Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Jadi Jelita Hamil.


__ADS_3

Berapa bulan usia kandungan nya?" tanya Damara penasaran.


"Seingatku kurang lebih 3 bulan" Terang Jhony.


Deg


"Jadi Jelita hamil semenjak aku pergi" lirihnya mulai berkaca-kaca.,,


"A-aku akan menjadi seorang Ayah, Amara." Ucapnya terbata sambil menatap Amara dan Jhony.


"Iya kak aku pun akan menjadi aunty nya" balas Amara tersenyum haru sambil menyeka sudut matanya yang sudah ber air.


Sedangkan Jhony ikut menganggukinya.


Jhony pun mulai menceritakan semuanya, apa yang sebenarnya terjadi pada Jelita selama sepeninggal Damara, dan Damara pun begitu terpukul mendengar semuanya, begitu juga dengan Amara karena merasa dialah penyebab semua kekacauan ini terjadi.


"Di saat aku berusaha membuatnya bahagia, di saat itu pula aku tanpa sengaja telah membuatnya kecewa, dan disaat aku ingin melihatnya tertawa disaat bersamaan pula aku mengores luka yang membuatnya menangis. Aku, begitu bodoh selalu mengulangi kesalahan yang sama, apa yang akan aku jelaskan padanya jika sesuatu terjadi pada kandungan nya...hik...hik...hik..." Damara menangis dalam sesalnya Dan ini untuk pertama kalinya ia merasa begitu hancur, karena kesalahannya sendiri.


Amara tak kalah sedihnya melihat sang kakak yang terkenal angkuh itu, kini terlihat terpuruk tidak berdaya, Sedangkan Jhony terus berusaha memberikan kekuatan lewat tepukan tangannya di pundak Damara.


"Kalian bisa memulai semuanya dari awal percaya padaku Jelita pasti memaafkan mu ceritakan semua apa yang kamu alami selama ini kejujuran dan keterbukaan mu padanya pasti akan membuatnya merasa di hargai dan di butuhkan." Terang Jhony


"Dan aku yakin Jelita akan baik-balik saja dengan kandungan nya Kak," sela Amara


"Terima kasih kamu selama ini sudah menjaga istriku dan aku minta maaf karena sempat berlaku kasar padamu!" Ucap Damara tulus. Dan itu membuat Amara mengerutkan Alisnya seorang Damara yang datar meminta maaf dan mengucapkan terima kasih pada orang lain.


"Sudahlah tidak apa-apa aku juga banyak salah pada Jelita" ungkap Jhony


"Oh iya kejadian waktu di taman malam itu kau dan Jalita?" tanya Damara penasaran.


"Apa? kenapa Kamu bisa tahu?" tanya Jhony balik dengan heran.


"I-itu aku disana melihatnya bahkan merekamnya" terang Damara pelan sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

__ADS_1


"Kau! hah...apa kau harus merekamnya juga, dasar mesum, kau memalukan sekali, itu sama saja kau menjatuhkan harga diriku!" kesal Jhony yang berusaha menutupi rasa malunya, bukan karena gagal mendekati Jelita tapi karena sang Juniornya yang langsung kena tendangan dari Jelita waktu itu.


"Apa! ap-apa Jelita benar-benar melakukannya padamu? tapi kenapa aku tak melihatnya waktu itu, huh dasar sial kenapa aku tidak merekamnya sampai habis ya..." Tutur Damara lagi yang semakin membuat wajah Jhony memerah menahan malu.


Sedangkan Amara terlihat tampak bingung dengan pembicaraan aneh ke dua lelaki di depannya yang tidak dia mengerti.


"Untuk itu aku sarankan hati-hati dengan Jelita kalau kau tak mau khek..." Ucap Jhony dengan memberi isyarat tangan di lehernya. membuat Damara dengan susah payah menelan Saliva nya saat membayang kan jika itu terjadi pada miliknya. Jhony pun tersenyum devil melihat ketakutan di wajah Damara.


"Lalu siapa yang memberi tahu kalian kami di sini?" tanya Jhony selanjutnya.


"Apa kau lupa siapa aku, aku Selalu menyuruh anak buah ku Mengawasi kalian" jelas Damara.


"Pantas saja." Ucap Jhony


"Pantas apanya?" sela Damara


"Ambekan." Canda Jhony


"Kau!_"


"Saya suaminya Dok!" cicit Damara.


"Bagaimana istri saya Dokter?" lanjutnya lagi dengan rasa khawatir.


"Ayo ikut saya, saya akan menjelaskan semuanya." Damara pun ikut mengikuti Dokter masuk kedalam sebuah ruangan.


"Duduklah....!" Ucap dokter mempersilakan. Sedangkan Damara harap-harap cemas menunggu apa yang akan Dokter itu sampai kan padanya mengenai Jelita.


"Begini Tuan, apa istri Anda pernah mengalami benturan keras di perutnya, sebelumnya?"


"Benturan?" Damara mengingat kembali kejadian di malam ia menyiksa istrinya itu.


"Pernah Dok! apa ini ada hubungannya dengan istri saya?" tanya Damara mulai cemas.

__ADS_1


"Ya Anda benar sekali Tuan, benturan keras itulah yang kini kembali terluka dan membuatnya kesakitan, dan ini di akibatkan karena dia terjatuh dan beruntung saja janin nya tidak apa-apa lain kali jangan membuatnya terjatuh atau terlalu banyak berjalan. Ini untuk sementara waktu saja sampai memar di dalam nya bisa sembuh saya akan memberikan nya obat untuk memar di dalamnya" lanjut Dokter lagi menuliskan sebuah resep.


"Anda bisa menebusnya di farmasi" ujar sang Dokter sambil menyodorkan kertas resep obatnya.


"Anda juga harus memperhatikan pola makan istri Anda karena yang saya lihat istri Anda jauh lebih kurus dari sebelumnya usahakan jangan membuatnya stres atau tertekan" terang sang Dokter kembali dan di angguki Damara.


"Satu lagi Dok! apa saya boleh melakukannya" Tanya Damara dengan suara hampir tak terdengar dan wajahnya pun memerah menahan malu, ia merutuki kebodohannya karena bisa-bisanya dia bertanya hal sensitif pada sang dokter. Sedang sang Dokter hanya tersenyum simpul mengerti kemana arah pertanyaan Damara.


"Anda boleh melakukannya jika istri Anda merasa nyaman dan tidak merasa tersakiti Anda boleh bertanya pada nya. Dan lakukan dengan hati-hati" Jawab sang dokter dan Jawaban dokter tersebut tentu mampu membuat Damara bernafas lega karena bukan tidak mungkin dia bisa menahan dirinya, apa lagi hampir tiga bulan mereka berpisah.


"Kalau begitu saya permisi Tuan istri Anda boleh pulang kok jika Anda ingin merawatnya di rumah tapi ingat pesan yang saya sampaikan tadi."


"Baiklah Dokter terima kasih" Jawabnya di sertai anggukan, Damara pun bergegas menemui istrinya namun sebelumnya, ia menemui Amara dan menugaskan nya untuk pergi menebus obat yang di resep kan Dokter. Sedang kan Jhony pamit pulang karena tiba-tiba ia mendapatkan telpon mendadak.


Dan di sinilah Damara di samping bangkar sang istri dengan lembut ia meraih jemari tangan jelita yang begitu lentik.


"Sayang buka matamu aku mohon aku sangat merindukanmu, maafkan aku, karena aku terlalu bodoh dalam mencintaimu, maafkan semua kesalahan ku, aku berjanji tidak akan meninggalkanmu sendiri lagi, dan kamu bisa menghukumku sesukamu apa pun itu yang terpenting kamu bahagia tapi bangunlah."


Damara terus saja mengajak Jelita berbicara ia berharap Jelita segera membuka matanya, hingga.


Tok...tok...tok...


"Masuklah...!" serunya


"Ini Kak obat yang kakak pesan bagaimana apa Jelita sudah sadar Kak?"


"Belum Ra!" Jawab Damara sambil meraih bingkisan dari tangan Amara.


"Kakak tenang saja mungkin obatnya masih bekerja aku yakin sebentar lagi Jelita bangun kok," Ucap Amara menenangkan sang kakak.


"Kak! aku pamit pulang ke rumah dulu ya karena sudah ada Kak Rony yang menjemput ku." Damara hanya menggangguk tanda mengiakan.


"Hati-hati, kakimu kan masih sakit, kamu jangan banyak berlari atau berjalan dulu!"

__ADS_1


"Iya Kak, sahut Amara berbalik sambil tersenyum, ia pun segera meninggal kan Damara sang Kakak hanya ber 2 dengan Jelita.


__ADS_2