Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Villa


__ADS_3

"Kemana sih dia? belum datang juga."


"Siapa Kak,!"


"Amara kenapa kau selalu saja mengetkanku!"


Amara hanya terkekeh melihat raut wajah terkejut kakak iparnya itu.


"Maaf" ucapnya dengan rasa bersalah.


"Kakak mau kemana sudah rapi seperti ini?"


"Aku mau…"


Drt…drt…drt…📲


kalimatnya terjeda saat ada panggilan masuk di gawainya, sesaat Jelita tersenyum ketika mengetahui siapa yang akan menelponnya kalau bukan suami tercintanya tanpa melihat nama sang pemanggil.


"Hal_" Jelita hanya diam membisu pada tempat nya bahkan ia tak melanjutkan ucapannya membuat Amara mengerutkan alisnya dan ia pun segera mengambil handphone yang hampir saja jatuh kelantai karena Jelita tanpa sadar melepas nya dari tangannya. Dan betapa terkejutnya ia setelah mendengar semuanya.


"Hei brengsek katakan dimana Kakak ku!"


Tu...tut...tut...


Amara begitu geram di saat telponnya di matikan sepihak dia pun kembali menghubungi nomor tersebut namun nomor tersebut sudah tidak aktif lagi.


"Brengsek wanita itu benar-benar keterlaluan!" gerutunya.


"Kak, Jelita mau kemana tunggu aku!" Amara segera mengikuti langkah cepat Jelita.


"Kak Jelita mau kemana?" tanyanya lagi karena tak kunjung di jawab Jelita.


"Dimana rumahnya?"


"Rumah siapa Kak,"


"Kamu jangan pura-pura bodoh! katakan padaku dimana rumahnya? pantas saja selama satu minggu ini dia selalu saja pulang larut" Amara hanya bisa menelan Saliva nya dengan susah payah, melihat kilatan amarah di mata Jelita.


"Duh sial Kakak kemana sih kenapa dari tadi belum juga pulang dan kenapa juga kakak selalu milih lembur sekarang aku kan yang akan ikut kena imbasnya mana Jelita orangnya cemburuan kayak gitu duh…"


"Amara apa kau tak mendengar ku!"


"Ah…a-i-iya Aku mendengarnya tapi sungguh aku tidak tau" gugupnya terkejut saat Jelita membuyarkan lamunan nya.


Drt…drt…drt…📲


Amara meraih gawainya melihat siapa yang memanggi.

__ADS_1


"Halo Kak, kakak dimana, sekarang?"


"Jelita di mana?"


"Ada bersamaku Kak, Kak,_"


"Baguslah, jaga Jelita untuk ku, tadi kakak ingin pulang cepat karena harus ada janji dengan seseorang jadi Kakak telat, mohon temani Jelita sampai Kakak pulang." Pintanya menjeda kalimatnya Amara.


"Sekarang katakan Kakak di mana?" tanya Amara penasaran,


"Aku bersama Danu menuju Villa kita yang ada di perkebunan, memangnya kenapa tumben kamu bertanya Kakak di mana?"


"Tidak apa-apa sih Kak, oke Kak, hati-hati, apa Kakak tidak mau berbicara sama kak, Jelita biar aku panggil kan." Bohongnya padahal Jelita dari tadi mendengarkan pembicaraan mereka,


"Tidak usah Ra, nanti biar aku menelponnya yang menelponnya langsung." Setelah itu panggilan pun terputus.


"Kak, Jelita dengarkan semuanya, sekarang kalau kakak ingin bicara telpon saja Kak, Damara!"


Jelita pun mengikuti apa yang di sarankan oleh adik iparnya itu, dia pun segera menelpon sang suami,


"Halo sayang, halo, sayang halo!"


"Ck, sial!"


"Kenapa?" Selidik Danu Handphone ku lobet."


"Tidak usah sebentar lagi kan kita akan pulang, aku sebenarnya lebih suka berbicara secara langsung dengan istriku daripada harus lewat telpon." Setelah berucap Damara lantas tersenyum karena langsung membayangkan wajah istri nya yang semakin berisi dengan perut yang menonjol, membuatnya semakin merindukan nya Danu hanya mengerutkan kedua alisnya melihat sahabatnya yang selalu tersenyum sendiri setelah selesai membicarakan istrinya dan ini bukan kali pertama untuknya melihat kelakuan Damara tersebut.


Sedangkan di rumah utama.


"Halo…Halo…Halo…"


"Bagaimana kak?" Jelita hanya menggeleng.


"Apa kamu tau dimana Villanya?"


"Iy aku tau Villanya ada di perkebunan."


"Antar aku kesana!"


"Tapi Kak, Kak, Damara bilang_"


"Antar aku cepat!" bentak Jelita membuat Amara takut dan segera menganggukkan keoalanya.


"Tapi aku yang nyetir ya." sahut Amara karena ia tak ingin kena amukan dari Kakaknya jika membiarkan Jelita yang membawa mobil karena walau hamil besar Jelita masih suka kebut-kebutan. Jelita hanya mengangguk, yang penting ia bisa sampai di Villa itu saja ia sudah bersyukur. Karena ntah kenapa semenjak menerima telpon dari wanita aneh itu perasaannya tiba-tiba saja tidak enak.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Setelah memakan waktu selama satu setengah jam akhirnya mobil yang di bawa Amara memasuki kawasan Villa perkebunan miliknya itu dan kini hari pun sudah mulai gelap karena tadi mereka berangkat pukul 17:30 dan itu pun Jelita masih kesal dengan cara Amara membawa mobil yang menurutnya lelet seperti keong. Hanya saja Amara selalu mengatakan demi keselamatan dirinya dan kandungannya membuatnya harus bersabar yang penting ia bisa bertemu dengan suaminya.


"Am, mobilnya kenapa?" tanya Jelita yang merasa aneh pada mobil yang di naiki.


"Aku juga tidak tau Kak, tunggu aku lihat dulu. Kakak jangan kemana-mana." Setelah berucap Amara pun segera turun.


Setelah beberapa menit kemudian ia pun muncul.


"Bagaimana Am?"


"Bannya kempes aku akan cari bengkel, tapi sebelumnya aku antar Kakak masuk dulu, tidak jauh kok Kak, di depan situ." Tunjuk nya pada sebuah Villa dengan halaman yang terluas dan juga sangat mewah itu mungkin jaraknya sekitar kurang lebih lima puluh meter,


Deg.


"Sepertinya aku pernah kesini Am, tapi tidak tau kapan" lirihnya berusaha mengingat-ngingat kapan persisnya dia kesini.


"Apa Kakak yakin? pernah ke Villa ini?" tanya Amara penasaran.


"Iya sih kayaknya!"


"Kok kayaknya sih? kak, yang jelas dong!"


"Iya seperti nya aku pernah kesini kamu tidak usah mengantar ku masuk telpon saja orang bengkelnya dulu biar aku masuk dulu" cicitnya yang di angguki Amara.


"Hati-Hati jalannya!" seru Amara lagi.


"Iya, iya kenapa kamu kok kayak Damar sekarang bawel" kekeh nya. Lalu Meninggalkan Amara yang masih menatap punggung nya.


"Amara kamu ngapain disini?"


"Kak, Danu kau mengagetkan ku saja!" cicitnya.


"Aku kesini mengantar Kak, Jelita," jelasnya


"Trus kenapa kau masih di sini dan mobilnya?"


"Apa kakak tidak lihat kalau mobil ku sedang kempes dan aku butuh bengkel."


"Baiklah aku temani Ke bengkel." Ucap Danu.


"Yang benar Kak,!" girangnya.


"karena tidak mungkin aku meninggalkan mu disini, ayo biarkan mereka berdua." Amara hanya mengangguk lalu segera menerima ulran tangan kekasihnya itu.


"Apa jadi kak, Dama, mau menjual Villa itu dan kakak, datang kesini untuk mengeceknya."


"Iya benar, karena ada klien Kakak yang ingin membelinya." Amara pun hanya mengangguk mendengar penjelasan dari Danu, ia juga tak habis fikir kenapa kakaknya ingin menjual Villa kesayangan nya itu, karena dia ingat betul tujuannya membangun Villa di perkebunan tak lain jika suatu saat ia menikah maka Villa tersebut akan ia tempati bersama istri dan anak-anak nya kelak, karena tempatnya yang sejuk dan asri juga jauh dari kebisingan Kota, tapi kenapa kakaknya itu malah ingin menjualnya sekarang bahkan di saat istrinya akan segera melahirkan.

__ADS_1


__ADS_2