Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Berdebat


__ADS_3

"Aku tahu dia menemuimu,?" Ucap Restu saat Renata membuka pintu.


"Apa kua juga datang hanya untuk menanyakan itu,? kau bertemu dimana dengannya dengannya,?" tanya Renata sambil berbalik menatap Restu yang melangkah masuk.


Restu pun menghempaskan bokongnya di sebuah kursi yang tersedia.


"Kenapa kau tidak memilih ikut dengan nya,?"


"Aku yang bertanya, terlebih dahulu apa kah Mas Restu berjumpa dengan nya?"


"Aku tidak sengaja melihatnya ketika berjalan menuju Blok sebelah, mungkin dia tinggal disana, dan aku tidak bermaksud lain, aku hanya khawatir padamu aku takut kamu kenapa-kenapa Renata," Restu menggenggam tangan Renata, dan menampakkan raut wajah ke khawatirannya.


"Mas, kamu jangan terlalu seperti ini, aku tidak mau menyakiti hati Hana, bagaimana kalau dia salah sangka dan..."


"Apa aku menyuruh mu memikirkan Hana? tidak kan? lalu kenapa kau sangat khawatir dengan nya,?"


"Mas, biar bagaimana pun dia itu istrimu Mas," Renata menarik tangannya dari genggaman Restu.


"lstri di atas kertas maksudmu,?" Timpalnya


"Mas, apa pun namanya kau sudah menyebut nama Allah, saat menikahinya jadi di mata Agama dia istri sahmu, bukan istri di atas kertas atau istri apalah namanya itu, jika kau menginginkan dia seperti wanita yang lainnya kau bisa mengubah penampilan nya Mas, atau aku akan membantumu?"


"Tidak usah, kau jangan terlalu berfikir tentang orang lain, kau juga belum menjawab pertanyaan ku."


"Aku belum siap Mas," Ucap Renata kembali menatap Restu.


"Tapi aku heran kenapa Mas Baron tahu tempatku ya?" bingung Renata.


"Hana,"


"Hana? Maksud Mas,? Hana yang memberikan alamat dan mereka mengetahui ku bersembunyi di sini." Kejut Renata


"Jangan asal menuduh Mas, nanti kenaknya jadi fitnah, Mas tahu kan fitnah itu lebih kejam daripada membunuh,"


"Aku tidak asal menuduh karena aku melihat buktinya sendiri Chat dan panggilan telepon yang mereka lakukan, apa ini yang polos yang kau maksudkan Renata? Aku tidak yakin kalau dia akan setega itu padaku, itu sama saja dia berbohong kan padaku Renata?"


"Mungkin dia punya alasan lain mas Kenapa dia melakukannya,"

__ADS_1


"Entahlah Ren mulai hari ini aku tidak percaya lagi padanya,"


"Mas, kau jangan seperti itu, Kau itu seharusnya mencari tahu Mas, apa Alasannya untuk melakukan semua itu,? Mas aku mohon sama kamu, untuk tidak melakukan kesalahan lagi, Cukup aku yang pernah jadi korbanmu Mas, Aku tidak mau kau menyesalinya di kemudian hari,"


"Ren, jangan mengingatkan aku dengan kesalahan yang pernah aku perbuat padamu, karena kau tahu aku tidak bisa menebus semua kesalahanku itu, kau dan Hana itu berbeda, Ren, kita saling mencintai tapi aku dengan Hana tidak ada cinta sama sekali jadi berbeda kan,? Apalagi dia itu masih anak-anak buatku," Kekeuh Restu


"Terserah kamu sajalah Mas, aku sudah capek menjelaskannya, tapi ingat suatu saat nanti kamu jangan menyesali semuanya."


"Aku tidak akan pernah menyesalinya," ujar Restu.


"Aku kesini ingin membawamu check up ke dokter, karena ini sudah jadwalnya, apakah kau sudah siap.?"


"Sudah Mas, kalau begitu ayo kita berangkat."


"Kau mau membawa istriku ke mana,?" Ucap Baron yang tiba-tiba saja muncul.


"Sayang, bukankah tadi aku menelponmu menyuruhmu untuk menungguku? lalu kenapa kau harus pergi dengannya,?" tuding Baron.


"Mas, aku hanya..."


"Aku tau hari ini adalah jadwal chek up mu bukankah lebih baik sekarang kau pergi bersamaku saja, karena aku tau dia juga pasti sedang merindukan Ayahnya," Baron Mendekati Renata lalu berjongkok menyentuh bahkan mencium perut buncitnya itu.


"lya karena kau yang menculiknya dan membawanya kabur dariku!" Sergah Baron.


"Heh, kau itu lucu bukankah kau sudah mengusirnya bahkan menuduhnya,?" timpal Restu dengan senyum mengejek.


"Dan apa bedanya aku denganmu setidaknya aku tidak membuatnya kehilangan bayinya," sahut Baron tak ingin kalah.


"Sudah-Sudah kenapa kalian harus bertengkar seperti anak kecil sih? lebih baik aku pergi sendiri," Sela Renata yang jengah dengan pertengkaran kedua Pria dewasa yang ada di depannya itu.


"Sayang, Renata, tunggu," cicit keduanya ikut melangkah keluar.


"Pak, Bos, Anak-anak minta di ajak jalan-jalan!" seru Hana, begitu melihat suaminya itu baru saja keluar.


"Iya Papa ajak kami jalan-jalan," sahut Reva dan Revi,"


"Tapi sayang Papa sedang sibuk,"

__ADS_1


"lya Papa kamu sibuk ngurusin istri orang," timpal Baron.


"Mas, kamu apa-apaan sih,!" tegur Renata.


"Dia juga kan mantan istriku sebelum kau mendapat kannya aku lebih dahulu memilikinya."


"Mas, udah gak enak sama anak-anak, sebaiknya Mas, Restu temani mereka kasihan anak-anak,"


"Tapi Ren,..."


"Mas..." Renata memberi tatapan tajam membuat Restu mau, tidak mau harus menurut. Dan melihat itu Baron pun tersenyum lebar.


"Ayo sayang aku akan menemanimu," ucapnya penuh percaya diri menggandeng tangan Renata.


"Lepaskan aku Mas, aku kan belum memutuskan aku akan menerima mu atau tidak!" ucap Renata menghempaskan tangan Baron lalu memilih pergi meninggal kan kedua Pria yang masih menatapnya dengan tatapan yang berbeda.


"Hahaha...Emangnya enak ditinggalin dan aku yakin setelah ini Renata akan menolakmu," ujar Restu sambil terus tertawa mengejek.


"Tapi dia istriku, aku yakin aku pasti bisa mendapatkan maaf darinya meski dengan cara harus mengemis," ucap Baron mantap lalu menyusul Renata.


"Papa ayo kita pergi jalan Pa," Rengek Revi yang dari tadi bingung dengan papanya yang belum juga membanya beranjak dari tempat semula.


"Oh...ya ayo," sahut Restu seketika lalu membawa kedua putrinya.


Sementara Baron terus mengikuti istrinya yang ternyata memilih pergi dengan Bara, yah tadi Bara yang melihat Bunda nya pergi menatap dari jauh.


"Apa boleh aku ikut untuk mengantarmu Bunda" pintanya. Mendengar suara sapaan anak kecil yang lama sangat dirindukan nya itu, Renata pun berbalik, sedangkan air mata yang luruh begitu saja tak bisa ia bendung lagi.


"Bara, kau,? apa yang kau lakukan disini nak,?" cicit Renata menghamburkan memeluk sang putra.


"Sayang, "


"Bunda,"


"Maafkan Bara Bunda, Bara sudah membuat Bunda menangis dan marah sama Bara makanya Bunda pergi dari rumah." Tangis Bara pecah tersesu-sedu, membuat Renata semakin erat memeluknya.


"Bara tidak salah sayang, Bundalah yang salah tidak sabar saat menjadi ibu, dan tidak sabar saat menjadi istri."

__ADS_1


"Tapi bolehkan Bara menemani Bunda pergi dengan dedek bayi?" pintanya lagi.


"Iya boleh kok, sayang ayo ikut sama Bunda," Renata bangkit berdiri lalu menggandeng tangan kecil itu untuk berjalan bersamanya Renata memang harus berjalan kerumah sakit, karena tempat tinggalnya memang tidak jauh dari Hospital Sengkang, la hanya butuh untuk melewati Jembatan penyerangan saja lalu sampai.


__ADS_2