


"Apa kau tidak mendengar apa yang aku ucapakan?" Baron kini menatap tajam.


"Bab-baiklah,, aku akan pulang, tapi kau harus benar-benar datang.!" Ucap Lisa kini mulai menurut.


"Apa selama ini aku pernah berbohong padamu?"


"Tidak!" jawab Lisa cepat


''Baiklah aku pulang, sekarang dan satu lagi Mas,, biarkan aku dekat dengan Bara, bagaimana pun caranya."


"Kau,, harus sabar, aku akan mengatur semuanya untukmu."


"Baiklah aku pergi, sopirku sudah tiba."


Lisa pun segera masuk menuju mobil yang sudah berada di depannya itu. Dengan kasar dia menghempaskan tubuh nya pada kursi penumpang.

__ADS_1


"Sial wanita itu, aku benar-benar tidak menyukai nya apa lagi tatapannya matanya yang penuh cinta itu, aku harus segera menaklukkan hati Bara dan lbu Sofia agar Baron segera menjadi milikku, dan aku juga harus menyingkirkan wanita sialan itu. Karena dia telah merebut hati Ibu Sofia!"


Lisa benar-benar geram, mengepalkan ke dua tangannya.


__ADS_2