
Setelah berpamitan pada seluruh keluarga besarnya Jelita kini berpamitan pada Bunda dan Daddy nya.
"Bunda maafkan Jelita jika selama menjadi anak nya Bunda Jelita selalu bikin susah, bikin Bunda marah atau kesal, dan aku sayang Bunda tangis Jelita pecah memeluk Anggun yang sudah sejak tadi berurai air mata begitupun dengan Rafa yang berada di tempat itu walau ia kelihatan tegas dan berwibawa namun sejak tadi matanya sudah mulai berkaca-kaca menyaksikan sang Putri akan pergi kerumah barunya yaitu rumah Damara yang beberapa saat lalu sudah resmi menjadi suaminya.
"Nak, Bunda juga minta maaf sama kamu jika Bunda pernah marah-marah, tapi yakinlah Bunda marah karena Bunda sayang sama Jelita." Ucap Anggun sambil mengecup seluruh wajah Putri kecilnya yang manja dan jail itu.
Jelita kembali terisak dalam tangisnya sambil menatap sang Daddy yang dari tadi terus menyaksikan kedua orang tercintanya itu saling mencurahkan isi hati.
"Kamu harus janji sama Bunda apa pun yang terjadi tetaplah bersama suamimu. Bunda berkata seperti ini karena kamu tidak tahu kedepannya pasang surutnya sebuah hubungan itu pasti terjadi dan berjanjilah kau harus jadi istri yang setia untuk suamimu. Dan Bunda harap kamu segera menyusul kakakmu untuk punya momongan."
Glek,
Jelita hanya menganggukkan kepalanya mendengar nasehat sang Bunda, namun ia pun tercekat saat sang Bunda mengharapkan nya mendapatkan momongan padahal ia belum ingin cepat-cepat punya anak, karena ia masih ingin bebas walaupun ia punya suami tapi ia tidak akan mau di atur bahkan ia akan berusaha membuat Damara marah dan benci padanya dengan begitu Damara akan cepat menceraikannya.
"Mas...apa kau tak ingin mengatakan sesuatu?" tanya Anggun begitu melihat sang suami mendekat membuat Jelita berbalik menata sang Daddy.
"Daddy...!"
cicitnya lalu menghambur memeluk sang Daddy.
"Maafkan Daddy sayang yang sudah menamparmu."
"Tidak Dad, Jelita memang sesekali harus si kasari biar Jelita tau kalau Daddy masih peduli pada Jelita." Tangisnya kembali pecah saat mengingat bagaimana sang Daddy selama ini selalu memanjakannya walau demikian ia tumbuh menjadi sosok seorang gadis yang tegas dan berani.
Sementara itu dari kejauhan Damara yang menyaksikan interaksi kedua mertua dan istrinya itu seolah merasakan kehadiran ke dua orang tuanya.
__ADS_1
"Papi, Mami, apa kalian ada di sini? aku merindukan kalian. Dan maafkan aku yang tak bisa menjaga si bungsu dengan baik kalian pasti kecewa padaku." Lirihnya dengan menyeka sudut matanya yang berair.
"Tapi mulai sekarang aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti nya. Aku berjanji akan membalas setiap tetes darah yang keluar dari tubuh nya bahkan apa yang di alaminya sekarang dia harus membayar mahal untuk itu. Aku menikahi wanita yang telah membuat Amara terbaring tak berdaya.
Dan akan ku pastikan dia akan mengalami yang lebih dari pada ini." Geramnya mengepalkan tangannya.
Tak lama kemudian Jelita yang di dampingi Anggun datang mendekat padanya.
"Bagaimana apa kamu sudah siap?" tanya Anggun pada Damara.
"Sus_sudah Bun," Jawab Damara lalu ia pun mempersilahkan Jelita untuk terlebih dahulu masuk di mobilnya. Dan setelah semua barang milik Jelita beres di masukkan ia pun bergegas hendak masuk di mobil.
"Tunggu...! tunggu Nak Damara!" seru Anggun saat melihat sang menantu melenggang pergi.
"Iya Bun ada apa?" sahut Damara berbalik menatap mertuanya yang sedang berjalan menghampirinya
"Apa itu Bunda jika Damara Sanggup maka Damara akan memenuhinya," Ujarnya dengan nada bertanya.
"Dengarkan Bunda Jelita adalah anak Bunda yang paling manja Bunda harap kamu bisa membimbingnya menjadi istri yang bisa bertanggung jawab bimbing dia menjadi istri yang baik untuk dirimu, dan keluargamu.
Maafkan setiap kesalahan yang dilakukan kau bisa menegurnya ketika dia melakukan kesalahan.
Suruhlah dia bertanggung jawab atas kesalahan yang pernah dilakukan dan hanya satu permintaan Bunda kembalikan Jelita jika kalau sudah tak sanggup Mencintainya, kembalikan Jelita jika kau merasa tak bahagia bersamanya, kembalikan Jelita jika kau sudah tak lagi menyayanginya, sudah tak lagi menginginkannya, biarkan dia kembali ke pangkuan kami orang tuanya, sungguh kami akan menerimanya dengan berlapang dada."
Damara hanya mengangguk pelan mendengar apa yang disampaikan sang mertua kepadanya tanpa ingin menjawab bahkan berucap kata.
__ADS_1
Kau boleh pergi sekarang masuklah di mobilmu Jelita mungkin sudah lama menunggu, berhati-hatilah di jalan begitu kalian sudah sampai setidaknya kabari Bunda agar Bunda merasa tenang ketika mengetahui kalau kalian baik-baik saja."
"Baiklah Bunda Damar pamit pergi dulu. karena banyak hal yang harus Damar lakukan tuturnya lalu melangkah pergi meninggalkan sang mertua yang terus menatap punggungnya dari belakang hingga ia masuk ke dalam mobil.
Mobil itu pun dengan cepat melesat meninggalkan halaman yang luas itu tak ada percakapan di antara mereka sunyi dan Hening yang terdengar adalah tarikan nafas kasar yang sesekali terdengar dari mereka berdua satu jam kemudian Jelita pun tiba di kediaman Damar halaman yang begitu luas serta rumah yang cukup besar tak jauh berbeda dengan Mansionnya.
"Turunlah...!"
Ketus Damara menatap nyalang istrinya Namun istrinya yang ternyata sudah tertidur di dalam mobil.
"Oke baiklah aku akan membiarkanmu tidur disini tunggu pelayan yang akan membangunkanmu!" imbuhnya lalu melangkah dengan wajah datarnya.
Dan benar saja sesampainya di dalam Damara memanggil salah satu pelayannya untuk membangunkan Jelita.
"Kau pergilah dan bangunkan wanita itu!" Perintahnya.
"Dan jangan! ada yang berani membantunya karena setatusnya sama seperti kalian jadi perlakuan dia seperti yang lainnya. Jika dia malas dan berbuat salah kalian jangan segan-segan untuk menghukumnya sesuka hati kalian." Tutur Damara kepada semua Maidnya.
"Baiklah Tuan...!" ucap para maid yang belum mengerti siapa yang sebenarnya yang Tuan mereka maksudkan apakah Tuannya membawa pembantu baru. Jika benar seperti itu maka mereka sangat bersyukur kalau Tuannya itu akan mengurangi pekerjaan mereka. Itulah yang ada dalam fikiran mereka.
Tok...tok...tok...!
Suara ketukan pintu mobil dari luar sungguh telah membangunkan tidur nyenyak Jelita.
dengan nyawa yang belum sepenuhnya ter kumpul ia terkejut saat melihat sekelilingnya sepertinya ia baru mendatangi tempat tersebut dan.
__ADS_1
"Haaah ya ampun kenapa aku bisa lupa kalau aku inikan sudah menikah!" Cicitnya.
"Oh ya ampun. Astaga aku ketiduran di mobil, dan pria brengsek itu tidak membangunkan ku malah menyuruh pelayan nya untuk datang kesini dasar suami luknut tidak ada ahlak!" Gerutunya kesal sambil mengumpat. Lalu membuka pintu untuk segera turun karena ia ingin segera melanjutkan tidurnya kembali.