Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Aku Merindukanmu.


__ADS_3

Setelah kepergian Amara, Damara kembali mendekati ranjang besi dimana Jelita, masih setia menutup matanya, baru saja Damara ingin mendaratkan bokong nya matanya menetap pergerakan tangan Jelita dan benar saja ia pun melengguh, sambil mengerjap-ngerjapkan matanya. Damara pun segera mendekat.


"Sayang apa kamu sudah sadar?" Cicitnya.


"Air aku mau air" lirih Jelita, Damara pun segera bergegas meraih air di atas Nakas lalu menuangkannya ke dalam gelas kemudian memberikan nya pada Jelita.


"Minum pelan-pelan sayang" ucapnya lembut


"Bagaimana perasaanmu? tanya Damara lagi setelah Jelita membenarkan posisi berbaring nya. Jelita menatap lekat suaminya dengan tatapan sendunya.


"Sayang bicaralah padaku jangan mendiamkan ku seperti ini" Sela Damara yang melihat Jelita masih nampak diam nggan untuk bicara. Sedang Jelita kembali menatap lekat suaminya itu lalu tangannya menyentuh wajah Damara yang sedikit membiru akibat pukulan Jhony.


"Apa ini sakit?" tanya Jelita dengan wajah datarnya.


"Tidak ini tidak sakit, kau tau sakit ku, ketika aku berusaha menjauh darimu namun semuanya sangat menyiksaku." Tuturnya


"Aku ingin pulang ke rumah utama" pinta Jelita yang masih merasa kan nyeri di punggungnya. Sedang dia tak terlalu menimpali apa yang Damara sampaikan karena Rasa nyeri pada punggungnya.


"Pup-pulang rumah utama apa benar kamu ingin pulang kerumah utama sekarang?" tanya Damara meragu. Dan di jawab anggukan cepat dari Jelita.


"Tunggu aku panggilkan Dokter ya!" Damara pun lantas bergegas memencet tombol merah yang berada di ruangan tersebut, dan benar saja tak lama kemudian, seorang Dokter dan perawat masuk ke ruangannya.


Dan setelah Dokter masuk Damara pun menjelaskan apa keinginan istrinya.


"Baiklah Tuan saya akan menyuruh suster untuk mencabut infus nya dulu terang sang dokter. Setelah semua selesai Sang dokter pun pamit undur diri sedangkan Damara segera mempersiapkan istrinya.


"Ayo bangun katanya kamu mau pulang!" seru Damara bersemangat membantu Jelita duduk. Damara pun segera mengangkat tubuh ringkih sang istriaistri.


"Tunggu dulu Damar...kenapa aku harus di gendong aku masih kuat berjalan." protesnya karena masih merasa sungkan.


"Aku tau kamu sangat kuat tapi anakku. Kamu sedang bersamanya kan? aku tidak mau dia kenapa-kenapa, jadi diamlah! biarkan aku menggendongmu sampai ke mobil." Timpalnya Damara dengan nada datar nya.


Deg.

__ADS_1


"Jadi Damar sudah tau kalau aku sedang hamil dan dia mengakui kalau anak ini anaknya? apa aku dan dia pernah melakukan nya? tapi kenapa aku merasa dia dan aku_hah jadi apa benar dia memperkosaku_tidak-tidak ralat, maksudnya dia sudah melakukan itu tanpa sepengetahuan ku" Oh Tuhan kenapa aku tidak bisa merasakan seperti apa rasanya."


"Kamu kenapa menatapku seperti itu? apakah aku kurang tampan atau semakin tampan dari sebelumnya?" Sontak saja pertanyaan Damara membuyar kan apa yang di pikirkan Jelita.


"Tidak biasa saja!" Jawab Jelita malu menyembunyikan wajahnya di Dada bidang milik Damara.


"Oh Tuhan kenapa aku jadi berfikiran yang aneh-aneh sih?" Jelita pun merutuki dirinya. Sedang Damara hanya tersenyum lebar.


Sesampainya di mobil Damara langsung membaringkan Jelita di kursi belakang sedangkan pahanya di jadikan bantal oleh Jelita.


"Jalan Pak!" perintah Damara pada sang sopir.


Setelah itu mobil pun lantas melesat meninggalkan rumah sakit. 30 menit perjalanan ke rumah utama akhirnya mereka pun tiba Damara bergegas membawa Jelita masuk ke kamar yang masih sama tak ada perubahan semenjak ia meninggal kan rumah.


"Sayang Apa kau butuh sesuatu? jika Iya Katakan padaku aku akan mengambilnya untukmu dengan senang hati" ujar Damara kepada istrinya.


"Aku lapar." cicit jJelita


"Aku tidak mau makanan dari luar. Aku mau kamu yang memasak untukku. Aku mau nasi goreng se afood seperti yang pernah kamu masak dulu"


"Kalau begitu Tunggu Aku aku akan membuatkannya untukmu." Ujar Damar


"Tidak! aku tidak mau aku takut sendiri, aku tidak mau wanita itu datang mencelakaiku."


"Aku panggilkan Amara atau Siti untuk menemanimu bagaimana."


"Tidak! aku mau Bi sumi yang menemaniku." Pintanya.


"Baiklah akan aku panggil kan Bi Sumi." Damara pun segera memanggil Bi Sumi dan dia bergegas ke dapur untuk membuat makanan pesanan Jelita 15 menit masakan pun siap tersaji, Damara pun bergegas kelantai dua untuk menemui istrinya itu.


"Bi Sumi kok ada di sini Jelita nya mana Bi?"


Tanya Damara saat melihat Bi Sumi turun dari tangga.

__ADS_1


"Itu Nak Jelita nya katanya mau tidur!" jawab Bi Sumi, Damara pun hanya mengangguk mendengar jawaban Bi Sumi.


Ceklek.


Damara melangkah masuk sambil menenteng baki yang berisi makanan.


"Apa semua ibu hamil akan seperti ini saat lapar minta makan saat makanan datang malah di tinggal tidur" gumam Damara disaat mendengar dengkuran halus sang istri.


"Sayang bangunlah setidaknya isi perutmu dulu minum obat lalu kau boleh melanjutkan tidurmu, aku khawatir anak kita kenapa-kenapa apa lagi kamu masih lemas seharian ini kamu belum makan apa-apa kan,? jadi bangunlah dulu!" cicit Damara panjang lebar.


Namun ia sadar ia butuh kesabaran untuk mengahadapi istrinya yang sekarang ini.


Tak kunjung ada jawaban dari Jelita Damara pun memilih untuk merebahkan tubuh letih nya di samping sang istri dan kini ia pun menyusul Jelita masuk ke dunia mimpi.


Tepat pukul 10:00 malam Jelita terbangun dari tidurnya, ntah mengapa hari ini ia merasa sangat mengantuk dan lelah sekali, hingga membuatnya harus tertidur sebelum menyantap makanan yang di pesan dari suaminya itu.


Dan tentu saja matanya membulat di saat ia mengingat sesuatu.


"Ya ampun aku lupa kalau Dama_"


Suaranya tercekat di saat ia ingin bangkit dari tidurnya Namun ia merasa ada tangan yang kokoh yang melinghkar memeluk pinggang nya. Ia pun berbalik memutar tubuh, dan dada bidang milik Damara mengenai wajahnya.


Dan seketika jantungnya pun berdegup kencang.


Deg...deg...deg...


Lekat-lekat di pandangnya wajah Damara dalam remangnya cahaya lampu kamar, ia pun sedikit mendongak kan wajahnya, dan berusaha sedikit mendekat, hampir tiga bulan ia merindukan wajah ini, merindukan rasa hangat pekukannya.


"Aku merindukan mu!" lirihnya memeluk sang suami dan ia pun memberanikan diri untuk memberi kecupan pada bibir tebal dan sensual milik Damara.


"Sedang Damara yang tiba-tiba merasakan pergerakan Jelita pura-pura terpejam ia ingin tahu apa yang akan di lakukan Jelita padanya dan sungguh di luar dugaannya ternyata Jelita pun merindukan nya bahkan kini sudah mulai berani menyerang nya lebih dulu membuatnya menegang.


Hingga ia pun mau-tidak mau membalas pelukan sang istri, sadar mendapat serangan balik membuat Jelita malu setengah mati.

__ADS_1


__ADS_2