Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Sah


__ADS_3

"Sya masuklah!" perintah Jhony kembali karena Tasya masih saja diam di tempat nya sambil terus menggenggam erat tangan nya itu.


"Sya apa kau mendengar ku?"


"Boleh aku ikut duduk dibelakang dengan mu?" tanya Tasya menatap penuh harap.


"Sya, ini bukan lah waktu yang tepat buat kita berdebat, masuklah!"


"Tidak aku tidak mau kau masuk saja sendiri, aku duduk di belakang." Tasya melepaskan genggamannya, lalu berjalan dan naik di belakang mobil itu.


"Dasar keras kepala, dari dulu tidak pernah berubah" gerutu Jhony menyusul Tasya naik di mobil itu.


"Ayo Bang jalan!" seru Jhony pada si Abang.


"Kau, Kenapa keras kepala sekali tidak pernah mau mendengar perintahku"


"dan kau orang yang tidak pernah mau mendengar keinginanku" Timpal Tasya tak kalah sengitnya. Jhony hanya bisa mengusap kasar wajahnya melihat kelakuan mantan tunangan nya itu. Sedangkan Tasya memilih memunggungi Jhony karena masih merasa kesal la merasa Jhony tidak pernah berubah, tidak pernah mau mengalah sekali saja untuknya.


"Kemarilah, duduk di depanku" ujar Jhony saat merasakan tubuh Tasya bergetar kedinginan, namun Tasya bergeming pada tempatnya.


"Sya,, kenapa kau keras kepala sek_" Jhony menggantung kalimatnya saat menarik tubuh tubuh Tasya namun tiba-tiba saja tubuh Tasya ambruk di pangkuan nya.


"Sya, bangun Sya, Tasya Aryana Putri bangun buka matamu!" teriak Jhony panik karena tubuh Tasya kini terkulai tak berdaya, di atas pangkuannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi.


"Ap-apa? apa kau tidak salah dengar, dan tidak salah lihat, itu tidak mungkin? Tasya tidak mungkin melakukan hal sekeji itu pasti ini semua akal-akal dan lelaki Brengsek itu. Untuk menjebak Tasya, b******* itu. Aku akan membuat perhitungan denganmu! kau sudah melukai adikku, maka kau akan merasakan pembalasanku yang sebenarnya" Arya mengepalkan kedua tangannya dengan amarah yang membara.


"Ada apa calon kakak ipar masih pagi kau sudah marah seperti itu? apa kau sedang datang bulan?" bisik Darandra pada Arya yang terlihat mengepalkan tangannya dengan wajah yang memerah.


"Kau,, kau mengatakan akan menikah dengan adikku bukan? kau mengatakannya Lalu kenapa kau membiarkan Tasya akan menikah dengan bajingan itu? sedangkan kau disini sibuk dengan wanita itu?" sengit Arya mencengkram kerah kemeja yang di pakai Darandra.


"Apa,, maksudmu?"


"Kamu Jangan menganggap aku bodoh!" Arya menghempaskan cengkramannya. Apa kau lupa aku itu mengenal sifatmu dari dulu. Tapi aku tak tahu semenjak kapan kau berubah, Sekarang, aku pun tidak tahu yang ada di pikiran dan di hatimu. Andra Apakah kau benar-benar mencintai Tasya? atau mencintai wanita lain,? tapi yang jelas Tasya saat ini ada bersama bajingan itu.


"Apa maksudmu? Siapa yang kau maksud Sebenarnya? aku tak mengerti jelaskan padaku, apa yang terjadi pada Tasya jangan bertele-tele!"

__ADS_1


"Siapa lagi kalau bukan mantan tunangan Tasya yaitu Jhony. Hari ini mereka akan menikah."


"Apa? apa aku tidak salah dengar atas apa yang kamu katakan ini?"


"Aku tidak sedang bercanda. Apakah disaat seperti ini aku bisa bercanda? sekarang kau ikut aku!"


"Tapi__"


"Cepatlah aku tidak butuh penolakan. Kalau tidak aku akan melaporkanmu pada Om Anthony!" Ancam Arya menjeda kalimat Darandra.


"Ck, Kau itu yang benar saja, kenapa sih? Sedikit-sedikit selalu saja membawa nama Daddy." Kesal Darandra.


"Karena kau akan kehilangan taringmu jika di depan Om Anthony."


"Baiklah Ayo aku ikut!"


Bugh...Bugh...Bugh...


"Dan kalau kau tidak menikahinya sekarang juga maka aku akan membunuhmu detik ini juga!"


"Kau,, brengsek! apa yang aku lakukan pada adikmu, aku merasa tidak melakukan apa-apa? dan ini rumah sakit jangan pernah membuat keributan di sini." Geram Darandra yang mendapat serangan tiba-tiba dari Damara yang membuat luka sobek di ujung bibirnya. Bahkan la kini sudah menjadi sebuah tontonan.


"Ikut aku!" Darandra menarik tangan Amara lalu membawanya menjauh.


"Hei kau mau membawanya kemana?" teriak Damara geram.


"Bukankah tadi kau menyuruh ku menikah dengan nya dan aku akan berbicara dulu dengan calon istriku." Jawab Darandra terus berlalu tanpa berbalik.


...****************...


"Kau dengar kan aku baik-baik aku semalam mengatakan padamu untuk mempersiapkan dirimu menikah denganku kan?" bisiknya lembut di telinga Amara dengan lbu jari yang di udap pada bibir Amara yang terluka. Amara hanya mengangguk kecik,


"Dan aku melakukannya dengan sempurna," seringainya.


Deg.


"Hari ini kau, akan menjadi istriku. Tapi hanya sesaat setelah kau melahirkan anak kita akan berpisah, dan hari ini juga aku akan menikahi Tasya. Dan aku tidak perlu izinmu untuk itu. Aku hanya ingin memberi tahu mu saja agar kau sadar letak posisimu itu di mana." Ucap Darandra panjang lebar lalu pergi, la sengaja melakukan itu karena ingin membalas perbuatan Damara, yang telah membuatnya jadi tontonan di rumah sakit.


"Apa kau akan diam saja di situ!" Serunya tanpa berbalik. Amara yang tersadar pun segera mengejar langkah kaki lelaki brengsek di depannya itu meskipun hatinya merasa sesak namun besar harapannya kalau kakaknya akan memaafkan kesalahannya, hari ini.

__ADS_1


"SAAAH..."


Ucap semua para saksi yang berada di rumah sakit tersebut.


"Dasar kau anak brengsek bikin malu saja!"


Bug.


Anthony yang baru saja tiba dengan di ikuti Cleo Dara dan juga Exel dari belakang. Memberikan satu pukulan di perut putranya itu membuat Darandra tersungkur kembali di atas lantai rumah sakit.


"Dad...!" Teriak Dara dan Cleo


"Om...!" Teriak Jelita bahkan Cleo dan Dara menahan tangan Anthony untuk tidak menghajar Darandra lagi.


"Dengarkan aku siapa pun di antara kalian tidak boleh menolongnya kua bukan anakku lagi dan rumah sakit yang kau urus akan jatuh ke tangan Arya." Membuat semua orang di tempat itu pun terkejut lebih-lebih Darandra.


"But why Dad?"


"Apa kurang jelas yang aku katakan tadi kau bukan anak ku lagi.!" tegas Anthony dan segera berlalu.


Cleo, Dara pun tak bisa berbuat banyak mereka memilih mengejar Anthony untuk meminta penjelasannya.


"Dan kau Amara bukan adikku lagi." Sahut Damara menambah ketegangan di antara mereka, sedangkan Darandra memilih pergi yang di ikuti oleh Arya.


"Sayang apa kau sadar atas ucapanmu ini? dia Amara adikmu satu-satunya." Timpal Jelita yang ikut kesal dengan suaminya yang ikut-ikutan tidak mengakui Adiknya sendiri.


"Ayo kita pulang kasian baby Ar, kalau di tinggal lama-lama."


"Tunggu dulu aku mau bicara sebentar dengan Amara boleh?" Damara hanya diam sesaat lalu memilih pergi meninggalkan istrinya itu dengan perasaan yang tak menentu.


"Apa? yang benar saja apa aku tidak salah dengar? ya ampun Amara kenapa kamu diam saja?"


"Sudahlah kak, semua sudah terjadi tidak ada gunanya lagi kita harus membahasnya." Amara pulang dulu Kak,!"


"Kau mau pulang kemana?"


"Ya tentu saja ke apartemen Kak, Andra bukankah dia sekarang adalah suamiku" Ucap Amara sambil tersenyum.


"Oh iya kok aku yang lupa" kekeh Jelita. Setelah Amara pergi Jelita pun mengirim pesan pada seseorang dan Ia pun segera menyusul Suaminya ke mobil.

__ADS_1


"Hanya ini yang bisa aku lakukan untukmu Amara." lirihnya berlalu.


__ADS_2