Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Aku tidak bisa Memberi Cinta


__ADS_3

"Kita, bisa memulainya dari awal."


"Apa maksudmu?"


"Ku dan Aku, kita bisa memulai semuanya dari awal." Tunjuk Baron pada dirinya Renata


"Tapi kenapa kau, tiba-tiba ingin memulai semuanya, dan kenapa kau tidak bertanya, kenapa aku bisa mengenal Ibu dan juga Bara.?"


"Aku sudah mengetahui nya kemarin."


"Kemari?"


"Iya kemarin." Baron menatap miring Renata yang tengah duduk di kursi taman sampingnya itu. Ya setelah selesai makan tadi, Baron mengajak Renata untuk ke taman yang berada di samping rumah mewah itu, untuk berbicara Empat Mata.


"Apa kau tahu aku tidak seburuk yang kau fikirkan, Aku hanya membenci penghianat saja."


"Lalu apa kau juga membencinya?"


"Siapa yang kau maksud?"


"Tentu saja mantanmu. Atau mantan lstrimu."


Renata berucap sambil menatap lekat wajah lelaki yang membuatnya bisa merasakan sesuatu yang berbeda dalam hidupnya itu.


"Heh...apa kau tahu, aku orang yang tidak tahu cara membedakan antara benci dan cinta, karena keduanya bagiku bagaikan simponi yang selalu menghiasi, la akan selalu melekat erat tak bisa terpisahkan, kenapa aku berkata seperti ini, karena itu yang aku rasakan.


Aku membencinya, sekaligus merindukannya, apa kau tahu Aku sampai saat ini masih mencintainya, dan bahkan aku berharap suatu saat akan bertemu dengannya agar kami bisa bersatu kembali, bahkan rumah ini aku membelinya atas namanya, aku hanya ingin membuktikan pada keluarga nya kalau aku juga bisa membahagiakan nya.


Untuk itu aku minta Padamu. Kita mulai Semuanya dari awal, tidak usah ada rasa saling benci dan dendam lagi, aku akan memenuhi kebutuhanmu sebagai istriku hingga saat itu tiba, dan terserah padamu kau mau melakukan tugasmu sebagai istri atau tidak aku Tidak memaksamu lagi, tapi aku tidak bisa menjanjikan cinta padamu. Karena cintaku hanya untuk seorang saja.


Apa kau mengerti dengan apa yang aku maksudkan ini?"


"Ya,, tentu saja aku mengerti kita akan berpisah setelah kau bertemu dengan cintamu itu."


"Aku Tidak meyangka ternyata otakmu Pintar juga." ucap Baron sambil terkekeh sedang tangannya mengacak dengan lembut rambut Renata yang berwarna coklat itu.


"Aku tidak pintar,? aku hanya menebak saja. Bagaimana kau bisa tahu, kalau aku dan lbu?__"


"Kau,, dan lbu saling mengenal kan?" Sela Baron menjeda kalimat Renata. yang di benarkan dengan sebuah anggukan dari Renata.

__ADS_1


"Baiklah,, aku akan menceritakannya padamu. "Tapi sebelumnya aku minta maaf, dan terima kasih padamu."


"Minta maaf? Terima kasih? untuk apa?"


"Aku minta maaf, karena selama ini aku kasar padamu, dan terima kasih telah menyelamat kan nyawa Putraku." Renata hanya tersenyum mendengar pengakuan, Pria di depannya itu.


"Kenapa kau malah senyum, apa ada yang lucu?" Baron memperhatikan seluruh tubuhnya bahkan mengusap-ngusap wajahnya, mungkin saja ada sesuatu yang aneh hingga Renata senyam, senyum sendiri, namun di luar dugaannya justru kelakuannya itu membuat Renata bukan saja tersenyum tapi malah tertawa kencang.


"Kenapa Dia manis sekali kalau lagi tertawa,


Deg.


Bodoh kau Baron, apa sih yang sedang kau fikirkan?" Gumamnya merutuki kebodohannya itu.


"Maafkan Aku, aku hanya__"


"Tidak apa-apa, aku sengaja melakukan nya karena aku ingin melihat mu tertawa lepas.


"Terima kasih"


"Untuk...?" Baron menautkan alisnya.


"Tunggu dulu. Bukan kah tadi kau akan bercerita padaku." Sela Renata meraih tangan Baron yang berada di atas kepalanya itu.


"Baiklah,, aku akan menceritakannya padamu." Sahut Baron, setelah beberapa saat terdiam.


Flashback on.


Baron yang baru saja tiba di rumah sakit setelah 3 hari ia meninggalkan Renata, dan putranya, hari ini ia kembali ke rumah sakit karena Besok adalah jadwal kepulangan Sang putra tercintanya, namun Ia datang sore, hari ini. Karena dia sudah merasa Rindu dengan Putra yang ia tinggalkan beberapa hari. Paling sesekali ia akan menelpon sang Ibu untuk menanyakan kondisi putranya itu.


Karena buru-buru ia pun tidak melihat seseorang yang berpapasan dengannya, hingga.


Bugh.


Ia, dan orang yang ditabraknya pun jatuh terduduk di atas lantai rumah sakit.


"Kau…!"


"Anda Tuan!" Ucap Baron tak kalah terkejutnya "Mam-Maafkan saya Tuan." Ucap Baron segera berdiri dan menunduk hormat kepada orang yang berada di depannya itu.

__ADS_1


"Sudahlah,, tidak apa-apa. Aku juga tidak melihatmu, karena aku sedang buru-buru." Ujar orang yang menabrak Baron.


"Kau di sini sedang apa? apa istrimu masih dirawat di sini? dan Bagaimana kabar anakmu. Apakah dia sudah baikan?" "Bagaimana Tuan tahu kalau anak saya juga dirawat di rumah sakit ini, dan istri saya. Apa Anda juga tahu kalau istri saya dirawat di sini? Baron mengulurkan tangannya untuk membantu Damara yang ditabraknya itu berdiri. Damara pun segera menerima uluran tangan Baron.


"lstriku, aku mengetahui semuanya dari istriku,"


"lstri? maksudnya istri Tuan?"


"Ya…!"


Damara pun mulai menceritakan awal kejadian saat la bertemu Renata Seminggu yang lalu, dan apa yang membuat Renata, harus mendonorkan darahnya pada Bara.


"Apa? Jadi sebenarnya yang selama ini, maksud saya yang mendonorkan darahnya kepada Putra saya itu adalah Renata?" Kejut Baron, yang benar-benar tidak tahu menahu tentang masalah ini.


"Iya apa aku benar-benar tidak mengetahui nya sama sekali."


"Tidak tahu sama sekali, karena jangankan lbu dan Renata dokter pun tak ingin memberitahukannya pada saya terang Baron, memberikan penjelasan pada Damara.


"Tapi untuk apa juga dia menyembunyikan hal ini pada saya, Apalagi Renata, seharusnya dia berterus terang saja mengatakan semuanya. Dengan itu, mungkin saya bisa memberikan nya imbalan yang pantas dia dapatkan. "Maksud kamu uang,?"


"Ya…tentu saja apalagi Tuan. Bukankah Tuan, dan saya sudah tahu sendiri Renata itu, orangnya seperti. Bukankah dia tipe wanita yang rela melakukan apa saja demi uang?" "Kau benar sekali Baron, dia memang wanita tipe seperti itu, tapi itu mungkin dulu, hingga hari pernikahanmu itu terjadi. Dia masih Wanita hanya memandang uang dan uang.


"Tapi, untuk saat ini, aku yakin dia sudah berubah. Buktinya dia tidak ingin jujur padamu karena telah menolong putramu itu. Coba kau pikirkan. Kenapa dia bisa tidak memberitahumu, bahkan Ibu mu pun tidak memberitahumu, mungkin saja la ingin kau tidak ingin berhutang budi padanya."


Sejenak Baron terdiam, memikirkan apa yang diucapkan Damara tadi. "Anda benar Tuan, apa yang Anda katakan ada benarnya juga. Terima kasih banyak tuan, karena Anda sudah memberikan informasi yang ingin saya ketahui selama ini."


"Sama-sama aku juga hanya ingin membantumu, agar kau tidak terjebak dalam dendammu padanya, Berikan dia kesempatan untuk merubah dirinya menjadi manusia yang lebih baik ke depannya.


"Oh ya! aku pergi dulu. Karena hari ini Adikku juga keluar dari rumah sakit. Aku datang ke sini untuk menjemputnya.


"Baiklah Tuan," sahut Baron.


"Ya,, Satu lagi kalau kau tidak keberatan, malam ini aku ingin bertemu denganmu, kita berbicara Empat Mata, apa boleh?"


"Tentu saja boleh Tuan, saya dengan senang hati akan datang menemui Anda, Anda katakan saja kita akan bertemu di mana?"


"Kita bertemu di rumahku saja, mungkin 09.00 kau sudah ada di sana bagaimana baiklah Tuan saya usahakan akan datang dengan cepat." Baiklah kalau begitu aku pergi dulu. Salam untuk keluarga kecilmu"


"Baik tuan!" Lalu Baron pun mengangguk hormat.

__ADS_1


__ADS_2