
Baru saja Damara ingin berbalik keluar dari ruangan itu tiba-tiba saja lampu di kamar Jelita tiba-tiba saja padam dan bersamaan dengan itu.
Duaaarrr....!
"Aaaaaa...! jangan pergi aku takut jangan pergi!"
Suara petir yang menggelegar membuat Jelita histeris ketakutan. Tanpa sadar tubuhnya yang bergetar ketakutan hampir saja limbung di lantai kalau saja Damara tidak menahan tubuhnya dengan cepat.
Damara dengan cepat memeluk tubuh Jelita yang masih bergetar ketakutan dan nampak lemas itu. Dia juga menyalakan telepon genggamnya untuk menjadi lampu penerang.
Tubuh Jelita masih bergetar di tambah keringat dingin yang membasahi tubuhnya, dengan cepat Damara mengangkat dan membawa tubuh jelita ala bridal stile. Lalu membawanya keluar dari ruangan tersebut.
Kini Damara membawa tubuh Jelita masuk di kamarnya, dan lekas membaringkan tubuh Jelita diatas tempat tidurnya ia pun meraih remot dan menyalakan lampu ruangan, di tatap nya wajah Jelita yang masih menutup mata sedang tangannya masih mencengkram erat lengan Damara, dan bibirnya pun terlihat pucat bahkan masih bergetar.
Perlahan Damara merebahkan tubuhnya di samping tubuh Jelita, lalu ia pun kembali memeluk tubuh wanita itu.
"Jangan takut aku ada di sampingmu kini kamu aman bersamaku." Ucapnya ingin menenangkan Jelita, dan benar saja Jelita merasa sedikit tenang karena terlihat dari mata nya yang mulai terbuka sedikit demi sedikit.
"Bagaimana perasaan mu sekarang?" tanya Damara begitu melihat mata Jelita terbuka sempurna, namun bukannya menjawab Jelita memandang lekat wajah suaminya yang hanya beberapa centi saja dari wajahnya itu
ia kembali menitikkan air matanya membuat Damara binggung ia pun merenggangkan tubuhnya. Dan memeriksa dengan seksama apakah tubuh Jelita tersakiti olehnya setelah merasa semua aman ia pun kembali menatap lekat wajah pucat itu.
Dan di saat Jelita ingin membuka mulutnya untuk bicara Damara tanpa babibu langsung memberi lum...atan lembutnya yang semula biasa saja kini jadi menuntut di saat Jelita juga membalasnya dengan menekan tengkuk suaminya itu agar Damara memper dalam tautannya itu.
__ADS_1
Dan dengan senang hati Damara melakukan nya. Sedang tangan aktif melucuti helai demi helai benang yang menutupi seluruh tubuh Jelita dan dirinya.
Kini darahnya berdesir dengan jantung yang berdetak kencang saat kedua matanya yang si penuhi kabut gairah, menatap dua gundukan yang bergelantungan dan begitu menantangnya, namun ntah seolah ingin meminta izin kepada Jelita untuk segera mengecapnya ia kembali menatap lekat wajah Jelita yang semakin hari menurut nya semakin cantik dan menggodanya itu.
Jelita yang faham arti tatapan Damara, hanya bisa mengiyakan lewat tatapan isyarat juga, untuk mperbolehkan Damara melakukannya karena sama seperti Damara ia juga sebenarnya merindukan sentuhan suaminya itu.
Dan benar saja Damara langsung menyambar dua buah yang sudah lama dia rindukan yang sudah membuatnya candu itu, ia terus memberikan lum...atan menyesapnya dengan penuh kelembutan terus memperdalam sesapannya hingga membuat Jelita terus mengerang sedang tangannya mencengkram rambut dan menekan kepala Damara begitu dalam, tak sampai situ kini tangannya kembali bergerilya mencari dan menelusuri setiap titik sensitif pada tubuh sang istrinya hingga jemari tangannya berhasil menekan sesuatu yang melekat di dekat pulva milik Jelita walau dari balik pembungkus segi tiganya itu mampu membuat tubuh Jelita bergetar hebat apa lagi saat sang Juniornya yang mengambil alih untuk terus menekan dan terus memberikan gesekannya Jelita tanpa sadar menahan sang Junior dan menekannya di saat sesuatu yang sudah ia rasa ingin membuncah keluar.
"Aauuhk...aaahk..."
Tanpa sadar satu des...ahan panjang kembali lolos keluar dari mulut Jelita. Membuat Damara tersenyum menikmati apa yang dilakukan istri yang dia anggap sudah berpengalaman tapi ternyata masih polos dan kaku itu, apa lagi saat tangan lembut Jelita masih menggenggam sang Junior membuat nya semakin bersemangat ingin segera melakukan menyatuannya.
Damara segera mengungkung tubuh Jelita sedang tangannya segera menurunkan pembungkus segi tiga di bawah sana. Dengan semangat penuh ia ingin segera melakukannya ia pun mengarah kan Junior agar segera tsanby, namun tiba-tiba saja Jelita menahan tangannya.
"Aku mohon jangan sekarang karena aku, aku ses...sedang_" Jelita menjeda kalimat saat mendapatkan tatapan tajam dari Damara.
Sedangkan Damara dengan semangat segera mengarahkan sang Juniornya yang sudah siap untuk bertempur.
Namun tiba-tiba saja ia menghentikan aksinya saat matanya menatap cairan yang berwarna merah membuat semangatnya yang tadi menggebu lansung hilang tatapannya yang semula penuh gairah kini berubah nanar.
Dan Jelita pun menyadari itu ia merasa bersalah.
"Tadi aku hanya ingin bilang aku sedang datang bulan" lirihnya tak enak hati. Namun Damara mencoba untuk tersenyum dan memilih segera bangkit dari tubuh Jelita, karena ia akan bersolo lagi untuk menuntaskan hasr...atnya
__ADS_1
"Kamu mau kemana?" tanya Jelita saat suaminya ingin melenggang pergi.
"Biasa...!"
Jawab Damara singkat karena ia tak ingin terlihat kecewa di depan Jelita. Namun Jelita yang mengerti maksud suaminya segera bangkit berdiri dan mendekati suaminya dalam keadaan yang masih polos.
"Kemarilah aku akan membantumu menyelesaikannya tapi kau, harus membimbingku dengan cara yang kau suka" Ucap Jelita dengan suara yang terdengar manja di telinga Damara sambil meraih tangan suaminya dan menyimpannya di atas pundak.
Damara pun tersenyum dengan apa di lakukan Jelita saat ini yang sudah mulai berani mengungkung tubuhnya, dan benar saja walau dia tak berhasil melakukan penyatuannya namun apa yang dilakukan sudah cukup membuatnya sangat puas, dia sengaja membiarkan Jelita menyelesaikan tugasnya sendiri dengan tuntas. Tapi tentu saja atas arahan darinya.
Damara tersenyum puas dan kembali memeluk tubuh wanita yang sebenarnya sudah membuatnya candu itu namun lagi-lagi karena ego menutupi semua apa yang ia rasakan saat ini.
"Apa kau masih merasa takut?" tanya Damara saat memeluk erat tubuh Jelita, dan Jelita pun hanya menjawab lewat gelengan kepala sambil menatap lekat wajah suaminya yang menurutnya semakin tampan itu. Dan di se saat mata mereka bertemu dan saling mengunci.
Damara mengusap lembut wajah Jelita, dan kruuuk...kruuuk...kruuuk...suara dari perut Jelita membuat Damara mengerutkan alisnya. dan itu spontan membuat Jelita tersipu malu dan segera menyembunyikan wajahnya di dada bidang milik suaminya itu.
"Apa kau belum makan?" tanya Damara sambil kembali memeluk tubuh istrinya itu.
"Belum..."
Jawab Jelita sambil menggelengkan kepalanya.
"Apa setiap hari kau akan seperti ini. Dan lihatlah tubuh dan wajahmu ini semakin hari semakin kurus. apa kau mau semua keluargamu menuduh ku tidak memberimu makan dengan baik, ayo ikut aku, biar aku akan memasak sesuatu untukmu!" Ajaknya setelah sempat sedikit bercicit.
__ADS_1