Terjebak Cinta Dara'Jelita

Terjebak Cinta Dara'Jelita
Kabar kehamilan


__ADS_3

Dokter Heny melangkah mendekati Exel yang masih tampak gelisah nampak tergambar dari raut wajahnya. Dan setelah mendengar pertanyaan yang di lontarkan Exel Dokter Heny hanya mengulas senyumnya.


"Anda jangan khawatir Tuan istri Anda dan janinnya Alhamdulillah baik-baik saja, bersyukurlah Anda, karena walaupun baru berumur 2 bulan lebih janinnya sangat kuat, tapi. Anda juga harus hati-hati jangan sampai ini terjadi untuk yang kedua kalinya karena itu bisa membahayakan nyawa istri dan anak Anda, berikan perhatian lebih berusahalah untuk tidak membuatnya stres biarkan istri Anda bed rest dulu untuk sementara di rumah''


terang Dokter Heny panjang lebar, sedangkan Exel mendengarkan dengan seksama apa yang dijelaskan oleh Dokter Heny.


"Baiklah Dokter kalau begitu terima kasih banyak atas penjelasannya. Apa boleh saya masuk untuk menemuinya sekarang?"


"Untuk saat ini. Sebaiknya Anda jangan masuk dulu biarkan istri Anda beristirahat dengan tenang karena dia masih dalam pengaruh obat bius jadi biarkan dia untuk beristirahat dulu sebaiknya Anda mengisi data pasien dulu di informasi Tuan, karena mungkin ada beberapa obat dan vitamin yang harus Anda tebus juga dan ini saya sudah mencatat semuanya di sini." lanjut Dokter Heny sambil memberikan kertas resep obat yang sudah di tulisnya.


Axel hanya mengangguk mengiyakan apa yang disarankan oleh Dokter Heny, sambil meraih kertas yang di sodorkan Dokter Heny. Dokter Heny pun segera pamit untuk undur diri karena ada satu pasien lagi yang harus di tangani, sedangkan Exel melangkah menuju counter informasi.


Sementara itu di rumah sakit yang sama namun di ruangan yang berbeda Dara yang pingsan pun segera mendapatkan pertolongan namun Dokter belum bisa memastikan apa yang menyebabkan Dara jatuh pingsan karena masih butuh pemeriksaan lebih lanjut, untuk mengetahui apa yang menyebabkan Dara tiba-tiba pingsan.


Ceklek.


"Maaf Tuan jika Anda menunggu lama karena ada pasien yang sangat darurat yang harus kami tangani ucap dokter Heny yang baru saja masuk dan medudukkan bokongnya pada kursi kebesarannya.


"Tidak apa-apa Dokter" jawab Devan.


"Sekarang saya minta Anda untuk keluar dulu sejenak. Biarkan saya memeriksanya jelas Dokter Heny sedang Devan pun segera melangkah keluar meski ia merasa enggan meninggalkan ruangan di mana Dara masih terbaring lemah, Ia juga tak habis fikir kenapa Dara berada di jalan raya yang sangat terik sambil menangis untung saja dia tiba tepat waktu. Kalau tidak ntah apa yang akan terjadi.


"Bagaimana Dokter. Bagaimana keadaan Dara apa sebenarnya yang terjadi padanya. Kenapa dia bisa tiba-tiba pingsan?" Devan terus memberikan pertanyaan tanpa titik. Dan koma kepada Dokter Heny yang baru saja keluar dari kamar di mana. Tempat Dara dirawat

__ADS_1


Dokter Heni hanya memberikan senyum simpul ketika mengetahui kekhawatiran Devan. Anda tidak perlu khawatir Tuan, istri Anda tidak apa-apa, ini wajar terjadi kepada wanita yang sedang hamil selamat Tuan, istri Anda positif hamil dan kandungannya baru berusia 1 bulan. Saya harap untuk itu Anda menjaga pola makan istri Anda dan di trimester pertama ini Anda jangan membiarkan istri Anda untuk stres karena itu bisa membahayakan sang Ibu dan janinnya" kembali Dokter Heny memberikan penjelasan kepada Devan dengan panjang lebar.


"Istri? hamil, ap-apa hamil Dokter? jadi Dara hamil dan kandungannya sudah berusia 1 bulan?" Devan yang terkejutpun membulatkan matanya hampir tak percaya dengan apa yang di katakan Dokter tentang Dara.


"Iya Anda benar sekali Tuan dan silahkan Anda menuju informasi untuk mengisi data dan ini ada beberapa resep obat dan vitamin yang harus Anda tebus setelah itu Anda boleh menemui istri Anda lanjut dokter Heny lagi setelah itu ia pun pamit undur diri.


"Tunggu Dokter kapan Dara diperbolehkan pulang?" Devan kembali bertanya membuat Dokter Heny menghentikan langkahnya.


"Setelah istri Anda sadar dari pingsannya Anda pun bisa membawa istri Anda pulang, usahakan ia beristirahat yang cukup di rumah jangan membuatnya capek apalagi sampai stres karena itu akan berpengaruh pada trimester awal kehamilannya" lanjut Dokter Heny memberikan penjelasan kepada Devan.


"Jika Anda butuh informasi lebih lanjut Anda bisa menghubungi saya ini kartu nama saya" sela Dokter Heny memberikan kartu namanya setelah itu Dokter Heny pun meninggalkan Devan, yang masih berdiri terpaku menatap kartu nama yang di terima dari Dokter Heny itu. Lalu iya pun memasukkannya di saku kemejanya, lalu dia pun segera bergegas menuju counter informasi.


*


*


*


Deg.


"Bagaimana Exel tahu kalau Dara dirawat di sini. Aku kan belum menelpon siapapun?" gumamnya dalam hati.


"Maaf Anda tuan Devan kan? ini obat dan vitamin untuk istri Anda."

__ADS_1


"I-iya suster. Terima kasih" jawab Devan sambil meraih bingkisan yang di sodorkan oleh suster, dan Exel pun sempat mendengar apa yang di katakan oleh perawat itu pada Devan dan tanpa sengaja Exel pun menoleh, Mereka pun saling melempar pandangan.


"Istri? berati dia sudah menikah, ya baguslah kalau dia sudah menikah berarti dia tidak akan bisa mengganggu Dara lagi." gumamnya hanya dalam hati tanpa ada niat ingin menyapa.


Exel berlalu pergi begitu saja, demikian juga dengan Devan memilih diam tanpa ada keinginan untuk menegur.


*


Sementara itu Dara yang sadar dari pinsannya berusaha mengerjap-ngerjapkan matanya ia pun memandang sekelilingnya seketika matanya terbuka lebar saat dia tersadar sedang berada dimana saat ini yang Ia tahu ini adalah rumah sakit.


Ia berusaha mengingat kejadian yang menyebabkan ia sampai berada di rumah sakit, hatinya kembali terasa seperti tersayat sembilu luka saat mengingat kejadian di depan mata yang begitu nyata Dara pun bangkit lalu memilih turun dari bankarnya dia pun melepas jarum infus yang menempel pada lengannya dan melangkah keluar untuk segera meninggalkan rumah sakit.


Dara yang masih bingung terus perjalanan menelusuri lorong rumah sakit tanpa menoleh ke kiri dan ke kanan karena perasaan hati dan pikirannya kini telah berkecamuk hingga dia pun berhenti saat melihat orang yang tak ingin dia lihat.


Kejadian yang membuatnya pingsan kini terulang kembali di depan matanya Iya tak pernah menyangka kalau Exel dan Jennifer berada di rumah sakit yang sama dengannya Ia pun berfikir mungkinkah ini jalan Tuhan yang di tunjukkan kepadanya agar dia mengetahui kalau Exel itu bukanlah yang terbaik untuknya.


Dari jauh Dara memperhatikan Exel begitu perhatian dengan Jennifer apalagi di saat Exel berlutut di depan Jennifer meraih kedua tangan Jennifer dan menyentuh kannya ke perutnya hati Dara bergemuruh ia merasa begitu hancur melihat semua adegan yang tak terduga di depan matanya itu.


Ingin rasanya dia berteriak dan menjerit Ingin rasanya Dia mendekati Exel Jennifer lalu menampar keduanya namun.


Rasanya Ia tak sanggup untuk melangkah. Dia hanya bisa berdiri terpaku menyaksikan adega demi adegan di depan matanya itu.


"Dara ternyata kamu ada di_" ucapan Devan tercekat saat melihat Dara yang sedang fokus menatap orang yang berada jauh di depannya itu kan Exel? lalu wanita itu? jadi wanita itu. Bukankah dia wanita yang berada di kantor waktu itu apa dia jadi menikahinya apa yang dimaksud dengan perawat tadi istrinya itu adalah wanita itu yang sedang hamil aku pikir dia itu sudah tahu tentang.

__ADS_1


Keberadaanmu di sini Dara ucap Devan makanya saat bertemu dengannya aku tak mengatakan apapun tentang dirimu sedang tadi aku mencarimu karena kamu sudah tidak ada di kamar aku pikir Exel sudah membawa mu pulang tapi ternyata_"


"Jangan katakan apapun padanya tentang keberadaanku di sini dan aku ingin tahu apa sebenarnya terjadi padaku kenapa aku tiba-tiba bisa pingsan?" Sela Dara memotong kalimat Devan.


__ADS_2