Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Jelita mulai Kepo


__ADS_3

"Tolong...! Dokter, tolong cucu saya, selamatkan dia dokter, saya mohon!"


"Oke, lbu. Tenangkan diri dulu ya! kami akan berusaha semaksimal mungkin Ibu."


"Cucuku...cucuku! Huu..huu..huu..maafkan nenek yang terlalu sibuk, jadi tidak memperhatikanmu Nak, Maafkan nenek ini!" tangis wanita baya itu pecah, meratapi nasib cucunya yang berjuang di dalam sana.


Jelita dan Amara pun mendengar ratapan pilu wanita baya tersebut, sesaat kemudian mereka saling melempar pandangan sebelum memilih melanjutkan langkah untuk mendekati wanita baya tersebut. Mereka ikut merasa terenyuh menyaksikan kejadian tersebut.


"Maaf, permisi! kalau Boleh saya tahu ada apa ya Bu?" mendengar ada suara seorang wanita menyapanya wanita baya tersebut mengangkat kepala yang semula terduduk tak berdaya, la lalu menatap dua orang wanita cantik yang tidak ia kenal sama sekali berdiri tepat di hadapannya dan seorang lagi tengah menggendong bayi yang masih merah.


"Maaf siapa kalian? apakah aku mengenal kalian? atau sebaliknya kalian mengenalku?" Rentetan pertanyaan di lontarkan wanita baya tersebut dengan tetapan sedih bercampur bingung.


"Saya tidak mengenal Anda, dan Anda juga tidak mengenal saya, tapi kebetulan saya ingin bertemu Anda untuk itulah kami mengikuti Anda hingga kerumah sakit ini,


Dan saya melihat Anda hanya sendiri jadi saya berinisiatif sendiri untuk ke sini karena saya melihat ibu seorang diri tanpa ada yang menemani sedang kan lbu hanya di antar sopir."


"Iya nak cucu lbu, cucu Ibu jatuh dari tangga Ibu bingung harus mengatakan apa Nanti pada Ayahnya, jika anaknya kenapa-kenapa" kembali tangis si Ibu pecah,


"memang orang tuanya ke mana ya Bu?" tanya Jelita mulai kepo.


"Ayahnya Anak saya tapi sudah satu minggu ini dia keluar kota."


"Apa lbu sudah menelponnya?"


"Sudah Neng, tadi saya sudah berusaha menelponnya katanya hari ini dia akan balik ke sini."


"Lalu Mamanya ke mana?


"Wanita ****** itu sudah pergi meninggal akan anaknya ketika dia masih merah ketika baru lahir, jadi aku bersama Baron yang membesarkan Anak ini."


"Oh oke ibu sekarang duduk dan Tenangkan diri ibu ya! kita berdoa saja bu semoga semuanya baik-baik saja." Jelita menuntun wanita baya itu untuk duduk di salah satu kursi besi yang ada di rumah sakit tersebut.


"Emangnya sih Neng ini siapa? Dan tadi Neng bilang mau bertemu lbu? apa sih Eneng berdua korban dari Baron?" tanya wanita baya itu. Begitu bokongnya mendarat di kursi.


"Maksud ibu...?" tanya Jelita binggung.


"Perkenalkan Nama Ibu, Sofia, Ibu mempunyai anak laki-laki yang bernama Baron, dulu pernikahannya sangat bahagia bersama wanita yang sangat dicintainya wanita itu dari kalangan orang yang kaya raya, sedang ibu. Ibu tak pernah setuju Neng melihat Baron harus menikah dengan Lisa, tapi apa mau dikata wanita itu yang selalu mengajar-ngejar Baron hingga pada akhirnya Baron menikahi wanita tersebut Namun pada saat dia melahirkan keluarganya datang dan


Membawanya pergi karena Wanita itu sudah


dijodohkan dengan pria lain. keluarganya tidak sudi menerima keturunan miskin dari anak lbu, dan setelah melahirkan pun dia meninggalkan Baron dan mengirimkan surat cerai Baron yang dulu pendiam dia kini berubah drastis 180 derajat. Ibu juga tidak tahu harus bagaimana lagi untuk merubah sifatnya itu. Sudah banyak dia menikahi wanita namun pada akhirnya wanita itu dia terlantarkan dan disiksa." tutur Ibu Sofia panjang lebar.

__ADS_1


"Saya takut kalau Neng -Neng ini adalah korban dari anak Ibu, saya mohon dengan sangat Maafkan anak saya ya, Ibu tahu anak saya salah, tapi Ibu yakin dibalik kekasarannya itu dia punya hati yang sangat lembut selembut kapas saya jauh lebih mengenalnya karena saya adalah ibunya yang melahirkannya, dengan penuh cinta dan kasih sayang." Terang Ibu Sofia panjang lebar dengan wajah sendunya.


"Baron melakukan semua itu mungkin dia merasa karena selama ini dia tidak pernah dihargai yang merasa sakit hati dan dendam pada mantan istri yang telah menghinakan dan meninggalkannya menikah dengan orang lain." Terlihat ada ke khawatiran di wajah ibu tersebut, ketika mengakhiri ucapannya dan menatap secara bergantian Jelita dan Amara.


"Kami berdua bukanlah korban dari anak ibu. kami ke sini mau minta bantuan pada ibu." "Apa maksudnya ini Neng kok Neng minta bantuan sama Ibu? apa Ibu bisa membantu si Eneng?"


"Insya Allah pasti bisa Bu."


ucap Jelita sambil menatap Amara lalu menatap sang ibu.


"Apa yang bisa Ibu bantu pada neng? Neng ayo ceritakan pada ibu!"


"Begini bu!" Jelita mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dan apa tujuannya untuk mencari Ibu Sofia. Dan betapa terkejut ia saat mendengar cerita dari Jelita.


"Apa! jadi Baron sudah menikah lagi? dan wanita itu_"


"Ya...wanita itu ada di rumah sakit ini namanya Renata Bu, kasihan dia Bu, dia itu tidak punya siapa-siapa lagi, dia itu Sebatang Kara apa Ibu mau membantunya.?"


"Dasar bedebah anak kurang ajar berani- beraninya dia membohongi ibu kalau saja ibu tidak mendengarkan katanya untuk Pindah ke rumah baru mungkin wanita itu tidak akan sampai harus masuk ke rumah sakit ini."


"Bagaimana kalau saya akan memperkenal kan lbu dengan Renata? Saya yakin Renata Pasti akan sangat senang" tawar Jelita penuh antusias.


"Iya Neng Ibu mau yang penting anaknya baik dan menerima Bara, apa adanya itu aja Neng" "Pasti ibu..ibu tenang saja. Renata itu juga orang yang baik kok, Ibu jangan khawatir."


"Kamu tunggu kakak di sini ya! Am, aku mau pergi ke Kamar rawat Renata dulu."


"Oke Kak, tapi jangan lama-lama karena Amara takut lalau Arjuna bangun."


"Oke jangan khawatir Kakak nggak akan lama kok," Jelita pun pergi meninggalkan Ibu Sofia dan Amara Ia pergi menuju di mana Renata sedang di rawat,


"Suster! maaf apa Renatanya ada?"


"Nona. Baru saja beliau ingin beristirahat karena habis minum obat penenang." terang Suster Susan.


"Obat penenang?"


"Iya karena Nona Renata merasa takut dan terancam."


"Baiklah terima kasih tapi bolehkan saya menemuinya?." Suster Susan pun mengangguk lalu pergi.


Tok tok tok.

__ADS_1


Jelita mengetuk pintu sebelum dia di izinkan masuk.


"Masuk! siapa? masuklah tidak dikunci kok! Ada apa Sus?"


"Hei ini aku!"


"Jelita, Kok kamu bisa ada di sini kamu lagi ngapain ke sini dan Dari mana kamu tahu kamarku?


"Bisa tidak nanyaknya satu-satu. Tentu saja aku tahu karena aku mencari tahu." Jawabnya kemudian.


"Oh…iya ya aku lupa hehehe" kekeh Renata tertawa. Hingga menampakkan gigi putih nya. "Oh iya Ren, sebenarnya kedatanganku ke sini_" Jelita menjeda kalimatnya.


"Ada apa?"


"ltu_ Tapi kamu jangan marah ya,"


"Kamu itu kenapa sih belum apa-apa juga nanya yang aku jangan marah Emangnya ada apa kamu Lagi berantem ya sama Damara gara-gara aku?"


"Bisa iya bisa juga nggak"


"Loh kok jawabnya begitu?"


"Iya kemarin sempat marah sama dia karena dia tidak mau memaafkanmu tapi setelah aku pikir-pikir Mungkin dia juga butuh waktu untuk melupakan semuanya."


"Iya benar, Kamu tidak usah memaksakan semuanya dulu ujung-ujungnya nanti kamu yang akan sakit."


"Lalu sekarang bagaimana?"


"Aku sudah baik-baik aja kok kamu jangan khawatir"


"Baguslah kalau kalian baik-baik saja aku senang mendengarnya."


"Tapi ada satu hal yang harus kamu tahu"


"Apa itu?" Renata menakutkan ke dua alisnya.


"Sebelumnya aku minta maaf dulu karena mungkin aku terlalu lancang terlalu ikut campur dalam urusanmu tapi aku hanya ingin membantumu tidak lebih"


"Iya katakan saja. Aku janji aku tidak akan marah kok" ucap Renata meyakinkan.


"Begini Ren, aku sudah mencari tahu alamat suamimu itu tapi dia tidak ada dirumah dan aku hanya bertemu sama mertuamu dan juga anak dari suamimu."

__ADS_1


"Mertua anak?" Renata menautkan alisnya.


"lya ternyata suamimu itu sudah pernah menikah dan mempunyai seorang anak. Tapi anak itu_"


__ADS_2