
" Mas aku, mm...min__"
"Sudah cukup. Aku tidak ingin mendengar lagi permintaan maafmu itu!" Baron mengulurkan tangannya kedepan dan membuka kelima Jarinya, sebagai tanda kalau la benar-benar ingin tidak ingin mendengar permintaan maaf dari Renata.
"Aku tidak menyangka, kau itu sama saja dengan yang lainnya, Apa kau masih tidak punya malu memikirkan Tuan Damara? jika iya lupakan. Karena jika kau berani memikirkannya walau sekilas saja, maka aku akan memecahkan kepalamu itu. Agar kau benar-benar tidak bisa berfikir lagi. Dan Aku tidak peduli dengan sakit mu.!"
Setelah berucap demikian Baron pun pergi meninggal kan ruangan tersebut dengan raut wajah yang extrem. Sedangkan Renata hanya menatap kepergian Baron dengan tatapan yang berkaca-kaca.
"Mas, aku tidak sedang memikirkan siapa-siapa Mas...! Aku hanya memikirkanmu, dan Bara, hiks...hiks...hiks..." Renata berusaha berteriak, hingga pada akhirnya la pun menangis terisak.
"Kenapa? kenapa begitu susah sekali menjadi orang baik, apa aku akan terus diam, dan bertahan atas perlakuanmu ini Mas..." Renata mengepalkan kedua tangannya. la pun menghapus dengan kasar air mata yang terus saja, mengalir di pelupuk matanya itu.
"Tidak! Renata ini bukanlah dirimu yang sesungguhnya, kau harus melakukan sesuatu untuk membalasnya, kau jangan pernah menjadi Renata yang lemah dan bodoh." Ucapnya pada diri sendiri.
Renata menatap tajam, sambil tersenyum miring.
"Yah! aku akan menggunakan Bara, untuk membalasnya. Mas, dan jangan panggil namaku Renata, jika aku tidak bisa membalasmu.!"
Kedua tangan Renata kembali mengepal, dengan tatapan tajamnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah tiga hari kemudian, Bara pun di perbolehkan pulang, sedangkan Renata sudah bersiap-bersiap untuk menemui putra dari suaminya itu, yah tanpa sepengetahuan Baron hubungan Renata dan Bara sangat begitu dekat, beberapa hari belakangan ini, karena Bara setiap hari meminta di antar kekamar Bundanya, dan Bara kecil meminta pada Bundanya, untuk segera pulang ikut dengannya ke rumah, namun Renata tidak bisa menjanjikan itu sebelum Baron mengizinkan nya.
Dan Renata tidak bisa meminta izin pada lelaki yang sudah menjadi suaminya itu.
Di karenakan Pria itu, tak pernah lagi datang menemuinya untuk bertegur sapa atau hanya sekedar menjenguknya saja.
Saat Renata masuk untuk menemui putranya itu, betapa terkejutnya la, saat mendapatkan kalau kamar itu ternyata sudah kosong. Bahkan tak ada apapun, disana kamar itu sudah kembali terlihat Rapi seperti tidak pernah di tempati. Renata pun sangat kecewa, karena Bara tidak menunggu nya.
Renata kembali menutup pintu kamar yang pernah di tempati Bara itu, dan kini la melangkah dengan lesu menuju taman di sekitar rumah sakit tersebut. la kini duduk sendiri untuk merenungi nasip nya.
__ADS_1
"Maaf, permisi Nona, apa boleh saya mengganggu Anda sebentar." Renata pun berbalik menatap seorang dokter tampan yang tiba-tiba saja menyapanya.
"D-Dokter David s-silahkan Dok...!" Jawab Renata gugup. Dokter David pun tersenyum menatap Renata yang nampak malu-malu. Lalu la pun mendudukkan bokongnya di atas kursi taman, tepat di samping Renata.
"Dia sudah pulang semalam." Ucap dokter David tiba-tiba, memecahkan keheningan diantara mereka.
"Maksud Dokter?" Renata mengerut kan alisnya, dengan wajah yang binggung dengan apa yang baru saja di dengar nya dari Dokter David.
"Maaf, maksudku Putra Anda, dia di bawa pulang semalam, ntahlah apa yang membuat mereka buru-buru untuk pulang tapi alasannya ada hal penting yang membuat mereka harus segera pergi dari sini."
"Lalu...?" Renata menatap miring dokter yang tampan yang duduk di sampingnya itu.
"Lalu apa nya?" Dokter David mengulang pertanyaan Renata. Membalas tatapan Renata.
"Lalu apa maksud Dokter menceritakan nya padaku.?"
"Karena saya, melihat seseorang masuk di kamar tersebut, dan keluar dengan raut wajah yang kecewa."
"Sudahlah. Aku sudah tidak ingin membahas nya lagi, sekarang biarkan aku sendiri apa boleh Dokter?" ujarnya dengan nada, sedikit mengusir.
"Baiklah, sebenarnya tujuan saya datang kesini ingin memberitahukan satu hal, bukan satu sih sebenarnya tapi dua hal," ralatnya dengan cepat.
"Tapi berhubung Anda ingin sendiri maka saya akan menemui pasien yang lain dulu. Maaf sudah mengganggu." Ucap dokter David yang sudah berdiri, la pun memberi menunduk memberihormat, dengan kedua tangan nya yang berada di dalam saku celana.
"Mungkin lain kali saja, saya menyampaikan nya." Dokter David pun segera berbalik, namun tiba-tiba saja ia merasa tangannya di tarik membuatnya berhenti dan berbalik.
"Aku ingin mendengar apa yang ingin dokter David sampaikan padaku!" melihat wajah serius Renata, membuat dokter David mengurungkan niatnya untuk pergi.
"Baiklah saya akan menyampaikan nya."
Dokter David meraih sebuah amplop di dalam saku kemejanya lalu menyerahkan nya kepada Renata.
__ADS_1
Renata pun meraih amplop putih itu, dari tangan dokter David.
"Apa ini Dokter?" Renata masih menatap heran.
"Bukalah, apa yang ingin saya sampaikan semuanya ada di dalam situ" ujar dokter David.
Dan tanpa menunggu waktu lama lagi, Renata segera merobek amplop tersebut, dan membuka isinya, lalu ia pun membaca apa saja yang tertulis di dalamnya.
"Nona Renata selamat hari ini Anda bisa pulang kerumah."
"Apa benar ini Dokter hari ini aku bisa pulang?" Cicitnya dengan penuh antusias. Sedangkan Dokter David hanya menanggapi pertanyaan,nya lewat anggukan dan sebuah senyuman.
"Lalu ini apa maksudnya Dok...?" wajah yang semula antusias kini berubah serius, sedangkan tangan Renata bergetar saat selesai membaca riwayat kesehatan nya.
"Ses-semua ini bohong kan Dokter? katakan padaku kalau semua ini bohong kan?"
"Tenangkan diri Anda dulu, dan dengar kan penjelasan saya, dengar! semua bisa di hindari jika Anda tidak hamil dan dan kita harus segera mengangkat kandungan Anda."
"Hah...Apa! tidak hamil, dan mengangkat kandungan? apa Anda sedang mempermainkan saya Dokter?" Renata menatap sinis, karena merasa kesal dengan, dokter di depannya itu, yang menurut nya se enak jidat nya saja membuatnya kesal, dengan bualannya yang ia rasa tidak masuk akal.
"Anda itu Dokter dan apakah Anda tidak bisa melihat kalau kandungan saya sudah di angkat."
"Apa di angkat? Nona saya ini seorang Dokter, apa Anda masih meragukan ke ahlian saya, atau kita bisa melakukan pengecekan ulang kalau kandungan Anda itu masih pada tempatnya, dan siapa yang mengatakan kalau kandungan Anda itu sudah di angkat? aku kira orang itu hanya ingin menipu Anda."
Mendengar penjelasan Dokter David panjang lebar, Renata pun perlahan menatap dengan tatapan intens.
"Apa semuanya benar Dok...! kalau aku benar-benar bisa mengandung lagi dan kandungan ku masih ada dan belum di angkat?" Tanya Renata dengan mata yang berkaca-kaca.
"Apa Anda masih meragukan ke ahlian saya Nona?" Renata hanya menggelengkan kepala, lalu la menghambur memeluk tubuh Dokter David, sedang Dokter David yang mendapat pelukan yang tiba-tiba dari Renata hanya terdiam kaku, apalagi saat Renata menumpahkan semua tangisnya, membuat nya semakin binggung. Karena ia tak pandai dalam menghibur seorang wanita yang tengah menangis. la hanya mengelus lembut bahu yang masih bergetar, itu.
"Bajingan kau Dokter cabul!"
__ADS_1
Bugh.