
Exel kembali menghujani wajah sang istri dengan kecupan penuh cinta, Dara pun hanya bisa tersenyum bahagia, namun semuanya itu berubah jadi era..ngan saat Dara merasakan sesuatu kembali memenuhi dirinya dan untuk ke sekian kalinya mereka mereguk nikmatnya surga cinta.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari-hari Damara kini tengah di sibukkan untuk mengurus istrinya ia berusaha memberikan perhatian extra pada Jelita meski Jelita selalu menolak dengan terus mengabaikannya, bahkan tidur saja Jelita memilih untuk kembali tidur di kamar lamanya yang berada di gudang.
Walau Damara tidak mengizinkannya, sejak pulang dari rumah sakit Jelita tidur di kamar pribadi milik Damara tapi itu pun dengan satu syarat ia tidak ingin tidur sekamar dengan Damara.
Damara pun dengan sabar mengikuti segala keinginan istrinya itu, ia tau saat ini kesabarannya sedang di uji. Demi istrinya ia rela tidur di depan pintu, dan tanpa Jelita sadari Damara telah memasang cctv di kamar tersebut. itu tak lain ia lakukan karena jika Jelita butuh sesuatu maka ia orang yang pertama yang akan mengurus istrinya sama halnya ketika Jelita harus ke toilet, Damara dengan sigap mengangkat tubuh istrinya itu.
Meski Jelita selalu menolak dengan terus mengabaikannya tanpa ingin berbicara sedikit pun. Seperti hari ini, Jelita turun dari tempat tidurnya berniat untuk buanga air kecil namun karena terburu-buru kakinya tersandung membuatnya hampir mencium lantai kalau tidak ada tangan kekar segera menahannya. "se-se sejak kapan kau masuk?" gugupnya bertanya saat menyadari Siapa yang menahan tubuhnya.
"Saat kau terbangun dan hendak turun dari tempat tidur!" jawab Damara dengan santainya.
"Kau! sudah berapa kali aku bilang aku bisa sendiri sekarang keluarlah!" ketusnya mengusir Damara, namun tetap saja Damara tak pernah mau menuruti keinginannya itu, membuat Jelita semakin di buat kesal. Damara hanya tak ingin Jelita mengalami nasip yang sama seperti tempo hari, hampir saja ia terjatuh terpeleset di lantai kamar mandi saat ingin membersihkan badannya tak sengaja kakinya menginjak sabun yang jatuh beruntung ia berpegangan pada pada dinding dan itu membuat kepalanya sedikit memar dan membiru.
Tanpa ingin meladeni ocehan Jelita, Damara segera mengangkat tubuhnya ala Bridal style dan itu mampu membuat Jelita kikuk, salah tingkah, dan jangan di tanya tentang jantungnya yang selalu berdetak dengan cepat apa lagi di saat ia begitu dekat dengan lelaki yang berusaha ingin dia benci mati-matian itu.
"Sial kenapa dia semakin tampan sekali dan jantungku kenapa tidak bisa kompromi"
"Stop Jelita...Stop! Sadarlah ini hanya triknya agar kau melemah dan saat itu ia kembali akan menghina dan menginjak-nginjak harga dirimu lagi."
Gumamnya dan segera memalingkan wajahnya saat tatapannya bertemu dengan Damara, ia tidak ingin ketahuan telah memperhatikan Damara begitu lama.
"Ayo sudah sampai aku tunggu di luar" ujar Damara menurunkan Jelita di atas kloset, dan itu tentu saja membuatnya membuyarkan apa yang sedang melintas di otaknya.
"Bab, baiklah sekarang cepat keluar!" Usirnya meski dengan nada terkesan gugup.
__ADS_1
Damara tak menjawab, ia memilih segera beranjak pergi namun di bibirnya tersungging sebuah senyuman kecil, dan hanya dialah yang tau arti senyumannya itu.
Sedangkan Jelita terus merutuki kebodohannya di saat mulutnya berkata lain tapi tidak dengan hatinya. Sungguh semua bentuk perhatian dari Damara membuatnya ingin meleleh seperti eskrim.
Namun ia terus mempertahankan egonya tidak mau semudah itu luluh apalagi dia pernah mengatakan kalau dia hanya sementara di rumah Utama itu sampai ia mendapatkan surat perpisahannya. Kedepannya mungkin tak akan bisa tinggal bersama lagi karena setelah sembuh ia ingin benar-benar lepas dari semua yang berhubungan dengan Damara dan pernikahan terpaksanya itu.
"Apa kau tidak apa-apa kenapa kau lama sekali?" tanya Damara yang tiba-tiba masuk membuyar kan lamunannya,
"Bisa tidak kalau masuk kau mengetuk pintu dulu!. Kenapa kau selalu saja datang tiba-tiba dan mengejutkanku apa kau sengaja melakukannya agar aku mati muda kerena kena, serangan jantung!" Kesalnya.
"Aku sudah mengetuk dan hampir satu jam kau berada di dalam sini, aku takut kamu kenapa-kenapa!" terangnya.
"Tapi aku belum selesai keluarlah!" usirnya lagi meski dengan nada yang pelan,
"Aku akan berbalik cepatlah selesaikan aku tidak akan melihatmu!"
"Cepatlah lakukan kalau tidak aku yang akan melakukannya, karena biar bagai manapun semuanya itu sudah menjadi milikku dan aku sudah melihatnya bahkan sudah pernah merasakannya." Ucap Damara santai dengan nada datarnya. Sontak ucapan Damara tadi membuat Jelita merona karena menahan malu.
"Sial kenapa aku jadi terjebak seperti ini dan sejak kapan dia berbicara sefulgar itu dan kenapa aku jadi mesara sangat malu seperti ini sih huuuf."
"Bagaimana apa kau sudah selesai?"
"I-iya su-sudah kau boleh berbalik sekarang!" jawab Jelita gugup, Damara pun segera berbalik dan tanpa bersuara ia segera mengangkat kembali tubuh Jelita.
"Bawa aku ke kamar ku, aku ingin tinggal di sana mulai sekarang!" Cicitnya begitu keluar dari toilet.
"Ini kamarmu jadi tetaplah tinggal di sini" ujar Damara.
__ADS_1
"Tidak aku tidak bisa menempati kamar ini lagi, aku sudah sembuh aku bisa menjaga diriku sendiri, jika kau tak ingin membawaku jadi turunkan aku,biarkan aku pergi sendiri lagi pula aku sudah kuat untuk berjalan kok."
Dan lagi-lagi Damara tak ingin menimpali ia mengikuti apa yang trus menjadi keinginan Jelita. Damara segera membawa keluar Jelita dari kamarnya dan menuruni anak tangga dan berjalan menuju pintu gudang yang dimana saat ini tempat itu sudah beralih pungsi semenjak Jelita masuk menempatinya.
"Hari sudah larut tidurlah atau kau ingin makan sesuatu aku akan memasak untukmu." Tawar Damara.
"Aku ingin makan Mie"
"Apa mie?"
"Iya mie"
"Tidak kau tak boleh memakanan itu!"
"Kenapa aku tidak boleh memakannya?"
"Karena itu tidak sehat untukmu lagi pula makanan itu tidak ada di sini makan saja yang lain aku akan membuatkannya untukmu tanpa menunggu jawaban Jelita Damara segera beranjak pergi, karena tak ingin berdebat hanya pasal makanan.
Setalah 15 menit makanan buatan Damara pun siap untuk di santap.
"Sepertinya akan turun hujan di luar anginnya juga sangat kencang aku harus cepat-cepat sebelum Jelita akan menjerit." Baru saja ia selesai berucap dari dalam gudang sudah terdengar jerit ketakutan Jelita, membuat Damara segera menghampirinya.
"Jangan takut aku di sini Kemarilah!" seru Damara meraih jemari tangan Jelita lalu membawa Jelita dalam pelukannya.
"Kita keluar dari sini ya! disini lampunya juga mati," Jelita hanya mengangguk dan menurut di saat Damara menuntun dan mengajaknya keluar, sedangkan Damara tersenyum penuh penuh arti.
"Sekarang duduklah aku akan menyuapimu makanan buatanku, nasi goreng sefood."
__ADS_1