
Kini Jelita yang berada di dalam mobil hanya bisa diam, tak berani bertanya atau menatap suaminya yang sedang fokus menyetir komplit dengan wajah datarnya itu.
Ting.
1 notifikasi masuk Ke gawainya, sejenak Jelita melihat dan dan buru-buru membuka pesan masuknya.
["Seperti nya aku tidak bisa melakukannya"]
["tolong bantu aku anggap saja ini permintaan terakhirku, aku yakin suatu saat kau juga akan bahagia, ini demi Amara, dan Tasya, Aku tidak ingin di antara mereka ada yang terluka apa kau paham maksudku?"]
["Baiklah aku akan mencobanya, tapi aku tidak janji berhasil."]
["Terima kasih atas bantuanmu, dan aku tidak akan melupakannya."] Tulis Jelita dengan tulus.
"Saat suami marah bukannya menghibur malah kau sibuk berbalas pesan dengan seseorang.! Apa kau mendengarku?"
"Ap-apa? kau bertanya sesuatu.?"
"Yang benar saja! apa sekarang kau sudah mulai tuli juga?"
"Tit-tidak tapi memang Jujur aku tidak mendengar Ap-apa yang kau tanyakan tadi apa kau boleh mengulang Perkataanmu itu?" "kau Apa kau sengaja mengerjaiku karena ingin membuat ku kesal"
"Tit-tidak aku benar-benar tidak sengaja. Siapa juga yang mau mengerjai Harimau yang lagi marah bisa-bisa aku di terkam habis-habisan nanti."
"A-apa? Jadi sekarang bersiap-siaplah sampai di rumah aku akan memberikan hukuman yang tidak bisa membuatmu berjalan lagi.
Glek.
dengan susah payah Jelita menelan salivanya saat diri nya membayangkan hukuman apa yang di maksud Damara.
"Mana ponselmu? berikan padaku! Aku mau lihat dengan siapa kau berbalas pesan dari tadi, dan tidak memperdulikan suamimu yang sedang marah ini?"
__ADS_1
"Tap-tapi.?"
"Cepatlah!"
"Oh ya ampun. Ya Tuhan Aku kira kalau kau sedang marah kau juga Tak ingin berbicara padaku untuk itulah aku hanya diam saja daripada kau mengamuk."
"Alasan saja tapi baguslah, kalau kau takut padaku."
"Sebenarnya aku tidak takut sih cuma bagaimana ya Aku hanya takut melihat wajah angkermu itu." kekeh Jelita tersenyum geli
"Oh my God,, sekarang apa lagi? tadi kau mengatakan singa sekarang kau mengataiku angker. Kau pikir wajahku ini pohon beringin? yang benar saja"
"mungkin saja, karena siapa tahu ada kuntilanak yang keluar dari wajahmu." Ledek Jelita.
"kau, kau benar-benar membuatku kesal hari ini. Tunggu saja aku tidak akan membiarkan dan tidak akan pernah Melepaskanmu akan kubuat kau tidak bisa berjalan."
"Sayang jangan, kau jangan seperti itu. dengarkan aku sayang walaupun wajahmu angker seperti pohon beringin tapi kau adalah lelaki yang tertampan yang aku cintai di dalam hidupku." Ucap Jelita menggoda.
"Mmm jadi sekarang kau berubah profesi menjadi wanita penggoda?"
"Ya nggak apa-apa sih, sesekali berubah profesi jadi wanita penggoda yang penting yang aku goda kan suamiku sendiri bukan pria lain." Jawab Jelita,
"Sudah,, ayo cepat turun aku sudah tidak sabar ingin menghukummu!"
"What...!
jadi kau benar akan melakukannya hari ini? Sayang bisa tidak ditunda jangan hari ini dan kau jangan menyiksaku kasihan baby Ar,?" rayu Jelita dengan suara manjanya.
"Kita lihat saja. Apakah kau mampu untuk membuatku untuk tidak melakukannya hari ini." Damara pun bergegas masuk yang diikuti Jelita dari belakang.
"Sayang aku ingin menemui baby Ar, dulu ya!" "kamu jangan macam-macam! jangan Mencari Alasan, apa kau lupa kalau Putra kita sekarang Sudah ada baby sitter nya!"
__ADS_1
"Aku tahu tapi aku ini kan ibunya. Seharusnya aku yang merawatnya sepenuhnya. Bukan Nany nya. Apa kamu mau anakku dibesarkan dengan baby sitter tugasnya hanyalah menjaga kita ketika aku sedang sibuk saja kan?"
"Sudah jangan banyak bicara dan banyak alasan kemari lah!" Damara menarik pinggang istrinya lalu memeluknya dengan erat.
"Apa kau lupa dengan apa yang aku katakan tadi di mobil aku akan menghukumu hari ini dan membuatmu tidak bisa berjalan."
Glek.
"Sekarang persiapkan dirimu dengan benar! kau harus melayaniku, hingga aku melupakan masalahku hari ini. Apa kau Mengerti? ucap Damara sambil menelusuri wajah cantik istrinya itu dengan jari jemari lembutnya. Dan tidak sampai di situ saja ia menyentuh dagu Jelita dan segera ******* bibirnya.
Jelita pun hanya terdiam menikmati Apa yang dilakukan suaminya itu, hingga Ia pun teringat kata suaminya yang harus melayaninya dengan baik, hingga amarahnya menghilang dan bisa melupakan masalahnya, Jelita membuka mata perlahan lalu menatap lekat wajah tampan yang berada di depannya itu. Jelita pun dengan perlahan mulai mendongakkan kepalanya, dan meraih Tengkuk Damara, Ia pun mulai dengan rakus menyecap bibir yang selalu memberinya sensasi luar biasa pada tubuhnya itu.
Sedangkan Damara, sendiri mulai menikmati permainan yang akan dipimpin oleh istrinya itu sedangkan la sendiri sibuk untuk melepaskan pakainya dan pakaian milik Jelita, hingga tak satu pun benang melekat pada tubuh ke duanya.
Jelita terus menelusuri setiap inci tubuh prianya itu. Hingga matanya fokus menatap sesuatu yang bergerak-gerak menegang di bawah sana. Jelita pun mulai berjongkok untuk mengambil posisi ternyamannya, jemari tangan lentiknya mengelus lembut sang pusaka yang sudah siap terhunus sejak tadi.
Setelah puas memberikan usapan sayang nya kini Jelita mulai memberikan gigitan lembutnya sesekali lidahnya akan terus bergoyang menjilat bahkan menghisap layaknya seorang anak kecil yang menikmati Eskrim nya.
Damara sendiri kini di buat kwalahan dengan permainan wanitanya itu, ia terus mengusap lembut kepala Jelita, bahkan sesekali akan menekannya di saat sensasi dahsyat menyerang tubuhnya.
"Nng ahk…hmm…ssshhh…"
Hanya Suara erangan sesisan yang mampu menggambarkan apa yang ia rasakan saat ini, dan di saat merasakan sesuatu yang akan segera mendesak dengan sigap Damara mengangkat tubuh Jelita lalu membaringkannya si atas tempat tidur dengan posisi tengkurap, Jelita faham apa yang di ingin kan prianya itu pun, segera mengatur posisinya dengan sedikit mengangkat bokongnya.
Dan benar saja Damara langsung menghujamkan miliknya lalu mulai bergerak perlahan mengatur ritmenya sedang tangannya aktif menyentuh dua gundukan yang bergoyang karena ulah nya itu, Jelita yang mulai merasakan reaksi pada tubuhnya kini meminta Damara bergerak lebih cepat, dengan memberikan tekanan pada tubuh Damara.
Dan benar saja kini Damara mempercepat gerakannya hingga keduanya pun bergetar hebat disaat sesuatu yang ingin di tumpahkan meledak keluar.
Ntah sudah berapa jam mereka bergelut di atas tempat tidur dengan mencoba berbagai macam gaya. Hingga keduanya benar-benar terkapar. Damara tersenyum menatap sang istri yang kini sudah terlelap akibat kelelahan la pun menarik tubuh sang istri lalu membawanya ke dalam dekapan nya.
"Terima kasih sayang kau hebat hari ini!"
__ADS_1
Damara meraih selimut lalu menyelimuti sang istri ia pun segera beranjak ke dalam Bhatroom untuk membersihkan diri.