
"A-aku kenapa sas-sayang?" Ucap Renata tak kalah gugup. Apa lagi sekarang detak jantung nya sekarang jangan di tanya seperti hendak melompat keluar dari tempat nya.
"Sayang aku seperti apa!" tanya Renata sekali lagi karena tak kunjung mendapat jawaban.
"Kamu, seperti, madu bibirmu senyummu wajahmu, aku sangat menyukai semuanya" Jawab Baron tanpa sadar sambil menyentuh dengan lembut wajah Renata seolah terhipnotis oleh paras wanita yang hanya ingin ia jadi kan istri sementara itu.
"Sas-sayang aa-aku maafkan aku, aku hanya_"
Baron meminta maaf saat tersadar, karena merasa melakukan kesalahan, telah berani menyentuh bahkan mengagumi istrinya itu.
Namun di luar dugaannya Renata meraih tengkuk nya lalu menautkan bibirnya, sehingga membuat kalimatnya pun terjeda.
Baron yang awalnya hanya diam menikmati permainan Renata, kini membalas apa yang di lakukan Renata. Karena apa yang Renata lalukan mampu membangkitkan sesuatu yang ada dalam dirinya, hingga tautan yang hanya biasa itu menjadi lebih menuntut.
Dengan lihainya Renata membuka satu demi satu kancing kemeja yang di pakai Baron, dan membuangnya ke segala arah. Jingga menampilkan dada yang kencang serta perut yang bak Roti sobek, membuat Renata sejenak menjeda aksinya, karena sekarang matanya fokus menatap pahatan sang maha karya yang begitu menggoda iman.
Gleg.
Dengan susah payah Renata menelan Saliva nya, tangannya pun kini menyentuh wajah tampan suaminya itu. Baron pun meraih tangan Renata lalu menggenggamnya ia menuntun tangan Renata untuk menelusuri seluruh wajah nya. Sedang tangannya yang satu menelusup masuk di balik pakaian yang di palai Renata.
"Ahk...sayang" rengekan manja Renata lolos ke luar saat merasa salah salah satu ujung aset berharganya di sentuh dan di permainkan dengan lembut. Bukan sampai di situ saja kini Baron juga dengan lihai memberikan sentuhan, yang membuat Renata terus memejamkan mata menikmati sensasi yang kini menjalari tubuh nya itu.
Sungguh sangatlah berbeda jauh dengan malam awal ia menikah dengan Baron. Kini Baron menyusuri ceruk leher wanitanya itu, ia terus menyesap bahkan sesekali memberi gigitan kecil dan meninggal kan tanda kepemilikannya.
__ADS_1
Dan ntah sejak kapan mereka polos seperti bayi, Renata kembali mengerang dan menggelinjang saat sesuatu yang basah dan lembut terus saja menggelitik nya di bawah sana, membuat otot-otot bahkan kakinya memegang saat merasakan sesuatu yang akan membuncah keluar, dengan mata terpejam Renata mengigit bibirnya agar suara jeritannya jangan sampai keluar.
Dengan nafas yang masih tersengal-sengal Renata menatap wajah Pria nya itu la pun mencoba untuk tersenyum, namun senyumnya segera memudar si saat merasakan ada suatu gesekan sibawah sana. Dengan cepat Renata menahan tubuh Baron.
"Kenapa sayang?" tanya Baron dengan wajah binggung saat Renata menahan tubuh nya.
tak ada jawaban hanya tatapan takut yang di berikan nya. Dan Baron pun mengerti dengan hal itu.
"Maafkan,, aku sayang, maafkan aku yang telah menyakitimu. Maafkan aku, jika selama ini melakukannya secara kasar padamu. Jika kau tak ingin melakukannya lagi aku berjanji tidak akan melakukannya padamu." Renata menatap dengan intens manik mata suaminya dan Ia mendapat ada kejujuran di sana.
"Sayang,, aku istrimu kan? dan kau suamiku. Jadi kita ini adalah suami istri kan? Baron hanya mengangguk pada setiap pertanyaan yang dilontarkan oleh Renata. jika aku istrimu dan kau suamiku maka lakukanlah aku sudah siap ucap Renata, kembali tersenyum.
"Benarkah itu sayang,?" cicit Baron tak percaya. Renata pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, benar saja setelah mendapatkan persetujuan dari Renata Baron pun memulai aksinya kembali, Baron terus berusaha memberikan sentuhan lembut pada setiap titik sen...sitif istrinya itu hingga pada akhirnya ia pun memberanikan diri untuk melakukan penyatuannya, dengan pelan tapi pasti Ia terus memberikan pompaan lembutnya dia berusaha membuat Renata merasa senyaman mungkin agar Renata bisa menghilangkan rasa traumanya.
"Sayang aku ingin__"
"kita keluarkan sama-sama ya sayang" Sahut Baron menyela, yang di angguki samar-samar oleh Renata, karena la sudah tidak dapat menggambarkan bagaimana rasa dan perasaannya saat ini, antara haru, nikmat, dan bahagia kini menjadi satu, karena apa yang di lakukan baron hari ini padanya sungguh sangat luar biasa. Bagaimana tidak di setiap bermainannya, Baron terus saja memberikannya kelembutan, hingga Renata benar-benar menikmati sensasi yang sangat luar biasa itu.
la juga merasa terharu karena baron bena-benar membuat nya merasa sangat istimewa. Baron mempercepat ritme permainannya, berusaha sedikit menekan dan memberi kan hentakannya hingga Renata mengangkat sedikit Pinggul nya.
"Ahk...ahk...ahk..." suara deru nafas mereka saling berkejaran dan bersahutan, di saat kedua tubuh saling menyatu dan mendekap dengan erat. Dan di saat itulah Baron menyemburkan bibit unggul nya.
"Aku harap semoga salah satu dari Mereka ada yang berkembang di dalam sini."
__ADS_1
Lirih Renata bergumam dalam hati, sambil mengelus perutnya yang masih datar.
Baron segera memiringkan tubuh istrinya itu lalu memeluk nya dari belakang, Baron mencium tengkuk istrinya dari belakang, lalu kembali memberikan dekapan hangatnya.
"Terima kasih sayang, terima kasih untuk semuanya. Terima kasih untuk hari ini."
"Sayang apa aku boleh bertanya sesuata pada mu?" tanya Renata sambil mengelus lengan kokoh lelaki yang memeluknya itu.
"Apa itu sayang?" Tanya Baron. Sambil mengeratkan pelukannya.
"Tapi berjanjilah untuk tidak marah sama aku" "Marah kenapa sayang? kamu kan belum ngomong."
"Aku hanya ingin bertanya padamu. Bagaimana kalau suatu saat aku bisa hamil?" "Hahaha…" mendengar pertanyaan Renata Baron hanya bisa tertawa Terbahak-bahak namun seketika la menghentikan tawanya, itu ketika Renata membalik tubuhnya dan menatapnya dengan tatapan serius.
"Mam-maafkan aku sayang, tapi kau itu lucu sekali mana mungkin kau bisa hamil sedangkan kandunganmu kan sudah di ang__"
"Aku kan hanya bertanya saja Seandainya kesal Renata,menjeda kalimat Baron.
"M-maafkan aku bukan maksudku__"
"Tidak apa-apa, aku hanya sekedar bertanya." Sela Renata lagi.
"Dengarkan,, aku sayang, itu tidak akan mungkin pernah bisa terjadi, kau jangan pernah berharap untuk Sesuatu yang mustahil, karena kau akan kecewa nantinya. Tapi jika itu terjadi, kau sudah tahu kan konsekuensinya seperti apa? diantara kita tidak ada cinta dan aku tidak ingin mempunyai seorang anak dari orang yang tidak pernah aku cintai, karena kenapa? Aku tak ingin membuat anak itu nanti menderita setelah kita berpisah, anak itu akan tinggal bersamamu otomatis dia akan kehilangan kasih sayangku, jadi. Apapun alasannya cukup aku mempunyai seorang Putra saja yaitu Bara, dan jika kita bercinta seperti hari ini, Itu semua terjadi karena kita hanya sebatas saling memberi dan saling menerima saja. Kita melakukannya atas dasar suka sama suka, bukan atas dasar cinta. Aku juga begitu, sama sepertimu. Tak ada perasaan apapun, sekarang apakah mengerti apa yang aku maksudkan?"
__ADS_1
Deg.