
"Ya, Halo ada apa? iya saya sendiri ibunya, apa? baiklah saya akan segera kesana" Renata segera memanggil rekan kerjanya untuk memanggil kan Amara, karena dia sendiri akan pergi menemui Bara ke sekolah karena menurut kepala sekolah Bara terlibat masalah dengan seorang murid baru. Tak berselang lama Amara pun datang, Amara memang kini bekerja di kafe tersebut, meski sebelum nya ia harus bertengkar dengan Darandra terlebih dahulu karena tetap ngotot menyuruh Amara kerja di klinik nya.
"Ada apa Kak,?" Tanya Amara begitu dirinya bertemu Renata.
"Kakak, boleh minta tolong padamu Ra, karena Kakak ada urusan sebentar"
"Apa itu Kak?"
"Kamu jaga Cafe nya, biar kakak pulang dulu karena baru saja kepala sekolah Bara menelpon"
"Baiklah Kak, hati-hati," Renata pun hanya mengangguk, lalu memesan ojek Online, agar la segera tiba di tempat tujuan.
"Bagaimana Anak kami? anak saya pak,?" Tanya Renata dan Baron di saat, bersamaan dengan seseorang begitu sampai di depan ruangan kepala sekolahnya.
Deg.
Renata maupun wali murid tadi terkejut disaat mereka saling menatap.
"Renata, kau...?"
"Mas, Restu,?" Renata menatap lekat lelaki yang pernah ia cintai dan pernah menjadi suaminya itu, yah, Restu lndra Gunawan lelaki yang pernah menikah sirri dengannya itu, dan kenapa ia harus kembali di pertemukan.
"Hai, apa kabar? Renata a-aku sangat bahagia sekali bisa berjumpa denganmu di sini sayang kau tau aku sudah putus harapan, mencarimu dimana,?"
"Mas, untuk apa kau mencariku? bukankah kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi,?"
"itu menurut mu, kau tahu sekarang istriku sudah meninggal akibat kecelakaan, tapi sebelum dia meninggal dunia dia meninggalkan pesan untuk mu."
"lnnalillahi wa inna ilahirojiun, aku turut berduka ya Mas, maaf aku benar-benar tidak tahu,"
"Tidak apa-apa, yang penting sekarang aku sudah bisa bertemu sama kamu aku sudah sangat senang, Renata maafkan aku," Restu memeluk tubuh Renata membuat Renata terkejut namun dia tidak bisa berbuat apa-apa karena pelukan Restu yang begitu erat.
"Aku benar-benar menyesal, apa kau tahu aku benar-benar mencintai mu, dari dulu hingga sekarang, dan wasiat Wanda terakhir kalinya ia menyuruhku mencari mu dan menikah kembali denganmu, dan dia minta maaf kalau telah menggugurkan anak kita, tapi aku janji setelah kita menikah kau akan ku buat mengandung lagi."
"Ehem...Ehem..." Baron berdehem di saat dirinya melihat dan mendengar interaksi istri dan lelaki yang mengaku sebagai mantan suami istrinya itu membuat Renata dan Restu berbalik, menatap ke arahnya.
"Sayang siapa lelaki itu,?" Tanya Restu pada Renata dengan wajah tak sukanya.
__ADS_1
"Aku ini adalah su__"
"Dia adalah sepupuku," ucap Renata menjeda kalimat Baron, bahkan membuat Baron membulatkan matanya tidak percaya dengan ucapan Renata itu.
"Sepupumu? ta-tapi setauku kau hanya sebatang kara, lalu Dari mana datangnya sepupumu?"
"kami baru bertemu Beberapa bulan yang lalu ternyata dia adalah sepupuku, tetapi dia hanya sepupu jauh.
"Oh jadi seperti itu,?" Restu merasa lega mendengar jawaban Renata, karena dia sempat berfikir kalau Renata dan lelaki itu adalah sepasang kekasih.
"lya, dia sepupuku, Aku juga sekarang tinggal dengannya," Baron yang mendengar perkataan Renata mengepalkan kedua tangannya, sungguh dia tidak menyangka kalau Renata melakukan semua itu, apa dia berubah fikiran sekarang setelah bertemu mantan suaminya yang lebih kaya dari pada dirinya itu? itulah yang terlintas di dalam fikiran Baron.
"Maaf mungkin kalian sudah menunggu lama ini Putra Putri kalian,!" seru sang kepala sekolah.
"Bara,!"
"Reva,!" Cicit mereka bertiga
"Papa!"
"Tidak apa-apa Pak, maaf sudah merepotkan Bapak," Sang kepala sekolah hanya tersenyum mendengar permintaan maaf Renata, lalu ia pun pamit undur diri meninggal kan kedua keluarga itu, kini Renata menatap kedua anak yang sedang berkomplik tersebut.
"Bara sayang, Bara kenapa nak, apa ada masalah kenapa Bara harus bertengkar disekolah,?" Tannya Renata lembut.
"Bunda Maafkan Bala tapi dia yang duluan tunjuknya pada Reva.
"Tidak Tante, dia yang duluan Reva, hanya menegur dan memberi tahunya untuk tidak menganggu Revi, tapi dia sombong sekali dan mendorong ku."
"Bara apa benar yang Bunda dengar ini,"
"Bunda, i-itu semua tidak benal Bunda kalena dia yang bikin calah makanya Bala, malah"
"Bara, sudah berapa kali Bunda bilang jangan pernah cari masalah dengan orang lain, sekarang Bara harus minta maaf padanya, Ayo Bara, minta maaf padanya, dan akui kesalahan mu!" Renata semakin kesal dengan Bara yang tidak mau meminta maaf dan tidak mau mengakui kesalahan nya itu terlihat dari dia yang masih bergeming sedang kefua tangannya mengepal dengan bola mata menatap tajam.
"Hentikan, omong kosong mu itu Renata!" Sentak Baron.
"Apa kau ingin dia meminta maaf, Aku akan mewakili nya, maaf atas nama anakku aku meminta maaf pada kalian semua, Ayo Bara kita pulang!" seru Baron.
__ADS_1
"Mas, Mas, tunggu dulu!" baru saja Renata ingin mengejar tangan di tahan oleh Restu.
Renata berbalik menatap Restu, Restu hanya menggelengkan kepalanya berharap kalau Renata tidak pergi Renata menatap ke arah Reva dan mengurungkan niat nya untuk pergi Renata melangkah mendekati Reva.
"Apa nama mu Reva,?"
"Iya Tante," Jawab Reva cepat sambil mengangguk,
"Barapa tahun usia mu?"
"Enam tahun Tante."
"Lalu siapa Revi yang kau sebut tadi?"
"Dia itu adikku yang berusia tiga tahun, Tante."
"Baiklah terima kasih kamu anak yang baik, tapi apa kau tau apa penyebab awalnya kenapa Bara begitu marah padamu apa sebelumnya kalian pernah saling mengenal?"
"Aku tidak mengenalnya Tante hanya saja waktu di pusat perbelanjaan aku pernah menawarkannya Es krim, lalu paginya waktu di rumah sakit kami bertemu saat melihatku dia langsung mendorong ku, saat aku bertanya kenapa dia mendorong ku dia hanya bilang gara-gara aku memberikannya Es krim, Bundanya sakit dan dia juga masuk rumah sakit," Tutur Reva panjang lebar menceritakan apa yang terjadi sebenarnya.
Kini Renata bisa tenang dan menarik nafas dengan lega, setelah mendengarkan penjelasan-demi penjelasan yang di sampaikan Reva.
"Terima kasih," Renata menyentuh lembut wajah Reva.
"Kau mau kemana!" tegur Restu saat melihat Renata melangkah pergi.
"Tentu saja pulang," balasnya tanpa berbalik.
"Tapi kau harus ikut denganku Renata!"
"iya aku tau tapi tidak sekarang kan?" teriak Renata kembali tanpa ingin menoleh.
"****, aku kehilangan dia lagi, tidak, aku tidak akan pernah melepaskan mu lagi Renata, cukup di masa lalu aku melepaskanmu, dan aku akan mencarimu dimana saja kau berada"
Gumamnya meyakinkan dirinya.
"Papa ayo kita pergi,!" ajak Reva menarik tangan sang papa.
__ADS_1