Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Tidak Ada Hubungan.


__ADS_3

"Apa-apaan ini…!?"


"Sas-sayang aku hanya, sudah kau pergi sana!" Damara mendorong tubuh Rony hingga Rony melepas pelukannya.


Sedang kini Jelita menatap ke dua lelaki di depan nya itu dengan tatapan tajam seperti ingin menguliti mereka.


"Sas-sayang dengarkan aku dulu. Aku dan Rony hanya_"


"Hanya apa? hanya Asisten dan majikan gitu? itu aku sudah tau." Kesal Jelita menjeda kalimat Damara, sedang Damara memberi kode pada Rony untuk segera pergi meninggalkan nya.


"Tidak Tuan saya tidak akan pernah meninggal kan Anda, bukankah kita pernah berjanji dulu. Seiya sekata seiring irama, Jadi biarkan saya menjadi tameng Anda Tuan, itu akan jadi bentuk rasa sayang saya kepada Anda"


"Kau! gaji mu akan aku potong setengah." Geram Damara karena ia merasa jengah dengan ungkapan Yang sengaja di lakukan Rony, ia tau sahabatnya itu ingin membalasnya.


"Kamu jangan takut Ron…gajimu naik dua kali lipat" timpal Jelita membuat Rony maupun Damara membulatkan matanya.


"Beb-benarkah itu Nona?" tanya Rony tidak percaya. Dan di angguki cepat oleh Jelita.


"Sas-sayang kau apa-apaan, kenapa kau memberi nya gaji sebesar itu? bukankah aku sudah memotongnya. Kau! awas kau Ron…!"


Tunjuk nya pada Rony sambil memberikan ancaman.


"Sayang kau tidak perlu mengancamnya karena sekarang aku sedang kesal!


Rony, kau boleh pergi sekarang! dan soal gajimu biar Damara yang akan membayarnya dua kali lipat" ucap nya sambil melipat tangan di depan dada.


"Sayang…kenapa semua harus aku yang di salahkan...? dan kenapa aku yang harus membayarnya bukankah kau sendiri yang menaikkan gajinya?"


"Lalu haruskah aku menyalah kan suami tetangga!" Kesal Jelita

__ADS_1


Dan kau itu suamiku dan kau adalah bos nya jadi wajar kau yang harus membayarnya!" ketus Jelita, dengan senyum yang tersembunyi.


"Bukan itu maksudku sayang tapi kenapa bukan Rony, yang di salahkan bukankah kau lihat sendiri dia yang datang memelukku."


"Tapi kau menikmati nya juga kan?"


"I-iya mam-maksudnya iya mau bagaimana lagi aku tidak bisa menghindarinya,"


"Kau kan bisa menolaknya dengan mengatakan stop apa susahnya sih? atau setelah putus dari Renata kau beralih ke lain jenis juga ya?" ucap Jelita dengan tatapan yang mengintimidasi.


"Sayang kau harus percaya padaku aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Rony."


"Tidak untuk kali ini! dan kau harus tidur diluar kamar!" namun baru saja Jelita ingin menutup rapat pintu Damara berhasil masuk terlebih dahulu dengan mengunci pintu.sedangkan kunci sudah di lempar ke atas lemari yang berada di kamar tersebut.


"Sayang kau! kembalikan kuncinya aku mau tidur di kamar baby Ar, saja."


"Tidak akan, karena aku akan membuktikan padamu kalau aku masih normal, aku hanya menginginkan mu bukan yang lain." Ucap Damara dengan senyum yang menyeringai.


Jelita menelan Saliva nya dengan susah payah saat membayangkan apa yang akan di lakukan Damara selanjutnya setelah ini padanya. Apa lagi suaminya itu kini menghimpit tubuhnya ke dinding dengan kedua tangan yang sudah di rentang kan oleh Damara hingga membuatnya tak bisa bergerak sedikit pun.


"Sas-sayang Baby AR, di kamar sendiri" cicitnya beralasan.


"Aku sudah menyuruh Siti menjaganya, dan sekarang aku tidak mau kau mencari alasan, bukankah tadi kau menuduhku menyukai sesama jenis? aku akan perlihatkan padamu kalau aku hanya menyukaimu, bukan yang lain."


"I-iya aku tau, kau menyukaiku. Tadi itu aku hanya, aku hany_uump" kalimatnya terjeda saat Damara menautkan bibirnya dan tautan yang semulanya biasa kini jadi lebih menuntut di saat Damara memperdalam tautannya, bahkan kini Jelita ikut membalasnya dengan saling membelit lidah dan bertukar Saliva. Apa lagi di saat tangan Damara aktif membelai dua bagian favoritnya itu, membuat Jelita memejamkan matanya saat merasakan sensari luar biasa pada tubuhnya.


Kini Damara beralih masuk kedalam ceruk leher Jelita menggigit dengan lembut hingga meninggal kan tanda bekas kepemilikan nya,


"Sayang ak-aku hah…" Satu desa...han lolos keluar di saat Damara melu..mat dengan lembut dua buah favoritnya itu. Dan saat jemari tangannya membelai dan ingin bermain di bawah sana, Jelita tiba-tiba saja menahannya dengan pandangan yang sudah di selimuti kabut gairah. Damara menatap Jelita dengan intens.

__ADS_1


"Aku mohon jangan sekarang rengek Jelita menatap sendu wajah suaminya yang sudah memanas menahan hasratnya itu.


"Sa-sayang aku, aku…mohon mengertilah ini baru dua minggu kau harus sabar menunggu hingga 1 bulan kedepan."


"Sayang apa kau tidak merasa kelewatan kau berusaha menggodaku dan menjebakku dan membuatku menderita seperti ini!" Damara hanya bisa menarik nafas dalam-dalam agar hasrat dan emosinya tidak meledak di waktu yang bersamaan karena istrinya itu.


Sedangkan Jelita hanya tersenyum kecut mendengar protes dari suaminya itu.


"Maafkan aku sayang, aku tidak bermaksud untuk_"


"Sudahlah lupakan semuanya" Sahut Damara menjeda ucapan Jelita sambil berjalan meninggalkan Jelita yang masih merasa bersalah pada suamiku itu. Jelita yang mengerti apa yang kini dirasakan suaminya segera menyusul dan menarik tangan Damar masuk ke dalam bathroom dan di sinilah ia menyelesaikan tugasnya untuk membantu Damara untuk menuntaskan rasa yang membelenggu pada dirinya itu.


"Aku rasa tidak buruk juga walaupun harus menunggu 1 bulan tapi kalau ada kamu seperti ini terus membantuku aku rasa semuanya akan baik-baik saja Bagaimana Sayang?" Tanya Damara tersenyum jahil di sela-sela mereka membersihkan diri masing-masing.


"Kau jangan aneh-aneh saja.l Masa sih kau akan terus melakukan seperti ini setiap hari bagus kalau aku mau membantumu kalau tidak?"


"Bagaimana? ya kalau tidak aku akan terus menggodamu sampai kau mau melakukannya" ucap Damara sambil nyengir kuda Jelita yang Jengah mendengar bualan Damara mencubit perutnya yang sixpack itu.


"Aduh Sayang sakit."


"Habisnya kau bisa-bisanya bicara seperti itu macam-macam saja. Kalai ngomong tidak pernah disaring!" Kesal Jelita menekuk wajahnya.


"Maaf, maafkan aku Tuan Putri aku kan cuma bercanda saja. Sayang kamu jangan marah, karena kalau kau marah nanti wajahmu itu semakin cantik dan aku semakin tergila-gila kepadamu Tuan putriku" Kekehnya dengan terus menggoda Jelita yang sedang memasang wajah masam.


"Sudah-sudah ayo kita keluar Aku tidak mau baby AR menangis mencariku!" Damara pun mengangguk setuju, dan segera menyelesaikan aktivitas bersih-bersih nya itu.


"Aaawww…Sayang turunkan aku!" Jelita menjerit begitu merasakan tubuhnya melayang di udara namun sesaat kemudian ia segera mengalungkan tangan di leher suaminya itu dan seperti biasanya Damar akan mengurus semua perlengkapan Jelita. di saat ia masuk membawa Jelita ke dalam Walking closet. Setelah semuanya beres Mereka pun keluar untuk menemui baby AR di dalam kamar yang terhubung juga dengan kamarnya, keduanya tersenyum bahagia saat melihat Baby AR, terlelap dengan tenang.


Hai Jagoan Papi kamu masih bobo ya padahal Papi kangen sama kamu pengen main sama kamu sayang Damara mengelus dengan lembut wajah sang bayi kemudian Ia pun mencium pipi gembulnya dengan penuh cinta dan kasih sayang.

__ADS_1


"Sayang Kemarilah sebentar!"


__ADS_2