
"Apa kau bilang! wanita itu lagi?"
"Iya Tuan jika Anda ingin menghukumnya maka silahkan karena dia sudah kami bawa kedalam ruang penyekapan."
"Baguslah tunggu saja aku akan memberikannya kejutan yang tidak di sangka-sangkanya." Setelah berucap Damara lalu kembali menelpon seseorang.
"Bersiap-siaplah ada hadiah untukmu!"
"Sayang sini makan aku kan sudah bilang makan dulu kamu kenapa sih kayak anak kecil susah sekali di bilangin, mau makan aja susah, masak harus aku lagi sih, yang nyuapin, sayang kamu tau kan aku sedang sibuk mengurus Arjuna!"
"Ya, ya maafkan aku, karena kau tau semenjak Arjuna lahir, kau sudah tidak memper hati kan suami mu ini sayang, bahkan kau selalu, bengabaikanku." Damara menarik pinggang sang istri membuat Jelita seketika jatuh dalam pangkuannya.
"Dan kau tahu kau sudah membaginya pada putra kita!" tunjuk nya pada dada bagian depan Jelita."
"Sayang kau jangan macam-macam! dia itu anak kita dan ingat kau tak boleh menyentuh ku dulu sampai waktunya tiba!" Jelita menatap kesal pada suaminya, karena lagi-lagi ia akan mendengar keluhan tidak beralasan suaminya itu.
"Perasaan dulu waktu hamil, Aku yang cemburu? tapi kenapa sekarang malah sebaliknya, kau harus merasa tersaingi?" Jelita pun hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang suami yang semakin hari semakin manja padanya.
Ya! semenjak keluar dari rumah sakit dua minggu lalu sang Bayi pun boleh di izinkan pulang mengingat sang bayi juga sudah membaik.
Dan yang paling Lucu tau gak sih? kalau Baby AR, sedang di susui maka Damara akan terus saja memperhatikan dengan muka Jutek nya seolah-seolah ia tidak ingin Baby AR, menguasainya sendiri. Dan kadang kelakuan nya membuat Jelita merasa jengah, karena ujung-ujung nya dia akan berusaha untuk merayu sang suami dengan kata-kata manis dan mesra.
"Sayang sudah ayo makan nanti Baby AR menangis mencari ku."
"Tapi kau harus makan juga ya sayang, biarkan aku juga menyuapimu." Tawar Damara yang di angguki Jelita dan tanpa Jelita sadari senyum terbit dari bibir Damara.
Jelita mulai menyuapi suaminya tanpa curiga sedikitpun. Dengan posisi masih di atas pangkuan Damara.
Dan kini giliran Damara yang menyuapi Jelita hingga makanan makanan mereka pun tandas tak bersisa.
Jelita pun dengan cekatan meraih gelas air minum lagu menyerahkannya pada Damara.
Dan begitu Jelita bangkit dari pangkuan Damara tiba-tiba saja Damara menariknya kembali pinggang nya hingga membuat Jelita menjerit karena terkejut.
__ADS_1
"Damar...kau mau apa?"
"Kenapa? kau tidak boleh pergi tanpa izinku!"
"Tapi Baby AR..."
"Hah...kapan aku bisa berdua denganmu lagi?"
"Sayang pasti akan ada saatnya kok." Jelita mengelus rahang yang sudah di tumbuhi bulu-bulu halus.
"Tunggu dulu!" ucap Damara menahan tangan Jelita yang bermain di wajahnya itu.
"Ada apa?" lagi-lagi Jelita dibuat bertanya.
"Lihat lah ada sesuatu di bibirmu sayang!"
"Dimana? biar aku bersihkan dulu." cicit Jelita mengusap bibirnya.
Damara mulai mengelus bibir ranum milik Jelita dengan ujung Ibu Jarinya dan ia pun memberanikan diri untuk menyatukan bibirnya dengan lembut, Damara menekan tenggkuk Jelita agar bisa memper dalam.
Dan semakin lama ciuman yang awalnya biasa itu berubah menjadi sesuatu yang sangat menuntut. Namun untung saja Jelita segera sadar dan mendorong dada bidang milik Damara saat nafasnya hampir habis karena suaminya itu ia pun segera mengingat Baby AR, yang di tinggal nya begitu lama.
"Maafkan aku sayang tapi lain kita akan melakukannnya" ucap nya mengecup singkat bibir tebal sang suami. Sedangkan Damara hanya bisa melongo melihat kepergian Jelita tanpa bisa menahannya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Sedang Jelita langsung masuk ke ruangan Baby Arjuna.
"Maafkan Mamy Sayang tuh Papi kamu jail benget sama Mamy" keluh nya pada sang putra yg terlihat ingin membuka matanya
"Anak Mamy udah bangun ya? yuk sini sama Mamy sayang" Jelita pun meraih tubuh mungil sang putra menggendongnya dengan lembut dan kemudian ia pun memberinya Asi yang, yang sudah menjadi favorit semua bayi di belahan dunia itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bagaimana apa semuanya sudah siap?"
__ADS_1
"Sudah Tuan semuanya hanya tinggal menunggu perintah tuan selanjutnya." Ucap Rony membungkuk hormat.
"Baguslah sekarang kita bisa berangkat karena aku sudah tidak sabar memberikan hadiah istimewa untuk wanita yang ingin mencoba menjadi pelakor, bahkan sudah berusaha meng hilangkan nyawa istriku bukan hanya sekali tapi dua kali. Aku tidak akan memaafkan nya." Damara mengetat kan rahangnya dengan kedua tangan yang sudah mengepal.
Sementara itu di sebuah ruangan yang sangat sempit, seorang wanita tergeletak dengan rambut kusut dan wajah kusamnya belum lagi ruangan yang luas nya dua kali tiga itu membuatnya tidak leluasa untuk bergerak, ruang yang panas dan juga pengap itu betul-betul membuatnya tersiksa sejak semalam.
Kriiiieeeet...!
Sauara pintu yang terbuka membuat tubuh yang lusuh itu segera terbangun, tatapan takut terpancar dari matanya.
"Ses-siapa kalian aku mohon lepaskan aku karena aku_"
"Cepat keluarlah karena Tuan ku ingin bertemu denganmu!" sentak lelaki berseragam hitam dan bertubuh kekar itu menjeda kalimatnya bahkan kini menyeret pergelangan tangan wanita itu dengan kasar.
Hingga membuatnya meringis kesakitan.
Brug.
"Auuuw…!" pekiknya di saat tubuh lemahnya itu di hempaskan secara kasar hingga kini hidungnya mencium sepatu seseorang yang sedang duduk dengan santai nya itu. Perlahan ia mengangkat kepalanya dan mberanikan diri untuk melihat siapa lelaki tersabut.
Deg.
"Dam-Damara…!" lirihnya.
"Kenapa apa kau terkejut melihatku wanita ******? dan ya hukuman ini belum seberapa untuk mu. Kamu akan merasakan derita seumur hidupmu!" temannya dengan nada penuh ancaman.
"Tit-tidak sas-sayang dengarkan aku, aku sangat mencintaimu dan ya wanita itu hanya ingin kau melupakan ku Sayang."
Dengan suara yang sedikit bergetar ketakutan Renata mencoba untuk mengambil hati orang yang pernah mencintainya dengan cinta yang tulus itu namun sayang nya ia meninggalkan prianya itu dan memilih menikah dengan lelaki yang belakangan ia tau ternyata sudah beristri, dan kini dengan pede nya wanita itu ingin kembali, dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan cintanya itu, bukan cinta sih sebenarnya bisa di bilang tambang emasnya itu.
Damara tersenyum devil lalu duduk berjongkok tepat di depan Renata
"Dengarkan aku hei…wanita ****** jangan pernah coba-coba memanggil namaku dengan mulut motormu ini karena aku tidak sudi kau memanggil namaku dengan dengan mulutmu itu Faham!"
__ADS_1