
"Kakak,, kau mengagetkan ku saja. Oh ya aku bawakan sarapan dan minuman hangat agar kakak kembali fres" Amara meletakkan baki yang di bawanya di atas Nakas, lalu dia pun. beranjak pergi.
"Tunggu,, sarapan mu mana?" Amara menghentikan langkahnya, dia binggung harus menjawab seperti apa.
"Apa kau tidak mendengar ku?"
"Eh,, itu Kak, aku sudah sarapan duluan tadi karena aku tidak tahan aku sangat lapar, jadi aku terpaksa makan lebih dulu maafkan aku." Ucapnya menunduk.
"Kemarilah!"
"Hah…"
"Aku bilang Kemarilah kenapa kau masih saja benggong di situ!"
"Dengan perasaan ragu-ragu Amara pun mendekati Darandra yang masih duduk dengan wajah datar nya.
"Makanlah…" Darandra menyodorkan piring makanan yang di bawa Amara tadi.
"Apa?"
"Aku bilang makanlah!"
"Tapi,, itu kan makananmu, jadi mana mungkin aku akan memakannya." Tolak Amara
"Aku jadi curiga padamu apa kau menaruh sesuatu di dalam makanan itu, makanya kau tak ingin makannya kan?." Selidik Darandra
"Tidak aku, aku tidak menyimpan apa pun dalam makanan itu." Ucapnya memberikan bantahan.
"Kalau begitu makanlah!"
"Tapi Kak, aku al__!" mendapat tatapan tajam dari suaminya itu Amara pun menciut dan menggantungkan kalimatnya dengan terpaksa ia harus memakan makanan yang di buatnya untuk sang suami itu.
"Habiskan! aku tidak ingin kau menyisakan sedikit pun makanan itu!"
"Tapi kak, aku sudah kenyang." Selanya meyakinkan
"Kak,, kau akan makan apa nanti? stok makanan sudah habis hanya sisa ini saja tadi" Ucap Amara tanpa sadar.
Deg.
"Tadi kau bilang sudah makan,? sekarang kau bilang hanya sisa stok ini saja, apa kau sudah mulai belajar berbohong!" sentak Darandra
__ADS_1
"Tatap aku!" sergahnya lagi
"Kak, ak-Aku hek…hek…hek" dengan nafas tersengal Amara memegang dadanya yang terasa sesak hingga dia pun jatuh ambruk kelantai Namun dengan sigap Darandra menangkap tubuhnya agar tak membentur lantai yang dingin itu.
"Amara-Amara bangunlah apa kau membubuhi racun di makanan itu? jawablah pertanyaan ku bangunlah.!" Cicitnya gusar mengguncang tubuh Amara.
Tak kunjung mendapatkan jawaban Darandra segera keluar membawa tubuh Amara ke klinik terdekat dari apartemennya tersebut.
"Bagaimana istri saya Dokter apa dia keracunan,?"
Sang Dokter menatap intens Darandra yang nampak gelisah.
"Anda bilang anda ini suaminya kan?" Darandra menggangguk dengan cepat.
"Lalu kalau Anda suaminya kenapa Anda membiarkannya memakan telur yang bisa saja menghilangkan nyawanya. karena kalau terlambat lima menit saja istri Anda akan lewat, istri Anda alergi pada makan yang mengandung telur.
Deg.
Mendengar penjelasan Dokter membuat Darandra terhenyak.
"Alergi telur?" lirihnya
"Apa boleh saya menemuinya sekarang Dokter?"
"lni resep obat yang harus Anda tebus di Apotek, dan usahakan istri Anda meminumnya secara rutin, dan oleskan salep pada kulit tubuhnya yang gatal aturan pakainya sama." Darandra mengangguk cepat dan segera meraih resep obat yang disodorkan dokter.
Ia pun bergegas ke apotek sebelum Ia memutuskan untuk menemui Amara. Setelah semuanya didapatkan Ia pun bergegas untuk menemui istrinya, dan begitu masuk dilihatnya Amara masih merapatkan matanya, la pun mendengar lenguhan Amara yang hendak sadarkan diri.
la menghampiri Amara yang saat ini berusaha mengerjapkan matanya dan membukanya secara perlahan.
"Bagaimana keadaanmu? apa yang kau rasakan saat ini? cecar Darandra begitu Amara membuka matanya. Membuat Amara tersentak kaget.
Ia Pun berusaha hendak bangkit dari tidurnya namun dengan segera Darandra menahan bahunya.
"Tetaplah berbaring di tempatmu, karena kamu masih lemah dan aku meminta maaf karena aku tidak tahu kalau kau alergi telur."
Setelah mendengar ucapan Darandra Amara pun baru menyadari apa yang telah terjadi pada dirinya.
"Aku ada di mana?"
"kau ada di klinik, Aku sengaja membawamu ke klinik terdekat karena aku tidak ingin terjadi apa-apa padamu. Terang Darandra "Terima kasih sudah membawaku kemari. Tapi sebaiknya kita pulang saja, aku tidak ingin berlama-lama di sini" ucap Amara
__ADS_1
"Aku akan Menanyakannya pada dokter. Apakah kau sudah boleh keluar, atau belum Tunggu Aku Di Sini." setelah terucap Darandra pun lekas keluar dari ruangan tersebut untuk menemui dokter.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ini rumah siapa.? Untuk apa kita ke sini?" "karena keuanganku tidak mencukupi, untuk sementara kau akan tinggal, disini Apakah kau tidak keberatan untuk tinggal di tempat seperti ini?"
"Untuk apa aku keberatan, dimanapun aku tinggal selama tempat nya itu nyaman aku akan merasa senang, tapi itu…maksudku bagaimana dengan Tasya semenjak kemarin aku melihatmu tak pernah pergi menemuinya. Apa kalian bertengkar?"
"Untuk apa kau menanyakan tentangnya, kami baik-baik saja, hanya saja mungkin dia akan tinggal di apartemen. Sudahlah jangan dibahas lagi. Aku ingin segera mengobatimu" mendengar Tasya tinggal tadi Apartmen, tidak lantas membuat Amara merasa sedih.
la harus tahu tempat dan posisinya karena ia hanya sementara sedangkan Tasya adalah istri sahnya, Amara tidak ingin memprotes banyak, dia hanya ingin menjalani hidupnya dengan tenang dan bahagia sebelum semuanya segera berakhir.
"Kau kenapa masih saja diam di situ? Ayo masuk.!" Ajak Darandra menarik tangan Amara yang masih saja berdiri diam diambang pintu.
"Ada apa? apa kau sekarang merasa iri karena aku menyuruhmu tinggal di sini sedangkan Tasya__"
"Untuk apa aku iri!" jawab Amara Cepat, singkat, dan padat.
"Lagi pula Itu haknya dia tinggal di mana saja yang kau inginkan dan aku tidak berhak untuk mengatakan apapun padamu."
"Baguslah,, kalau kau menyadarinya ucap Darandra.
"Aku ingin bekerja Setelah sembuh."
"Untuk apa kau bekerja? Apa kau kira aku tidak mampu memberimu makan walaupun aku tidak punya uang."
"Bukan itu, aku hanya ingin mencari kesibukan saja, dan mencari pengalaman, lagi pula aku ingin belajar menabung mulai dari sekarang kita akan tidak tahu kehidupan kita kedepannya seperti apa. Aku tidak ingin anak-anakku kelak akan mengalami dan merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Aku ingin memberikan sesuatu yang lebih baik untuk mereka.
"Mereka,, maksudmu?" tanya Darandra, Amara pun tersenyum.
"Aku ingin mengandung anak kembar." Ungkapnya antusias.
"Tapi,, sepertinya itu sudah tidak berguna lagi untukku. Karena dengan adanya anak, atau tidak ada anak, semuanya akan sia-sia saja, tidak akan mengubah jalan pikiran Daddy, karena Deddy sudah marah, dan memutuskan semuanya, otomatis dia tidak akan pernah mengubah pendiriannya.
"Jadi maksudmu kita?"
"Ya kita tidak usah punya anak, itu akan lebih baik, jika kalau kita berpisah dan lebih baik pula kalau aku tidak akan pernah menyentuh mu itu mungkin jauh lebih baik, kau bisa mencari lelaki yang lebih baik."
"Baiklah jika itu yang kau inginkan aku akan melakukannya, dan akan Aku pastikan aku akan segera mendapatkannya sekarang Lebih baik kau pulanglah, istrimu kasihan jika di harus sendiri di sana. Biarkan aku di sini akan berbenah-benah."
"Jadi sekarang kau sudah mulai mengusirku?" kesal Darandra
__ADS_1
"Tit-tidak juga, karena aku harus menjaga diriku sendiri Sama juga seperti kau yang harus menjaga dirimu, atau lebih tepatnya menjaga jarak."