
''Kau ini apa-apaan! bikin malu saja. Sudahlah aku ingin segera berangkat nanti aku terlambat!'' Kenan pun menghempaskan tangan Dara, membuat pelukannya terlepas Ia pun segera masuk ke mobil dan langsung menjalan kan mobilnya dengan kecepatan tinggi membuat Dara hanya menatap nanar kepergian suaminya itu.
''Damn!'' umpatnya.
''Kenapa aku seperti ini hampir saja aku tak bisa mengendalikan diriku, anak itu benar-benar membuatku gila arrrhg!" Kenan berteriak, memukul setir mobilnya yang tak bersalah dan terus menjambaki rambutnya,karena Ia masih binggung dengan perasaan nya yang sebenarnya.
''Kakak...,Kakak...! kenapa Kakak bengong di situ? aku sudah menunggu mu dari tadi, kenapa tidak masuk Kak Kenan mana?'' teriakan Jelita dan pertanyaan nya yany tanpa henti mampu membuyarkan lamunan Dara.
''I-itu Kak Kenan, sudah pergi.''
''kenapa Kak Kenan tidak masuk? uh dasar benar-benar Kak Kenan itu tak pernah merindukanku!''
''Bukan seperti itu, Kak Kenan, hari ini mau keluar kota jadi dia harus segera pergi takut terlambat.'' jelas Dara.
''Hmmm, okelah aku bisa memakluminya tapi tidak lain kali. Ayo Kak, ikut aku!'' Jelita pun menarik tangan Kakaknya untuk segera masuk.
''Ada apa sebenarnya. Kenapa kau menyuruh Kakak datang kemari? kamu tau sendirikan kalau Kakak sedang sibuk?'' tanya Dara begitu masuk sambil menghempaskan bokongnya di sebuah sofa.
"Iya aku tau Kakak, sedang sibuk kalau tidak untuk apa aku memanggil Kakak kemari, apa lagi Kak Kenan, selalu menyuruh Kakak lembur untuk sekedar menemaninya." tutur Jelita tanpa sadar.
"Dari mana kau tau semuanya? perasaan aku tidak pernah cerita tentang semuanya, kamu memata-matai Kakak ya! untuk apa?" selidik Dara menatap curiga.
"Ses-siapa yang memata-matai Kakak kayak tidak ada pekerjaan saja. Hanya saja_"
"Hanya saja apa?" Dara bertanya saat Jelita menjeda kalimatnya.
''Aku hanya sedikit memberikan ancaman pada Kak Reno.''
''Jelita kau benar-benar tak berubah ya!" Sergah Dara.
"Itu semua demi Kakak, aku tidak ingin sesuatu terjadi pada Kakak."
"Je, tidak akan ada yang akan terjadi pada Kakak, kamu lihatkan Kakak baik-baik saja. Apa kamu mengkhawatirkan kak, Kenan?" Jelita pun mengangguk.
"Kak Kenan bukan Kak Exel jadi untuk apa kamu khawatir?"
"Tapi Kak_!"
"Jelita percaya sama Kakak, semua akan baik-baik saja. Dan terimakasih sudah perhatian dan mengkhawatirkan Kakak, tapi Kakak minta lain kali jangan pernah mengancam Reno lagi!" Jelita hanya mengangguk tanda mengiakan perkataan Dara.
__ADS_1
Ting...!
satu pesan masuk di gawainya Dara pun segera membacanya.
["Pulanglah lebih cepat jangan bermalam karena besok pagi kita akan keluar menemui client dan jangan menunggu ku pulang mungkin aku agak terlambat".]
"Serius amat sih kak,dari siapa?"
"Siapa lagi kalau bukan Kak, Kenan" jawab Dara.
"Emang dia bilang apa?"
"Dia menyuruhku jangan pulang larut malam, karena besok Kakak harus bangun pagi, dia mengajak Kakak keluar menemui client," terang Dara.
"Uuuh dasar memang Kak, Kenan apa dia tak bosan apa membahas pekerjaan di saat kita ingin bersenang senang saat ini?" gerutu Jelita sambil memanyunkan bibirnya.
"Itu lah keunikan Kakak mu itu"
"Bukan unik Kak tapi aneh!" sahut Jelita sambil terkekeh.
"Dah ayo Kak, dari pada ngomongin Kak Kenan yang aneh itu ayo kita siap-siap kita hari ini akan bebas jalan-jalan,dan aku yang traktir" ajak Jelita.
"Benarkah kita jalan-jalan?" pekik Dara karena selama ini memang Ia tak pernah keluar,walau hari libur dia akan ada di depan laptopnya, untuk mengkaji ulang pekerjaan yang di kantor, bahkan Kenan selalu memberi tugas yang tak terduga hingga ia pun tak ada kesempatan untuk, menghirup udara kebebasan.
"Aaaaaa....!"
''apa Kak Dara suka!?'' teriak Jelita begitu melihat wajah Kakaknya yang begitu ceria terus berteriak seolah meneriaki kebebasannya, begitu ia naik dari wahana satu ke wahana yang lainnya.
"Iya Je, Kakak sangat suka sekali huuu aaaa.."
Ia terus berteriak seolah tak pernah merasa kan kebebasan emang benar sih kan selalu sibuktu ma Exel😆
''Kakak lapar apa boleh kita turun untuk makan?'' cicitnya.
''Ayo aku juga lapar Kak setelah itu kita naik komedi putar ya Kak,'' ajak Jelita dan di angguki Dara. Merekapun turun untuk mencari menu favorite mereka karena cacing di perut merekapun perlu di kasih makan.
Setelah puas mereka pun bergegas pulang karena waktu yang tidak terasa sudah menunjukkan pukul 10 malam.
Drt drt drt..!
__ADS_1
''Tunngu dulu Kak, sepertinya ada yang menelponku!'' celetuk Jelita, ia pun segera mengangkat panggilannya.
''Halo ya! apa? sekarang kamu dimana? okey baiklah tunggu aku, aku akan segera kesana!'' ucap Jelita dengan wajah cemasnya. Dara pun hanya bisa menatap heran. Setelah sanbungan terputus Jelita menatap Kakaknya
''Kak apa Kakak bisa pulang sendiri? soalnya Jelita mau kerumah teman dulu, kasihan dia Kak, karena dia dalam masalah besar, Kakak bawa saja mobilnya nanti Jelita akan naik taxi saja.'' terang Jelita.
''Tapi ini sudah malam Je, biar Kakak naik taxi kamu yang bawa mobilnya, dan ingat untuk cepat pulang!'' seru Dara.
''Iya Kak, aku pasti langsung pulang kalau masalah temanku selesai'' jawab Jelita.
''Hai Dara, Jelita. Sedang apa kalian di sini?'' sapa seseorang mengejutkan mereka.
''Kak, Devan, kau mengejutkan kami!'' cicit Dara dan Jelita, membuat yang empunya nama hanya bisa nyengir kuda.
''Kami lagi jalan-jalan Kak, Kakak sendiri ngapain di sini?'' tanya balik Jelita.
''Kakak, tadi ketemu teman tapi sekarang temannya sudah pulang dan Kakak pun sudah mau pulang.'' jelas Devan.
''Kebetulan sekali Kak, apa aku boleh minta tolong?'' tanya Jelita penuh harap menatap Devan.
''Minta tolong apa?''
''Antarkan Kak, Dara, pulang karena Jelita mau kerumah teman'' tuturnya melirik sang Kakak.
''Tapi Je, Kakak bisa pulang sendiri kok naik taxi!'' cicit Dara, karena merasa tidak enak harus merepotkan Devan.
''Sudah tidak apa-apa aku tidak mau kamu kenapa-kenapa di jalan, dan lihat sepertinya sebentar lagi kayaknya akan turun hujan.'' ujar Devan sambil menatap langit.
Dara pun terpaksa ikut Devan karena Devan kini menarik tangannya, sedangkan Jelita sudah melesat pergi.
Dan benar saja begitu mereka masuk di mobil hujan tiba-tiba turun dengan derasnya.
''Aku fikir kamu hari ini keluar kota dengan Kenan, kenapa tidak ikut.?'' tanya Devan sambil menatap Dara yang duduk di sampingnya.
''Sebenarnya aku ingin ikut Kak, hanya saja Jelita ingin aku datang menemuinya.''
''Owh...'' ucap Devan ber oh ria dan tiba-tiba saja mobilnya terhenti ketika memasuki kawasan yang sepi.
''Damn!'' umpat Devan, Ia pun segera menghubungi seseorang namun tak ada jawaban.
__ADS_1
''Ada apa Kak, apa mobilnya rusak!?'' seru Dara.
''Entahlah, sepertinya Ban nya' kempes, tapi kita tunggu hujan reda dulu baru ganti Bannya, soalnya Kakak sudah menelpon bengkel tapi tidak ada jawaban'' ujarnya menjelaskan. Devan merasa tidak enak hati saat ini, karena harus terkurung dengan Dara di tengah hujan dengan mobil yang mogok.