
Karena merasa khawatir dengan keadaan dan kandungan Renata Restu pun mau tidak mau melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
"Maafkan aku Renata seharusnya aku tidak mengantarkan mu kesana, karena ini akan membahayakan mu dan juga kandungan mu." Ujar Restu dengan nada panik nya sesekali menatap ke arah Renata yang hanya terdiam menatap jalan.
"Katakan sesuatu padaku Renata? jangan hanya diam saja,? apa yang kau rasakan saat ini,?"
"Sakit, aku merasa sakit disini," Renata menumpahkan air matanya sambil menunjuk ke arah dadanya.
"Bawa aku pergi jauh Mas, aku mohon bawa aku pergi dari sini," isak Renata menatap Restu.
"Baiklah aku akan membawa mu pergi jauh jika itu yang kau inginkan, tapi sekarang kita kerumah sakit dulu aku sangat khawatir dengan kandungan mu."
"Tidak aku tidak apa-apa aku baik-baik saja,"
"Apa kau yakin? bahwa kau baik-baik saja,?"
"Ya,, aku sangat yakin," Jawab Renata mantap.
"Maafkan aku seharusnya aku tidak mengatakan Semuanya sama tante Renata tapi aku hanya kasihan dengan Bara karena dia beberapa hari ini tidak masuk sekolah karena sakit, mungkin dengan kedatangan tante Renata dia bisa sembuh," Timpal Reva menunduk penuh penyesalan.
"Sudahlah sayang Jangan menyalahkan dirimu sendiri semuanya sudah terjadi," Sahut Renata merasa tak enak hati.
#Fl**ashback on**.
"Assalamualaikum, selamat pagi Renata,"
"Walaikumsalam,"
"Bagaimana keadaanmu Renata,?" tanya Restu yang baru saja masuk.
"Aku baik, Kau? Kenapa kau tidak memberitahu kalau kau akan datang kemari,?" Aku sengaja untuk memberikan kejutan untukmu, aku juga membawa anak-anak ke sini."
"Benarkah? di mana mereka sekarang,?" Reva, Revi, Ayo kemari Nak,!" Panggil Restu pada pada kedua Putri kecilnya itu Reva dan Revi pun datang memenuhi panggilan Restu.
"Ayo sekarang berikan salam untuk tante Renata," ujar Restu kepada kedua Putrinya itu.
"Assalamualaikum tante, tante apa kabar,?" "Assalamualaikum salam anak manis, Alhamdulillah tante baik-baik saja, dan bagaimana dengan kabar kalian,?"
"Kabar kami baik tante," ucap kedua anak tersebut yang terus kompak untuk menjawab.
__ADS_1
"Boleh tante memeluk kalin,?" pinta Renata.
"Tentu saja boleh tante," jawab kedua nya lalu menghambur memeluk Renata, Renata pun mereka terharu dengan kedua anak yang sudah tak ber ibu itu.
"Maafkan tante ya, baru bisa memeluk kalian," ucap Renata sambil mengelus punggung kedua putri Restu itu, dan kedua nya pun hanya menggangguk kompak.
"Baiklah, sekarang Ayo masuk! kamu juga boleh masuk Mas,!" ajak Renata mempersilakan Restu dan kedua putrinya untuk masuk.
"Kamu tak perlu repot, karena aku sudah membawa semua makanan dari rumah dan itu adalah makanan kesukaanmu Semoga kamu dan dan bayimu menyukainya," terang Restu, sambil menyerahkan bingkisan paper bag yang di bawahnya.
"Kenapa, kamu yang mesti repot-repot begini Mas,?"
"Aku tidak merasa direpotkan, lagi pula aku menyuruh bibi yang memasaknya, aku hanya sedikit membantu Bibi untuk meracik bumbunya saja karena aku tau apa yang kau suka dan tidak kau suka," Restu nampak bersemangat menjelaskan pada Renata.
"Terima kasih Mas, kau sudah repot-repot memikirkan makanan kesukaanku," lalu mereka semua menuju meja makan untuk sarapan. Setelah semuanya selesai sarapan, Restu mengajak Renata untuk menemani kedua anaknya ketaman kota.
"Dengarkan aku kamu tidak boleh capek, Kamu harus duduk saja dan menikmati permainan kami di sana,"
"lya, iya, iya, baiklah Mas, kenapa sih aku yang hamil kau yang bawel,?" kekeh Renata.
"Kalau bukan aku yang bawel, Lalu siapa yang akan bawel padamu? Apa kau mau suamimu itu datang ke sini dan dan bawel padamu? untuk apa juga kau membohongiku, Kalau suamimu itu adalah sepupumu, sebegitu takutkah dirimu jika ketahuan menikah lagi?"
"Oh,, ya, tante apa tante tau kalau Bara itu sedang sakit sudah dua hari tidak masuk sekolah"
"Apa Bara sakit?"
"lya tante, tante boleh tanya Revi
"Apakah benar itu Revi?" Renata pun segera bertanya pada Revi yang memang di kenal sebagai teman satu kelasnya sedangkan Reva sendiri baru masuk sekolah Dasar.
"Iya Tante," jawab revi dengan suara comelnya.
Setelah mendengar penjelasan dari ke dua anak tersebut membuat Renata semakin gelisah, dia benar-benar merasa tidak tenang.
"Mas...Boleh aku minta tolong,?" liriknya bertanya.
"Aku akan mengantarkanmu kesana," Ucap Restu saat melihat keraguan di wajah Renata.
"Benarkah Mas, kau akan mengantar ku terima kasih Mas, terima kasih," ucap Renata dengan wajah yang berbinar.
__ADS_1
#Flas back of.
"lstirahatlah aku tidak mau kau dan bayimu kenapa-kenapa, aku akan mengurus semuanya, untuk keberangkatan kita ke Singapur," Renata hanya menurut tanpa ingin menjawab atau menimpali ucapan Restu tadi, karena sekarang yang ada di otaknya hanyalah Bara, Bara dan Bara.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bagaimana dengan putra saya dokter,?" tanya Baron yang gelisah menunggu kabar karena dari tadi tidak di ijin kan masuk menemui anakanya itu.
"Maaf Tuan sepertinya, putra Anda terkena Tifus,"
"Apa, Tifus?"
"iya untuk sementara ini biarkan dia di rawat inap selama satu minggu dan biarkan dia bertemu bundanya karena dia selalu mengigau menyebut nama Bundanya."
"Tapi dokter Bundanya sudah pergi, meninggalkan nya, dan itu ke inginan Bunda nya sendiri."
"Lalu siapa wanita yang di sana itu," selidiki dokter David melempar tatapannya ke arah Lisa yang sedang memainkan gawainya.
"Dia, dia adalah mantan istriku dan kami akan segera menikah kembali," ujar Baron.
"Lalu Renata?,"
"Untuk apa Dokter menanyakan nya? apa dokter sedang merindu kannya juga,?" ucap Baron tak suka.
"Merindukan nya,?" Dokter David tersenyum miring, "tentu saja aku merindukan nya karena dia itu, pasien yang paling membuatku kagum, ucap dokter David menatap Baron yang masih terlihat kesal.
"Sebaiknya anda segera mengurus anak saya saja, dari pada mengurus urusan orang lain bahkan bertanya tentang wanita yang sudah bersuami," ucap Baron dengan nada ketus nya.
"Kalau begitu Anda jangan menyesal jika suatu saat Anda akan merasa kehilangan seseorang yang benar-benar ada di dalam hati Anda saat ini."
Deg.
Mendengar apa yang di ucap kan dokter David membuat jantung Baron tiba-tiba berdetak, dua kali lebih cepat,
"Maaf kalau begitu saya permisi," pamit dokter David tanpa ingin mempedulikan Baron yang tiba-tiba saja terdiam membisu, seolah sedang memikirkan sesuatu.
Sedangkan Baron menyentuh dadanya yang masih berdegup itu.
"Rena, Renata, kau di mana?" lirihnya pelan hampir tak terdengar, karena hanya Renata yang kini ada di dalam fikirannya, namun dengan sekuat nya ia menolak perasaan itu saat mengingat kembali Renata yang datang bersama mantan suaminya itu.
__ADS_1