Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Stop!


__ADS_3

"Amara bisa tidak kamu bicara secara baik-baik, Aku minta Maaf, atas apa yang pernah aku lakukan sebulan yang lalu, anggap di antara kita tidak terjadi apa-apa." Ucapnya tanpa rasa bersalah.


"Stop! keluarlah, aku membencimu! pergi-pergi! aku membencimu!" teriak Amara sambil menangis sesenggukan hatinya begitu hancur, disaat mendengar apa yang di ucapkan Darandra tanpa ada rasa bersalah. Apa lagi di tambah kepalanya yang semakin terasa sakit.


"Amara kamu kenapa?" Darandra benar-benar khawatir melihat Amara yang begitu pucat megang kepalanya.


"Stop! jangan sentuh aku. Aku sudah bilang keluar dari tempatku!" tatapnya sengit penuh kebencian, saat Darandra mencoba untuk menyentuh nya. Ia lalu memilih meraih gawainya yang berada di atas Nakas lalu menelpon seseorang.


"Kak Danu kenapa nomor nya tidak aktif!" cicitnya merasa kesal. Ia ingin menelpon Danu untuk menemaninya, tapi sayang nomornya tidak aktif sama sekali.


"Untuk apa kamu menghubungi lelaki itu bahkan kamu sudah membiarkan dia menyentuh mu!" Darandra merampas gawai milik Amara lalu melemparkannya ke dinding hingga membuatnya hancur berkepi-keping.


Amara menatap tajam melihat telpon genggam miliknya berserakan di atas lantai sudah tidak berbentuk. Sungguh ia tak habis fikir dengan jalan fikiran lelaki di depannya itu, namun Amara memilih diam tanpa ingin berdebat lagi.


"Aku akan menggantinya dengan yang baru" Amara masih diam ia memilih memejamkan mata nya daripada mendengar ocehan Darandra yang membuat kepalanya semakin sakit.


"Amara makanlah sesuatu lalu minum obatmu aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa."


Mendengar ucapan Darandra yang penuh ke khawatiran membuat Amara mengerutkan alisnya.


"Apa peduli mu dengan hidup dan matiku! jangan terlalu berlebihan aku tidak menyukainya, jangan membuatku kembali berharap."


"Aku tidak perduli dengan hidup dan matimu, yang aku pedulikan hanya kalau kamu sakit siapa yang akan menemaniku mencari cincin tunangan ku dengan Tasya. Dan aku tidak pernah menyuruhmu untuk berharap." Ucapnya dengan santai, dan itu benar-benar membuat Amara semakin dibuat kesal bagaimana tidak di waktu yang bersamaan ia membolak balikan kata-kata Amara.

__ADS_1


"Amara memilih meringkuk tidur membelakangi Darandra, Namun membuat Darandra kesal, karena ia merasa belum puas mengerjai Amara, itu ia lakukan karena Amara membuat sang Junior nya tidak lagi berfungsi dengan sempurna. Dan Menurut dokter untuk mempunyai keturunan itu akan sulit.


"Amara apa kamu sudah tidur ucapnya beberapa saat kemudian. Namun tak ada jawaban ia hanya mendengar dengkuran halus dari Amar.


"Cepat sekali ia terlelap." Cicitnya kemudian ia mendekati Amara dan menatapnya secara seksama.


"Kau ternyata terlihat manis dan cantik" puji nya tanpa sadar.


Deg.


"Ada apa dengan ku?" lirihnya megang dadanya yang tiba-tiba saja terasa sesak. Seperti ada sesuatu yang menghimpit di dalamnya, di sentunya wajah Amara, dan entah mengapa seperti sebuah magnet, sesuatu dalam dirinya aktip secara tiba-tiba. Hingga membuat dirinya sulit untuk percaya.


"Tidak in tidak mungkin." Gumamnya dengan raut wajah penasaran yang mendominasi.


"Sayang kenapa kamu lama sekali bagaimana dengan Amara, apa dia baik-baik saja?" begitu melihat calon tunangan nya keluar dan ikut bergabung,Tasya pun langsung memberondong Darandra dengan pertanyaan. Membuat semua orang di tempat itu menoleh ke arahnya.


"Iya kak bagaimana dengan Amara? cicit Jelita yang dari tadi tak tenang dengan keadaan adik iparnya itu.


"Kalian semua jangan khawatir Amara baik-baik saja hanya dia butuh istirahat yang cukup, untuk itu aku meninggalkannya saat ia sudah ter tidur" terang Darandra membuat semuanya meras lega.


"Jhony ayo Kemarilah, kenalkan ini Kakakku." Cicit Jelita memperkenalkan Jhony, Jhony pun menyambut hangat uluran tangan Darandra.


"Jhony...!" ucap Jhony menjabat tangan Darandra.

__ADS_1


"Darandra...!" ucap Darandra juga menjabat tangan Jhony.


"Oh iya kenalkan juga dia kekasih ku Tasya" selanya, Tasya dan Jhony saling menatap, lalu mereka saling menangkupkan tangan di depan dadanya sambil tersenyum, jika Tasya tersenyum karena terpaksa lain halnya dengan Jhony ia tersenyum penuh luka, terlihat dari caranya, yang terus menatap kedua tangan yang di depannya yang terus bergandengan.


"Maaf semua seperti nya saya tidak bisa lama-lama disini karena ada yang lagi menunggu. Okey Bro semoga kalian bahagia dan langgeng sampai menua." Doanya tulus sambil menepuk bahu Darandra, dan di amini oleh Darandra.


"Oh ya Je, Damara, aku pamit jaga istrimu baik-baik Brader, dan terima kasih atas undangan nya dan penyambutannya keren."


Dan tepat pukul 01:00 dini hari tempat itu pun sangat sepi karena semuanya sudah pulang.


"Sayang aku mau menengok Amara dulu, apa boleh. tentu saja boleh sayang biar aku yang mengantarmu, kesana" dan benar saja Jelita dan Damara melangkah menuju kamar Amara.


Ceklek.


"Ternyata Amara tidur sayang kalau begitu kita pergi saja kita tidak bisa mengganggunya Kasihan dia seharian ini dia menemaniku di kamar." Sela Jelita


"Oke baiklah besok pagi-pagi sekali kita ke sini untuk menemuinya lagi" timpal Damara,Jelita pun mengangguk setuju dan meninggalkan ruangan itu sebelumnya mereka kembali menutup pintu dengan rapat Sesampainya di kamar Damara pun langsung membawa istrinya masuk ke dalam bathroom untuk membersihkan tubuh mereka yang gerah dan Jelita masih tampak kelihatan malu-malu dengan apa yang dilakukan suaminya karena suaminya kini membantunya melepaskan semua pakaian melekat pada dirinya itu.


"Sayang aku_" ucapan Damara tercekat saat memandang tubuh sang istri dari belakang. Damara pun mengecup punggung Jelita, membuat Jelita kini meremang. Melihat istrinya yang diam saja, Damara pun langsung melancarkan serangannya la terus saja menyecap dengan lembut bagian tengkuk Jelita sedang satu tangannya mengelus lembut kedua gundukan yang sudah mengencang karena ulahnya itu.


Damara membalikan tubuh istrinya biar menghadap ke arahnya. Ia Pun mendudukan Jelita di atas bathtub yang berada di dalam kamar mandi tersebut. Dan Ia pun segera membuka seluruh pakaiannya hingga Ia pun polos seperti bayi yang baru lahir.


Damara pun segera masuk ke dalam dan duduk bersimpuh di depan istrinya yang masih duduk di atas bathtub Ia membuka sedikit lebar kaki jelita lalu ia pun menundukkan kepalanya mengecap, dan menggelitik dengan lembut, dan sangat dalam sesuatu milik jelita yang berada di bawah sana.

__ADS_1


membuat Jelita menggelinjang tak karuan Ia meliuk-liukkan tubuhnya bagai cacing yang kepanasan membuat Jelita mencengkram rambut Damara dan menekan kepalanya agar Damara melakukan yang lebih dalam lagi dan benar saja kini dia terus mempermainkan lidahnya hingga membuat sensasi yang luar biasa ia rasakan.


__ADS_2