
Sore hari nya.
Renata pun siap-siap berkemas untuk keluar dari rumah sakit.
"Apa kalian sudah siap?" tanya Restu begitu masuk menemui Renata dan Amara.
"Untuk apa lagi kau datang ke sini Mas? Bukankah aku sudah menyuruhmu pergi?" tatapnya Renata sengit.
"Dan Bukankah aku mengatakan kalau aku akan selalu ada untukmu sampai kau sembuh."
"Mas, Kau jangan bermimpi, Karena Aku tak mau kita hidup bersama, dan selamanya kita bisa bersama!" Tegas Renata.
"Aku tidak sedang bermimpi Renata, tapi aku sedang ingin membangun sebuah kenyataan yang kubingkai dengan harapan."
"Sudahlah aku malas berdebat denganmu nanti kepalaku tambah sakit," Lalu Renata hanya memilih bungkam dari pada harus terus berdebat dengan mantan suaminya itu. Amara dan Renata pun memilih untuk keluar berjalan di depan sedangkan Restu mengikuti mereka dari belakang.
"Ayolah,, sebaiknya aku akan mengantarkan kalian pulang," Namun Renata masih memilih bungkam hingga la merasa tangannya di tarik dari belakang.
"Kau mau apa Mas? lepaskan!" Renata menghempaskan tangan Restu hingga tangan itu terlepas.
"Renata, Please...maafkan aku, dan aku berjanji untuk tidak mengatakan atau menyuruhmu melakukan sesuatu yang tidak kau inginkan, dan lebih baik aku mengantarkan kalian pulang,"
"Tidak usah Mas, lebih baik kamu pulang sendiri Kasihan anak-anakmu nanti mencari, keren kau sibuk mendekati istri yang sudah beesuami,"
"Aku hanya ingin mengantarmu pulang saja, please hanya mengantarkan saja Rena aku tahu kau hanya mengantarkan saja."
"Tapi kau tidak tahu kan alamat rumahku? di mana?" Tentu saja aku tahu siapa yang bilang aku tidak tahu di mana alamat rumahmu, Ayo ikut aku naik Renata dan Amara hanya melongo mendengar apa yang dikatakan Restu dia begitu kekkeh ingin mengantarnya, sedangkan Restu berjalan sambil tersenyum smirk.
"Bagaimana ini Ra?"
"Udahlah Kak, sebaiknya kita ikuti saja apa yang menjadi keinginannya Pak Tuan itu, lumayan kan untuk menghemat biaya." Mendengar Nama panggilan Restu dari Amara, Renata menakutkan kedua alisnya.
"Pak Tuan? Kenapa kau memanggilnya dengan sebutan itu?"
ya karena lidahku merasa nyaman aja Kak memanggilnya dengan sebutan itu," ucap Amara sambil tersenyum lebar.
"Kau ini ada-ada saja, ingat dia itu Bos mu loh" "Iya,, iya, aku ingat tapi dia kan tidak keberatan aku panggil seperti itu,"
"tapi kau tahu? panggilanmu itu seperti pencemaran nama baik. Masa namanya Restu kau panggil dengan Pak Tuan,?"
__ADS_1
"Cie...ada yang Jeles," goda Amara membuat nya mendapat cubitan kecil dari Renata.
"Kau ini apa-apaan sih?"
"Kakak Dia kan Bos bosku jadi aku manggilnya Pak Tuan saja, biar lebih enak."
"Terserah kamu saja lah." Renata pun mempercepat langkahnya saat mendengar seruan dari Restu untuk memanggilnya segera untuk bergegas.
"Kau sebenarnya mau membawa kami ke mana?" suka Renata
"Sudahlah lihat saja nanti kita akan ke mana?" Jangan bilang kalau kau akan menculik kami?" Timpal Renata.
"Oh ya, ampun apa wajahku ini terlihat seperti itu ya Mana aku tahu zaman sekarang kan banyak penjahatnya mukanya ganteng.
"Apa jadi wajahku masih ganteng ya terima kasih dengan pujianmu ternyata kau masih mengingat ketampananku ini,"
"Apaan sih Mas kau ino saja ada-ada saja, aku sedang Serius nih."
"Sejak kapan aku tidak pernah serius aku juga serius pada mu aku serius mencintai dan menyayangimu,"
"Mas, jangan mulai lagi deh," tegur Renata Pada Restu.
"Ya ya,,maaf Ayo kita sudah sampai,"
"Ini kan bukan alamat rumahku?"
lalu kalau bukan di sini dimana lagi?" karena " " Aku tahu tempat rumahmu dimana aku sudah tahu semuanya tentang mu tentangmu dan suamimu, Jadi kau tidak perlu menyembunyi kan apa-apa lagi padaku, aku minta maaf dengan perkataanku yang menyuruhmu untuk membunuh anakmu, bagaimana?"
"Bagaimana perasaanmu sekarang? Maafkan aku Renata aku ternyata telah menjadi orang yang egois tanpa memikirkan kebahagiaanmu dan apa yang kau inginkan aku hanya berpikir tentang diriku dan keinginanku saja tapi mulai saat ini aku berjanji tidak akan melakukan hal itu lagi padamu tapi berjanjilah padaku Apapun Yang Terjadi harus memberitahukan juga padaku, Dan biarkan aku membantumu dalam setiap masalahmu." Restu menatap mata Renata lewat kaca spion di dalam mobilnya Aku harap kau percaya dengan apa yang aku katakan ini Renata,"
"Baiklah, aku akan mencoba untuk percaya padamu, tapi tak lebih dari itu mas, Karena aku tahu sekarang ini aku masih berstatus istri Apa kau tahu kalau aku masih..."
"Aku sudah tahu semua itu jadi kau jangan khawatiir lagi pula aku ini bukan pebinor aku sudah sadar beberapa jam yang lalu untuk tidak memaksakan semuanya mungkin selama ini aku terlalu memaksamu hingga membuatmu terluka terlalu dalam, kau telah mengikuti segala keinginanku tanpa aku berpikir Apakah kau menyukainya atau tidak"
Ucap Restu panjang lebar menjeda kalimat. Amara.
"Ayo kita turun kenapa bengong saja, bukankah kita sudah sampai dari tadi,"
"aku tahu itu tapi Jelaskan semua,
__ADS_1
karena tidak ada respon dari Renata Restu meraih tangan Renata, segera membawanya masuk.
''Kamu mau membawa aku ke mana Mas,?" Cicitnya, sedangkan Amara ikut membuntuti dari belakang,
"Masuk, masuklah,!" ucap Restu lagi mempersilakan mereka masuk, Renata yang masih terlihat bingung kini bertanya.
"lni rumah siapa Mas, kenapa kau membawa kamu ke mari,?" Tanyanya sambil menatap Restu.
"Ini rumahmu,"
"kamu jangan mengada-ada Mas,"
"Aku tidak sedang mengada-ada aku serius sebaiknya kamu masuk dulu biar nanti aku ceritakan semuanya," Setelah lama berfikir dan dibujuk oleh Restu, akhirnya Renata mau tidak mau harus ikut, lagi pula untuk saat ini la memang juga butuh istirahat.
"Sebaiknya kalian bersihkan tubuh kalian dulu setelah itu kita makan, aku akan memesan makanan kesukaanmu," ujar Restu melirik Renata.
Renata hanya memilih diam tak ingin menimpali, la hanya segera ingin merebah kan tubuhnya saja.
"Mas Baron kenapa aku sangat merindukannya, tidak, tidak aku harus kuat, sayang apakah kau sedang merindukan Ayah juga."
Renata mengusap perut nya dengan lembut,
"Kak, Renata kenapa apa kakak? baik-baik saja?" tanya Amara saat melihat Renata mengusap perut nya.
"Aku tidak apa-apa Ra,?"
"Apa Kakak yakin atau Kakak lapar ingin makan sesuatu,?"
"Ra, Kakak sudah bilang kakak tidak apa-apa dan tidak ingin apa-apa Kakak hanya ingin istirahat saja."
"Baiklah sebaiknya Kakak membersihkan diri dulu," Renata pun hanya mengangguk lalu bergegas masuk ke dalam Bhatroom, karena badan nya juga sudah terasa lengket.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Yuks...!!! sambil nungguin kepoin cerita Author di bawah ini👇 di jamin g bisa Bobok kalau lagi baca😁
Delon tidak menyangka di usianya yang ke 40 tahun dirinya menyandang status duda dan mempunyai dua anak kembar yang usianya masing-masing 20 tahun.
__ADS_1
Hinga suatu ketika ketika putra sulungnya bernama Edward meminta sekertaris pribadinya yang seumuran dengan Edward, memintanya untuk merawat Ayahnya yang bernama Delon karena sedang sakit.
Setiap hari bertemu hingga akhirnya mereka jatuh cinta dan ingin menikah. Bagaimana tanggapan kedua anak kembarnya dan keluarga gadis tersebut? Apa hubungan mereka bahagia atau kandas di tengah jalan? mengingat perbedaan umur mereka yang terpaut 20 tahun.